
"Sudah cukup." Adelia mendorong Candra menjauh dari pelukannya dengan lembut. Wajah merah miliknya menyembunyikan rasa malu yang dia miliki. Meskipun enggan, tapi Candra mulai melepaskan pelukannya itu.
"Baiklah. Apa yang akan kau lakukan sekarang? " Candra khawatir kalau Adelia kembali ke Askara sekarang, besar kemungkinan para penghianat itu sudah menunggunya di tengah jalan. Dengan jumlah mereka, Adelia pasti akan tertangkap dan Candra tidak akan pernah membiarkan hal itu sampai terjadi.
"Aku akan menunggu beberapa hari lagi."
"Begitu. Ikutlah denganku, kau bisa tinggal di tempatku. Di sana akan jauh lebih aman daripada terus berada di sini."
Nyatanya Distrik kumuh lebih berbahaya dibandingkan Distrik yang lain. Dikarenakan hukum yang longgar tidak akan terasa aneh bila kau menemui orang mati tergeletak di pinggir jalan.
"Apa?" Adelia kaget ketika Candra dengan paksa menggenggam pergelangan tangannya.
"Tenang saja, tempat itu bukan Istana." Candra bukan orang bodoh yang akan membawa Adelia ke dalam kandang singa.
Dengan anggugkkan kecil, Adelia akhirnya menerima tawaran dari Candra, "Baiklah, tapi tunggu sampai Pelayanku tiba."
Setidaknya beberapa hari ke depan aku akan mempunyai tempat aman untuk dapat memulihkan tenagaku kembali.
Mereka berdua kembali duduk di atas kasur lusuh itu, tanpa ada satu orang pun bicara hanya menyisakan embusan napas masing-masing yang dapat terdengar. Entah mereka berdua gugup atau apa, tapi yang pasti napas dan dekat jantung mereka begitu berantakan seperti terpacu oleh adrenalin yang kuat.
Suhu di sini sepertinya masih terlalu dingin untuk orang-orang berdarah panas. Terbukti dengan Adelia yang membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Melihat dari dekat, sepertinya itu selimut yang dibawanya dari Askara. Ia masih cantik seperti biasa, ingin sekali Candra menghampiri dan mendekapnya ke dalam pelukan, tapi saat-saat seperti itu sudah lama berlalu.
"Se-selamat!" Adelia berbicara begitu pelan seperti berbisik kepada dirinya sendiri. Untungnya hanya ada mereka berdua di tempat ini sehingga Candra dapat mendengarnya dengan cukup jelas.
"Ada apa?" Candra pura-pura tidak mengerti dan bertanya dengan bodoh.
"Selamat atas Pertunanganmu! Maaf aku tidak dapat hadir nanti, hehe .... " Adelia tertawa canggung, mungkin untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Ya ... Siapa juga yang akan mendatangi Pertunangan Pangeran dari Negara musuh." Candra merasa ia sekarang tidak akan dapat tertawa lepas bersama seperti waktu dulu.
"Dan selamat juga atas Pertunanganmu. Maaf aku tidak datang." Candra ingin berkata datang menyelamatkanmu, tapi ia menelan kembali kata-katanya. Berbeda dengan Candra, Pertunangan Adelia sudah diadakan beberapa hari yang lalu.
Adelia membuka matanya lebar-lebar seakan terkejut ketika mendengarnya. Wajahnya yang pucat kini terlihat kecewa menyembunyikan rasa sedihnya.
"Te-terima kasih." balasnya singkat.
Bohong bila Candra mengatakan ia tidak kecewa ketika mendengar Pertunangan Adelia, tapi Candra tahu itu pasti desakan dari Ayahnya sehingga tak ada yang dapat mereka lakukan. Beginilah nasib seorang anak Raja.
Adelia tertunduk lesu, mungkin ia menahan air mata yang dapat keluar kapan saja. Candra menyadari hal ini sehingga Candra terus memperhatikannya, ke mana perginya Putri riang yang selalu tersenyum bagaikan anak polos itu?
"Apa kau baik-baik saja?" Candra bertanya dengan sebaik mungkin. Inginnya ia menghibur Adelia di sini, tapi Candra ingin menetapkan batasan di antara mereka mulai dari sekarang.
Mereka adalah musuh, Candra mungkin harus menerima fakta ini sekarang. Sepertinya situasi seperti ini jugalah yang diinginkan oleh Adelia.
Ya ... Dari zaman dulu air dan minyak tak akan pernah dapat bersatu.
Candra ikut tertunduk, matanya tidak fokus pikirannya terbang entah ke mana. Adelia melihat hal ini dan ketika ia hendak mengatakan sesuatu, terdengar suara ketukan pintu beberapa kali dengan suara seorang perempuan menyusulnya.
"Putri, aku kembali!"
"Oh ... Nina, masuklah!" Balas Adelia sambil menatap pintu tersebut, tapi setelah beberapa saat berlalu Nina tak kunjung pula membuka pintu.
"Ada apa? Cepatlah masuk!" Adelia kembali menyuruh Nina masuk, sekarang dengan nada tegas seorang Putri.
"Saya bersama dua orang yang sedang mencari Lelaki itu, Putri!"
Adelia berbalik ke arah Candra yang berada di sampingnya. Candra terus memperhatikan Adelia dengan raut wajah rindu.
"Bagaimana?" Adelia bertanya.
"Nina masuklah sekarang!" Timpal Adelia mengingat kesetian Nina yang tak akan mengikuti perintah siapa pun selain dirinya.
"Permisi!" Ketiga orang itu masuk sambil membawa beberapa makanan bersamanya.
