YUWARAJA

YUWARAJA
Menjelang Hari Pertunangan II



Terdapat Hutan belantara yang sangat besar yang bahkan melebihi besarnya semua Kerajaan yang berada di Benua Barat. Hutan yang terletak di antara Kerajaan Nataprawira dan Kerajaan Askara ini bernama, Hutan Halimun Banger.


Terkenal akan habibat tinggalnya binatang buas, monster, dan berbagai makhluk supranatural yang sering menampakan diri kepada orang-orang yang melewati hutan ini.


Hutan Halimun Banger sangat jarang dijamah oleh Manusia. Selain dari luasnya yang sanggup menampung seluruh Kerajaan di dalamnya, Hutan ini juga merupakan tempat paling berbahaya yang berada di Benua barat. Angka kematian di Hutan ini Bahkan hampir sama dengan akumulasi korban perang beberapa tahun terakhir.


Tapi bukan berarti orang-orang akan melawatkan tempat ini begitu saja. Manusia sering merasa penasaran akan suatu hal yang belum diketahuinya.


Misalkan ada seseorang yang menemukan sebuah kotak tertutup rapat yang dilapisi emas, dorongan untuk membuka kotak tersebut akan sangat besar tanpa peduli apakah ada jebakan ataupun tidak, bahkan tidak jarang ada orang yang rela mati hanya untuk dapat melihat isi kotak tersebut, terlepas dari apa pun isinya, bahkan meskipun racun yang bisa menghilangkan nyawa orang yang membukanya sekali pun.


Yang pada akhirnya akan memunculkan beberapa pertanyaan, Apakah itu perbuatan yang sia-sia? Apakah itu layak untuk dilakukan? Hanya orang itulah yang mengetahui jawabannya. Sebab terkadang Manusia cenderung lebih mengutamakan Nafsu daripada akal. Tentu, termasuk juga rasa penasaran di dalamnya. Beberapa orang ada yang hidup hanya untuk memenuhi rasa penasarannya, jadi tentu mereka tidak akan menyesal bila mati dalam prosesnya. Mayoritas orang akan menganggap ini merupakan Logika yang menyimpang.


Tapi tidak semua orang hidup hanya untuk memenuhi rasa penasarannya saja, termasuk beberapa orang ini yang memasuki Hutan dengan tujuan pasti, yaitu berhasil selamat dan dapat menyelesaikan misi.


"Putri, apa Anda yakin ini merupakan arah yang benar?" Seorang wanita yang sepertinya pelayan dari gadis cantik yang dipanggilnya Putri itu, bertanya sambil melepaskan tudung yang menutupi kepalanya.


"Aku sangat yakin. Ayah telah memberitahuku sebelumnya," jawab gadis cantik itu dengan keyakinan pasti.


"Baiklah, kita sudah empat jam berjalan kaki setidaknya kita harus sampai di tempat tujuan tidak lama lagi," wanita itu melihat kesekeliling hutan, dan ia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya ketika merasakan suasana mencekam di hutan ini.


Orang-orang ini terdiri lebih dari dua ratus orang yang setiap orang dibekali dengan persenjataan lengkap. Melihat sekilas saja, jelas bahwa mereka semua adalah prajurit elit dari sebuah kerajaan. Dengan gadis tadi yang memimpin jalan, dan seorang pria tua yang mimpin para prajurit lainnya.


Perlahan tapi pasti matahari sudah tergelincir ke arah barat yang berarti bahwa sebentar lagi hari berganti. Suara bising dari berbagai serangga dan hewan liar mulai terdengar yang menjadikannya seperti melodi pembawa mimpi buruk.


Pria tua yang memimpin para pasukan tiba-tiba saja mengangkat tangan kanannya yang mengartikan supaya mereka segera berhenti, "Jangan terlalu berisik, dan perhatikan langkah kaki kalian. Hati-hati menginjak hewan liar yang akan memancing monster kemari."


"Guru, sebaiknya kita percepat langkah kita. Malam akan segera datang, akan sulit untuk menentukan arah pada saat itu," Gadis yang dipanggil Putri berbicara sambil melihat sebuah benda bulat yang terbuat dari besi, di sana terdapat beberapa titik merah yang menuntun ke tempat tujuan mereka. Benda itu merupakan peta, tapi dengan teknologi lebih maju.


