
Bangunan-bangunan menjulang tinggi, kendaraan bermesin terlihat di mana-mana, pejalan kaki yang berlalu lalang di kios-kios makanan, produk kosmetik, dan aksesoris terlihat begitu ramai. Banyak dari pengamen, pengemis serta anak terlatar duduk di sudut jalan.
Lampu-lampu bulat berwarna kuning redup terpasang disetiap sisi jalan, berjarak satu meter dari satu lampu ke lampu yang lainnya, berbaris dengan rapi di kedua sisi yang menjadikan stiap sudut kota terlepas dari gelapnya malam, dengan jalanan yang begitu bersih tanpa sampah sedikit pun, hanya terdapat tumpukan salju saja di sana. Setiap sepuluh menit sekali, selalu akan ada semacan mesin berbentuk bulat mirip sebuah piring berukuran 40cm yang membersihkannya.
Negeri yang sepenuhnya tertutup salju dan es ini, terkenal akan peradaban termaju dari semua Negara yang berada di Benua Sembrani. Mulai dari teknologi, baik itu berupa teknologi untuk mempermudah aktivitas setiap orang seperti alat transportasi ataupun komunikasi, dan bahkan sampai peralatan perang sekalipun. Kota yang begitu padat akan penduduk, meskipun di malam hari, tapi orang-orang masih terlihat sibuk dalam melakukan aktivitas.
Kota yang terlihat begitu ideal untuk dijadikan tempat peristirahatan bagi mereka yang ingin menghabiskan masa tuanya dengan damai. Ditambah adanya berbagai teknologi, arsitektur bangunan yang memanjakan mata, dan tempat hiburan di mana-mana, mejadikan nilai plus yang tidak akan kita jumpai di Negeri lain, tapi dengan sistem pemerintahan diktator dan kapitalisme, menjadikan semua itu tak berarti seakan hanya hiasan semata.
Di antara ramai dan gaduhnya kota, di balik punggung para orang kaya terdapat sosok seorang wanita yang sedang duduk di sudut jalan dengan bermandikan keringat bekas kerja kerasnya hari ini. Sepasang mata sayu melukiskan rasa malu terhadap dirinya yang kalah melawan dunia, tapi ia berusaha untuk tetap semangat menjalani hidup yang dianggapnya tak adil dan terus menjatuhkan rakyat miskin. Wanita yang sedang membawa kehidupan baru didalam rahimnya ini mengenggam beberapa potong kue di tangannya. Perlahan dia membuka mulutnya yang terlihat pucat dan mulai menggigit makanannya itu. Kue sebesar kepalan tangan yang terdiri dari tiga buah ini dijual dengan harga murah. Kue yang mempunyai Rasa manis, namun belum pantas untuk disebut sebagai makanan lezat.
Wanita itu tahu dengan pasti bahwa kue ini belum cukup untuk memenuhi asupan gizi untuk janin yang sedang dikandungnya ini, tapi dikarenkan dia hanya bekerja sebagai pembersih jalanan tepatnya seseorang yang merawat pohon dan tanaman yang terdapat di pinggir jalan. Gajinya yang di bawah rata-rata menyebabkan ia hanya mampu untuk membeli beberapa kue murah ini. Sebenarnya ia masih mampu untuk membeli makanan lebih. Hanya saja, sisa uangnya ia simpan untuk membayar sewa rumah.
Beberapa bulan yang lalu saat terjadi perang suaminya yang bekerja sebagai seorang Prajurit diwajibkan untuk ikut serta dan sejak saat itu pulalah suaminya tidak pernah kunjung kembali. Bahkan mayatnya sekali pun tak terlihat seakan ditelan bumi. Sejak saat itu juga ia mulai hidup sendirian, tanpa kerabat dan sahabat yang dapat ia mintai bantuan.
Biasanya akan selalu ada kompensasi untuk Keluarga yang ditinggal mati akibat perang, namun naasnya itu tidak berlaku untuk dirinya, dari banyaknya korban perang hanya segelintir Keluarga saja yang menerima kompensasi dari pihak Kerajaan. Dari sudut pandangnya sebagai orang awam, jelas adanya korupsi di sana, entah itu dipihak Bangsawan ataupun Prajurit yang berkeliling membagikan bantuan.
Saat wanita itu hendak memakan kue keduanya, ia tanpa sengaja melihat seorang anak berpakaian kumuh duduk di tepi jalan, tepat di samping tempat sampah. Wanita itu mulai mendekatinya, dia memberikan sepotong kue yang hendak ia makan kepada anak berpakaian kumuh.
"Ini, ambilah!" ucap Wanita itu kepada anak yang sedari tadi tertunduk sambil memegang perutnya dengan kedua tangan. Sebenarnya dia tidak dalam kondisi untuk dapat menolong orang lain, tapi ketika melihat anak ini hatinya tergerak untuk dapat membantu terlepas dari kesusahan yang dia miliki.
"Apakah tidak apa-apa?" tanya anak itu dengan ragu.
"Tentu saja!" jawab Wanita itu dengan senyum lembut menghiasi parasnya.
"Terima kasih!" Anak itu segera memakan kue tersebut dengan lahapnya, tak kunjung sampai satu menit, makananya itu pun sudah habis tak tersisa.
