
Bila dilihat dari sebuah peta, bentuk Kerajaan Nataprawira hampir menyerupai telur raksasa, yang di sebelah barat berbatasan langsung dengan Kerajaaan Askara. Kedua Kerajaan ini dipisahkan oleh hutan belantara yang besarnya melebihi kedua Kerajaan itu, bahkan setelah kedua Kerajaan tersebut digabungkan menjadi satu. Sedangkan di selatan berbatasan langsung dengan Kerajaan Harsana.
Wilayah di Kerajaan Nataprawira dibagi menjadi tiga bagian, yang setiap wilayah mempunyai fungsinya masing-masing. Di arah paling barat tempat terjauh dari Ibu Kota Kerajaan, merupakan tempat tinggalnya orang-orang miskin, pengemis, tunawisma, dan banyak juga berandalan hidup di sana. wilayah ini dikenal dengan nama Distrik Kumuh. Meskipun tidak terlalu besar, tapi tempat ini masih mampu untuk menampung ratusan ribu orang.
Ada juga Distrik pusat, distrik ini berada di tengah-tengah Kerajaan, dan merupakan wilayah terbesar dari ketiga wilayah yang ada. Mulai dari Rakyat biasa, pedagang, dan bahkan Bangsawan pun tinggal di sini, jadi tidak heran apabila Distrik ini merupakan tempat teramai dari semua wilayah yang ada. Perekonomian Kerajaan pun bertumpuk di Distrik Pusat ini. Dan yang terakhir adalah Distrik Bangsawan. Dari namanya pun kita sudah bisa menebak bahwa tempat ini Hanya dapat diempati oleh Keluarga Kerajaan dan Bangsawan tingkat tinggi saja. Istana Kerajaan juga terlerak di Distrik Bangsawan, secara otomatis tempat ini menjadi pusat pemerintahan.
Di arah paling barat dari Istana Kerajaan, tempat terkumuh, dan berantakan dari segala aspek. Bagaikan anak terlantar yang kita jumpai di pinggir jalan, berpenampilan kotor dan dekil, yang meminta-minta hanya untuk sesuap nasi, bukannya tidak tahu malu, tapi hanya tuntutan perut yang tak bisa sejalan dengan keadaan.
"Apa kau yakin dia ada di sini?" Seorang Pria gemuk sedang duduk dengan gaya sombong melebihi seorang Raja, di kursi mewah yang seharusnya tak pernah ada di Distrik kumuh ini.
"Yakinlah Kakak. Aku sudah lama menyelidikinya, aku yakin dia ada di sini." Seorang lelaki yang lebih muda menjawab sambil duduk di hadapan pria gemuk itu.
Mereka berdua adalah Bangsawan pemilik rumah Bordil terbesar di Benua Barat. Mereka juga cukup mempunyai kekuasaan di Nataprawira, karena mereka memang Bangsawan yang berasal dari sana. Hari ini mereka berencana untuk menemui Ibu Selir, mereka memutuskan untuk mempercepat rencana yang tadinya akan dilaksanakan setelah Pertunangan Pangeran Candra, tapi dikarenakan pihak lain tidak bisa datang maka rencana itu pun otomatis akan dipercepat.
"Kita harus cepat, Wanita itu sangat pintar dan sangat ahli dalam mengumpulkan informasi." Pria gemuk itu menyipitkan matanya dan tersenyum dengan ganas. Kebanyakan gadis akan merasa jijik dikarenakan senyumannya itu terlihat sangat vulgar.
"Baiklah, aku akan menemui dia malam ini." Laki-laki muda ini merupakan adik dari Pria gemuk tadi. Mereka berdua terkenal sebagai Dua Bangsawan Saudara Vulgar. Reputasi mereka tidak terlalu baik dikalangan Bangsawan, apalagi bila menyangkut masalah Perempuan. Sering dikenal gonta-ganti wanita, suka mabuk-mabukan, tidak ramah terhadap rakyat biasa, dan sering terjangkit masalah korupsi serta penyuapan. Berbagai hal buruk sering terdengar ketika menyangkut kedua saudara ini. Tapi dikarenakan bisnisnya yang hampir mencakup seluruh Benua Barat, jadi tidak heran apabila mereka termasuk ke dalam salah satu Bangsawan terkaya yang ada sekarang.
"Tak perlu mencariku ketika aku sudah ada di sini!" Di saat kakak beradik itu sedang serius mendiskusikan sesuatu, tiba-tiba saja, suara asing terdengar memasuki ruangan yang seharusnya tak pernah ada.
"Siapa di sana?"
"Keluarlah!"
Mereka berdua merasa heran akan kehadiran yang tak terduga. Bagaimana bisa dia memasuki ruangan ini ketika penjagaan ketat dilakukan di setiap sudut? Apalagi ruangan ini terletak di bawah tanah, tempat rahasia dari perusahaan Dolly. Bangsawan Dolly adalah satu-satunya Keluarga Bangsawan yang mempunyai bisnis di Distrik kumuh, karena kebanyakan Bangswan yang lain melakukan bisnisnya di Distrik pusat ataupun Distrik Bangsawan. Mereka berpikir, Distrik kumuh ini tidak terlalu diperhatikan oleh Kerajaan yang menjadikan pengawasan di tempat ini tidak terlalu ketat. hal itulah yang memungkinkan mereka dapat bergerak dengan leluasa.
