
Salju bercampur debu saat langit sore mulai menghitam yang menampilkan suasana mencekam. Serigala yang menjaga gerbang masuk, satu per satu mulai melolong seperti menyambut datangnya malam. Tanpa sadar Siska sudah menempel erat pada salah satu lengan milik Anna.
Siska mungkin seorang Putri Bangsawan yang sudah dibekali dengan Ilmu Dasar Bela Diri, tapi tetap saja dia masihlah seorang gadis biasa dibidang ini, kecuali saat berumur sepuluh tahun, ia tak pernah benar-benar menghadapi bahaya yang mengancam nyawa. Apa lagi bertarung melawan seseorang dengan hidupnya sebagai taruhan. Jadi wajar saja ketika merasakan bahaya, insting yang dimilikinya menyuruh ia untuk segera menjauh.
Distrik Kumuh, itu memang nama yang cocok untuk tempat ini. Di mana kotoran dan berbagai sampah dapat kita jumpai hampir di setiap sudut jalan.
Mata-mata kusam yang melotot, bau apek, dan berbagai aroma tak sedap bercampur menjadi satu dengan tubuh dekil bermandikan keringat menghiasi orang-orang yang duduk di pinggir jalan. Badan kurus kering, kulit penuh kerutan, dan benjolan-benjoan aneh terlihat disebagian besar orang. Pemandangan yang merubah persepsi Siska akan Dunia kini memenuhi visinya, wajah lesu tanpa semangat hidup seakan cermin yang memantulkan bayang-bayang tanpa henti.
Tapi ketika mereka melihat Candra dan kedua wanita yang bersamanya, ekspresi yang jelas-jelas menunjukan ketidak sukaan mulai terukir disetiap raut wajah setiap orang. Mata kusam itu mulai menunjukan keganasan, bagaikan Anjing yang berusaha melindungi daging segar yang hendak dicuri darinya. Anak kecil yang baru bisa berlari dan orang tua yang hampir tak bisa menopang berat badannya sendiri, mulai berdiri menghadang Candra dan kedua wanita yang bersamanya.
Sontak Candra berhenti, menyilangkan tangannya di depan Siska dan Anna, mendorong mereka ke belakang berusaha menjauhkan kedua wanita itu dari perhatian. Tangan kanan Candra sudah menggenggam pedang yang masih disarungkannya bersiap untuk pertumpahan darah bila berjalan ke situasi terburuk. Anna pun sudah memegang pistol yang disembunyikan dibalik pakaiannya, kali ini prioritas dia adalah melindungi Siska.
Sekarang Siska merasa ambigu. Bagaimana tidak, setelah melihat keadaan orang-orang ini Siska merasa iba kepada mereka, tapi di sisi lain dia juga takut terhadapnya.
"Kami berencana untuk menemui seseorang. Bisakah kalian tidak menghalangi jalan kami?" Candra berbicara kepada mereka, berharap dapat menghindari konflik untuk saat ini.
Tapi orang-orang itu tidak mengindahkan Perkataan Candra dan hanya menatap lurus ke arah kedua wanita yang bersamanya. Candra menatap tajam ke arah kerumunan itu, dia merasakan ada seseorang yang terus mengawasinya sejak dia memasuki Distrik Kumuh ini.
"Aku tidak mempunyai niatan buruk terhadap kalian, tapi aku tidak keberatan untuk melakukan kekerasaan," Candra menguatkan cengkeraman pada pedang yang sudah setengah telanjang itu.
Orang-orang ini sudah masuk ke dalam jangkauan serangannya, tidak akan diragukan lagi bahwa begitu pedang tersebut dicabut puluhan nyawa di depannya ini akan segera melayang. Sebenarnya Candra tidak ingin adanya pertumpahan darah, tapi bila diperlukan, kenapa tidak untuk dilakukan?
