YUWARAJA

YUWARAJA
Risalah Hati Sang Putri



Diwaktu yang hampir bersamaan dengan kejadian di penjara bawah tanah. Di salah satu kamar yang berada di lantai teratas Istana. Terdapat seorang Gadis yang masih termenung, terlihat lingkaran hitam di bawah kedua kelopak matanya itu yang menandakan bahwa ia belum tidur dari tadi malam.


Gadis yang baru menginjak usia dua puluh dua tahun ini mempunyai rambut lurus panjang berwarna hijau seperti tanaman, mata bulat dengan warna pupil yang sama, dan memiliki bentuk tubuh yang proposional. Penampilan sempurna yang akan membuat siapa pun terpana terlepas dari jenis kelamin yang mereka punya. Gadis itu bernama Siska, Putri pertama dari Kerajaan Harsana.


Dia berdiri di depan jendala yang entah sejak kapan terbuka. Embusan angin segar mulai terasa menerpa paras cantiknya, rambut halus dan indahnya itu mulai bergelayunan seperti mengajaknya bermain melupakan semua gundah dan keresahan.


Sejak percakapannya dengan Candra di taman malam itu, ia terus mengingat akan tiga kata yang terngiang-ngiang dan bergema di gendang telinga hingga membuatnya hampir gila.


Boneka tanpa jiwakah?


Pria yang begitu menyebalkan, begitu dingin tak berperasaan, baru pertama kali ini ada orang yang berani mengatakan hal seperti itu kepadanya, tapi setelah ratusan kali mengajukan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri, ia mendapati bahwa perkataan Pria itu benar adanya.


Biasanya orang lain akan mendekati ia dengan berbagai cara. Seribu kata manis terucap, menjilat setiap keringat guna dapat mendekat, tapi ia tahu semua itu hanya sekedar hasrat untuk dapat melahap tubuh menggoda gadis remaja. Siska menghela napas tak berdaya.


Setelah menutup jendela, ia mulai melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Biasanya ia akan ditemani minimal dua pelayan yang membantu membersihkan tubuhnya itu, tapi dikarenakan kini ia bangun lebih pagi atau lebih tepatnya ia belum tidur semalaman sehingga para Pelayan belum dijadwalkan datang ke kamarnya.


Siska melepaskan semua pakaiannya dan segera masuk ke bak mandi yang begitu luas dengan bunga-bunga mengambang di atasnya. Kali ini Siska lebih memilih mandi menggunakan air dingin dengan harapan dapat menyegarkan kembali jiwa dan raganya yang sudah lelah dengan semua masalah.


Saat ia ingin melangkah masuk ke dalam air, untuk beberapa saat Sisika merasa ragu. Dia hanya memandangnya dengan mata lesu mengingat akan ketidak sukaannya terhadap suhu dingin.


Saat ujung telapak kakinya menyentuh air, Siska kembali menarik kakinya tersebut dikarenakan tak tahan oleh dinginnya. Hanya saja, setelah menenangkan pikirannya, ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam bak mandi. Lagi pula setelah Pernikahannya dia akan tinggal di Negeri yang dingin itu sehingga mungkin inilah saatnya ia melangkah maju melupakan masa lalu. Kalau dia terus-terusan membenci suhu dingin maka dia pasti akan sangat tersiksa saat tinggal di Nataprawira.


"Dingin," gumam Siska seakan tak percaya.


Kini dia telah sepenuhnya masuk ke dalam bak mandi. Tubuhnya yang sudah terbiasa dengan air hangat sehingga ketika menyentuh air dingin semua sarafnya terasa akan membeku. Entah akan seperti apa hidupnya di Nataprawira nanti?


Dia mulai membersihkan tubuhnya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kulit putih mulus tanpa bekas luka sedikit pun yang didambakan oleh setiap gadis. Pantas saja, semua laki-laki mengejarnya, baik Pemuda maupun yang tua. Setelah sekitar tiga puluh menit berlalu, Siska mulai bangkit keluar dari bak mandi. Ini lebih cepat dari biasanya mungkin itu dikarenakan dia sudah terlalu kedinginan.


Sisika berjalan keluar dari kamar mandi yang setiap kali Siska melangkah, selalu meninggalkan jejak kaki mungil di atas lantai yang dilaluinya. Ketika sampai di kamarnya Siska disambut dengan beberapa pelayan yang sudah menunggu dengan kepala mereka tertunduk ke bawah.


