You'll Be Mine

You'll Be Mine
Pesta pernikahan



Dua bulan kemudian


Zayden memakai setelan jas putih dengan dasi kupu-kupu berwarna merah. Hari ini, di hari yang cerah dengan pemandangan alam bebas. Sepasang kekasih itu berdiri di depan altar, di depan pendeta yang siap membimbing mereka mengucapkan sumpah pernikahan.


Zesa tampil cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih. Veil menjuntai dari atas sanggul sampai ke pinggang. Sebuah buket bunga lili tergenggam dalam tangan yang gemetar karena gugup.


Karena tidak memiliki orang tua, Aaron yang mengantar gadis itu ke hadapan Zay dan pendeta. Keempat adiknya merasa tidak rela melepaskan Zesa bersama Zayden, tapi cinta tidak berarti harus memiliki. Mereka turut bahagia melihat dua orang yang mereka sayangi bersatu dan berbahagia.


Sumpah pernikahan pun diucapkan dalam suasana khidmat. Diakhiri ciuman dan tepuk tangan dari para tamu undangan yang ikut menghadiri acara pengucapan sumpah pernikahan mereka. Konsep pernikahan sengaja dibuat di alam bebas karena mereka merasa cukup puas berteman dengan polusi setiap harinya.


"Terima kasih sudah hadir. Silakan menikmati hidangannya. Maklum, hanya acara sederhana. Jadi, makanannya seadanya," ucap Zayden pada salah satu kolega bisnisnya.


"Ah, Pak Zay, ini. Kalau hidangan super mewah ini dikatakan hidangan sederhana, bagaimana dengan acara saya yang tidak menyediakan hidangan seperti ini," kelakar laki-laki bertubuh tambun dengan kancing jas yang tidak muat dikancingkan.


"Ah, maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyinggung Anda, Pak Will. Silakan nikmati pestanya, saya harus menyapa tamu yang lain," ujar Zayden sambil sedikit membungkuk setelah berpamitan.


Zesa duduk di kursi pelaminan seorang diri. Dari sekian banyak tamu undangan yang hadir, rata-rata mereka teman atau kolega bisnis Zayden. Tidak ada satupun yang mengenalnya apalagi datang untuk menyapa.


"Nih," ucap Zoe sambil menyodorkan segelas minuman kepada Zesa.


"Terima kasih, tapi aku tidak bisa minum," jawab Zesa dengan wajah lesu.


"Memangnya pengantin tidak boleh minum, ya?" tanya Zoe dengan polosnya.


"Tidak juga. Masalahnya, gaunnya ketat sekali. Aku takut kalau aku makan atau minum sesuatu, gaunnya bisa sobek," kata Zesa sambil menunjuk ke arah perutnya.


"Haha …. Makanya, jangan gendut-gendut jadi cewek. Tuh, jadi gak muat gaunnya," ejek Zoe diselingi tawa lepas.


"Aku gak gendut, cuma kebanyakan makan kemarin. Sembelit," bisik Zesa.


Zoe semakin tertawa terbahak. Mengundang perhatian Zayden yang sedang berbicara dengan teman bisnisnya. Dia senang ada yang menemani Zesa sehingga sang istri tidak merasa jenuh. Namun, keakraban mereka sedikit membuat api cemburu di dadanya berkobar.


Sabar, Zay. Mereka kakak dan adik ipar. Mereka tidak ada hubungan apa-apa.


Zayden menenangkan hatinya sendiri. Dia harus lebih siap dengan segala kemungkinan. Bukan hanya Zoe yang dekat dengan istrinya, tapi keempat adiknya memang sangat menyayangi gadis itu.


Beberapa jam lamanya Zayden disibukkan oleh para tamu undangan. Akhirnya, acara selesai dan Zayden bisa duduk bersantai di samping istrinya. Zesa menawarkan segelas sirup padanya.


"Minum dulu, Mas," ucap Zesa dengan canggung.


"Terima kasih. Akhirnya selesai juga. Apa kau lelah?" Zayden bertanya sambil menatap bibir Zesa yang berwarna nude.


"Tidak begitu. Sejak sore, aku hanya duduk di sini. Justru kamu yang lelah karena terus menyapa para tamu," jawab Zesa seraya membalik tubuh Zayden untuk duduk membelakanginya.