Penggunaan kertas di era ini memang sudah dibatasi, kertas hanya digunakan untuk keperluan formal saja seperti penulisan surat yang masih dilakukan secara manual.


"Baiklah, semuanya percepat langkah kalian!" ucap pria tua itu kepada pasukannya.


Mereka segera bergegas pergi berpacu dengan waktu. Rombongan yang lebih dari dua ratus orang itu masih mempunyai tenaga lebih bahkan setelah empat jam penuh berjalan kaki. Kabut Putih perlahan mulai menampakan diri yang membatasi penglihatan setiap orang, diikuti dengan bau busuk, suara-suara aneh yang entah berasal dari binatang ataupun monster, tapi yang pasti suasana di hutan ini mampu membuat prajurit berpengalaman pun bergidik ketakutan.


"Ihkk ...." Salah seorang prajurit tiba-tiba berhenti, dia merasakan bahwa ada sesuatu yang melilit kakinya. Itu menggeliat, awalnya terasa geli, tapi lama kelamaan rasa sakit mulai menjalar hanya saja anehnya tidak ada darah yang keluar.


Wajahnya mulai terlihat pucat mungkin itu disebabkan karena dia ketakutan. Dia melihat ke bawah, dan benar saja ada ular hitam melilit kakinya dengan sangat kencang. Prajurit itu mulai mengangkat pedangnya berusaha untuk menebas kepala ular itu, tapi sensasi aneh mulai terasa. Dia melihat ke arah bahu kanannya, dan betapa terkejutnya dia bahwa lengan yang dibanggakannya itu sudah tidak ada lagi sekarang, yang lebih aneh lagi dia tidak melihat adanya setetes darah pun yang keluar.


"Ahhhhh ...." Prajurit itu berteriak dengan kerasnya yang bahkan membuat gendang telinganya sendiri pun kesakitan.


Dia meronta-ronta mencoba melawan rasa sakit yang ekstriem ini. Saat mencoba melangkah dia terjatuh, melihat ke belekang ternyata kakinya sudah diputar ke arah yang aneh dan menakutkan. Sekarang dia tidak bisa melarikan diri, lupakan melarikan diri. Berdiri pun sekarang dia tidak sanggup.


Rombongan yang tadi bersamanya pun sudah berada jauh di depan. Saat di barisan tadi dia mendapat perasaan aneh, saat melihat danau yang ada di hutan ini. Entah kenapa dia merasa begitu tertarik dan seperti terhipnotis hingga ia tidak sadar bahwa sudah terpisah cukup jauh dari rombongannya itu.


"Berengsek, menjauhlah dariku!" teriak prajurit itu.


Sekarang dia baru sadar bahwa apa yang dianggapnya ular tadi ternyata adalah hewan yang belum pernah dilihatnya. panjangnya cuma 40 cm, tapi mempunyai kepala besar dengan tanduk berjumlah tiga dikepalanya. lendir ditubuh hewan ini menciptakan perasaan jijik.


Hewan itu mulai menggeliat kembali, setelah tangan dan kaki. Hewan itu kini mulai merayap ke arah leher. Prajurit itu mati-matian berusaha untuk menghindarinya, tapi sungguh disayangkan bahwa semua itu sia-sia.


"Tidak, jangan ...." Dia ketakutan, wajahnya pucat dengan air mata mengalir dan ingus yang keluar, ada sesuatu yang menggeliat-geliat dilubang hidungnya. Sesuatu yang mirip dengan belatung keluar, tapi dengan warna hitam pekat dan tanduk yang sama seperti hewan tadi.


"Ahhh ... ahhh ...." Prajurit itu mencoba menenangkan dirinya. Berusaha bertahan hidup apa pun yang terjadi.


"Ti-ti-tid ...." Begitulah ratapan terakhir dari prajurit ini. Kepalanya terlepas dari bagian tubuhnya disebakan hewan yang melilit lehernya tadi. Hal yang aneh dapat terlihat bahwa tidak adanya darah yang keluar sedikit pun dari awal hingga akhir.


Sedangkan di sisi lain hutan, rombongan tadi sudah berada cukup jauh di depan meninggalkan prajurit malang tadi sendiri. Hari sudah berganti malam, rasa lelah mulai menyambar, persediaan air entah kenapa berkurang derastis. Udara dingin yang membuat tubuh menggigil memenuhi hutan ini dengan kabut putih yang menghalangi jarak pandang.


