You'll Be Mine

You'll Be Mine
Jangan pergi



"Sebenarnya, Zesa cuma mampir sebentar, Bu. Teman Zesa mengajak main dan … Zesa lupa ganti baju," ucapnya sambil tersenyum tipis, menyembunyikan rasa bersalahnya karena membohongi sang ibu.


"Oh, begitu. Memangnya … main kemana?" Kemala bertanya dengan tatapan menyelidik.


"Ke kolam renang, Bu," jawabnya dengan cepat.


Kemala masih merasa ada yang salah, tapi ia memilih untuk mempercayai ucapan putri semata wayangnya. Zesa selalu dididik untuk bersikap jujur. Selama ini, Zesa memang selalu jujur kepada ibunya tentang apa pun.


Sebaiknya aku kembali ke rumah Zayden sekarang. Jika tidak, ibu pasti bertanya lebih jauh.


"Zesa harus kembali ke penginapan, takutnya … teman-teman mencari Zesa," pamit gadis itu seraya memeluk Kemala.


"Tidak makan dulu? Kamu sudah lama tidak makan masakan ibu, loh," kata Kemala dengan sedih.


Hampir sebulan mereka berpisah, tapi mereka hanya bisa bertemu beberapa menit saja. Kemala masih merasa rindu kepada gadis itu. Namun, ia tidak bisa bersikap egois demi kepentingan pribadinya.


Ia melepas kepergian Zesa yang berlalu menggunakan taksi. Kemala tersenyum sedih. Jika saja ia adalah wanita yang beras dari kalangan orang-orang yang berada, ia tidak mungkin harus terpisah dengan putrinya yang sibuk mencari uang.


***


Zesa masuk ke rumah dengan mengendap-endap. Dia menghindari pertemuan dengan Zayden dan para tuan muda lainnya. Terlalu melelahkan menghadapi sikap mereka yang membingungkan.


Klik!


"Dari mana? Kenapa sampai tengah malam baru pulang?"


Zayden menyalakan lampu ruang tengah yang semula padam. Sudah jadi kebiasaan di rumah itu jika lampu ruang tengah dimatikan saat mereka pergi tidur. Zesa pikir, ia bisa selamat dari pertemuan itu karena lampu sudah padam. Namun, rupanya Zayden justru menunggu di dalam kegelapan.


"Tu-Tuan muda …"


"Kamu pergi sejak pagi dan baru kembali setelah lewat dari jam malam yang aku tentukan. Jadi, aku harap kamu memberikan alasan yang masuk akal," tandas Zayden.


Zesa menghabiskan waktu bersama anak-anak di panti yang tidak jauh dari gedung 'Damar group'. Ia sering pergi ke sana saat pikirannya sedang kacau. Bermain bersama anak-anak membuat hatinya merasa bahagia dan melupakan kesulitan hidup.


"Saya pergi ke panti asuhan," jawab Zesa dengan jujur.


Zayden mengernyitkan dahi. Panti asuhan adalah tempat yang paling tidak disukainya. Pengalaman pahit saat berada di panti asuhan sebelum bertemu adik-adik angkatnya terlalu menyakitkan hati.


"Un-tuk a-pa … pergi ke sana?"


"Hanya bermain bersama anak-anak." Zesa menjawab sambil menguap.


Matanya tampak sayu karena sudah sangat mengantuk. Zayden tidak tega menahan gadis itu lebih lama lagi meskipun ia masih ingin bertanya tentang banyak hal. Ia juga masih dalam tahap pemulihan setelah pulang dari rumah sakit dan perlu banyak beristirahat.


“Pergilah. Aku juga sudah mengantuk,” kata Zayden sambil berlalu pergi menaiki anak tangga.


“Terima kasih, Tuan muda. Selamat malam,” ucap Zesa seraya tersenyum menatap punggung laki-laki itu.


Ia sangat senang melihat Zayden sudah sembuh, meski belum pulih sepenuhnya. Zesa memijat bahu yang terasa kaku setelah menggendong anak-anak di panti tadi siang. Perutnya berbunyi karena ia belum makan malam.


Lapar, tapi malas makan. Tidur saja, deh.


Zesa masuk ke kamar yang gelap. Tanpa menyalakan lampu terlebih dulu, ia langsung naik ke tempat tidur. Saking lelahnya, ia bahkan tidak menyadari ada sosok lain yang berbaring di sampingnya.