Zesa memijat bahu lebar sang suami. Mereka duduk sejenak untuk beristirahat sebelum pergi meninggalkan tempat resepsi. Keempat adiknya telah lebih dulu pulang ke rumah sesaat setelah para tamu pulang.


Sopir menghampiri Zesa dan Zayden.


"Apa kita akan pergi sekarang, Tuan?" tanya sopir.


"Ya. Setelah tiba di hotel, kamu pulang saja pakai taksi," jawab Zayden seraya bangkit dari kursi pengantin.


Bagaimana jadinya kalau mereka bertemu keesokan pagi saat Zesa dan Zayden telah melakukan malam pertama? Wajah Zesa bisa Semerah kepiting rebus. Selain hotel, Aaron juga menyiapkan kado bulan madu ke Bali selama dua minggu.


***


"Aku mandi duluan," ucap Zayden sambil melepaskan jas putihnya.


Ia melemparkan jas ke atas sofa, lalu masuk ke kamar mandi. Mata Zesa mengikuti punggung sang suami sampai menghilang di balik pintu kamar mandi. Terdengar suara gemericik air kran yang mulai mengalir membasuh tubuh.


Selagi menanti suaminya, Zesa duduk di depan cermin. Ia melepaskan satu persatu hiasan kepala serta veil yang masih terpasang. Selesai mengurai rambut, ia mencoba menurunkan resleting. Namun, ia kesulitan karena ketatnya gaun pengantin itu.


"Butuh bantuan?" Zayden berbisik di telinga Zesa seraya memeluk pinggang.


Deg!


Jantungnya seakan berhenti berdetak kala laki-laki yang telah mempersunting dirinya itu mengecup leher. Mereka telah sah dan malam ini merupakan malam pertama mereka sebagai sepasang suami-istri. Zesa menepis tangan Zay dengan lembut.


"Aku belum mandi," ujarnya sambil menatap lurus ke dalam mata bermanik hitam sang suami.


"Jangan mandi," kata Zayden seraya menarik pinggang Zesa.


"Gak mau. Seharian gak mandi, loh. Badanku bau asem, berkeringat, dan rasanya gak nyaman. Aku mandi dulu, ya," ucapnya, meminta izin.


"Hah … ya, sudah. Jangan lama-lama," jawabnya dengan bibir mengerucut.


Zesa tersenyum simpul. Zayden yang bisa membuat bulu kuduk berdiri ternyata memiliki sifat yang manja di depan istrinya. Tidak disangka, gadis yang mampu menarik keluar hari beku laki-laki itu adalah Zesa. Gadis yang tidak pernah sekalipun bermimpi memiliki suami orang kaya.


Bak putri dari negeri dongeng, Zesa tidak hanya menjadi istri dari laki-laki kaya tetapi menjadi pewaris satu-satunya dari kekayaan Damar Wicaksana. Sampai saat ini, ia masih merasa sedang bermimpi. Setiap kali bangun tidur, ia selalu tersenyum tipis. Semua kebahagiaan yang dirasakannya bukanlah mimpi.


"Aku sudah selesai. Mau makan dulu atau—"


Ucapan Zesa menggantung saat melihat Zayden mendengkur di atas tempat tidur. Bisa dipahami, dia sangat lelah seharian. Zesa mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.


Kasihan sekali suamiku.


Ia menggumam dalam hati. Perlahan-lahan, ia membuka lemari pakaian lalu menanggalkan handuk kimono yang membalut tubuhnya. Tubuhnya ditarik secepat kilat dalam keadaan polos.


Zayden sengaja mengerjai istrinya dengan berpura-pura tidur. Saat Zesa bersiap mengganti baju, dia justru diserang. Pergumulan sepasang pengantin baru pun tidak terelakkan.


Hasrat yang terpendam sejak dulu, kini telah tersalurkan dengan bebas. Setiap inci bagian tubuh gadis itu tidak lepas dari jamahan tangan nakalnya. Deru napas yang memburu, beradu syahdu dalam kamar.


Zayden mengakhiri kebuasannya dengan kecupan dalam di kening Zesa.


"Terima kasih, Sayang."


"Hm," jawab Zesa dengan malu-malu.


Akhirnya mereka menjadi satu seutuhnya. Tidak ada lagi yang menghalangi ikatan hati diantara keduanya. Seminggu setelah menginap di hotel, Zesa dan Zayden terbang ke Pulau Dewata Bali untuk menikmati liburan bulan madu.


*TAMAT*