
Taman, halaman, kamar para pelayan, dan jalan-jalan di lorong Istana, entah kenapa terasa begitu sunyi. Tak satu pun keberadaan makhluk hidup dapat Candra rasakan di sana.
Sungguh aneh, apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Ayah liciknya itu?
Candra tiba di depan sebuah pintu dari ruangan paling pojok lantai teratas, ruangan terbesar yang ada di Istana ini. Candra mulai merasakan pirasat buruk, setiap kali dia dipanggil ke ruangan ini tak pernah ada satu pun hal bagus terjadui. Sudah banyak keputusan yang dibuat di kamar ini yang mengacaukan hidupnya. Seperti disuruh menghadiri pesta minum teh para Putri Bangsawan, ditinggal sendirian di hutan untuk latihan, menghadiri wajib militer, dan didikkan guna pembunuhan.
"Masuklah!" Terdengar suara seorang Pria dari dalam kamar.
"Permisi!" ucap Candra.
Segera setelah Candra masuk, di sana terlihat Seorang Pria yang berusia 40-an, tubuhnya kekar dengan rambut putih sama seperti Candra. Pria itu sedang duduk membaca surat yang berada di genggamannya. Bahkan tidak ada satu pun pelayan atau penjaga di depan kamar, sungguh aneh. Tempat yang biasanya dijaga dengan sangat ketat, sekarang menjadi sunyi tanpa penjagaan.
"Duduklah!" kata Pria itu.
Candra pun duduk mematuhi perintahnya. Sudah ada segelas kopi yang terlihat masih hangat terletak di hadapan Candra. Pria yang sedari tadi menatap Candra dengan tajam itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ayah Candra. Raja dari Kerajaan Nataprawira yang bernama Dierja.
Dierja melemparkan selembar kertas kepada Candra. Kertas itu melayang dan mendarat di hadapannya dengan sangat anggun, seakan gaya gravitasi tidak berpengaruh padanya. Di pojok kanan atas terdapat simbol Dewa Ular Laut yang sedang melilit pohon besar. Candra mulai menyipitkan matanya, tanpa diduga suaranya terdengar ke luar, "Kerajaan Harsana!"
Dewa Ular Laut merupakan simbol dari kerajaan Harsana si Negeri Hujan. Candra menatap mata Ayahnya, setelah mendapatkan anggukkan kecil darinya sebagai bukti persetujuan, Candra mulai mengambil dan membaca surat tersebut. Setelah membaca paragraf awal, hal pertama yang terbersit di pikiran Candra adalah betapa membosankannya. Hanya basa-basi dan kata-kata manis yang menjilat sepatu orang lain.
Candra kembali menatap wajah Ayahnya itu, tapi hanya ekspresi datar seperti biasa yang ia terima. Candra sudah hidup bersama selama dua puluh tahun, tapi Candra masih tidak mengenal watak dari orang ini. Mereka hanya bertemu satu minggu sekali, itu pun kalau orang yang disebut sebagai Ayahnya ini tidak terlalu sibuk. Tidak ada ikatan emosional di antara mereka, hanya orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama. Meskipun begitu, Candra tetap mengakui kepintaran dan kehebahan lelaki di hadapannya ini. Candra kembali membaca surat tersebut, setelah selesai membaca keseluruhan isinya Candra menyimpulkan bahwa surat ini tidak lebih dari omong kosong.
"Kau sudah selesai membacanya, bagaimana pendapatmu?" tanya Dierja.
"Tidak lebih dari omong kosong," jawab Candra.
Candra tidak perlu menyembunyikan apa pun yang ada di pikirannya dikarena Candra tahu bahwa orang ini tidak akan peduli tentang apa yang ada di pikiran orang lain.
Sejak kecil Ayahnya ini tidak pernah peduli pada Candra, baik saat Candra mendapat kesialan maupun prestasi. Dia tidak akan membuang-buang waktunya hanya untuk mencaci maupun memuji. Bahkan kalau Candra membunuh selusin pelayan pun, ia pasti masih tetap tidak akan peduli.
"Hahaha. Ya, benar sekali. Mereka mungkin panik melihat bagaimana Askara bertindak." Dierja tertawa, tapi tidak menyiratkan bahwa ia bahagia. Candra selalu kagum bagaimana orang ini begitu mudahnya mengubah ekspresi. Apabila ada kejuaraan drama antar Negara Ayahnya ini pasti akan mendapat Juara.
"Kerajaan Askara, ada apa dengan mereka?" Untuk pertama kalinya Candra terlihat antusias.
"Putri pertama Kerajaan Askara akan bertunangan dengan Pangeran kedua dari Kerajaan Gandana." Dierja menatap Candra dengan lebih tajam, seperti mengharapkan sesuatu.
Candra tersentak, dia begitu kaget, jantungnya bagaikan ditikam pedang tumpul yang selalu ditempa oleh anak-anak lugu dengan senyuman manis menghiasi parasnya. Candra terlihat pucat, keringat dingin mulai bercucuran dari sekujur tubuhnya. Candra mengepalkan kedua tangannya sekuat tenaga, menahan rasa marah dan kecewa.
Pasti akan seperti ini. Kata sayang, janji hidup bersama, hanya omong kosong darinya. Hanya kata-kata indah yang menutupi luka dengan manisnya gula.
"Kau terlihat tidak terlalu baik." Dierja kembali menatap tajam ke arah Candra. Tatapan yang sangat tajam, sampai-sampai Candra merasa akan terluka bila terus menatapnya.
