
Di pagi hari saat matahari baru menampakan diri, Saat itulah Abisatya, dan rombongannya menginjakan kaki di Negeri yang sepenuhnya tertutup es dan salju ini. Mereka baru tiba di Bandara dekat Istana Kerajaan. Saat mereka keluar, mereka disambut dengan ratusan prajurit dan pelayan, tak lupa juga dengan para pemain musik yang ditugaskan untuk menyambut tamu-tamu penting.
Tak seperti tradisi di Harsana yang mengharuskan adanya penari. Di Nataprawira, penyambutan tamu dilakukan dengan cara Militer. Sekarang sudah ada Ratusan Prajurit yang membentuk barisan panjang di kedua sisi, mereka mengangkat senapan laras panjang dan pedang. Suara tembakan dan ayunan pedang memberikan kesan bahwa Kerajaan ini sangat disiplin dalam bidang Militer, meskipun masih bercampur dengan melodi musik dan kembang api, tapi tetap saja kesan mewah namun gagah tak dapat lepas darinya.
"Ayah, Ibu!" Siska yang berdiri tidak jauh dari tempat Abisatya berada langsung berlari dan memeluk mereka.
"Ah ... Putriku. Apa kau baik-baik saja di sini?" tanya Abisatya sambil memeluk Siska dengan penuh kasih sayang.
"Hmmm!" Siska hanya mengangguk sebagai tanggapannya.
"Senang melihat kalian baik-baik saja!" Candra datang sambil memberi hormat kepada mereka.
"Pangeran, senang juga melihat kau masih seperti biasanya." Abisatya melepaskan pelukan dari Putrinya dan mendekat untuk menepuk pundak Candra dengan senyuman nyata diraut wajahnya.
Melihat itu Candra meringis di dalam hatinya, orang ini terasa jujur tanpa menyembunyikan niat lain dibalik setiap tindakannya. Sosok figur ideal seorang Ayah menurut Candra Setidaknya haruslah seperti dia, sedangkan untuk Ayahnya sendiri, Candra langsung menggelengkan kepalanya berpikir bahwa itu sangat lucu.
"Terasa tidak pantas untuk mengobrol di sini. Mari, aku akan mengantar kalian ke Istana!" ujar Candra sambil memimpin mereka masuk ke dalam mobil yang datang menjemput.
"Baiklah, ayo!"
Di depan mereka sekarang sudah ada Mobil hitam mewah yang sanggup untuk menampung enam orang termasuk supir. Enam kursi itu seketika langsung terisi penuh.
Duduk di kursi paling depan di sebelah supir adalah laki-laki paruh baya dia adalah Penasihat Kerajaan Harsana. Di kursi belakangnya ada Raja dan Ratu Harsana yang duduk bersebelahan, sedangkan untuk Candra dan Siska, mereka duduk di kursi paling belakang yang sedari tadi memasang ekspresi kurang nyaman.
Di sepanjang jalan menuju Istana, suasana di dalam Mobil itu terasa begitu Canggung. Hanya saja terkadang Abisatya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Candra dan Candra akan menjawabnya. Siklus ini terus berulang tanpa ada orang lain yang menyela mereka.
Para wanita hanya akan tersenyum masam dan terkadang saling memandang, lalu mengangguk seakan sudah tahu apa yang ada dipikiran masing-masing. Abisatya bertanya-tanya, Kenapa dia tidak melihat adanya penduduk di sepanjang jalan yang mereka lalui?
"Tempat ini tidak dibuka untuk umum, bahkan para Bangsawan pun harus mempunyai izin bila ingin menggunakan fasilitas di sini?" jawab Candra.
Tanpa disadari mobil hitam mewah itu sudah sampai di depan gerbang Istana. Begitu para Prajurit mengetahui bahwa Mobil itu membawa orang-orang penting di dalamnya, mereka langsung menepi sambil membungkuk memberi hormat.
Gerbang Istana selalu dijaga dengan beberapa prajurit. Mereka bertugas untuk memeriksa setiap orang yang keluar masuk ke Istana. Gerbangnya sendiri sudah beroprasi secara otomatis dan selalu akan ada kamera yang mengawasinya. Para prajurit hanya sekedar jaminan untuk melerai beberapa pembuat onar yang terkadang datang.
"Selamat Datang di kediamanku. Anggaplah rumah sendiri!" kata Dierja yang sekarang sedang duduk di Taman belakang Istana.
Dierja tidak pernah ikut menyambut seorang tamu terlepas dari siapapun itu, baik Bangswan bahkan Raja sekalipun. Abisatya tahu betul akan karakternya ini, sehingga begitu dia sampai di Nataprawira dia tidak terlalu dikejutkan ataupun merasa tersinggung. Tapi ada satu orang yang terlihat tidak begitu, bahkan ketika di Bandara pun terkadang Siska akan menatap Candra dengan penuh rasa kesal.
Abisatya yang melihatnya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. Putrinya ini terlalu polos dan memegang rasa keadilan yang tinggi tanpa tahu setiap yang benar belum tentu baik. Hanya bisa melihat warna putih tanpa tahu adanya hitam, tapi terkadang Siska juga sangat fasih dalam menilai karakter seseorang, terutama laki-laki. Mungkin itu dikerenakan dia sudah terlalu banyak bertemu laki-laki yang terlilit ***** ketika berhadapan dengannya.
