
"Hentikan, Kay!" Zayden menghardik sambil menarik Zesa menjauh.
Gadis itu terguling dari kursi roda. Merintih pun rasanya malas, padahal tubuhnya terasa sakit. Zesa tidak menunjukkan ekspresi sama sekali. Bahkan, ia tidak ingin hidup lagi sejak mengetahui sang ibu meninggal.
"Astaga! Non!" Sumirah memekik seraya berlari kecil dengan tubuh bungkuknya.
Zayden murka dan menampar pipi Kay. Sejak mereka mengikrarkan diri sebagai saudara, baru hari ini Zay mengangkat tangannya. Aaron, Zoe, dan Ian tercengang.
Mereka tidak tahu harus berpihak pada siapa. Keduanya saudara mereka dan Kay memang salah. Zesa adalah putri tunggal Damar, yang artinya saudara mereka juga, sementara Kay hampir saja mencekik Zesa sampai mati.
"Non! Non Zesa!"
Mereka berlari dengan panik menghampiri gadis itu. Tiga hari tanpa makan dan minum, tubuhnya pun tidak sanggup bertahan. Suara di sekitar terasa kian samar, hingga akhirnya semua terasa hening dan gelap.
Apakah aku akan bertemu ibu?
***
"Pasien dalam keadaan mengkhawatirkan. Selain demam, pasien juga mengalami anemia, dan kekurangan cairan yang cukup serius," tutur dokter setelah melakukan observasi terhadap Zesa.
Zesa ditempatkan di ruang VVIP selama proses perawatan. Selang oksigen terpasang di hidung dan jarum serta selang infus terpasang di punggung tangannya. Keadaan Zesa tampak mengkhawatirkan, sampai Sumirah tidak kuasa menahan tangis.
"Terima kasih, Dokter. Saya serahkan perawatan adik saya kepada Anda. Lakukan apa pun yang terbaik untuk kesembuhannya. Saya harus memakamkan ayah saya. Jadi, saya tidak akan datang selama satu minggu kedepan," ujar Zayden dengan suara rendah.
Hatinya ingin menemani Zesa, tapi tanggung jawab sedang menanti di rumah. Sebagai anak laki-laki paling besar, dia harus menyambut para pelayat yang datang untuk mengucapkan belasungkawa. Di depan rumah pun telah banyak karangan bunga dari berbagai ukuran.
Karangan bunga duka cita itu kebanyakan dikirim oleh kolega bisnis Damar semasa hidup. Mereka juga memiliki beberapa persen saham di perusahaan Damar. Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Wicaksana.
Para asisten rumah tangga berbaju hitam tengah sibuk melayani para pelayat. Mereka terlihat sangat sedih, tapi tetap melakukan pekerjaan dengan baik. Mereka memiliki loyalitas kepada sang majikan sampai laki-laki baik hati itu menutup mata untuk selamanya.
Seminggu berlalu sejak kepergian Damar Wicaksana, sang pelita bagi kelima putra angkatnya. Sayangnya, pelita itu tidak terlihat oleh sang putri. Zesa membenci laki-laki yang telah membuat ibunya menjalani kehidupan sulit.
Selama ini, Zesa selalu dihina sebagai anak tanpa ayah. Sementara Kemala selalu direndahkan laki-laki dan wanita yang menjadi tetangga mereka. Hal itu membuat Zesa dan Kemala harus hidup berpindah-pindah dari rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan lainnya.
Mereka baru menapaki kehidupan yang sedikit lebih baik. Kemala berhasil membeli rumah sendiri untuk dirinya dan Zesa tinggal. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Kemala sakit-sakitan dan uang warung sembako kecil-kecilan milik mereka pun terpakai. Setiap hari, Zesa bekerja sebagai pengantar bunga. Sialnya, ia menabrak mobil Zayden dan berakhir di rumah Wicaksana.
Sebagian orang menganggap Zesa beruntung karena derajatnya naik dari pelayan menjadi nona besar. Mereka tidak tahu apa yang diinginkan gadis itu. Bukan harta, tapi hidup nyaman bersama ibunya. Kini, mimpinya telah hancur bersama kepergian sang ibu untuk selamanya.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Masih sama saja, Kay. Kakak tidak tahu harus bagaimana. Sudah satu minggu, tapi Zesa masih belum sadarkan diri," jawab Zay seraya mengaduk kopi di gelasnya.