"Berhenti" Sang Putri tiba-tiba berteriak yang menyebabkan semua orang terkejut. Pria yang menjadi pemimpin tadi menyipitkan matanya.


"Ada apa Putri?" tanya pelayan yang di sebelahnya.


"Guru!" Alih-alih menjawab, Sang Putri malah memanggil Pria tua itu.


Pria itu hanya mengangguk, dan mengangkat tangannya. Prilaku aneh pria tua ini menyebabkan Sang Putri merasa ada sesuatu yang tidak beres dan benar saja. Tiba-tiba beberapa prajurit menebas prajurit yang lainnya.


"Apa?"


"Kena-pa ... kalian?"


Para prajurit itu mati tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak pernah dalam mimpi terliar mereka bahwa meraka akan mati ditangan teman seperjuangannya sendiri. Barulah setelah ajal menjemput mereka tahu bahwa musuh yang sebenarnya ternyata sangat dekat.


"Apa maksud dari semua ini, Tuan?" Pelayan itu bertanya sambil mengeluarkan belati yang dibawanya. Berdiri di depan Sang Putri mencoba untuk melindunginya.


"Apa aku masih harus menjelaskannya?" Pria tua itu tersenyum sambil menyeka darah di pedangnya itu. Dari dua ratus prajurit sekarang tinggal tersisa sembilan puluh dan mereka semua adalah pengkhianat.


"Menyerahlah Putri dan ikut bersamaku!" ucap pria itu sambil mendorong pedang ke arah pelayan yang mencoba melindungi Sang Putri.


Sang Putri berjalan menghampiri pria tua itu dengan mata berkaca-kaca menunjukan jelas rasa kecewa, "Aku hanya punya satu pertanyaan!"


Mulut kecil menggoda itu terlihat bergetar ketika berbicara, "Kenapa?"


"Haaa ... aku kira apa. Anak kecil sepertimu tidak akan mengerti. Mau tidak mau aku akan tetap membawamu."


"Dalam mimpimu!" Pelayan tadi berteriak sambil melemparkan tiga bola ke depan pria tua itu.


Sang Putri merespon dengan sangat cepat, dia mengeluarkan beberapa bola api ke arah pria tua itu yang semua serangannya dapat dihindari oleh pria tua itu. Dan begitu bola api mengenai bola-bola lain yang di lemparkan, segera asap hitam keluar diiringi bunyi nyaring yang sanggup memecahkan gendang telinga.


"Ahhh ....."


"Telingaku, tolong ...."


Semua orang segera menutup telinganya, berusaha agar tetap tersadar ketika mendengar bunyi nyaring itu, tapi sekeras apa pun mereka berusaha darah tetap keluar dari gendang telinganya. Hanya orang-orang yang sudah mencapai kekuatan tertentu yang tidak terpengaruh oleh bunyi nyaring tersebut.


Setelah sekitar lima menit berlalu, barulah bunyi tersebut berhenti. Kekacuan yang disebabkan oleh bunyi nyaring itu bahkan sampai membuat beberapa monster ketakutan. Setengah dari para pengkhianat jatuh tak berdaya dengan busa diantara mulut mereka.


Kabut hitam yang dikeluarkan bola tersebut pun sudah lenyap tak tersisa, tapi tetap saja lingkungan di hutan ini mengakibatkan susah untuk menemukan jejak seseorang.


"Tuan, bagaimana ini. Putri berhasil melarikan diri," Seorang prajurit bangkit dan dengan tertatih-tatih menghampiri pria tua itu. Terlihat jelas bahwa ia sangat gelisah akan hal ini.


"Cepat, kita kejar mereka. Kita akan mati bila ia sampai ke Kerajaan dengan selamat!"


Pria tua itu mulai menyusun rencana bila semua hal berada di luar jangkauannya. Mereka harus bergerak, selain dari mengejar Sang Putri mereka juga harus cepat pergi dari tempat ini. Monster lemah mungkin takut akan bunyi bising, tapi itu tidak berlaku untuk monster tingkat tinggi.


Dengan seringai ganas, pria tua itu bergegas mencari Sang Putri dengan beberapa prajurit yang masih tersadarkan diri.


Adelia, muridku. Tunggu saja, Gurumu ini akan datang menjemputmu.