Inilah akibat karena terlalu memanjakan Putrinya sendiri, tapi di satu sisi Abisatya merasa bersyukur, setelah kematian Ibu kandungnya Siska mulai berubah dan bisa beradaptasi terhadap situasi tak terduga. Meskipun Abisatya tak yakin apa itu sesuatu yang harus disyukuri atau tidak. Yang pasti, Siska tidak lagi cengeng dan mulai tahu bahwa dibalik setiap tindakan seseorang pasti ada alasan tersendiri, terlepas dari tindakan itu baik ataupun buruk dan ini hal yang tentunya baik terhadap perkembangan Siska sendiri.
"Terima kasih! Kami tidak terbiasa bepergian jauh jadi rasanya sedikit tidak nyaman." Abisatya duduk di kursi depan Dierja diikuti oleh Sang Ratu yang duduk di sampingnya.
"Kalian Anak Muda bisa menikmati percakapan kalian sendiri. Candra ajaklah Putri jalan-jalan, sejak tiba di sini dia belum sempat melihat seluruh Kerajaan kita." Dierja tersenyum ke arah Candra dan Siska yang masih berdiri di depan pintu masuk.
Mereka berdua langsung memberi hormat dan melangkah pergi. Mereka berdua tahu bahwa pembicaraan setelah ini tidak boleh didengar oleh pihak lain bahkan keluarga sendiri. Jadi Candra langsung pergi dan Siska mengikutinya dari belakang.
"Bagaimana keadaan di sana sekarang?" Dierja bertanya setelah memastikan tida ada orang lain selain mereka.
"Meskipun beberapa tahanan sudah di tangkap kembali, tapi masih ada beberapa yang belum ditemukan." Abisatya menjawab tanpa merahasiakan apapun. Dia tahu bahwa masalah ini akan cepat selesai bila mendapat bantuan dari Nataprawira.
"Begitu, aku akan mengirimkan beberapa orang untuk membantu mencari mereka!"
"Terima kasih!"
"Apa kau tahu bahwa orang-orang dari Gandana terlibat dalam hal ini?" Dierja mengganti topik pembicaraan. Dia terus memperhatikan bagaimana reaksi yang akan di tampilkan Abisatya.
Dierja tersenyum setelah melihat Abisatya tidak terkejut sama sekali. Ini persis seperti dugaannya. Justru akan terasa aneh bila orang Sekelas Abisatya tidak tahu bahwa ada orang luar yang terlibat dalam kejadian itu, atau bahkan dia sendiri sudah tahu bahwa orang suruhan Dierjalah yang memberikan obat tidur dalam upaya mempermudah aksi mereka.
"Iya, sepertinya begitu. Apa mereka akan bergerak juga kali ini?" Abisatya mengangkat cangkir berisi teh hitam, ia menyipitkan matanya ke arah Dierja seperti sedang menyelidiki sesuatu.
"Aku yakin pasti mereka akan bergerak. Bagaimanapun juga mereka akan dirugikan bila Pertunangan ini berhasil." Dierja tahu kalau pihak musuh dalam suasana hati yang buruk saat ini. Jelas, Kerja sama dua Kerajaan akan menjadi hambatan besar bagi Negeri-Negeri tetangga.
"Lalu apa rencana kita untuk melawan balik mereka?" Abisatya bukanlah orang bodoh, justru dia salah satu dari sedikit orang yang dipanggil jenius. Abisatya tahu untuk orang seperti Dierja, dia tidak akan membiarkan musuh menyerang terlebih dahulu dan membiarkan rencana mereka berjalan mulus. Dari sekian banyaknya orang-orang licik, Dierja berdiri di paling atas di antara mereka. Jadi Abisatya hanya menunggu Dierja mengatakan rencananya.
***
Ibu Kota Nataprawira terlihat begitu hidup. Banyak sekali toko-toko didirikan di sepanjang jalan. Mulai dari toko pakaian, kios makanan, kosmetik, dan berbagi kebutuhan lainnya. Tempat hiburan juga mudah ditemukan di sini. Bahkan rumah Bordil pun terlihat megah dan mewah dengan banyak sekali pengunjung sedang mengantri di pintu masuk.
Siska melihat tempat itu dengan jijik dari dalam Mobil. Dia merasa bahwa hampir semua Pria yang dia lihat di sana merupakan seorang Bangsawan dan para Pedagang besar, meskipun masih ada rakyat biasa, tapi jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari tangan. Mungkin dikarenakan biayanya yang begitu mahal, jadi hanya orang-orang kaya yang sanggup singgah di sana.
Manusia memang aneh, mereka tidak pernah merasa cukup, apalagi puas. Orang-orang miskin berharap untuk menjadi kaya, tapi setelah mereka kaya mereka menginginkan lebih. Begitu juga dengan wanita, setelah memiliki satu, Pria akan menginginkan dua, setelah dua dia akan merasa kurang dan berharap mendapatkan yang ketiga.
Siska juga bisa dibilang aneh, ketika dia sudah mempunyai harta, kekuasaan, dan paras yang diakui cantik. Dia terkadang hanya ingin hidup sederhana. Tidak apa-apa bila dia sedikit jelek. Manusia semuanya aneh. Pria di sampingnya ini juga merupakan orang aneh. Justru begitu banyak aspek aneh pada orang ini.
"Kita sudah sampai, ayo cepat!" Candra membuka pintu mobil dan keluar bersama Siska. Di hadapan mereka sudah ada seorang seorang Wanita cantik dengan aura dewasa dan mempesona.
Ibu Selir!
Siska langsung mengenali orang yang berada di hapannya kini. Akhirnya dia bertemu dengan salah satu dari sedikit orang yang biasa menarik emosi Candra keluar. Sosok yang Candra kagumi, Sosok yang bisa dianggapnya Ibu sama seperti Anna.