Dia hanya akan melukai mereka hingga mereka tidak akan mempunyai tenaga untuk menghadangnya. Candra juga tidak perlu takut karena Keluarga Bun akan membersihkan kekacauan yang dibuatnya di sini. Hanya saja dia akan kehilangan kepercayaan penduduk bila hal itu sampai terjadi, tapi bila beberapa kepala terpenggal mungkin tidak akan terlalu dipermasalahkan.
Suasana sekarang cukup mencekam, apalagi untuk Siska yang baru pertama kali mengalami situasi seperti ini. Dia merasa cemas sedari tadi, meski sudah menguatkan hatinya untuk keadaan terburuk, tapi tetap saja manusia merupakan mahkluk yang hanya ingin melihat dan mendengar hal yang mereka inginkan. Tidak dengan hal yang mereka benci ataupun mereka takuti.
Candra menetapkan tekadnya, menarik pedang seutuhnya. Bilah tajam terlihat ketika pancaran cahaya menyilaukan menyelimuti pandangan setiap orang.
Seketika itu juga pedang tersebut melayang mencari mangsa terdekat, secepat kilat dan pastinya akurat, beberapa kepala melayang meninggalkan badan yang selama ini mereka tempati. Seharusnya memang begitu, tapi pada akhirnya pedang Candra ditahan oleh sepasang tombak kembar yang terlihat familiar.
"SRET ...."
Pedang dan tombak yang saling bergesekan menghasilkan suara keras yang cukup untuk membuat seseorang secara refleks menutup telinganya sendiri.
Candra terlihat linglung, tatapan matanya begitu kompleks yang mengandung rasa sedih dan senang disaat bersamaan, begitu juga dengan detak jantungnya yang mulai berpacu layaknya kuda yang sedang berlari bebas di padang rumput.
Memakai pakaian tertutup hingga hanya menyisakan bagian mata saja yang terlihat, sehingga susah untuk dapat mengenali sosok yang menghentikan tebasan pedangnya tadi, tapi Candra masih dapat mengenali siapa pemilik sebenarnya dari tombak berwarna merah darah itu.
"Siapa kau?" tanya Candra dengan nada dinginnya.
Anna dan Siska terlihat kaget ketika mendengar perkataan Candra, jelas-jelas sekarang dia sangat marah. Candra sendiri pun tidak menutupi akan kemarahannya itu, ia mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat cukup untuk dapat membuat manusia biasa pingsan dibuatnya.
Suhu dingin yang lebih ekstriem keluar dari setiap inci tubuhnya, butiran-butiran es mulai tercipta disekeliling tubuh Candra. Orang misterius di hadapannya ini pun merasakan bahaya yang ditujukan kepadanya, Dia juga mulai menguatkan genggaman pada tombaknya itu. Suasana disekitar mereka berdua terlihat begitu intens, meski belum ada satu pihak pun yang bergerak, tapi aura tak bersahabat membuat orang-orang tak bisa mendekati mereka berdua.
Ada hubungan apa orang ini dengan Pangeran?
Anna bertanya-tanya dalam benaknya, dia sangat jarang melihat Candra lepas kendali seperti ini. Perasaan marah, tapi diliputi juga rasa bersalah, apa ini sebenarnya?
Ketika pertempuran yang entah karena apa alasannya itu akan segera terjadi, seseorang berlari yang membelah kerumunan dengan cepat dan sigap orang berperawakan tinggi besar itu datang ke hadapan Candra sambil memberi hormat dia berkata, "Maafkan atas keterlambatanku."
"Kalian menyingkirlah darinya dan cepat kembali!" Orang berperawakan tinggi besar itu berkata ke arah kerumunan di belakangnya. Awalnya orang-orang ini terlihat enggan, tapi setelah menyadari siapa yang berbicara mereka langsung kembali seakan hal tadi hanyalah angin lalu.
"Maafkan aku Pangeran! Banyak hal telah terjadi belakang ini. Ayo aku akan jelaskan setelah sampai di tempatku," Laki-laki besar yang mengenakan ikat kepal hitam itu terlihat sangat akrab saat berbicara kepada Candra yang di mana hal ini terlihat janggal di mata Siska.
