You'll Be Mine

You'll Be Mine
Kenapa?



"Turuti saja permintaan penculik itu," celetuk Zoe.


"Tidak bisa! Belum tentu laki-laki itu akan melepaskan Zesa walaupun kami menyerahkan kamu, Zoe," protes Kay.


"Benar. Aku setuju dengan pemikiran Kay. Sebaiknya kita cari solusi yang lain," timpal Aaron.


"Cara apa lagi? Zesa sedang dalam bahaya. Zoe akan pergi ke sana sendiri jika kalian tidak ingin melakukannya," kata Zoe dengan mata mendelik tajam.


Ia bersedia terluka jika itu bisa menyelamatkan Zesa. Bahkan, ia menentang kakak-kakaknya, dan pergi ke tempat yang disebutkan oleh penculik itu dengan menggunakan taksi. Tidak ada pikiran dua kali untuk menyelamatkan orang yang disayangi. Meskipun Zoe harus mengorbankan nyawa, ia akan melakukannya tanpa pikir panjang.


"Ikuti terus taksi itu!" Aaron memerintah Kay yang sedang fokus mengemudikan mobil.


Dia menelepon Zay, tapi tidak ada jawaban. Aaron pun mengambil tindakan sendiri. Ia menelepon kepala pelayan dan meminta anak buah mendiang ayahnya untuk pergi ke tempat penculik menyekap Zesa.


***


"Siapa kalian sebenarnya? Apa mau kalian? Kenapa kalian meminta mereka menyerahkan Zoe?"


Zesa terus bertanya dalam keadaan tubuh terikat dan mata masih ditutupi kain hitam. Zoe sangat baik dalam pandangannya, tapi kenapa ada orang yang berniat buruk padanya? Mereka tidak memberitahu meskipun Zesa terus menuntut jawaban.


"Tuan muda mencarimu, Bos," ucap laki-laki yang duduk di samping Zesa saat di mobil.


"Hem. Jaga dia dan jangan sampai dia terluka. Jika dia terluka seujung kuku saja, tuan muda bisa menghabisimu," ujar laki-laki tinggi besar yang dipanggil bos.


"Siap, Bos," jawab bawahannya.


Zesa berpikir keras. Siapa tuan muda yang mereka maksud? Ada dendam apa sampai harus melibatkan Zesa dalam rencananya. Semua pertanyaan berputar-putar di benak gadis itu. Namun, tidak ada gambaran jelas siapa yang menaruh dendam kepada Zoe.


Zesa disekap di sebuah gudang yang dipenuhi kardus. Kardus itu tersusun rapi di atas sebuah palet. Entah apa isinya karena tidak ada logo atau lambang produk.


Gudang itu tampak terawat. Jika diperhatikan, tidak terlihat seperti gudang tua atau sejenisnya. Di luar pintu gudang terdengar mobil yang mondar-mandir seperti sedang menaikan barang ke mobil kontainer.


'Ini bukan tempat kosong. Artinya, jika aku berteriak, pasti akan ada orang yang menolongku.'


"Tolong!" teriak Zesa sekuat tenaga. "To—" teriakannya yang kedua tertahan oleh lakban.


Para penculik itu bergegas menutup mulut Zesa dengan lakban sebelum ada orang yang mendengar teriakannya. Hilang sudah harapan Zesa untuk meminta tolong. Gadis itu terisak. Tangisannya teredam lakban hitam yang menutup mulutnya.


***


"Kenapa kalian menahan Zoe? Lepaskan Zoe, Kak!"


Zoe memberontak saat Kay dan Ian meringkusnya. Kedua tangan Zoe ditelikung ke belakang. Mereka sudah tiba di depan pintu gerbang pabrik yang sangat mereka kenal.


"Tunggu sebentar, Zoe. Bukankah pabrik ini milik Pak Roni? Kalian ingat?"


Kay, Ian, dan Zoe mencoba mengingat. Mereka pernah berkunjung ke pabrik itu bersama mendiang Damar. Ya, karena pemilik pabrik makanan ringan itu milik sahabat Damar sejak kecil.


"Entahlah. Kita masuk bersama-sama saja. Para pengawal juga sudah menyusup lewat pintu belakang," kata Aaron.