"Kenapa kau terlihat kaget, bukankah kalian yang mencariku terlebih dahulu?" Seorang Pria dengan gaya casual, memakai kemeja hitam dengan dasi kupu-kupu merah menampakan diri di hadapan kedua saudara itu.
Langkah kakinya yang ringan menghadirkan suasana mencekam, tapi ketika kedua saudara Dolly menyadari siapa orang misterius di hadapannya ini, mereka mendadak terlihat bahagia.
"Oh, Tuan. Aku tidak sangka kau akan datang ke sini." Pria gemuk itu segera berlari menghampiri seseorang yang dipanggilnya Tuan itu, sungguh pemandangan yang tak biasa, pasalnya Pria gemuk yang bernama Dolly Angkara ini tidak pernah merendahkan dirinya kepada sembarang orang. Bahkan kepada Candra sekali pun yang merupakan Putra Mahkota.
"Oh, sudah lama aku tidak melihatmu, jadi ada urusan apa Bangsawan Dolly mencariku?" Pria itu mengetuk-ngetuk ujung tongkat yang dibawanya pada lantai beberapa kali, sambil mengamati ruangan sekitar, setelah merasa puas, barulah ia menatap kedua saudara Dolly di hadapannya kini.
Begitu mereka masuk, di sana sudah ada beberapa pelayan wanita yang hampir telanjang, pakaian mereka hanya menutupi bagian tubuh sensitif dari seorang perempuan, itu pun dengan kain yang sangat tipis sehingga kulitnya masih dapat terlihat.
"Oh ...." Pria itu mengeluarkan suara kekaguman setelah melihat beberapa pelayan cantik yang di hadapannya.
Mereka bertiga pun segera duduk di meja bulat yang menjadi pusat dari ruangan itu. Dengan urutan kedua saudara Dolly duduk bersebelahan, dan Pria itu duduk di depan mereka. Para pelayan itu segera menuangkan Anggur ke gelas mereka bertiga.
Setelah meminumnya, pria itu tersenyum puas atas pelayanan yang dia dapat dengan kedua wanita cantik di sisinya. Ia adalah seorang pria yang menikmati hidup dengan ditemani oleh keindahan-kaindahan dunia. Wanita seksi merupakan salah satunya.
"Jadi, apa tujuanmu mencariku?" Suasana yang tadinya bersahabat, sekarang leyap tak tersisa. Aura membunuh yang sangat kuat keluar dari pria itu, dia menatap tajam kepada kedua bersaudara yang duduk tepat di hadapannya kini.
Kedua wanita yang berada di sisinya pun secara refleks melangkah mundur disebabkan oleh aura yang tak menyenangkan itu. Keringat dingin mulai bercucuran disekujur tubuh mereka. Kedua gadis itu sudah banyak melayani berbagai macam pria, tapi pria yang kini di hadapannya merupakan pria paling berbahaya dari semua yang pernah mereka temui. Memang benar, julukan Assasin nomor satu di Nataprawira bukanlah isapan jempol belaka.
"Begini Tuan, kami ingin agar kau menculik Putri Siska dan membawanya kemari!" Dolly angkara menjawab dengan tenang, tapi tetesan keringat masih dapat terlihat di raut wajahnya.
"Siska? Bukankah dia akan bertunangan dengan Pangeran Kerajaan ini. Ah ... lupakan saja aku tidak ingin mengambil resiko."
Dolly Angkara sudah menduga bahwa tidak akan mudah untuk membujuk orang ini. Meskipun dia merupakan Assasin terhebat, tapi dia juga orang yang sangat berhati-hati. Terutama apabila lawannya Dierja yang terkenal akan kelicikannya.
Untung saja Dolly angkara sudah menyiapkan sesuatu yang akan menggugah niat orang ini. Di Nataprawira bertebaran keindahan-keindahan kelas atas, apalagi Dolly Angkara bekerja di bidang ini. Benar, itu adalah Wanita, tapi sayangnya orang ini tidak akan tertarik pada gadis kecil yang baru beranjak dewasa.
Tapi dia tahu bahwa ada seorang wanita dewasa yang sangat seksi, dan menggoda. Wanita kelas atas yang bahkan tak dapat dia sentuh seberapa keras pun dia berusaha, tapi mungkin saja orang ini mampu melakukannya. Dia hanya akan menciptakan peluang, berhasil atau tidak akan tergantung pada kemampuan yang dimilikinya.
"Selain uang dalam jumlah besar, aku juga akan menyiapkan wanita khusus untukmu, bagaimana?"
"Lupakan saja, aku tidak tertarik kepada wanita cantik belaka."
Dolly Angkara tersenyum. Ini persis jawaban yang dia harapkan, sambil mengangkat gelas yang berisi anggur kelas atas itu, dia berbicara dengan nada serius, "Bagaimana bila wanita ini yang aku maksud ...."
Pria itu langsung mengubah ekspresinya, seakan tak percaya akan nama yang baru saja dia dengar. Setelah beberapa saat, senyuman lebar tercetak jelas di raut wajah pria itu, "Baiklah, kapan aku bisa membawa Putri Kecil ini?"