
Candra dan beberapa Prajurit yang mengawalnya sampai di depan gerbang Istana. Istana yang sangat megah dan mewah, terdiri dari lima lantai dengan halaman yang sangat luas, cukup untuk menampung ribuan orang. Seorang Pelayan mulai membukakan gerbang Istana. Saat masuk, Candra disambut dengan Para Pelayan Wanita yang membentuk barisan di kedua sisi. Para Pelayan itu mulai membungkuk memberi hormat kepada Candra. Dengan serempak mereka berkata, “Selamat datang kembali, Pangeran!”
Candra dengan acuh tak acuh terus melangkah menuju ruangan di mana Raja berada, meninggalkan beberapa Prajurit yang masih bersamanya. Dia sampai di salah satu ruangan di lantai teratas. Terdapat gambar Naga Es yang merupakan simbol dari Kerajaan Nataprawira terukir di depan pintu tersebut. Ruangan yang cukup mencolok bila dibandingkan dengan yang lainnya dikarenakan penjagaan ketat yang dia miliki. Dua Prajurit bertubuh kekar selalu berada di kedua sisi pintu tersebut dengan bersenjatakan lengkap, mulai dari pistol sampai belati.
“Pangeran, maaf. Yang mulia Raja sedang tidak dapat diganggu untuk saat ini,” kata salah satu Prajurit itu.
“Baiklah. Nanti tolong sampaikan bahwa aku ingin bertemu.” Candra sudah menduga jawaban tersebut.
"Baik, Pangeran."
Candra kembali berjalan melangkahkan kakinya yang sudah tak bertenaga. Dari dulu memang seperti ini. Semua orang yang berada di Istana terasa begitu asing. Baik pelayan, Para Prjurit bahkan Raja itu sendiri yang pada dasarnya merupakan Ayah Candra. Hanya sedikit orang yang bisa ia sebut sebagai keluarga.
Candra Membuka pintu yang sudah lama tak ia sentuh. Kamar yang sangat bersih, memiliki luas 12×8 m2 ini terlihat minimalis, tapi meskipun begitu, kesan elegan dan mahal masih terasa melekat padanya.
Candra hanya tersenyum, mengingat bagaimana Kerajaan mempunyai cukup banyak uang untuk hidup mewah, tapi rakyatnya hidup dalam penderitaan. Hingga di mana faktor utama kematian penduduk disebabkan oleh kelaparan, bukannya peperangan ataupun pembunuhan. Tentu angka kematian tidak terlalu banyak, tapi angka kemiskinan sekarang sudah mencapai 40% bertambah 10% dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh perang dan korupsi serta Bangsawan yang mencari keuntungan terlalu tinggi.
Candra tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Raja, dikarenakan hal ini masih lebih baik bila dibandingkan dengan Kerajaan yang lain. Meskipun begitu, sikap tak acuh Raja yang membiarkan Bangsawan seenaknya adalah masalah. Ayahnya itu percaya bahwa yang kuat harus berkuasa. Predator memangsa yang lemah, itulah yang selalu ditekankan Ayahnya. Sehingga Nataprawira dikenal sebagai Negeri Gladiato.
Candra terbaring lemas di kasur empuk miliknya itu. Dia masih mengingat jelas dan terus terngiang-ngiang akan bagaimana jeritan penderitaan terjadi di medan perang. Suara teriakkan putus asa saat orang-orang meminta tolong, saat tanah menjadi merah dari banyaknya darah bercucuran. Terkadang dia merasa takut sampai tubuhnya menggigil saat mengingat bagaimana rasa putu asa begitu mendominasi di atas tanah terkutuk itu.
Perang yang sudah diibaratkan tradisi oleh setiap Kerajaan yang ada. Setiap kerajaan mempunyai alasan mereka tersendiri untuk menyatakan Perang terhadap suatu Negara. Alasan yang paling klise adalah kemiskinan dan faktor ekonomi. Tentu, itu hanya kedok para Penguasa untuk memperkaya diri mereka sendiri.
Ada empat Kerajaan yang paling berpengaruh yang sering bertikai untuk memperebutkan wilayah. Empat Kerajaan itu adalah Kerajaan Nataprawira yang berada di timur, Kerajaan Askara yang berada di barat, Kerajaan Harsana yang berada di sebelah selatan dari Kerajaan Nataprawira, dan Kerajaan Gandana yang berada di sebelah utara dari Kerajaan Askara.
