YUWARAJA

YUWARAJA
Pelarian Eddi



Di sebelah barat dari Istana, terdapat sebuah bangunan yang dibuat khusus untuk mengurung para penjahat. Bangunan yang dibuat menyerupai benteng kokoh ini terlihat lebih tua bila dibandingkan dengan bangunan yang lainnya. Terdapat meriam di setiap sisinya, selalu dijaga dengan sangat ketat oleh para Prajurit yang bergiliran setiap empat jam sekali.


Di Kerajaan Harsana, tindak kejahatan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kejahatan ringan dan berat. Saat ada seseorang yang mengganggu ketertiban umum, melakukan pencopetan, pemerasan, ancaman, dan tindak kekerasan yang tidak membahayakan nyawa, maka itu akan termasuk ke dalam kategori kejahatan ringan.


Sedangkan, apabila ada seseorang yang melakukan pembunuhan, perampokan bersekala besar, pemberontakan, korupsi, dan penyalah gunaan kekuasaan, maka itu akan termasuk ke dalam kategori kejahatan berat. Saat seseorang melakukan kejahatan ringan, maka ia akan di tempatkan di penjara luar, sedangkan bagi mereka yang telah melakukan kejahatan berat, maka ia akan di tempatkan di penjara bawah tanah.


"Fuwa ... bukankah sudah saatnya giliran kita istirahat?" Seorang prajurit berjanggut yang menguap bertanya kepada teman di sebelahnya. Terdapat kantung mata pada kedua mata prajurit itu yang menandakan bahwa mereka berdua belum tidur dari tadi malam dikarenakan mereka sibuk menjaga gerbang penjara.


"Bersabarlah, mungkin sebentar lagi," jawab temannya dengan suara datar.


Terkadang mereka merasa bingung, sebenarnya penjagaan ini tidak terlalu dibutuhkan mengingat banyaknya prajurit yang berada di dalam, belum lagi tempat ini dirancang dengan sangat teliti sehingga sangat sulit untuk dapat masuk dan keluar sesuka hati. Ya ... tapi apa boleh buat, mereka hanya menjalankan misi untuk dapat menghidupi Anak dan Istri, sehingga mereka tidak dapat melarika diri dari tugas yang dirasa membosankannya ini.


"Maaf, aku terlambat. Sekarang kalian bisa beristirahat," ucap seorang prajurit yang berlari menghampiri mereka.


"Akhirnya, tolong ya!" kata kedua prajurit itu dengan nada gembira.


"Serakhan padaku!" Prajurit itu memberi hormat ala Militer kepada mereka berdua.


"Apa kau anak baru?" tanya prajurit berjanggut itu, mengingat baru pertama kali ini ia melihatnya.


"Ah, benar. Aku baru pertama kali ditugaskan di sini," jawabnya tanpa ragu.


"Begitukah? Semangat, ya. Anak baru!" Sambil mengacungkan jempol tangannya kedua Prajurit itu menjauh pergi.


Dikarenakan sudah pagi hari jadi Prajurit yang bertugas sedikit dibatasi, hanya menyisakan setengah dari jumlah penjaga dimalam hari. Bukannya menjaga gerbang, tapi prajurit yang baru tiba tadi malah pergi masuk ke dalam Penjara. Pintu masuk Penjara selalu dijaga oleh Prajurit di kedua sisinya. Saat mereka melihat ada seseorang mendekat, mereka langsung menghentikannya dengan menyilangkan tombak yang mereka bawa. Namun setelah Pria itu mengeluarkan sebuah surat dari saku celananya, membuat kedua Prajurit penjaga pintu terkejut dan langsung membiarkannya masuk.


"Siapa dia?" tanya salah satu prajurit itu keheranan.


"Entahlah," Prajurit itu mengangkat bahu menandakan bahwa ia juga tidak tahu, "tapi dikarena dia mempunyai surat izin masuk pastinya dia orang yang berpengaruhkan."


"Ya, kau benar juga," jawab Prajurit lainnya setuju.


Mereka tidak terlalu mengerti kenapa seorang Prajurit yang terlihat biasa-biasa saja bisa mempunyai surat izin itu, tapi yang mereka tahu, siapa pun yang mempunyai surat izin memasuki penjara bawah tanah, pasti bukanlah orang sembarangan.


***


Di salah satu sel penjara bawah tanah terdapat seorang Pemuda yang telah kehilangan salah satu lengannya. Pemuda yang masih memiliki kebencian mendalam terhadap Nataprawira yang telah melakukan pemberontakan dan rencana pembunuhan terhadap Candra. Pemuda itu adalah Eddi, Putra dari Penasihat Raja dan teman masa kecil Sang Putri.


Eddi duduk di sudut ruangan. Dia menggoreskan kukunya pada lantai guna menghitung hari di dalam sel, meskipun disebut sebagai penjara, tapi tempat ini cukup bersih dengan Kasur di sebelah kanan dan Toilet di sebelah kirinya.


Sehari sudah berlalu sejak Eddi dijebloskan ke dalam penjara, tapi baginya sehari terasa begitu lama dan membosankan. Waktu bagaikan tertahan, bergerak begitu lambat seperti kura-kura yang mencoba untuk dapat bisa berlari.


Setelah melihat betapa kuatnya Dierja dan pasukan Nataprawira, akhirnya dia mengerti, bahwa dia tidak akan pernah dapat menghancurkan Dierja dan pasukannya kalau hanya bergerak sendiri, tapi dia sungguh sangat beruntung karena dapat bertemu sekutu kuat yang mempunyai tujuan yang sama.


