
"Sekali lagi, izinkan aku untuk mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya." Raja Abisatya meminta maaf dengan bersungguh-sungguh.
"Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan," balas Dierja dengan acuh tak acuh.
"Terima kasih! Mari kita ke Istana untuk membahas hubungan kedua Negara," ajak Raja Abisatya.
Raja Abisatya melihat ke arah anaknya yang masih bersimpuh lemah. Ia menepuk bahu Putrinya itu sambil berkata, "Siska, bisa kau tolong ajak Pangeran berkeliling."
"A-Ayah. B-baiklah." Siska terlihat bingung, ia masih belum pulih dari syok yang diterimanya, tapi meskipun begitu, ia segera mengangguk seakan sudah mengerti akan situasi kini. Siska segera menyeka air matanya guna menyingkirkan rasa gundah dan kecewa.
"Pangeran, ke sebelah sini!" ajak Siska.
"Sebelum itu, Yang Mulia, bisakah Anda mengembalikan keadaan seperti sediakala," pinta Siska pada Dierja.
"Ah ... maaf soal itu. Aku tadi hanya sedikit terbawa emosi," kata Dierja sambil tertawa.
Sedikit dia bilang, yang benar saja?
Sang Putri menggigit bibirnya menekan amarah yang dapat keluar kapan saja. Mungkin Dierja memang mengucapkan permintaan maaf, tapi baik prilaku maupun ekspresinya tidak mencerminkan bahwa dia menyesali perbuatannya tadi.
Dierja menghentakan kakinya ke permukaan air yang kini telah menjadi bongkahan es itu. Seketika, saat itu juga semua benda yang beku mulai menguap kembali seperti semula. Perlahan, tapi pasti, kehidupan yang terdapat di Danau pun mulai menampakan diri. Terlihat berbagai flora dan fauna yang menghiasi ekosistem di sana dengan berbagai ukuran yang melebihi batas normal yang Candra ketahui.
Orang-orang dari Kerajaan Nataprawira memang tidak terlalu ahli bila menyangkut sihir, setidaknya mereka tidak sebaik orang yang berasal dari Askara. Hanya saja, beberapa orang dari Keluarga Kerajaan dianugrahi dengan kemampuan yang setara atau bahkan lebih dari mereka. Seperti Dierja dan Candra, tapi bila menyangkut teknologi dan ilmu pengetahuan, Nataprawira bisa dibilang yang terbaik diantara semua kerajaan yang ada di Benua ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuk semua Prajurit dengan sigap menangkap tim pemberontak yang mulai terlepas dari belenggu mereka.
"Terima kasih banyak, Yang Mulia." Putri membungkuk memberi hormat pada Dierja.
Dierja hanya melaibaikan tangannya seakan berkata bahwa semua itu bukanlah apa-apa. Semua orang mulai melanjutkan aktivitas mereka yang sebelumnya terhenti. Tentu, hiburan untuk menyambut rombongan dari Kerajaan Nataprawira berakhir begitu saja.
***
Para penduduk Harsana disibukan dengan gosip yang menyebar bagaikan air yang terjatuh dari ketinggian, sangat cepat dan menjangkau semua orang. Gosip yang menyebutkan bahwa Dierja dan orang-orang dari Kerajaan Nataprawira lebih menakutkan dari Singa maupun hewan-hewan Purba.
Di jalan, di sekitar pelabuhan tempat lalu lalang dan peristirahatan Perahu Nelayan, begitu ramai dengan orang-orang yang ingin membeli olahan ikan yang kebanyakan dari mereka adalah rombongan dari Nataprawira yang sangat jarang melihat Ikan dengan ukuran besar.
"Apa kau serius?" tanya seorang wanita tak percaya.
"Sungguh, mereka sangat kuat terutama Raja Dierja," jawab teman di sebelahnya.
Orang-orang Nataprawira hanya dapat tersenyum kecut mendengar percakapan mereka. Singa? Mereka terlalu meremehkan Dierja, kalau diibaratkan hewan purba maka itu haruslah Naga. Cerita tentang Dierja yang membekukan pasukan lebih dari seratus orang sudah menjadi topik panas yang sekali lagi menanamkan rasa takut di hati setiap penduduk Harsana. Mereka menjadi yakin betapa menakutkannya Nataprawira. Kerajaan yang terkenal akan kekuatan Militernya serta para Penguasa Diktator yang mengatur di setiap Wilayah.
