YUWARAJA

YUWARAJA
Pelukan Erat



Dua, tiga, lima, hingga sepuluh orang berhasil menyusul Adelia dan Pelayannya yang masih terus berlari tanpa henti. Satu, dua, tiga jam telah berlalu sejak mereka mencoba melarikan diri dari kepungan para pengkhianat. Stamina mereka terkuras secepat kilat bagaikan cucian yang diperas sekuat tenaga. Semakin lama dan semakin dalam pula mereka tersesat ke dalam hutan Halimun Bangar ini.


"Putri, apa Anda baik-baik saja?" Pelayan itu bertanya setelah melihat bahwa wajah Putrinya kini telah berubah pucat. Entah disebabkan karena ia kelelahan atau syok akibat Pengkhianatan Gurunya tadi atau bisa jadi dikerena kedua hal tersebut.


"Aku baik-baik saja, teruslah berlari mereka semakin mendekat." Jelas sekali bahwa ia telah kehilangan banyak stamina, sampai-sampai ia akan dapat pingsan kapan saja, tapi Adelia tetap memaksakan diri karena dia tahu kalau sampai tertangkap oleh mereka, maka tamatlah sudah riwayatnya.


"Mengerti!" Balasnya singkat.


Melihat Putrinya seperti ini membuat dia merasa gagal dalam menjalankan tugasnya, dia merasa pantas dihukum sekarang juga, tapi Pelayan itu segera menggelengkan kepalanya, yang terpenting mereka sekarang harus dapat terlepas dari kejaran para pengkhianat ini terlebih dahulu.


Mereka berdua terus berlari tidak menghiraukan orang-orang yang semakin mendekat. Adelia terus memacu semangat dan tenaga yang hampir mencapai batasnya, butiran-butiran keringat dingin terus bercucuran dari sekujur tubuh ditambah lagi kakinya pun kini sudah semakin lemas.


"Putri!" Pelayan itu berteriak, dia panik dan khawatir ketika melihat Adelia terjatuh dikarenakan kakinya yang sudah tak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.


Adelia merupakan penyihir api terbaik di generasinya, tak ada seorang pun yang meragukan hal itu, tapi ketika berbicara soal stamina maka ia ketinggalan cukup jauh dari seorang Prajurit apalagi peteran perang.


"Bantu aku, kita tidak boleh sampai tertangkap."


"Bertahanlah sebentar lagi, Putri!"


Adelia tersenyum mendengarnya, mereka jelas-jelas berada ditengah hutan yang jauh dari pemukiman penduduk, tapi ia sangat bersyukur setidaknya masih ada orang yang setia terhadap Kerajaan.


Adelia berhasil berdiri dengan bantuan Pelayannya, meskipun mereka berjalan lambat seperti siput, itu masih lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali. Sekarang ia sudah mulai pasrah, tinggal menunggu waktu saja sampai mereka tertangkap.


"Sebaiknya kau cepat melarikan diri dan tinggalkan saja aku di sini, setelah sampai di Kerajaan cepat beritahu Ayah tentang pengkhianatan Guru." Ini merupakan rencana paling realistis yang dapat dipikirkan Adelia mengingat keadaanya sekarang.


"Apa Anda bilang? Aku tidak akan pernah membiarkan Putri tertangkap oleh para pengkhianat itu."


"Tenang saja, mereka tidak akan berani membunuhku setidaknya untuk waktu dekat ini." Adelia percaya, para pengkhianat membutuhkan dirinya untuk mendesak Raja, mereka juga akan dirugikan bila hubungan Askara dan Gandana retak dikarenakan kematiannya.


"Tetap saja, aku tidak akan pernah pergi. Bila tertangkap sekali pun, aku lebih baik mati ketika melindungi Putri." Pelayan itu untuk pertama kalinya tidak mematuhi perintah Adelia. Keyakinan dan semangatnya murni tanpa niat tersembunyi.


"Terima Kasih!" Adelia sangat bersyukur sekaligus senang ketika mengetahui bahwa masih ada orang yang berani mempertaruhkan nyawa untuk hidupnya.