Beberapa hari yang lalu, sebelum kedatangan rombongan Nataprawira tiba di Kerajaan Harsana, Eddi bertemu dengan seorang Pria misterius yang membawa berbagai senjata berkualitas tinggi. Pria tersebut memberikan senjata itu kepada Eddi dengan syarat, dia harus dapat membunuh Candra. Pangeran, sekaligus anak satu-satunya Raja Nataprawira.


Senjata yang diberikan oleh Pria misterius tersebut merupakan senjata berkualitas tinggi yang diproduksi oleh Kerajaan Askara, belum lagi tanda pengenal yang dia perlihatkan menunjukan bahwa Pria itu bukanlah orang biasa. Hal itu saja sudah cukup untuk membuktikan identitas dari Pria tersebut, setidaknya dia bukanlah seseorang yang berasal dari Nataprawira, Eddi percaya dan yakin akan hal ini.


Namun sangat disayangkan bahwa rencananya itu gagal. Eddi tidak tahu bahwa Candra ternyata sangat kuat, berbeda sekali dengan laporan yang didapatnya. Belum lagi, seseorang berhasil membunuh temannya yang dapat mengendalikan kabut putih sehingga keuntungan mereka lenyap dalam sekejap dan akhirnya hanya ada kerugian di pihaknya.


"Lihatlah dirimu, Kau menjadi begitu menyedihkan," ucap seorang Pria yang datang entah dari mana.


Eddi tidak terlalu dikejutkan dengan kedatangan pria ini, itu dikarena dia yakin cepat atau lambat pasti akan ada seseorang yang datang menyelamatkannya, tapi dia tidak menyangka bahwa orang sepenting dirinya yang akan datang untuknya.


Pria itu membukakan pintu dengan kunci yang dibawanya, setiap gerakannya begitu alami tanpa rasa canggung yang membuktikan bahwa dia begitu terlatih. Seketika itu juga, Eddi langsung bangkit dari tempat duduknya, dia menghampiri Pintu dengan senyum sinis di bibirnya dia berkata, "Aku sudah lama menunggumu."


Eddi langsung berlari keluar mengikuti Pria itu. Pintu yang seharusnya di jaga ketat oleh beberapa prajurit mendadak sepi tanpa lalu lalang penjaga. Mereka berlari dengan suara menggema di lorong-lorong Penjara, tapi entah mengapa tidak ada satu pun penjaga yang menghampiri mereka.


Saat Eddi melihat ke dalam sel, ternyata semua orang sedang tertidur, baik itu para Tahanan maupun Prajurit. Tanpa disadarinya, Eddi sudah berada di depan pintu yang merupakan satu-satunya akses masuk keluar Penjara.


Eddi menatap pria yang berada di hadapannya ini, untuk sesaat Eddi dapat melihat bahwa Pria ini juga terlihat aneh akan situasi yang terjadi, tapi setelah Pria itu bicara keraguannya pun mulai menghilang.


"Tenang saja, aku sudah membuat semua orang tertidur!" ucap Pria itu sambil membukakan pintu.


"Pergilah lebih dulu, anak buahku sudah menunggumu di sana." Pria itu mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya kepada Eddi.


Eddi hanya mengangguk mengikuti perintah, setelah dia mengganti pakaiannya dengan pakaian prajurit Harsana, Eddi langsung keluar menunju tempat mereka berkumpul, mengikuti arahan dari Pria itu yang tergambar jelas di atas kertas yang diberikannya.


Di sisi lain, Pria misterius itu kembali masuk ke dalam penjara. Dia berdiri di depan salah satu sel para Tahanan, ia mengambil pedang yang tersimpan rapi di pinggangnya. Dia menebas salah satu pintu sel tersebut, saat itu juga jeruji besi di depannya tersayat dengan rapi seperti daging yang tercincang.


Pria itu segera masuk ke dalam sel tersebut dan menghampiri seorang tahanan yang berada di dalamnya. Dia menampar, memukul, dan menendang tahanan tersebut agar dapat terbangun dari mimpi indahnya.


"Siapa kau? Berani sekali memukulku!" teriak tahanan itu marah.


Tanpa mempedulikanya, Pria misterius kembali menendang tahanan tersebut sehingga dia membentur tembok dengan sangat keras. Tahanan itu tergeletak lemas di lantai. Saat dia hendak bangkit, tanpa disadarinya sebilah pedang telah menancap di samping telinganya, suara renyah dapat terdengar yang menyisakan robekan sperti kertas yang terpotong.


Pria misteriua itu mulai membungkuk mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka dapat bersentuhan. Dengan senyuman mengerikan ditujukannya ia berkata, "Kau sekarang sudah bebas. Begitu pula dengan tahanan yang lain."


Melihat ekspresi yang tidak manusiawi, tahanan tersebut hanya dapat menelan ludah sambil mengangguk patuh.


"Ini kuncinya, bebaskan mereka semua. Setelah keluar dari sini kau dapat melakukan apapun yang kau mau." Pria itu melemparkan setumpuk kunci ke samping tahanan tersebut.


Pria itu menarik pedang yang masih tertancap di dinding yang secara perlahan mulai terlepas. Dia menghiraukan jeritan kesakitan dari tahanan tersebut dikarena telinganya yang kembali tergores oleh tajamnya bilah pedang. Setelah mengibaskan pedangnya ke arah lantai guna menyingkirkan darah yang masih menempel, Pria misterius langsung keluar dengan santainya seakan tidak terjadi apa-apa.


"Sungguh menakutkan."


Beberapa kali Tahana tadi menghela napas berat dan panjang mencoba bangkit dari teror yang baru diterimanya. Setelah merasa sedikit tenang, Tahanan tersebut mulai berdiri, tapi lulutnya masih bergetar menahan rasa sakit dan takut di hati. Hanya saja, ia tetap memaksakan diri dikarena ingin cepat keluar dari tempat yang dianggap terkutuknya ini.