"Kemana saja?" Aaron bertanya dengan suara sangat pelan.


"Main di panti," ucapnya sambil menarik selimut hingga batas pinggang. Tunggu! Siapa yang bertanya barusan?


Zesa seketika berbalik menatap siluet hitam tubuh laki-laki yang beranjak turun dari tempat tidurnya. Ia menelan saliva dengan susah payah. Zesa menggunakan sisa keberaniannya untuk turun dan berlari ke arah saklar lampu berada.


Klik!


"Ah!" Zesa berteriak kencang sampai membangunkan orang seisi rumah.


Zoe mengetuk pintu kamar gadis itu, tapi tidak ada respon sama sekali. Zesa terlalu syok sampai tidak sanggup untuk membuka pintu. Ia menggelosor terduduk di lantai, bersandar ke dinding dengan napas yang terengah-engah.


"Zesa! Kami akan membuka pintunya," ujar Sumirah yang sudah memegang kenop pintu.


Zesa jarang mengunci pintu karena merasa aman. Baru kali ini, ia mengalami hal mengejutkan. Aaron yang menjadi biang keladi keributan itu hanya duduk santai di tepi ranjang.


"Tuan muda Aaron! Sedang apa di kamar Zesa dan—"


"Aku tidak melakukan apa-apa, Bu. Zesa-nya saja penakut. Cuma ditanya darimana, eh, dia terkejut dan berteriak," jawab Aaron cuek dan tidak merasa bersalah.


"Bagaimana tidak terkejut, jika tiba-tiba ada laki-laki di kamarnya? Apa yang ingin kamu lakukan? Jawab!" Zayden mendesak Aaron untuk menjelaskan situasi yang sedang terjadi.


"Aaron tidak sengaja ketiduran di ranjang Zesa. Tadinya Aaron mencari Zesa, tapi karena dia tidak ada, Aaron tiduran sambil membaca buku itu," jawab Aaron sambil menunjuk buku panduan yang pernah diberikan oleh Sumirah kepada Zesa.


Gadis pemilik kamar itu masih duduk terpaku dengan jantung berdetak kencang. Rasa kantuknya berubah menjadi trauma. Ia sangat takut jika laki-laki itu berniat untuk melecehkannya.


Aaron menyadari kesalahannya. Hal yang dianggap sepele olehnya, ternyata membuat Zesa sangat terkejut. Ia berjongkok di depan gadis itu lalu meminta maaf.


"Aku minta maaf. Aku tidak berniat melakukan hal kurang ajar padamu. Sungguh … aku sangat mencintaimu …"


Semuanya terbelalak. Aaron menyatakan cinta kepada Zesa di hadapan semua orang. Ia bahkan mengusap pipi gadis itu untuk menyeka sisa air mata yang meleleh tanpa permisi.


"A-pa maksud Anda, Tu-an?" Zesa bertanya dengan tatapan lurus menembus ke dalam manik hitam laki-laki dihadapannya.


"A-ku … intinya minta maaf karena sudah membuatmu terkejut. Lain kali, kunci pintunya. Dan … aku berjanji tidak akan masuk ke kamarmu tanpa izin di masa depan," pungkasnya.


Aaron segera keluar dari kamar dan berjalan cepat ke kamarnya. Semua orang mengkhawatirkan keadaan Zesa. Mereka bertanya satu persatu sampai gadis itu berteriak kesal.


"Cukup! Aku sudah menjawab pertanyaan kalian. Kenapa masih diulang-ulang saja pertanyaannya? Aku bilang, aku baik-baik saja. Dengar, kan," gerutu Zesa.


"Kalian pergilah," perintah Zayden.


Ia membantu Zesa untuk berdiri. Setelah mereka pergi, Zesa menghela napas lega. Namun, saat ia hendak melangkah, ia terduduk kembali.


Seolah tulang di kaki gadis itu terlepas. Tidak memiliki tenaga sama sekali dan terasa sangat lemas. Zayden berjongkok, lalu menggendong Zesa sampai membaringkan gadis itu di tempat tidur.


Zayden melangkah hendak meninggalkan kamar, tapi Zesa memegangi ujung piyama tidurnya. Laki-laki itu mengernyit heran. Ia menatap gadis itu dengan seribu pertanyaan.


"Ja-ngan pergi …."


Sepasang mata elang itu membulat sempurna.


*Bersambung*