YUWARAJA

YUWARAJA
Putri Dari Negeri Api



Hatinya terasa Layu, tubuh lemah seperti kehilangan banyak darah dan kaki yang tak tahu arah. Dia terus berdiri tegap dengan mata sayu tertunduk malu. Begitulah keadaan yang menggambarkan perasaannya saat ini. Dikelilingi musuh yang terus maju menebas kepala tanpa ragu, jeritan dari para Prajuritnya membawakan rasa takut, marah, dan bersalah.


Sebagai pemimpin, dia masihlah seorang pemula sehingga begitu melihat korban jiwa dalam jumlah yang tak pernah terpikiran sebelumnya, Dia hanya bisa pura-pura tegar, meskipun hatinya sudah runtuh sejak awal.


Perang yang sudah berlangsung selama satu minggu ini cukup menguntungkan pasukannya, mengingat letak geografis terjadinya perang yang secara perlahan mulai memasuki daerah Kerajaan Askara, tapi siapa sangka, Prajurit Nataprawira masih dapat bertahan meskipun berada di daerah gersang yang tak menguntungkannya itu. Sejak dimulainya perang, pasukan Askara selalu berada di atas angin, tapi entah karena alasan apa, keadaan itu sekarang sudah mulai berbalik, nampaknya.


Bagaimana bisa menjadi seperti ini?


Dikarenakan situasi saat ini benar-benar membuatnya bingung. Dia memutuskan untuk bertanya kepada seseorang yang selalu berada di sampingnya, "Ika, kenapa musuh terlihat lebih kuat daripada sebelumnya?"


"Sepertinya mereka memakai peralatan yang dapat menahan panas, Putri." Dari hasil rampasan baju zirah milik pasukan Nataprawira yang telah mati, mereka menemukan bahwa zirah itulah penyebabnya. Warna birunya menyerupai langit cerah disiang hari dan dinginnya sedingin es yang menjadikannya benar-benar unik bila dibandingkan dengan baju zirah biasa.


"Pantas saja." Saat dia menggenggam zirah tersebut, dia dapat yakin mengapa pasukan musuh masih bisa bertahan di daerah yang gersang ini. Bukan hanya dingin, tapi zirah ini mampu menyerap udara panas sekitar.


"Lapor, Tuan Putri! Prajurit Nataprawira sudah berhasil menembus benteng pertahanan utama kita." Seorang Prajurit yang datang tergesa-gesa segera memberikan laporannya dengan wajah pucat.


Kenapa bisa secepat ini?


"Putri, sebaiknya kita mundur untuk sekarang. Aku dan para Prajurit akan menahan musuh selama mungkin," kata laki-laki yang bernama Ika dengan cemas.


"Bagaimana aku bisa lari selagi pasukanku masih bertarung mempertaruhkan nyawa mereka. Aku tidak akan melakukan tindakan sepengecut itu."


"Justru karena itulah, bila Anda tertangkap oleh musuh. Kekalahan akan menjadi milik kita. Tolong mengertilah!" Setelah mendengar apa yang dikatakan sahabat kecilnya ini, dia mengerti betapa pentingnya setatus Putri yang dia miliki.


"Baiklah, tapi ingat, aku tidak mengizinkan kalian untuk mati di tempat seperti ini."


"Yakinlah, Komandan!" Serempak semua orang yang berada di sana memberi hormat ala Militer dengan semangat dan penuh rasa hormat.


***


Tolonglah lebih Cepat!


Sang Putri mamacu kudanya dengan kecepatan maksimal, berharap untuk dapat sesegera mungkin sampai ke tenda di mana Raja berada untuk meminta bantuan guna menyelamatkan pasukannya.


Andai saja bila ia dapat membawa kendaraan bermesin ke sini, seperti mobil dan yang lainnya, pasti perjalanna akan lebih cepat. Sungguh disayangkan, guna mencegah Nataprawira dari menggunakan kendaraan perang yang dapat merugikan Kerajaan, Raja memerintahkan untuk menggiring mereka ke tempat ini, di mana kendaraan bermesin tidak dapat beroprasi. Baik darat, maupun udara dikarenakan penghalang yang dipasang oleh Askara.


Teriakan semangat, jeritan kesakitan, dan ratapan putu asa bercampur menjadikannya melodi pembawa pesan kematian. Sebenarnya perang terjadi di tiga tempat sekaligus dan tempat ini merupakan garis terdepan di mana pasukan utama berada yang dipimpin langsung oleh penerus tahkta setiap Negara. Terdengar ceroboh memang membiarkan calon penerus tahkta berada di garis terdepan, tapi sebenarnya ada beberapa alasan dibalik keputusan tersebut. Salah satunya yaitu untuk memancing Raja keluar dari tempat persembunyiannya.


Sang Putri terus memacu kudanya menghiraukan tombak, anak panah, dan peluru berterbangan yang mengincar darah dan daging segar.