"Sadarlah, kau kira aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kau dan si Putri Api itu."
Dierja berdiri dan menghadap jendela yang berada di belakang punggungnya. Dengan suara yang sangat dingin tanpa perasaaan Dierja berkata, "Akan lebih mudah kalau kau saat itu membunuhnya."
Suaranya tidak terlalu keras, tapi dikarena ruangan ini begitu sunyi, sehingga Candra dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Candra hanya bisa tertunduk. Dia tahu bahwa mereka itu adalah musuh, bahwa mereka akan saling membunuh, tapi ... Bisakah? Sebentar saja, setidaknya ....
Candra teringat kembali bagaimana suara lembut dan senyum menawan itu, suara yang selalu ingin membuatnya menangis. Begitu indah, begitu mewah, yang membawa banyak darah. Air mata itu, saat ia bertanya, "Apa kau baik-baik saja?" Pertanyaan yang terasa begitu tulus dari wanita berdarah yang terus melangkah dan menginjakkan kakinya di atas tanah.
"Undangan itu, Sepertinya Kerajaan Harsana akan melakukan langkah yang sama."
"Aku juga merasa begitu."
Surat itu dikirim tepat setelah tindakan dari Kerajaan Askara, bahkan orang bodoh sekali pun bisa menebak niat asli mereka. Setidaknya Candra yakin akan pemikirannya itu.
"Bukan pilihan yang buruk. Putri Kerajaan Harsana terkenal akan kecantikannya. Dia, tidak kalah dengan Putri Api itu. Motif mereka juga sangat mudah ditebak. kalau kau bertunangan dengan Putri Kerajaan Harsana, kedua Kerajaan akan terikat dengan hubungan Keluarga. Kerajaan kita sangat kuat di bidang Militer, tapi kekurangan bahan makanan, sedangkan Harsana mempunyai sumber daya melimpah, tapi lemah bila di hadapkan dalam pertempuran," jelasnya dengan ekspresi tak tertarik.
"Ya, tapi aku tidak tahu bagaimana wajahnya, sifatnya, aku juga tidak men-" Sebelum Candra bisa menyelesaikan perkataannya, dia merasakan tatapan yang sangat berbahaya. Seperti seekor Singa yang hendak menerkam Kelinci mungil yang lemah.
"Berhenti bicara omong kosong, Mencintainya. Sudah aku bilang bahwa rasa cinta tidak pernah ada manfaatnya." teriak Dierja marah.
Suhu di ruangan ini menjadi lebih dingin dari biasanya, Candra yang sudah terbiasa hidup ditemani dengan es dan butiran salju pun bahkan hampir tidak kuat menahannya.
"Meskipun begitu-" Candra menelan kembali apa yang ingin diucapkannya. Setelah melihat ekspresi marah dan jijik yang ditunjukan Dierja kepadanya.
"Kalau kau tidak suka dia, cukup nikahi saja dan mencari penggantinya. Setelah kita berhasil menguasi sumber daya Kerajaan itu, kau bebas ingin membuangnya ataupun membunuhnya. Ahh ... dikarena dia cukup cantik, pasti akan sangat mahal bila dijual ke Rumah Bordil," ucapnya dengan senyuman tidak manusiawi menghiasi wajahnya.
Candra mengepalkan tinjunya, dia ingin sekali menghajarnya, memukul wajahnya bahkan Candra ingin sekali membunuhnya. Candra mengutuk dirinya sendiri karena harus hidup dengan membawa darah Raja yang lebih mirip Iblis ini, tapi sekeras apa pun dia berusaha, Candra masih akan kalah bila melawannya. Jadi, sekarang dia hanya bisa menuruti perkataannya bagaikan boneka tanpa jiwa.
"Kita akan berangkat dua hari lagi, persiapkanlah dirimu. Itu saja, kau bisa pergi sekarang," Dierja kembali duduk tanpa bertanya bagaimana perasaan Candra. Perintah Absolut, itulah Raja Nataprawira.
Candra hanya mengangguk sebagai tanggapannya. Setelah Candra keluar dari ruangan, Dierja kembali berdiri sambil memandang ke luar jendela dan berkata, "Bagaimana persiapannya?"
"Sudah siap, Tuanku!" Seseorang yang mengenakan topeng dengan pakaian hitam datang entah dari mana.
"Baiklah, lakukan segera!" Dierja memandang langit dengan tatapan dingin yang seakan siap untuk membekukan langit itu sendiri.
Dierja berbalik memandang kertas yang masih terlihat kosong di atas mejanya. Seketika itu juga, sebuah pena yang terbuat dari bulu melayang mendarat di atas kertas mulai menggoreskan tinta hitamnya. Selang beberapa menit, kertas itu sudah terisi penuh oleh tulisan.
Kertas tersebut masuk ke dalam amplop dengan segel Kerajaan Nataprawira di atasnya. Seperti sudah mengetahui akan tugasnya sendiri, kertas itu mulai terlipat membentuk makhluk hidup dengan dua sayap dan paruh kecil, lalu kertas itu egera terbang ke luar jendela menyerupai burung. Kertas yang digunakan untuk menyampaikan pesan ini sangat kuat, tahan api, tidak akan rusak ketika terkena air, dan tidak akan mudah disobek bahkan oleh pedang sekali pun. Inilah, salah satu keajaiban Sihir.