"Putri, seharusnya Anda menunggu kami terlebih dulu!" ucap seorang Pelayan berambut hitam.


"Tidak apa-apa. Sesekali aku ingin mandi sendiri," balas Siska.


Benar, ada kalanya ketika Siska butuh menyendiri. Hanya saja, orang-orang di Kerajaan ini tidak akan pernah membiarkannya. Tidak adanya privasi, terkadang membuat Siska prustasi. Sang Raja pun tidak mengerti akan keinginan kecil Putrinya ini.


"Putri, apa Anda mandi menggunakan air dingin?" tanya Pelayan itu dengan mata membelalak dan mulutnya terbuka lebar, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya kembali, terlihat jelas bahwa dia sangat khawatir.


Pelayan itu sudah bekerja sejak lama, bahkan sejak Putri masih seorang bayi mungil yang lucu. Tentu, menurutnya sekarang pun Putri masih sama lucunya, tapi terkadang dia melihat Putri begitu sedih, terutama akhir-akhir ini Putri tidak bisa menyembunyikan bahwa dirinya sedang tertekan.


"Sesekali aku perlu mendinginkan tubuh ini," kata Siska acuh tak acuh.


"Tapi ...." Pelayan itu tahu bahwa Putrinya ini tidak pernah mandi air dingin sejak usianya sepuluh tahun dan sekarang, ia mengetahui bahwa Putrinya mandi menggunakan air dingin yang sejak sebelas tahun terakhir ini tak pernah ia sentuh. Meskipun dia tahu bahwa Siska tak mengalami trauma hanya rasa tidak suka yang ektream, tapi Tetap saja, fakta ini membuat dirinya seperti tersambar petir.


"Selain Nina, kalian semua bisa keluar," ujar Siska memberi perintah.


Mereka dengan patuh mendengarkan perintah. Setelah memberi hormat, mereka semua segera keluar meninggalkan Siska dan Nina berdua.


"Nina!" Siska memanggil Nina yang sedari tadi masih diam tak bergerak.


"Eh, ya. Ada apa, Putri?" Nina terperanjat kaget. Dia tersadar dari lamunannya yang membawa ia pada kenangan masa lalu. Dia segera membungkuk meminta maaf atas prilakunya yang kurang sopan.


"Tolong, siapkan pakaianku!"


"Mohon tunggu sebentar, Putri!"


Alih-alih membantu Siska, Nina malah keluar seperti melupakan sesuatu yang sangat penting. Selang beberapa menit, Nina datang bersama seorang pelayan yang membawa setumpuk pakaian bersamanya. Setelah menyimpan pakaian itu di atas kasur, Pelayan itu segera membungkuk dan bergegas pergi.


"Apa ini?" tanya Siska kebingungan melihat setumpuk pakaian di depan matanya dengan berbagai desain dan warna berbeda.


"Ini merupakan hadiah dari Kerajaan Nataprawira, Putri," jawab Nina terlihat bahagia.


"Sebanyak ini? Apa mereka pikir aku tidak punya pakaian bagus." Bukannya merasa senang, Siska malah terlihat tersinggung dengan hadiahnya itu.


"A-aku rasa, ini bukti dari keseriusan mereka, Putri." Nina terlihat sedikit ragu setelah melihat ekspresi kesal di raut wajah Cantik Sang Putri.


"Ya, baiklah." Merasa bahawa tidak ada gunanya membahas hal tersebut, Siska mulai memilih gaun yang akan dikenakannya.


Kain dan desain gaun-gaun tersebut memang berkualitas tinggi, ukurannya pun sudah disesuaikan dengan tubuh miliknya.


Mereka memang memiliki selera yang cukup bagus.


Setelah selesai melihat-lihat, Siska menetapkan pilihanya pada gaun putih dengan corak bunga-bunga pada kedua bahu yang memperlihatkan sedikit kulitnya.


Hmmm, ya. Lebih cocok daripada yang aku kira.


"Putri kita harus bergegas, jangan sampai membuat Raja dan Pangeran Nataprawira menunggu," ucap Nina dengan raut wajah cerahnya.


Ia sama imut dan cantiknya dengan mendiang Ratu, andai Putri dapat tersenyum seperti ini setiap hari.


"Baiklah, ayo!"


Mereka berdua pun berjalan meninggalkan ruangan menuju ke tempat Candra untuk sarapan.


***


"Salam, Ayahanda, Ibunda! Salam, Raja Dierja, dan juga Pangeran Candra!" Begitu tiba Siska segera membungkuk memberi hormat dengan sangat anggun.