Dua orang yang dibawa Nina tidak lain adalah Anna dan lelaki yang membantu mereka dikekacauan tadi. Ia adalah Anak tertua di Keluarga Bun yaitu Andi Bun.
Keluarga Bun adalah keluarga Bangsawan yang beroprasi dibalik bayang-bayang, tugasnya adalah mengeksekusi koruptor dan para penghianat yang dapat membahayakan Kerajaan. Awalnya keluarga ini berada di bawah perintah Raja langsung, tapi dikarenakan beberapa alasan, sekarang Paman Candralah yang memegang kendali atas Keluarga ini.
"Pangeran, Anda baik-baik saja. Syukurlah!" Anna segera menghampiri Candra dan memeriksa keadaan tubuhnya.
Nina agak terkejut ketika mendengar kata Pangeran. kalau diingat-ingat memang benar bahwa dia belum mengetahui identitas dari pemuda ini. Pemuda yang terlihat cukup dekat dengan Putrinya, bahkan mereka berdua terlalu dekat untuk disebut seorang kenalan.
"Aku baik-baik saja, di ma-?"
"Putri sedang berada di kediaman Tuan Andi, Pangeran!" Anna memotong perkataan Candra.
Sebenarnya prilaku Anna ini dapat dikatakan tidak sopan, tapi Candra sudah terbiasa malah ia merasa sedikit senang.
"Baiklah ayo kita ke sana sekarang."
"Sebelum itu, mungkin lebih baik bila membiarkan tamu kita makan terlebih dahulu."
Anna segera membawa makanan ke atas meja yang telah dibersihkannya, untung saja meja di sini masih kuat untuk menampung makanan di atasnya. Dengan dibantu oleh Nina, makanan dengan cepat tertata dengan rapi ada buah-buahan segar dan beberapa roti di sana.
"Maaf, hanya ada ini untuk sekarang." Anna dan Andi Bon meminta maaf kepada Candra.
"Tidak apa-apa" Bukannya Candra tidak mengerti situasinya. Mereka pasti buru-buru berlari ke sini ketika bertemu dengan Nina yang sedang mencari makanan di Kota. Ya ... Distrik kumuh tidak cukup mewah untuk dapat memberikanmu makanan yang layak.
"Oh, iya. Perkenalkan ini adalah Pelayan pribadiku dia Adalah Anna." Candra memperkenalkan Anna kepada Adelia dan Nina.
"Senang bertemu kalian, aku Anna yang akan selalu melayani Pangeran." Anna membungkuk dan tersenyum kepada mereka berdua.
Adelia dan Nina membalas senyumannya. Dilihat dari penampilannya saja Adelia tahu bahwa Anna ini Pelayan yang cekatan dan dapat diandalankan. Auranya begitu dewasa dan bermartabat senyumannya juga lembut seperti seorang Ibu.
"Dan ini Adalah Andi Bun dari Keluarga Bun yang memegang setengah kekuasaan di Distrik ini."
"Senang bertemu kalian!" Andi Bun memberi hormat dengan gagah layaknya kesatria.
Setelah perkenalan dari pihak Candra selesai, sekarang dia harus memperkenalkan Adelia kepada mereka. Candra sedikit bingung apa dia harus jujur atau tidak mengenai identitas Adelia.
Saat Candra akan berbicara, Adelia sudah terlebih dahulu memberi hormat kepada mereka. Ia mengangkat ujung pakaiannya sedikit sambil membungkuk ia berkata, "Aku Adelia, Putri pertama dari Kerajaan Askara, dan ini Pelayanku Nina."
Semua orang tidak menduga Adelia akan mengungkapkan identitas aslinya dengan begitu mudah. Anna terkejut mengetahui identitas Adelia. Memang penampilannya bukan seperti orang biasa, dikalangan para Bangsawan pun akan sulit untuk mencari kecantikan seperti dirinya ini. Tapi tetap saja, ia tak menduga bahwa Adelia merupakan Putri dari Kerajaan musuh. Anna melihat Candra dan ketika mata mereka bertemu, Anna mengangguk sambil tersenyum.
Nini pun dibuat membatu mendengar Putrinya kini yang telah membeberkan rahasia kepada mereka yang jelas-jelas merupakan seorang musuh. Ia sekarang harus bersiap untuk menghadapi pertempuran. Di sisi lain, Andi Bun terlihat tenang seakan telah mengetahuinya begitupun Candra yang tetap terlihat acuh.
"Jadi begitu ya. Maaf atas kekasaranku tadi, Putri. Maaf kami tidak dapat menyambut Anda dengan layak." Anna membungkuk dengan sopan.
Berbeda dengan harapan Adelia, Anna malah bersikap lebih sopan kepadanya. Ia mengira mereka berdua akan segera mengangkat senjata setelah mengetahui hal ini. Tapi siapa sangka mereka berdua malah terlihat baik-baik saja seakan mengatakan bahwa siapapun identitasnya itu tidak penting.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti." Adelia mulai berpikir saat Ayahnya menyebutkan bahwa siapapun yang berhubungan dengan Keluarga Kerajaan Nataprawira adalah orang jahat itu tidaklah benar.
"Ayo kita lanjutkan makannya, lalu segera pergi dari tempat ini." Candra segera menghentikan percakapan yang akan mengarah ke situasi canggung.
Mereka segera melanjutkan acara makan yang sempat tertunda akibat hal-hal rumit yang sedang terjadi. Untuk pertama kalinya dalam beberapa ratus tahun, musuh bebuyutan ini dapat makan dalam satu ruangan dengan suasana hangat dan damai.