
Begitu Hari Pertunangan Pangeran Candra dan Putri Siska ditetapkan. Bagaikan harum bunga yang hanyut tertiup angin, kabar ini terus menyebar dari satu kota ke kota lainnya, bahkan sampai ke Negeri tetangga. Kabar ini membawakan rasa suka cita yang mendalam bagi penduduk Nataprawira dan Harsana. Mereka percaya dengan adanya pertunangan ini kedua Negara akan menjalin hubungan kerja sama yang lebih erat daripada sebelumnya.
Di Pelabuhan, terlihat rombongan yang sedang bersiap-siap untuk berangkat pergi. Seorang Pria Bermahkota melangkah yang membelah lautan manusia yang secara tiba-tiba berbaris dengan rapi dikedua sisinya. Diikuti dengan seorang pemuda gagah, namun terlihat cuek, dan seorang wanita yang mengenakan pakaian pelayan berjalan di belakangnya. Seakan sudah terlatih dengan baik, mereka semua serempak membungkuk memberi hormat kepada ketiga orang tersebut.
Ketiga orang itu mulai menaiki kapal terbang mewah dengan kepala Naga Es terukir jelas pada bagian mocong kapal. Ketiga orang ini merupakan sosok paling penting dari Kerajaan Nataprawira, mereka adalah Dierja, Raja Nataprawira, Candra ,Putra Mahkota, dan juga Anna, Pelayan penting serta setia.
Dikarenakan hari Pertunangan sudah diputuskan. Setatusnya sebagai Raja mengharuskan Dierja kembali secepatnya untuk menjalankan Tahkta. Pertunangan akan dilaksanakan di Kerajaan Nataprawira, dua minggu dari sekarang. Oleh sebab itulah Dierja segera pulang ke Kerajaannya. Selain melaksanakan tugasnya sebagai Raja, dia juga harus mempersiapkan segala hal untuk hari Pertunangan Putra Mahkota.
Tidak berselang lama, setiap orang kembali membungkuk memberi hormat kepada ketiga orang berikutnya. Diantara mereka terdapat satu orang laki-laki dan dua orang perempuan Cantik mempesona yang mampu menghipnotis setiap hati pria terlepas dari umur yang mereka punya, maupun setatusnya sebagai seseorang yang telah memiliki 9 Istri.
Ketiga orang itu menghampiri Candra. Mereka adalah Raja Abisatya beserta Ratunya, tak lupa juga dengan Putri Siska yang datang untuk mengantar kepergian Dierja.
"Maaf, kami sedikit terlambat!" ucap Raja Abisatya dengan diikuti membungkuknya Ratu dan Putri Siska sebagai rasa hormat.
"Santai saja," balas Dierja datar seperti biasa.
Pantang bagi seorang Raja untuk membungkuk kepada orang lain, apalagi kepada Raja yang berasal dari Kerajaan lain. Dalam sejarah, hanya Raja-Raja yang kalah dalam peranglah yang membungkukkan badannya sebagai bentuk dari kekalahan yang mereka dapat. Karena alasan ini jugalah Dierja tidak keberatan atas prilaku Abisatya yang tidak pernah memberinya hormat sejak pertama kali mereka bertemu.
"Baiklah, aku harus segera berangkat. Pangeran dan juga Anna, kalian tetaplah di sini sampai hari keberangkatan tiba." Perkataan Dierja terdengar seperti perintah mutlak ditelinga Candra maupun Anna.
"Baik, Yang Mulia," sahut Anna sambil membungkuk memberi hormat. Sedangkan Candra hanya mengangguk sebagai tanggapannya.
"Sampai bertemu dua minggu dari sekarang!" kata Dierja sambil mengulurkan tangannya ke arah Abisatya.
"Ya, aku sudah tidak sabar!" balas Raja Abisatya sambil menggapai tangan Dierja.
Jabat tangan, simbol dari terbentuknya sebuah kesepakatan yang bisa dianggap sakral bagi sebagian orang, tak luput juga dengan kedua orang ini yang sangat menghargai sebuah janji.