Semakin lama, hutan semakin gelap. Suara burung-burung aneh yang belum pernah didengar Adelia kini mengisi sesisi hutan. Banyak kunang-kunang beterbangan dengan berbagai warna mulai dari merah, kuning, hijau dan warna-warna cerah lainnya. Mereka sebesar kepalan tangan dengan kepala kecil dan perut buncit mirip ikan buntal.


Adelia terpukau oleh keindahan makhluk ini, ia seperti mendapati aurora di atas kepalanya sendiri. Kunang-kunang ini konon merupakan spesies yang sudah diubah genetiknya oleh Kekaisaran Zaman dulu.


Bila waktunya lebih tepat, ia ingin tidur terlentang sambil menyaksian pemandangan ini semalaman, tapi sangat di sayangkan dia tidak diizinkan untuk dapat melakukan hal mewah seperti itu.


"Hey, apakah kalian yang dikejar orang-oramg ini?" Suara berat dan serak terdengar dari arah belakang.


Adelia dan Pelayannya sontak berbalik, bersiap untuk menghadapi musuh. Mereka terkejut, sejak kapan pria itu ada di sana? Meskipun mereka berdua terlalu sibuk mengagumi para kunang-kunang ini, mustahil dirinya tidak bisa mendeteksi kehadiran manusia yang mendekat. Apalagi para penyihir sangan sensitif terhadap kehadiran makhluk hidup, jadi mustahil Adelia bisa selengah ini.


Mungkin orang ini bisa menyembunyikan hawa keberadaannya. Orang sekuat apa dia?


"Siapa kau?" teriak si Pelayan yang kini sudah memasang wajah sangarnya.


"Hey, hey, tenang saja. Aku bukan musuh kalian," kata Pria itu, dia tertawa sambil menggaruk- garuk belakang kepalanya.


"Lihat, aku bahkan membantu menangkap mereka." Pria itu melemparkan dua orang yang sudah tak sadarkan diri, mata mereka mengeluarkan darah serta giginya hampir rontok semua. Mereka adalah Prajurit yang mengejar Adelia.


"Akan aku ulangi sekali lagi, siapa kau ini?" Kali ini giliran Adelia yang bertanya. Dia merasakan bahwa lelaki ini sangat kuat dan mustahil mereka dapat mengalahkannya dengan kondisi yang sekarang.


"Tenanglah Putri, aku orang baik-baik." Janggutnya sebagian sudah berwarna putih, tubuh kekar tingginya menggambarkan jelas bahwa ia seorang Prajurit berpengalaman.


"Putri, ini mungkin jebakan. Sepertinya dia dibayar oleh para pengkhianat juga."


Adelia kini merasa bingung, tak ada yang tahu akan apa yang terjadi bila mereka mempercayai kata-kata Pria di depannya ini.


"Candra!" Satu nama keluar dari mulut Pria itu yang membuat Adelia kembali syok.


"Apa maksudmu?" Adelia kini menampilkan ekspresi marah. Pelayannya pun sampai terkejut, ia baru tahu bahwa Putrinya bisa membuat ekspresi seperti itu, ekspresinya terlihat lebih sedih daripada marah.


"Percaya padaku, Candra Nataprawira. Aku kenal baik dengannya. Bukankah kalian sedang dikejar seseorang? Ayo, ikuti aku!" Pria itu berjalan ke arah berlawanan di mana Adelia berlari sampai saat ini.


"Putri bagaimana, apa kita bisa mempercayainya?" tanya si Pelayan yang sangat khawatir akan keselamatan Putrinya.


"Kita ikuti dia, cepat!" balas Adelia tanpa ragu.


"Anda yakin?" Pelayan itu sedikit heran, dari sejak kapan Putrinya mudah ditipu seperti ini?


Adelia mengangguk ke arah Pelayannya. Mereka berdua pun segera mengikuti laki-laki tadi. Mau ini jebakan ataupun bukan, Adelia tetap akan pergi. Ia tak dapat mengabaikannya setelah mendengar nama itu kembali.