Di meja bulat mewah yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi hanya terdapat lima kursi saja di sana, yang sekarang hanya tinggal tersisa satu kursi kosong.


"Duduklah, Nak!" balas Raja Abisatya.


"Kemarilah, Putriku!" ucap Ratu Harsana dengan senyuman mengiringinya.


"Oh, kau Cantik seperti biasanya!" ucap Dierja dengan ekspresi tak tertarik.


Siska membungkuk memberi hormat sebagai balasannya. Dia duduk di kursi kosong tepat di depan Candra yang sedari tadi hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Tatapan tajam, seperti kemarin.


Siska mulai merasa kesal terhadap Pria ini yang terus menatapnya sedari tadi, tapi ia tahu itu bukan tatapan penuh ***** seperti laki-laki pada umumnya. Jadi, Siska hanya akan membiarkan hal ini berlalu.


"Baiklah, mari kita makan terlebih dahulu! Sebelum melanjutkan obrolan kita tadi," kata Raja Abisatya yang membawa Siska kembali dari lamunannya.


"Pelayan!" ucap Ratu pelan.


Para pelayan mulai bergegas masuk dan tanpa berselang lama, mereka membawa berbagai makanan serta minuman tak lupa juga dengan buah-buahan segar bersamanya. Meja yang tadinya kosong sekarang sudah terisi penuh oleh makanan yang tertata dengan rapi.


"Baiklah, silahkan dinikmati!" kata Raja Abisatya kepada mereka semua diiringi dengan senyuman tulus bahagia.


Saat mereka mengambil makanan dan hendak memasukannya ke dalam mulut mereka, tiba-tiba saja seorang pelayan datang dengan tergesa-gesa. Pelayan itu kemudian berbisik pada Raja Abisatya.


"Apa?" teriak Raja Abisatya seperti tak percaya.


Mereka semua yang berada di meja makan serentak berhenti dan kembali menyimpan makanannya ke atas piring.


"Ada apa, sayang?" tanya Sang Ratu cemas.


"Eddi berhasil kabur dari penjara bawah tanah," jawab Raja segera.


"Apa?" Sekarang giliran Siska yang berteriak tak percaya.


"Bukan itu saja, semua tahanan di sana juga berhasil kabur." Raja pun terlihat terkejut, tapi ia segera mengubah ekspresinya setenang mungkin.


"Ayah, apa kau serius?" tanya Siska sekali lagi mencoba mengkonfirmasi.


Diaa tidak pernah menyangka bahwa Eddi dapat keluar dari penjara yang dijaga begitu ketat. Tentu, dia merasa senang atas fakta bahwa Eddi berhasil kabur, tapi apabila Eddi tertangkap, tak diragukan lagi bahwa Eddi akan dihukum mati.


Siska bingung, apa ia harus merasa senang atau sedih akan fakta ini. Meskipun tidak ada hubungan asmara di antara mereka, tapi Eddi merupakan teman masa kecilnya yang berharga.


"Sekarang para Penjaga sedang mengejar mereka, meskipun beberapa berhasil ditangkap kembali, tapi kebanyakan tahanan berhasil melarikan diri," jelas Raja Abisatya.


"Bagaimana bisa?" Ratu terlalu terkejut untuk dapat berteriak seperti Putrinya tadi.


"Maafkan aku, Raja Dierja. Aku harus segera mengatasi masalah ini," kata Raja Abisatya yang hendak meninggalkan meja makan.


Saat Raja Abisatya hendak berdiri dan bergegas pergi, ia dihentikan dengan perkataan tenang dari Dierja, "Ya, sepertinya cukup serius, tapi tenanglah dulu."


"Apa maksud Anda Yang Mulia?" tanya Siska dengan bingung.


Disaat semua orang memilik ekspresi terkejut, hanya ia yang tetap tenang dan melanjutkan sarapannya, begitu juga dengan Candra yang kembali tenang setelah melihat gelagat Ayahnya itu.


"Tenang saja, aku akan mengirimkan orang kepercayaanku. Jadi, mari kita lanjutkan sarapannya. Candra, kau ikutlah menangkap mereka, tapi jangan terlalu serius sehingga mereka semua tidak kehilangan nyawanya."


"Sesuai keinginanmu!"


Candra tidak terlalu peduli dengan perintah Dierja, maupun kekuatan musuh yang akan dihadapinya. Candra segera berjalan keluar setelah ia memberi hormat kepada semua orang.