Kerajaan Nataprawira sebagian besar penduduknya dapat menggunakan sihir Air dan Es, tapi mereka lebih mengandalkan teknologi sebagai sektor utamanya. Berbagai mesin canggih dapat kita temui di setiap sudut kota. Saat perang pun, Nataprawira lebih bergantung pada mesin daripada sihir. Meskipun mereka dapat menggunakan sihir, tapi itu tidak sehebat orang-orang yang berasal dari Kerajaan Askara. Kerajaan yang sebagian besar wilayahnya diselimuti oleh dinginnya salju, dan bongkahan es ini merupakan Kerajaan termaju yang berada di Benua Sembrani, tentunya dari segi teknologi.
Di sisi lain, ada Kerajaan Askara yang merupakan kebalikan sekaligus musuh bebuyutan dari Nataprawira. Kerajaan Askara sangat ahli dalam menggunakan sihir, terutama Api. Berbeda dengan Nataprawira yang diselimuti suhu dingin, suhu di Kerajaan Askara sangat panas, cukup panas sampai-sampai pohon pun tak dapat tumbuh di sana. Negeri ini dikenal akan kehebatannya dalam Ilmu Sihir. Negeri Para Penyihir, begitulah orang-orang menyebutnya.
Ada juga kerajaan Harsana yang sangat ahli dalam mengendalikan Cuaca, terutama Hujan. Di Kerajaan tersebut, kita tidak akan dapat melihat silaunya cahaya Mentari dikarenakan curah hujan yang sangat tinggi. Dan yang terakhir adalah Kerajaan Gandana. Kerajaan yang sangat ahli dalam mengendalikan sihir Angin ini terletak di ketinggian 17.000 meter di atas permukaan laut. Angin di sana sangat kencang, sampai-sampai pesawat pun tidak dapat melintas di atasnya. Kerajaan Harsana dan Gandana tidak sebesar Nataprawira dan Askara. Bila kerajaan Harsana merupakan sekutu dari Nataprawira maka Kerajaan Gandana berada dipihak Askara.
Candra mulai memejamkan matanya dan mencoba mengingat kembali akan hari-hari yang telah berlalu.
***
Hari itu merupakan hari ke-10 sejak dimulainya deklarasi perang dari Kerajaan Askara kepada Kerajaan Nataprawira. Perang yang seharusnya berakhir hari ini, tapi dikarena ketidak siapaan Candra dalam menghadapi taktik gerilia yang menyebabkan perang terus berlanjut dan semakin memakan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Sekarang Candra sedang mengumpulkan para petinggi untuk mengadakan rapat membahas rencana perang besok.
“Maaf, membuat kalian semua menunggu!” Terdengar suara orang memasuki tenda. Seorang laki-laki berusia 30-an datang dengan ditemani beberapa orang yang merupakan pengawal dari Pria tersebut.
“Selamat datang, Paman!” ucap Candra menyambutnya.
“Terima kasih, Pangeran!” balasnya sambil membungkuk memberi hormat.
Pria itu mengetuk meja yang berada di tengah-tengah tenda. Seketika itu juga muncul peta interaktif dengan skala yang cukup besar. Itu merupakan peta tiga dimensi. Di sana terlihat beberapa bangunan, pepohonan, bahkan jalan-jalan bercabang yang sangat detail sama persis dengan aslinya. Terlihat gambar Naga Es di sebelah barat dan burung Phoenix di sebelah timur. Perang kali ini terjadi di perbatasan antar kedua Kerajaan, tapi seiring berjalannya waktu tempat tersebut mulai bergeser sampai memasuki wilayah Kerajaan Askara. Dengan suhu yang sangat panas tentu, orang-rang dari Kerajaan Nataprawira yang terbiasa menghirup udara dingin sangat tidak diuntungkan oleh keadaan ini. Mereka dengan sangat cepat kehilangan cairan tubuh yang menyebabkan dehidrasi berat, sampai-sampai ada beberapa Prajurit yang mati karenanya.
“Bagaimana cara kita mengatasi lingkungan dengan suhu panas ini, Paman?” tanya Candra.