"Raja kejam itu, apa yang bagus darinya?" gumam seorang anak yang mengenakan tudung di kepalanya.
Anak yang mempunyai mata merah darah itu memiliki rasa kebencian yang begitu mendalam. Aura yang sangat berbahaya keluar dari setiap inci tubuhnya, berbanding terbalik dengan penampilan yang ia miliki yang terlihat seperti anak kecil lemah.
"Wah. Raja itu memang kuat, ya," kata seorang pria berkepala botak yang sepertinya menjadi teman dari anak itu.
"Sekuat apapun dia, aku akan membunuhnya. Tentu, termasuk keluarganya juga." Anak itu menatap tajam pada prajurit Nataprawira yang berada di pelabuhan. Untuk sesaat, tubuh anak itu diselimuti oleh pusaran angin yang sanggup menyayat setiap kehidupan yang bahkan membuat temannya sendiri pun merasa ketakutan.
Anak itu beserta temannya menghilang dari pandangan, meninggalkan beberapa sayatan-sayatan kecil di salah satu kapal yang dinaikinya. Candra belum tahu bahwa ada beberapa orang yang sedang mengawasi dirinya dengan kebencian yang bahkan bisa membakar seisi Benua.
***
Di sisi lain, Candra dan Putri Siska sedang berada di Taman belakang Istana. Mereka baru saja tiba setelah berekeliling melihat semua hal yang ada di sekitar Istana Kerajaan. Setelah selesai berkeliling, Candra dapat menyimpulkan bahwa Kerajaan ini lebih luas daripada Ibu Kota Nataprawira, tapi begitu kecil bila dibandingkan dengan Kerajaan lain yang ada di Benua Sembrani.
Candra begitu terkejut sekaligus kagum akan pemandangan yang baru pertama kali ia lihat. Semua hal yang ia temui di Kerajaan ini hampir membuat Candra terkejut. Mulai dari ukuran abnormal hewan dan tanaman, hujan yang tidak pernah berhenti, dan para penduduk yang tersenyum memperlihatkan isi hati yang membuat Negeri ini begitu diberkati.
Saat Candra berpikir bahwa tidak akan ada hal lain yang bisa membuatnya terkejut lagi, ia mendapati bahwa pemikirannya itu salah. Candra diajak ke menara yang berada di tengah-tengah taman. Menara yang terbuat dari kayu murni tanpa campuran bahan lain yang mungkin lebih cocok disebut dengan Rumah Pohon.
"Apa itu?" tanya Candra kagum.
"Itu merupakan ikan khas yang hanya ada di Negeri ini, kami menyebutnya Ikan Kunang-Kunang," jawab Putri dengan bangga.
Mereka mendapati pemandangan yang begitu menakjubkan. Saat Candra menatap langit, di sana terdapat Ikan-ikan transparan sebesar serigala hutan. Ikan-ikan itu seperti menari di angkasa, memutari Kerajaan ini dengan gembira. Pada setiap bagian perut ikan itu terdapat bola cahaya berwarna kuning redup, tapi dikarenakan jumlah mereka yang mencapai ribuan sehingga dapat menyinari langit malam bagaikan bintang-bintang yang bertaburan.
Para penduduk mulai mematikan setiap lampu dan alat penerangan di rumah mereka yang menjadikan ikan-ikan tadi sebagai satu-satunya sumber cahaya.
"Ibu, cepatlah! Sudah dimulai!" ajak seorang anak kepada Ibunya.
Anak itu menarik tangan Ibunya sambil berlari menuju pelabuhan, diikuti dengan rombongan orang tua dan anak-anak lain. Di antara rombongan itu, Candra dapat melihat Anna dan para prajurit yang ikut serta menuju pelabuhan dengan tergesa-gesa.
"Kita tidak akan dapat menjumpai pemandangan ini setiap hari. Ikan-ikan itu hanya muncul setiap satu bulan sekali dan kebetulan sekarang merupakan awal bulan," jelas Sang Putri.