Saat dia hendak mengajukan beberapa pertanyaan kepada anak itu. Tiba-tiba saja, semua orang yang tadinya berkerumun dan mengobrol dengan gaduhnya, sekarang mereka mulai berbaris dengan rapi dikedua sisi jalan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Beri hormat kepada Pangeran Candra dan Putri siska!" teriak seorang Prajurit yang berjalan di samping mobil mewah dan panjang berwarna hitam yang terdapat simbol kerajaan di depannya.
Menyadari kenapa suasananya menjadi seperti ini, Wanita itu langsung berdiri tegap kemudian dia membungkuk secara berlebihan. Mobil itu pasti merupakan mobil Kerajaan yang membawa Pangeran Candra serta tunangannya yang baru datang kemarin malam. Saat iring-iringan Pangeran Candra terus berjalan, tiba-tiba saja mobil Kerajaan berhenti tepat di hadapan Wanita itu.
"Eh ....!" Wanita itu tanpa sadar mengeluarkan suara aneh dikarenakan terlalu terkejut.
Wanita itu melihat ke kiri dan ke kanan dengan bodohnya, sayang sekali, tapi anak yang melamparkan sampah ke kaca mobil milik Kerajaan sudah tak terlihat. Saat Wanita itu melihat ke arah belakang, anak tadi sudah berlari ke arah gang sempit di sudut jalan.
"Hey!? Kau wanita yang di sana, berani sekali kau melempar sampah ini ke mobil Pangeran." Prajurit itu memelototinya dengan nada marah, kemudian mencabut pedang yang sedari tadi disarungkannya.
"Maafkan hamba Pangeran, hamba tidak sengaja." Wanita itu berlari ke hadapan mobil dan langsung bersimpuh dengan tubuh gemetar ketakutan. Ini merupakan alasan yang sangat bodoh, tapi Wanita itu tidak mungkin memberitahukan kebenarannya. Sikapnya ini bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap anggota Kerajaan
Dihukum di penjara beberapa tahun serta membayar denda mungkin masih terbilang ringan dalam kasus terburuk, hukuman mati sudah menanti. Tidak, itu sudah pasti. Seseorang yang melawan Bangsawan pasti akan bernasib buruk, dan hidup dalam kesengsaraan. Begitulah aturan tidak tertulis yang berlaku di Kerajaan Nataprawira.
Memberitahukan kebenarannya pun tidak akan ada yang mempercayainya. Apalagi dia tidak ingin hal itu sampai terjadi. Pasti ada benerapa orang yang menyadari bahwa anak tadilah pelaku sebenarnya. Hanya saja, semua orang terlalu takut dan sibuk memikirkan keselamatan diri mereka sendiri. Bila ada seseorang yang cocok untuk dijadikan kambing hitam, tentu mereka semua akan menyambutnya dengan tangan terbuka.
"Apakah benar bahwa Wanita ini pelakunya?" Prajurit tadi bertanya sambil melihat ke kerumunan orang. Reaksi orang berbeda-beda, ada beberapa orang yang pura-pura tidak mendengar, ada yang terus tertunduk tanpa mempedulikan, dan ada juga yang sepakat menyahlakan Wanita malang itu.
Dari arah kerumunan terlihat seorang Wanita yang mengenakan pakaian Pelayan berjalan menghampiri Prajurit itu. Setelah memberi hormat dengan sopan, Wanita itu mulai berbicara, "Aku melihatnya. Benar, dialah yang melemparkan sampah tadi. Kalau tidak percaya, kau bisa bertanya kepada beberapa orang yang berada di sini."
"Ya, aku melihatnya dengan jelas."
"Aku juga melihatnya!"
"Aku juga!"
"Oh dan aku juga melihatnya tadi!"
Seperti api yang tertiup angin yang akan terus merambat dan membakar dengan sangat cepat, satu per satu orang mulai berbicara setelah ada yang memulainya.
"Kau lihat? Mereka semua adalah saksinya. Ikut denganku, aku akan menghukummu dengan pantas!"
Prajurit itu mulai menyeret wanita malang tadi dengan ekspersi puas terpang-pang jelas. Orang-orang yang melihatnya merasa merinding, terutama untuk para wanita, mereka segera menundukan kepala dan menyembunyikan wajahnya. Siapa pun bisa menebak apa yang akan terjadi setelahnya, Prajurit itu terkenal akan sifatnya yang buruk, dia suka menyiksa dan melecehkan Wanita. Apalagi Wanita itu cukup cantik untuk membuat seseorang ingin berselingkuh terlepas dari apakah dia sedang hamil ataupun tidak. Tubuh kurusnya pun masih cukup menggoda.
Wanita itu meronta-ronta mencoba menolak sekuat tenaga, dia begitu ketakutan akan nasib yang menantinya. Lebih baik mati daripada dilecehkan oleh Pria di hadapannya ini, tapi bagaimana nasib anak yang berada di dalam perutnya nanti? Anak ini merupakan satu-satunya peninggalan dari Pria yang dia cintai. Dia tak mungkin membiarkannya mati begitu saja. Disaat Wanita itu mulai pasrah akan nasib buruk yang dialaminya. Saat itulah, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat.
"BERHENTI!" Suaranya lantang, tapi merdu. Suara bermartabat yang membuat semua orang ingin memberi hormat kepadanya.