"Kalian, jagalah tempat ini dengan baik!" Dierja berjalan meninggalkan mereka semua. Kedua kapal itu mulai terangkat secara perlahan dan terbang dengan kecepatan maksimal. Meninggalkan satu kapal dan 300 prajurit dengan Candra serta Anna bersamanya.
Candra dan pasukannya akan berada di Kerajaan Harsana sedikit lebih lama. Mereka ditugaskan sebagai penjaga sampai hari Pertunangan tiba. Tentu, Pertunangan yang menyatukan kedua Kerajaan tidak disambut baik oleh semua pihak. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan dari akan adanya gangguan pada saat hari Pertunangan tiba. Kehadiran Candra disini untuk mencegah hal seperti itu terjadi.
***
Pertunangan Candra merupakan sebuah kabar gembira, tapi hanya sebagian pihak saja yang menganggapnya begitu. Sebagian Negara tetangga beranggapan bahwa Pertunangan Candra adalah sebuah Ancaman.
Mereka tahu bahwa Nataprawira kekurangan Sumber daya pangan, hal ini dianggap sebagai kelemahan oleh musuh-musuh mereka, tapi dengan adanya Pertunangan ini, kelemahan itu dapat diatasi sehingga menciptakan kepanikan bagi sebagian Negara yang memusuhinya. Terutama Kerajaan Askara, mereka langsung memulai rapat rahasia setelah mendapat kabar yang dianggap mengejutkannya ini.
Disebuah ruangan yang bisa dianggap kecil untuk Askara yang terkenal sebagai salah satu Kerajaan tersbesar yang ada di Benua Sembrani. Ruangan itu sudah terisi penuh oleh orang-orang yang memasang ekspresi begitu serius, seperti sedang membahas topik hidup dan mati serta masa depan yang menanti Negeri ini.
"Bagaimana persiapannya?" Seorang Pria yang memakai jubah merah tanda kebesaran Raja Kerajaan ini, bertanya kepada seseorang di antara mereka.
"Berjalan dengan baik Yang Mulia, tapi aku sungguh tak menyangka mereka akan menolak ajakan dari kita," jawab pria tua yang sepertinya sudah berusia 60-an dengan janggut panjang putihnya.
"Ya, itu sungguh tak terduga."
Benar, situasi ini benar-benar tak pernah terpikirkan sebelumnya. Disaat dia menjalin kerja sama dengan kerajaan Gandana lewat Pertunangan Putrinya, disaat itu jugalah dia mengirimkan pesan kepada Raja Harsana. Pesan yang berisi ajakan untuk bersama-sama menyatukan kekuatan guna memusnahkan Nataprawira dari Dunia ini, tapi setelah sekian lama balasan dari pihak Harsana tak kunjung datang, hal ini membuat dia penasaran dengan apa yang terjadi, meskipun begitu dia tetep sabar menanti. Hanya saja, siapa yang menduga, bukannya balasan yang dia dapat, tapi malah kabar mengguncang dunia yang dia terima.
Jujur, ini merupakan satu hal yang tak pernah dia perhitungkan. Pasalnya Nataprawira adalah Negara Diktator yang Dierja sebagai Raja dengan perintah mutlak di belakangnya. Dia juga tahu bahwa Harsana akan lebih diuntungkan bila bekerja sama dengannya.
"Tetap pada rencana sebelumnya, meskipun banyak hal yang tak terduga, tapi kita tidak akan pernah gentar. Mereka akan merasakan akibatnya bila berani melawan kita," balas Sang Raja.
Terjadi banyak hal yang tak terduga dan itu membuat dirinya terkejut. Dia harus mengakui keteledoran dirinya itu. Berbicara tentang hal yang tak terduga, Pria dari Harsana itu begitu menarik perhatiannya.
"Kalian bisa bubar sekarang, akan kupanggil kembali bila ada hal penting lainnya," ucap Sang Raja dengan lantangnya.
"Laksanakan, Yang Mulia!" jawab mereka serempak dengan postur tubuh membentuk sudut sembilan puluh drajat, tanda rasa hormat.