Candra melihat ke arah kerumunan orang-orang tadi yang di mana mereka sudah tak terlihat sekarang, begitu juga dengan orang misterius yang membawa tombaknya itu.
"Baiklah, nanti aku akan segera ke sana. Kalian berdua pergilah terlebih dahulu," Sambil mengamati Ke mana orang misterius itu pergi, Candra sudah berjalan tanpa mempedulikan ketiga orang ini yang masih terlihat bingung.
Siska tadinya ingin mengejar Candra, tapi dihentikan oleh Anna. Sambil menahan bahu Siska, Anna hanya menggelengkan kepalanya saat dia berkata, "Tidak apa-apa. Ayo! kita juga harus segera pergi."
Tanpa daya Siska hanya bisa mengiyakannya. Bukannya dia Khawatir terhadap Candra, hanya saja tatapan matanya tadi mencerminkan rasa bersalah yang mendalam, hal itu tentu saja sangat memikat rasa ingin tahu Siska akan apa yang sebenarnya terjadi.
***
Candra terus mencari jejak orang misterius tadi hingga ia sampai pada salah satu bangunan tua yang tak layak huni, tanpa ragu dia langsung masuk ke dalam. Rumah ini sepertinya telah ditinggalkan oleh pemilik aslinya. Banyak jaring laba-laba dilangit-langit, dinding retak yang hampir roboh, dan binatang pengerat seperti Tikus banyak bertebaran di lantai.
Tidak ada tanda-tanda makhluk hidup selain Tikus tadi. Candra sampai di lantai dua yang merupakan lantai tertinggi dari bangunan ini. Dia melangkah dengan hati-hati sambil menyembunyikan hawa kehadirannya, salah satu kamar terlihat terbuka dan Candar juga merasakan tanda-tanda kehidupan manusia di sana.
Hatinya berdegup kencang, sesak, dan dipenuhi rasa sakit disaat bersamaan. Dalam mimpi terliarnya Candra tidak pernah berharap akan bertemu dengan dia di Distrik Kumuh ini. Begitu Candra mendekat dia bisa mendengar percakapaan seseorang dari dalam kamar.
"Putri, situasi di sini sudah tidak aman lagi. Belum lagi aku membuat masalah dengan beberapa orang kuat tadi," Ucap seorang wanita dengan nada bersalah kepada gadis di hadapannya.
Gadis itu terlihat lemah dan letih, wajahnya sedikit pucat, tapi keanggunan parasnya tak luntur sedikit pun.
Candra merasa seperti sedang bermimpi. Tubuhnya mulai terasa panas saat hatinya memunahkan darah dari rasa bersalah yang dimilikinya. Sekarang dia merasa ragu apakah harus menemuinya atau pura-pura tak pernah melihatnya? Candra takut dia akan membencinya, lebih menakutkan lagi bila dia sudah tak menganggap akan kehadirannya ini.
Saat Candra ragu antara masuk atau tidak, tiba-tiba gadis itu berkata sambil menatap pintu yang setengah terbuka, "Kenapa kau tidak masuk ke sini?"
Hati dan jantung bahkan berbagai organ dalam Candra bergetar ketika mendengar suaranya. Baru sekarang dia menyadari bahwa semua ini bukanlah mimpi, bahwa satu bula di dasar neraka itu merupakan hari terindah dalam hidupnya. Di sisi lain, wanita yang sepertinya pelayan dari gadis itu terlihat waspada, dia tidak merasakan akan kehadirannya. Sejak kapan dia diikuti?
"Masuklah!" Suara merdu yang membuatnya candu sekali lagi terdengar ditelinga Candra.
"Putri!" teriak wanita yang kini sudah berdiri dalam posisi siap bertempur seakan tak setuju akan keputusan yang diambil oleh gadis itu.
Candra melangkah masuk menahan gemetar yang terus keluar dari setiap kujur tubunya itu. Matanya hampir meneteskan air mata dengan suara berat penuh kerinduan dia berkata, "A-adelia."