
“Ja-ngan pergi …. Bisakah Anda menemani saya sebentar, Tuan muda?” tanya Zesa dengan suara terkesan ragu-ragu.
Seorang asisten rumah tangga meminta ditemani tuannya di dalam kamar. Mungkin hanya Zesa orang yang berani meminta hal gila seperti itu. Terlebih lagi, ia meminta hal itu kepada tuan muda paling berkuasa di rumah. Zayden yang merupakan kepala keluarga di rumah itu tiba-tiba dimintai tolong oleh asisten rumah tangga yang belum genap sebulan bekerja.
“Apakah kau tahu hal apa yang mungkin terjadi saat … laki-laki dan perempuan berada di sebuah kamar tertutup tanpa ditemani orang ketiga?”
Zayden memutar badan hingga tangan Zesa yang memegangi ujung piyama pun terlepas.
“Sa-saya hanya ingin bertanya soal gaji,” kilah Zesa dengan cepat.
“Gaji? Apa kau sedang butuh uang?” tanya Zayden sambil berjalan mendekat ke tempat tidur.
Zay duduk di lantai, di samping gadis yang berbaring miring. Jarak diantara mereka hanya satu jengkal. Wajah dingin itu lebih teduh saat menatap wajah Zesa.
“Bisa mundur sedikit, Tuan?”
“Kenapa?” Zayden bertanya sambil memundurkan wajahnya sedikit lebih jauh.
“Gantengnya kelewatan,” celetuk Zesa dengan wajah ditutupi separuh menggunakan selimut.
Laki-laki itu seketika tersenyum geli. Baru kali ini ia mendengar Zesa menggombal. Gadis yang biasanya selalu takut untuk memandangnya kini sedang merayunya.
“Aku tidak salah dengar, kan? Kamu berani merayu majikanmu? Sepertinya, ini cara untuk meminta gaji dengan metode terbaru. Tapi, tanpa kau rayu pun, aku akan memberikan uangmu seperti perjanjian awal kita.”
Zesa tersenyum tipis. Bibir merah delima itu tampak merekah indah, seolah menarik laki-laki itu untuk mengecap madu beraroma stroberi. Gadis itu berbalik membelakangi Zayden karena malu melihat tatapan laki-laki itu padanya.
Saat Zesa membelakanginya, Zayden segera keluar. Ia hampir kehilangan akal ketika netranya terus menangkap pemandangan yang membangkitkan hasrat. Punggung dan leher Zesa sama menggodanya dengan bagian bibir karena itu Zayden takut tidak bisa mengendalikan diri. Ia pernah melewati batas dan mengecup bibir Zesa dengan ganas.
Jika aku melakukannya lagi … aku tidak yakin akan bisa mengendalikan diriku seperti terakhir kali. Juga … dia bukan kekasihku dan dia pasti merasa dilecehkan saat aku menciumnya tanpa izin.
Zayden lupa meminum obatnya. Ia menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Kepulan asap yang keluar dari bibirnya membentuk lingkaran kecil yang semakin melebar saat tersapu angin malam dari lantai balkon kamarnya.
Ia bersiap menghisap rokok kembali, tapi omelan Zesa tempo hari tiba-tiba melintas di pikirannya. Zay membuang rokok yang baru dihisap satu kali. Larangan Zesa seperti sebuah hipnotis yang melekat kuat di benak Zayden sehingga rasanya seolah gadis itu sedang berdiri di hadapannya saat ini.
Tch … ini benar-benar gila. Kenapa aku harus jatuh cinta padanya? Jika aku tahu dia tidak menyukaiku, aku tidak akan menunjukkan perhatianku padanya. Apa aku harus kembali seperti dulu lagi?
Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, kesalahan tidak bisa diperbaiki. Kini, giliran hati Zay yang terluka, ia pun tidak bisa memutar waktu. Berawal dari tabrakan, mereka akhirnya saling mengenal. Andaikan Zayden dapat memasuki mesin waktu, ia akan membiarkan Zesa pergi saat itu.
Semakin lama, perasaannya semakin tidak karuan. Baru sebulan tinggal dan mengenal Zesa, Zayden sudah dibuat kebingungan. Pekerjaan di kantor pun tidak dapat mengalihkan pikirannya dari Zesa. Setiap barang yang disentuh oleh Zayden selalu menampilkan bayangan wajah Zesa yang tersenyum lebar.