Ikan-ikan itu mulai turun ke danau yang mengelilingi tempat ini, berbaris rapi memasuki air satu per satu. Mereka seperti roda gigi yang terus berputar memberikan energi kehidupan pada setiap tumbuhan. Sepuluh menit berlalu, tapi Candra tidak merasa bosan akan pemandangan yang ia lihat. Ikan-ikan itu mulai keluar dari air. Satu per satu kembali terbang ke kegelapan malam dengan antrian yang begitu panjang dan menghilang di balik awan.
"Apa kalian tidak akan menangkap dan memakan ikan-ikan tadi?" Candra bertanya dengan matanya terus menatap ke langit yang kini telah kembali normal.
"Jangan bercanda, kami menganggap ikan-ikan itu sebagai pencegah bencana dan simbol kebahagiaan penduduk. Jadi, jangan pernah berani sentuh mereka," jawab Putri yang tiba-tiba saja menjadi marah, lalu dia melanjutkan, "kalian penduduk Nataprawira terlalu serakah, egois, dan begitu kejam. Kalian tidak akan tahu apa arti kebahagian yang seharusnya ada di hati setiap orang."
"Serakah, ya?" Candra tersenyum ketika mendengar perkataan Siska.
"Apa?" tanya Putri terlihat geram.
"Kau mungkin benar, kami memang serakah dan kau, akan menikah dengan salah satu Pria yang serakah itu, Putri."
"Asal kau tahu saja, pernikahan kita murni kepentingan politik dan tidak akan ada perasaan di dalamnya."
Wanita Cantik yang tadinya lemah lembut yang selalu tersenyum menyapa setiap penduduk. Sekarang, memiliki ekspresi terburuk dari seorang Putri terpuruk. Sebesar itukah kebencian yang dia miliki terhadap Kerajaan Nataprawira?
"Tetap saja, itu tidak akan merubah fakta bahwa kau akan menjadi bagian dari Kerajaan Nataprawira yang kau benci selama ini."
"I-itu ...." Putri tergagap, menundukan kepala.
Tubuhku mungkin dapat kau sentuh, tapi tidak dengan hatiku, hatiku tak akan aku serahkan kepada orang sepertimu.
Siska diam-diam berjanji dalam hati. Dia menyadarai bahwa tidak ada cara untuk melindungi tubuhnya itu. Untuk melahirkan keturunan Kerajaan, perannya pasti akan sangat diperluka dan Siska sudah siap dari lama bila situasi seperti ini terjadi.
Entah kenapa, Candra merasa bahwa perilakunya ini terasa sedikit lucu. Kalau orang yang disebut Ayahnya itu tahu bahwa ada seseorang yang mengarahkan taring pada Kerajaan yang selama ini ia kuasai. Membunuh, merupakan ungkapan yang terlalu baik untuknya.
"Asal kau tahu, aku tak tertarik dengan wanita sepertimu." Candra mulai berbalik menatap gadis yang berada di hadapannya kini.
"Apa maksudmu?" tanya Siska kesal dengan nada tinggi yang tak masuk akal untuk dikeluarkan oleh seseorang yang menyandang gelar seorang Putri.
"Aku tidak pernah tertarik untuk menikahi boneka tanpa jiwa yang hanya biasa mematuhi perintah Raja," ucap Candra dengan nada dinginnya yang sanggup membekukan waktu.
Candra melangkah dan berhenti di samping Putri. Dia berbisik pada telinga yang memiliki bentuk bulat dan sempurna yang mulai memerah karena marah, "Kau tahu? Banyak wanita di Kerajaanku yang dengan suka rela menyerahkah tubuh mereka."
Candra berniat pergi dengan ketukan ringan di telinga Sang Putri. Candra berhenti di depan anak tangga tanpa berbalik dia berkata, "Jadi, tenang saja. Aku tak tertarik dengan tubuhmu apalagi hatimu."
Setelah Candra pergi, Siska masih terdiam tak ada niatan untuk beranjak dari tempatnya berdiri. Dia mengingat kembali kata-kata yang seakan menusuk jiwanya itu, perkataan yang seakan menampar langsung ke dalam hatinya. Saat seseorang menyebutnya sebagai boneka tanpa jiwa dia tidak dapat membantah perkataannya itu. Siska masih berdiri dengan ekspresi seperti ikan yang telah lama mati, deraian air mata di kedapnya udara menjadi melodi di Taman belakang Istana.