Penjaga gerbang pabrik mengenali mereka sebagai keponakan pemilik pabrik tersebut. Roni menganggap mereka sama seperti keponakannya karena dia dan Damar sudah seperti saudara kandung. Persahabatan yang dipisahkan oleh maut itu terjalin indah tanpa diwarnai pertengkaran sama sekali. Kedua sahabat itu saling mendukung dan membantu disaat susah maupun senang.


"Loh! Tuan Aaron, tumben datang ke pabrik malam-malam begini?" tanya penjaga gerbang.


"Iya, Pak. Kami mau bertemu teman yang kebetulan kerja shift malam," jawab Aaron dengan wajah dibuat setenang mungkin.


Mereka tidak mau dicurigai dan dilarang masuk nantinya. Penjaga gerbang mengizinkan mereka masuk dan menutup pintu gerbang kembali. Aaron melihat pesan berisi lokasi Zesa disekap yang berada di gudang paling belakang.


"Di sana!" Aaron menunjuk ke arah gudang yang dijaga oleh dua orang satpam.


Mereka menghampiri dan meminta izin untuk masuk ke dalam gudang. Namun, kedua satpam itu melarang mereka. Tidak bisa meminta izin baik-baik, Aaron pun memanggil pengawal untuk menahan kedua satpam itu.


Mereka berempat berhasil masuk dan berlari mengikuti petunjuk yang dikirim lewat pesan singkat. Zesa berada di sudut gudang, tidak jauh dari ruang kantor supervisor bagian gudang. Saat mereka semakin dekat, lampu ruang supervisor dinyalakan, dan gadis itu terlihat terikat di dalam ruangan itu.


"Zesa!" pekik mereka bersamaan.


"Letakkan tangan kalian di belakang kepala!"


Laki-laki tinggi besar berpakaian hitam itu menutupi wajahnya dengan masker. Dia memerintahkan Aaron dan adik-adiknya untuk melangkah maju perlahan-lahan dengan tangan tetap di belakang kepala. Mereka menurut sambil menyusun strategi lewat sorot mata.


Aaron bersiul dan kelima pengawal yang bersembunyi keluar dari tempat persembunyian. Namun, belum sempat bergerak, kelima pengawal itu sudah ditodong senjata oleh lima anak buah penculik. Hal itu membuat mereka frustrasi.


"Bagaimana ini?" tanya Aaron dengan berbisik.


Mereka menjawab dengan gelengan kepala. Penculik itu keluar dari ruang supervisor dan memerintahkan mereka tiarap di lantai. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menuruti semua perintah penculik.


"Siapa sebenarnya kau? Aku tidak mengenalmu dan tidak merasa pernah menyinggungmu," ucap Zoe.


Dia yang diminta diminta oleh penculik sebagai jaminan keselamatan Zesa. Zoe sangat yakin, dia tidak memiliki masalah dengan penculik itu. Jika Zesa tidak diikat, mereka bisa mengalahkan penculik dengan mudah. Apalagi Aaron yang hobi nge-gym dan berlatih tinju memiliki keahlian beladiri yang tinggi.


Dia bisa dengan mudah mematahkan tangan dan kaki penculik. Namun, keadaan Zesa yang terikat di kursi membuat Aaron hanya dapat mengutuk kesal dalam hati. Pada akhirnya, ia merasa keahlian itu hanya sampah karena tidak bisa dipakai untuk menyelamatkan orang yang dia sayangi.


"Kau memang tidak ada masalah denganku, tapi dengan orang yang menyuruhku untuk melakukan ini. Salahkan diri kalian yang berani menyinggung orang yang salah," jawab penculik itu dengan nada penuh tekanan di setiap kalimat. "Bawa gadis itu keluar!"


Satu orang kaki tangan penculik melepaskan ikatan tangan dan kaki Zesa, lalu melepaskan penutup mata. Gadis itu diancam untuk tidak berteriak atau keempat saudara angkatnya akan terluka. Zesa menurut dan berjalan keluar dengan kaki gemetar.


"Siapa orang yang menyuruhmu untuk melakukan ini? Katakan pada kami," kata Kay dengan mata mengkilap dipenuhi kemarahan.


"Aku yang menyuruh mereka melakukan ini," jawab seorang laki-laki yang berhasil membuat keempat laki-laki yang sedang tiarap itu membelalak lebar.


Mata mereka seakan hendak melompat keluar. Laki-laki yang berdiri di hadapan mereka tersenyum lebar. Senyum yang seakan mengatakan dia telah berhasil dengan rencana balas dendamnya.


*Bersambung*