Tidak dapat tertidur, Zayden memilih pergi ke ruang kerja. Menatap dan memeriksa berkas-berkas yang dibawakan oleh Bayu siang tadi. Untuk sementara waktu, Zayden akan melakukan pekerjaannya di rumah.
Zesa mondar-mandir di depan kamar Zayden. Ia diperintahkan oleh Sumirah untuk membangunkan Zayden. Namun, ia selalu teringat cumbuan-cumbuan nakal Zayden. Jika sudah begitu, wajahnya memerah semua.
“Aku sudah bangun sejak tadi. Em … tepatnya … aku tidak tidur lagi karena kamu,” kelakar Zayden yang sudah berpakaian rapi.
Pagi itu, Zesa merasa rumah terlalu sepi. Suara adik-adik Zayden yang biasanya riuh pun tidak terdengar sama sekali. Gadis itu mencari mereka barangkali tertidur di kamar mereka. Namun, mereka tidak ada di sana.
Zesa bertanya kepada Bu Sumirah. Rupanya para tuan muda lainnya sedang melakukan pekerjaan mereka masing-masing, minus Zayden. Bunga sedikit khawatir karena mereka pergi pagi-pagi buta tanpa sarapan terlebih dahulu.
“Mereka sudah besar, sudah bisa mengurus diri mereka sendiri. Jangan terlalu mengkhawatirkan mereka,” ujar Sumirah seraya mengatur piring di atas meja makan.
“Kalau begitu, Zesa makan di dapur saja,” kata Zesa sambil membawa piring berisi makanan.
“Duduk!” perintah Zayden, pelan tapi tegas.
Selama beberapa hari laki-laki itu dilarang datang ke kantor oleh Damar. Aaron memiliki kemampuan yang setingkat di bawah Zayden, tapi dia cukup mampu diandalkan untuk menggantikan tugas-tugas kakaknya sementara waktu. Zayden percaya, apa pun keputusan yang diambil Aarn pasti sama dengan apa yang dipikirkan olehnya.
Aku tidak mau duduk di dekat Zay, tapi dia seram kalau sudah memberikan tatapan dingin seperti itu.
Zesa duduk di samping laki-laki itu sesuai perintah. Gadis itu harus siap melayani Zayden setiap saat selama laki-laki itu beristirahat di rumah. Belum lagi jika sifat arogannya kumat, Zesa rasanya ingin memakinya. Sayangnya, itu hanya angan yang terpendam saja.
“Kamu terus mencoba menghindariku. Kenapa? Kalau kamu merasa canggung karena …” ucap Zayden sambil melirik ke arah Sumirah yang sedang merapikan gelas yang baru dicucinya. “Lupakan soal ciuman itu. Tidak ada arti apa-apa juga bagiku,” pungkasnya.
Seolah dibawa terbang ke langit tinggi lalu dihempaskan seketika. Zayden mengatakan ciuman itu tidak berarti apa-apa baginya. Padahal Zesa sempat berkhayal bahwa kata-kata manis laki-laki itu kemarin adalah sebuah kesungguhan.
Heh …. Bodohnya aku yang mengharapkan cinta dari laki-laki yang menganggap ciuman hanya sebagai candaan. Aku sudah merasa jika semua itu tidak mungkin, tapi … rasanya sakit sekali.
Zesa makan dengan tergesa-gesa. Makanan di piring habis dan ia segera pergi ke kamarnya. Menangis sambil ditutupi agar suaranya tidak keluar.
Sumirah menghela napas.
Bodoh. Kenapa bicara seperti itu disaat kamu sendiri terluka? Kalau suka, bilang saja suka. Dasar tuan muda yang aneh.
Sumirah menyesali sikap Zayden yang memilih diam daripada mengungkapkan perasaannya. Ia mengerti kenapa laki-laki itu tidak ingin mengakui perasaannya. Trauma terhadap makhluk bernama perempuan membuat hati Zayden sulit untuk menerima perasaan cinta.
Di ruang makan, Zayden hanya mengaduk nasi tanpa memakannya. Selera makannya hilang. Ia merasakan sakit yang menyesakkan dada.
Kenapa aku merasa sesak? Seperti ada sesuatu yang menghalangi, tapi aku tidak merasakan sakit yang lain selain kekosongan di hati. Apa yang terjadi denganku?
*BERSAMBUNG*