Sihir api dengan skala yang cukup luas satu per satu mulai bermunculan menghantam pasukan Nataprawira. Tentu saja Pasukan Nataprawira tidak tinggal diam, segera ratusan Prajurit berbaris membuat benteng dengan prisai sebagai tumpuannya. Mereka memang tidak sebaik pasukan Askara dalam menggunakan sihir, tapi perlatan dan senjata yang mereka buat mampu untuk menutipi kekurangannya itu.


Suara tembakan dan tebasan pedang terdengar hampir di setiap penjuru. Tak lupa dengan perang verbal yang melibatkan kata-kata kasar, mengejek satu sama lain guna memancing emosi, berharap musuh kehilangan akal dan bertindak layaknya serigala lapar.


Sang Putri tetap berlari dengan kudanya, membelah medan perang yang mulai tak terkendali itu. Beberapa peluru dan anak panah sempat tertuju kepadanya, tapi dengan sigap dia segera membakar itu semua. Beberapa Prajurit Nataprwira juga berusaha untuk menghentikannya, tapi Ika dan pasukannya mampu menahan serangan mereka. Dengan adanya Ika dan pasukan Askara yang menahan setiap orang dari dapat mengejar dirinya. Akhirnya, dia sampai di depan sebuah jembatan gantung, dia memilih rute ini dikarenakan merupakan jalan tercepat untuk sampai ke tempat Raja.


Dia mulai turun dari kuda tunggangannya itu, setelah mengikat kudanya pada salah satu pohon yang berada di sana, dia mulai menginjakan kakinya di atas jembatan yang sempit dan terlihat akan roboh hanya dengan satu sentuhan saja. Saat angin menerpa, beberapa pijakan yang terbuat dari kayu itu mulai terlepas satu per satu. Jembatan yang hanya dapat dilalui satu orang dalam sekali jalan ini terbuat dari kayu murni tanpa campuran bahan lainnya. Dia tahu bahwa jembatan ini sudah tidak digunakan dalam beberapa puluh tahun terakhir, tapi tetap saja dia tidak menyangka akan separah ini.


Sang Putri memberanikan diri dan mulai menginjakan kakinya kembali di jembatan usang itu. Saat ia melihat ke bawah, hanya warna gelap tak berdasar yang menyambutnya. Kepalanya mulai terasa pusing dikarenakan jembatan gantung yang mulai bergoyang akibat terpaan angin, tapi ia tetap melangkah, menguatkan tekad dalam menghadapi rasa takut akan ketinggian. Belum sampai setengah jalan, dia mengurungkan niatnya dan segera berlari ke arah di mana kudanya berada. Dia merasakan bahaya mendekat, instingnya sebagai seorang Penyihir memberitahunya.


Sang Putri terus berlari sampai akhirnya dia memutuskan untuk melompat agar sampai ke seberang jalan dan benar saja, keputusan yang diambilnya itu sangatlah tepat. Bersamaan dengan saat Sang Putri melompat, terdengar suara dentaman meriam yang membakar dan membumi hanguskan jembatan gantung tersebut.


Bagaimana bisa mereka sampai ke sini?


Tiga orang berpakaian hitam ciri khas pembunuh mulai menampakan diri di hadapannya. Tiga orang yang memiliki postur tubuh tidak jauh berbeda itu terlihat begitu berbahaya. Satu orang membawa pistol, satu orang lagi membawa pedang, dan orang terakhir yang tidak bersenjata, entah kenapa dia terlihat lebih berbahaya daripada kedua orang lainnya.


"Apakah kalian pembunuh yang dikirim oleh Nataprawira?"


Dia merasa bodoh untuk mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas terlihat, tapi secara naluriah, Manusia cenderung bertanya terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya.


Seseorang yang membawa pedang berjalan beberapa langkah ke arahnya, tanpa aba-aba dan peringatan sedikit pun, seakan sudah terlatih dengan baik, gerakan khas seorang pembunuh, begitu cepat dan akut. Layaknya peluru yang tak bisa ditangkap oleh mata, orang itu melemparkan belati yang tertuju pada organ vital Manusia yaitu Kepala. Merasa bahwa hidupnya terancam, Sang Putri segera menahan belati tersebut menggunakan salah satu lengannya yang mengeluarkan api, sebelum sempat melukai dirinya, belati tersebut sudah hangus terbakar, lenyap tak tersisa.


Begitu Cepat, siapa sebenarnya mereka?


Beberapa organisasi pembunuh bayaran mungkin mempunyai orang-orang kuat di dalamnya, tapi tetap saja, bukahkah Nataprwaira terlalu baik hati untuk menyewa pembunuh tingkat tinggi hanya untuk Putri seperti dirinya ini.


"Putri dari Askara ternyata cukup kuat seperti yang dirumorkan," ujar orang yang melemparkan belati tadi.