***


"Jadi seperti itu. Aku tak menyangka seseorang yang dikenal sebagai Guru Besar menjadi pemimpin dari para pengkhianat." Candra sedikit ragu ketika mendengar penjelasan Adelia, bila saja orang lain yang mengatakannya ia bahkan tidak akan pernah percaya.


"Begitulah, aku pun sangat kaget melihat Guru yang selama ini menjagaku sekarang malah berbalik melawanku." Adelia tertunduk tampak jelas bahawa ia merasa sedih.


Berangsur-angsur vitalitas kembali pada tubuhnya, wajahnya pun kini terlihat lebih segar. Mereka sekarang hanya berdua di dalam ruangan kumuh itu. Si Pelayan telah pergi untuk membeli beberapa makanan yang tadi terhalang akibat pertemuannya dengan Candra.


Untuk beberapa saat mereka hanya berdiam diri tanpa sepatah kata pun keluar. Suasana canggung tak biasa dihindari lagi, bagaimana pun mereka sudah hampir satu bulan tak bertemu dan dengan berbagai hal yang terjadi setelah perpisahan mereka, tentunya akan sedikit aneh bila bisa langsung akrab seperti di dasar jurang itu.


"Biarku bantu!" Melihat Adelia mencoba bangkit dari tempat tidurnya, Candra langsung berinisiatif untuk membantunya. Tubuhnya sudah bergerak terlebih dahulu sebelum ia dapat berpikir.


"Terima kasih!" Adelia tersenyum menerima uluran tangan Candra.


Kulit halus yang selama ini Candra rindukan akhirnya bisa kembali ia sentuh. Adelia tersipu malu ketika melihat Candra sedekat ini. Emosi yang selama ini mereka pendam membuat kedua orang ini melupakan setatus yang mereka punya.


Beberapa detik telah berlalu, tetapi mereka masih mematung memandang wajah satu sama lain. Candra menguatkan cengkraman tangannya, rasa hangat yang ia cari telah kembali. Candra mendekat sampai hidung mereka hampir bersentuhan, napas yang terasa segar dan harum menggelitik hidungnya.


Candra mengangkat tangannya yang lain, ia membelai rambut Adelia sampai berhenti di pipi merahnya itu. Tanpa sadar Candra semakin mendekat, mencoba menyentuh bibir merah muda yang sedikit pucat. Adelia yang mematung mendapati kembali kesadarannya.


Ia menghentikan Candra tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, "Jangan, kita sudah tak bisa seperti dulu. Sekarang kau sudah mempunyai tunangan dan aku pun demikian."


Adelia melangkah ke belakang, ia menghindari kontak mata langsung dengan Candra. Hampir saja dirinya kehilangan kendali. Begitu pun Candra yang sudah tak bisa mengendalikan dirinya sedari tadi.


"Kau tahu aku hanya menyukai dirimu," Candra kembali mendekat sambil memegang kedua tangan Adelia dengan begitu erat.


"Kita musuh, jangan melupakan fatka itu." Adelia memberanikan diri menatap Candra. Matanya kini sudah memerah, air mata dapat keluar kapan saja.


"Aku tak peduli."


"Terimalah kenyataan, kita hanya akan bertemu di medan perang."


"Aku tak peduli." Tanpa persetujuan Adelia, Candra sudah memeluknya begitu erat. Seakan ingin mengatakan jangan pernah mencoba pergi darinya.


"Lepaskan!" Adelia kini sudah tak bisa membendung perasaannya sendiri. Wajahnya menampilkan ekspresi seorang gadis rapuh.


"Tidak!"


Tanpa disadari mereka berdua telah berpelukan selama satu menit lebih. Gejolak emosi yang selama ini tertahan akhirnya roboh. Sekarang hanya ada pria dan wanita yang saling mencintai, bukan musuh, bukan pula Pangeran Nataprawira ataupun Putri Askara.