***
Askara, Kerajaan yang bisa dikatakan sangat gersang dengan sedikit tumbuhan dan sumber mata air pilihan. Meskipun suhu di daerah ini begitu panas, tapi orang-orang melakukan aktivitas mereka tanpa terhambat dan masih dengan penuh semangat.
Kota-kota di Kerajaan ini penuh dengan bangunan pencakar langit yang terbuat dari bahan khusus yang disebut batu api dengan warna merah yang sangat mendominasi. Menjadikan Ibu Kota kerajaan ini dikenal dengan sebutan, Kota Darah Api.
Entah apa makna dari Nama ini, yang pasti Kota ini menjadi simbol kemegahan dan pusat Pemerintahan, meskipun tidak secanggih di Kerajaan Nataprawira, tapi kendaran-kendaraan bermesin dapat kita jumpai di setiap sudut kota.
Di pusat Kota tersebut terdapat Istana yang menjulang tinggi, Istana yang lebih besar dari Istana milik Kerajaan Nataprwaira ini dihiasi dengan warna merah darah tanpa campuran warna lain sedikit pun. Di salah satu Kamar lantai teratas Istana, terlihat seorang Perempuan dengan paras mempesona yang mampu menggoda setiap mata terlepas dari jenis kelamin yang mereka punya. Dia mempunyai rambut menyala seperti warna api yang bercampur dengan merahnya darah. Iris mata hitamnya menjadikan suatu hal yang kontras, namun indah.
Dia berdiri di depan jendela kamarnya yang masih terbuka lebar, sehingga membuat angin mampu menerpa paras Cantiknya. Angin merupakan hal yang sulit dipisahkan dari Askara, dikarenakan mereka bertetangga dengan Gandana sehingga angin cukup jelas terasa. Sumber air bagi kehidupan rakyat pun hampir semuanya mereka dapat dari Gandana. Sehingga Pertunangannya bisa menyelesaikan masalah yang ada.
Ujung-ujungnya, kita tak saling percaya.
Setiap kali ada kata Pertunangan, dia tidak pernah bisa lepas dari bayangan Pria itu. Pria yang begitu dingin tak berprasaan, tapi mampu membuat dirinya ini nyaman.
Bagaimana kabarmu? Apa kau masih mengingatku? Aku yakin dia sangat Cantik, sehingga kau mampu melupakanku.
Seberapa keras pun dia berusaha, tapi tetap tidak mampu untuk melupakannya. Pertunangan Candra bukan lagi rahasia umum, jadi tidak akan terasa aneh bila dia juga mengetahui hal itu mengingat Statusnya sebagai Putri Askara yang jaringan informasinya melebihi orang biasa.
Hey, Apa kau bahagia di sana?
Berbagai pertanyaan satu per satu mulai terlontar dalam pikirannya yang membuat dia sendiri pun kebingungan dalam mencari jawaban akan pertanyaan itu.
Aku yakin kau pasti merasa bahagia.
Dia tak menduga pipi putih tanpa bekas luka itu mulai basah terkena air yang entah datang dari mana, mengingat hujan tak pernah ada dalam Sejarah Kerajaan ini.
Ahh ... ada apa denganku ini? Tenang saja, aku bahagia, Kok.
Dia mulai berbalik setelah menutup jendela kamarnya sambil melihat ke arah langit sore, warna biru perlahan menjadi kuning, jingga, hingga kemerah-merahan. Langit nampak murung seperti gelisah, membawa kabar tentang duka diiringi deraian air mata.
Bahagia? Tentu saja, itu semua hanya kebohongan belaka. Kenapa kau mau bertunangan dengannya?
Dia tahu bahwa dialah yang pertama kali mengkhianati janji mereka, tapi dia tidak punya pilihan lain, untuk rakyat dan Negerinya, dia rela, tapi dia tak akan pernah berpaling dan akan terus mencari cara untuk terbebas dari semua itu.
Kemakmuran Negeri? Dan Kebahagian Rakyat? Bila dengan mengorbankan diriku dapat membuat mimpi itu menjadi nyata, maka, Aku akan terus menipu diri, walaupun mungkin akan tersiksa tanpa henti.