"Kita lihat saja, apakah rumor itu benar." Sang Putri mengeluarkan beberapa bola api dari telapak tangannya yang menyerang ketiga pembunuh itu. Diluar dugaan bukanya menghindrai serangannya, mereka malah menerima serangan tersebut tanpa bergerak sedikit pun. Saat bola api itu akan menyentuh kulit mereka, seketika orang yang memawa pedang mulai menebas bola-bola api tersebut dengan santainya. Bola api yang tadinya mengepung mereka dari segala sisi, kini lenyap tak menyisakan apa pun.


Orang yang membawa pedang mulai berlari menghampiri Sang Putri dengan kecepatan yang di luar nalar Manusia. Orang itu mengayunkan pedangnya beberapa kali tanpa memberikan celah untuk Putri melarikan diri. Sang Putri terus menghindari serangannya itu, tapi selihai apa pun dia, masih ada satu sampai dua tebasan yang mengenai dirinya. Dia hanya dapat menghindar dan bertahan tanpa bisa melakukan serangan balik sekali pun. Di situasi hidup dan mati, Sang Puti mulai menunjukan keseriusannya. Dengan jari telunjuknya yang mengeluarkan darah, Sang Putri menyerang hanya dengan menyentuh bagian tubuh musuh menggunakan darah dari jari telunjuknya itu. Setelah beberapa kali menghindar, akhirnya Putri dapat menjauh dari lawannya ini.


"Akhirnya!" gumam Sang Putri sambil menggigit jari telujuknya tadi. Perilaku anehnya ini menyebabkan ketiga orang itu mulai terlihat waspada.


"Gawat, cepat lepaskan pakaianmu!" teriak seseorang yang tak bersenjata.


Sayangnya semua itu sudah terlambat. Untuk pertama kalinya, Putri melakukan serangan, dia berlari dan melakukan beberapa kali pukulan serta tendangan yang kebanyakan dari mereka dapat dihindari oleh orang yang membawa pedang.


Putri kembali mengeluarkan beberapa bola api ke arah musuhnya, tapi sekali lagi orang itu berhasil menghancurkan bola-bola api tersebut. Saat bola api terakhir berhasil ditebas oleh mushnya itu, saat itulah Sang Putri keluar dari belakang bola api tersebut dan berhasil menyentuh tubuh orang itu menggunakan jari telunjuknya yang terluka. Untuk beberapa saat orang yang membawa pedang terlihat kebingungan. Pasalnya, semua serangan tadi hanya untuk ini. Sungguh menggelikan, pikirnya. Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi, tubuh orang yang membawa pedang mulai mengeluarkan asap. Perlahan tapi pasti, api mulai menjalar dari sekujur tubuhnya itu dengan darah Putri yang menempel sebagai pusatnya.


"Kau, sialan!" Orang yang membawa pedang berteriak penuh kebencian.


Sebelum Sang Putri dan orang yang membawa pedang sempat dapat merespon. Orang yang sedari tadi berdiam diri sekarang sudah berada di depan Putri. Orang itu mengarahkan Tinjunya pada perut, lengan, dan pada bagian dada dengan cukup kuat. Untuk beberapa alasan Sang Putri tidak dapat menghindari serangannya itu, dia mulai memuntahkan darah dan meringis kesakitan. Orang itu kembali menyerang mengandalkan tinju dan tendangan yang kali ini dapat di hindari oleh Putri.


Tiba-tiba saja orang yang menyerang Putri berhenti, begitu juga dengan semua orang yang berada di sana. Mereka serempak mentapat langit dan betapa terkejutnya mereka ketika mendapati puluhan bola api dengan ukuran sepuluh kali lipat dari serangan Putri tadi tertuju ke arahnya.


Suara dentaman meriam kembali terdengar yang menyebabkan situasi di sana semakin kacau.Beberap lubang di atas tanah mulai terlihat dengan api yang menyala-nyala menghiasinya, persisi Neraka Dunia. Bola meriam terus menghujani mereka dengan daya ledak yang amat Dahsyat, hingga akhirnya mereka berempat terhempas ke dalam jurang yang disebut-sebut tak berdasar.


***


"Putri! Putri! Apa Anda tertidur?" tanya seorang pelayan dengan cemas.


"Ah ... tidak. Aku hanya memejamkan mataku saja," Balasnya.


"Ada apa sampai kau menganggu waktu istirahatku?" tanya Sang Putri.


"Maafkan Hamba, sebentar lagi kita akan berangkat ke kerajaan Gandana. Harap Anda segera bersiap-siap!" jawab Pelayan itu sambil bersimpuh di hadapannya.


"Aku hampir lupa, Baiklah. Kau bisa pergi sekarang!"


Pelayan itu segera bergegas setelah mendengar perintah dari Putrinya. Adelia kembali mengingat kenangan yang mengiris hati ini. Setiap kali dia tertidur, dia selalu mengingat pertemuannya dengan Candra di medan perang terkutuk itu, di dasar jurang terdalam mereka bersama, hampir tiga minggu lamanya.