“Sulit Pangeran. Apalagi Cadangan air minum kita sudah menipis. Cara tercepat yang bisa aku pikirkan untuk mengakhiri perang kali ini adalah dengan menculik Putri Adelia atau membunuhnya. Apabila pemimpin mereka berhasil kita atasi, semangat juang para Prajuritnya pun pasti akan segera runtuh,” jawabnya dengan percaya diri.
Candra sedikit terkejut ketika mendengarnya. Membunuh pemimpin musuh mungkin memang merupakan cara tercepat mengakhiri perang ini, tapi kalau sampai harus membunuh seorang wanita itu sedikit terlalu kejam dan merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Candra langsung menepis pemikiran naifnya itu, demi mengakhiri perang ini Candra bahkan siap untuk mengorbankan nyawanya sendiri.
Menyebalkan memang, tapi Candra mengakui bahwa pasukan Askara sangat kuat bila berada di lingkungan yang gersang dan panas ini, bila perang terjadi di daerah dengan suhu normal pasti pasukannya tidak akan terlalu dirugikan. Apalagi kalau mereka bisa membawa musuh ke wilayah dengan suhu dingin, pasti kemenangan dari pasukan Nataprawira sudah dapat dipastikan.
"Dan untuk mengatasi suhu ektream ini Laboratorium telah mengirimkan barang yang akan berguna menangkal panas, tapi harus diingat bahwa benda ini pun tak dapat bertahan lama. Satu minggu itu, batas waktu yang kita miliki." tambah lelaki itu sambil mengeluarkan benda yang mirip seperti baju jirah dengan warna cerah agaikan warna langit biru disiang hari. Mereka yang melihatnya jelas menunjukan ekspresi lega dan kekaguman. Candra juga diam-diam tersenyum ketika melihat benda tersebut.
Dengan begini rencana mereka sudah ditetapkan. Mereka akan mengirim beberapa orang untuk menangkap Putri Kerajaan Askara, Putri Adelia. Candra tidak tahu seperti apa Putri Adelia ini. Baik wajah, sifat, maupun keahliannya. Karena pada dasarnya mereka adalah musuh, jadi mustahil bagi mereka untuk dapat bertemu di situasi normal.
“Baiklah, itu saja. Cepatlah, persiapkan segalanya!” Candra segera memberi perintah.
“Baik, Pangeran!” Serempak semua orang menjawab dengan penuh semangat dan kepercayaan diri tinggi. Satu per satu orang mulai keluar meninggalkan tenda guna melaksanakan perintah yang mereka terima, menyisakan tiga orang di dalam tenda yang masih memasang ekspresi begitu serius.
***
Tok .... Tok .... Tok ....
Terdengar suara ketukan pintu di depan kamar. Candra perlahan membuka matanya yang terasa begitu berat. Dia mulai berdiri dari tempat tidur yang terus menarik seakan tak membiarkannya untuk bangkit.
"Pangeran, Tuan memanggilmu ke ruangannya!" Suara lembut yang sudah lama tak ia dengar keluar dari balik pintu. Terlihat sosok wanita anggun memasuki kamar. Usianya sekiar 40-an, mulai terdapat sedikit kerutan di pipinya itu yang menandakan bahwa ia sudah tidak muda lagi.
"Baiklah! Anna, bagaimana keadaan Paman?"
"Ah, di mana pun beliau di tempatkan, beliau pasti sama semangatnya seperti biasa."
Bagi Candra, Anna merupakan sosok Ibu ideal untuknya. Candra tidak pernah melihat wajah Ibu kandungnya dikarenakan beliau meninggal saat melahirkan Candra. Dan entah karena alasan apa, tapi tidak ada satu pun lukisan atau foto yang memperlihatkan wajah Ibunya itu padalah dia adalah seorang Ratu. Sungguh aneh.
"Ya, kau benar. Aku akan segera ke sana sebentar lagi." Candra kembali bersemangat setelah mendengar perkataan Anna yang mengatakan bahwa Pamannya itu baik-baik saja.
"Baiklah. Permisi Pangeran." Anna membungkuk sambil keluar menutup pintu. Candra kembali menutup matanya, memikirkan tentang apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Raja yang licik itu.