Meskipun takarannya sama, tapi rasa kopinya berbeda dengan buatan Zesa. Ia sangat merindukan gadis itu. Rindu dengan kopi buatannya, rindu senyum renyahnya saat dijahili oleh Aaron.
Ian mengambil gambar Zesa diam-diam saat gadis itu sedang duduk di halaman belakang. Bahkan sedang tertidur pun, Zesa terlihat menarik di mata kelima pangeran impian itu. Andai mereka tidak bertemu dalam situasi yang rumit, mungkin akan lebih mudah bagi mereka untuk mengambil hati Zesa.
"Aku akan pergi ke rumah sakit. Apa kalian mau ikut?" Zayden bertanya kepada mereka sebelum pergi.
"Ikut!" Mereka menjawab dengan antusias.
Mereka ingin melihat keadaan Zesa dengan mata kepala sendiri. Menurut dokter, gadis itu seharusnya sudah bangun. Namun, Sumirah yang menjaganya siang malam belum pernah melihat gadis itu membuka mata.
Aku curiga. Jangan, jangan … Zesa hanya berpura-pura. Dia tidak ingin bicara dengan kami.
Zayden menggumam lirih dalam hati. Ia melirik ketiga adiknya yang duduk di belakang dan melirik Aaron yang duduk disampingnya. Mereka berempat adalah saingan cintanya saat ini, tapi Zay tidak bisa berkompetisi dengan keempat adik-adiknya.
Dia pantas untuk bahagia. Jika dia tidak menyukaiku, aku akan melepaskannya. Aku akan membiarkan Zesa memilih laki-laki yang disukainya, sekalipun itu adalah salah satu dari adikku.
***
Setibanya di rumah sakit. Mereka dibuat terkejut karena dokter dan para perawat sedang kebingungan mencari Zesa. Sumirah menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh. Ia melaporkan bahwa Zesa menghilang saat Sumirah pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.
"Sudah periksa CCTV?" tanya Zay kepada petugas keamanan rumah sakit.
"Kami baru akan ke ruang pengawas, Mas," jawab satpam rumah sakit.
"Kami boleh ikut?"
"Selain keluarga tidak diperbolehkan, Mas," ucap satpam itu.
"Kami kakak-kakaknya," jawab Aaron, mewakili yang lainnya.
Satpam itu tidak berbicara lagi. Ia dan kelima laki-laki itu pergi ke ruang kontrol di lantai lima, lantai paling atas di sana. Mereka melihat Zesa dibawa dengan kursi roda oleh seorang wanita yang menutupi mulut dan hidung menggunakan masker. Dari rekaman kamera pengawas, Zesa tampak masih memejamkan mata.
"Apa mungkin penculik? Zesa tertidur atau belum sadar, sih?" Aaron menggumam dengan pandangan tertuju lurus ke layar komputer.
"Menurut penuturan ibu Sumirah tadi, katanya sudah sadar. Dokter juga sudah memeriksa kondisinya. Setelah minum obat, pasien tertidur lagi. Bu Sum ke kamar mandi dan saat keluar, pasien sudah hilang," tutur satpam yang mendapat laporan pertama kali.
Dokter mengiyakan penjelasan satpam itu. Mereka meminta pihak keluarga menghubungi kerabat atau teman yang mungkin mengenali wanita yang membawa Zesa pergi. Namun, Zay serta yang lain tidak tahu apa-apa tentang Zesa selain nama lengkap dan usianya.
"Kita berpencar saja. Jika malam ini tidak ditemukan, kita buat laporan ke polisi," perintah Zayden kepada keempat adiknya.
Setelah mobil Zayden pergi, adik-adiknya pergi memakai taksi. Mereka harus mengambil mobil pribadi mereka di rumah karena mereka ikut bersama mobil Zay saat ke rumah sakit. Zoe tersenyum tipis melihat keempat kakaknya panik mencari Zesa.
Kalian tidak akan menemukan dia. Aku yang akan menemukannya lebih dulu.
*Bersambung*