You'll Be Mine

You'll Be Mine
Acara pemakaman



Dua hari kemudian.


Kay, Zoe, Ian, dan Aaron. Mereka berdiri di depan sebuah pusara. Diselingi air mata dan tangis tanpa suara.


Air bening itu menetes, membasahi pipi keempat pangeran Damar Wicaksana. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa hal mengerikan itu akan terjadi tepat di depan gerbang rumah. Sesaat sebelum Ayumi mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, mereka terlibat pertengkaran.


*Ayumi terus ditelepon dan didesak oleh orang tuanya untuk segera bertunangan dengan Zayden, orang yang memegang kendali penuh atas bisnis keluarga Wicaksana setelah Damar meninggal. Gadis itu frustrasi karena Zayden justru menolaknya demi Zesa. Dia datang ke mansion Wicaksana untuk menemui Zayden tetapi laki-laki itu tidak ada di rumah.


Kay memperingati Ayumi untuk berhenti mengejar kakaknya. Dia tahu, hati Zayden tidak akan goyah karena Ayumi. Kay tidak ingin hati Ayumi semakin terluka nantinya.


"Kamu cuma cemburu karena aku memutuskan untuk bertunangan dengan Zayden, kan?" Ayumi bertanya dengan nada tinggi.


Matanya melebar, menatap sinis seakan Kay adalah penghalang hubungannya dengan Zay. Dalam hati Ayumi, Kay masih memiliki tempat yang indah. Cintanya pada Kay masih sama seperti dulu, tapi tekanan dari orang tuanya membuat Ayumi memilih menjauh dari keluarga Wicaksana.


Setelah Damar meninggal, orang tuanya memaksa Ayumi pulang ke Indo. Tidak hanya memaksa kembali, tapi juga memaksa Ayumi untuk menjalin hubungan dengan keluarga itu. Semakin lama, ia merasa semakin tertekan.


"Aku sayang sama kamu, Yumi. Aku tidak mau kalau … kamu terluka nantinya. Kak Zay mencintai Zesa dan itu tidak akan berubah. Berhenti berharap dan kembalilah ke Kanada," bujuk Kay.


"Aku tidak mau! Kalau aku tidak bisa bertunangan dengan Zayden, biar aku mati saja!" Teriakan Ayumi memekakan telinga.


Seusai berkata seperti itu, dia keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil, dan menyalakan mesin mobil. Saat itu, ia melihat Zay dan Zesa sedang berdiri di seberang jalan, tepat di depan gerbang. Tanpa berpikir panjang, dia memacu mobil dengan kecepatan tinggi, menerobos pagar yang baru dibuka oleh penjaga gerbang.*


Kejadian itu membuat Zesa dan Zayden dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis. Sementara Ayumi meninggal di tempat setelah mobilnya menghantam dinding pagar rumah tetangga. Setelah tubuh Zay dan Zayden terpental, mobil tidak bisa dikendalikan dan akhirnya menabrak dinding hingga roboh.


Kencangnya laju kendaraan membuat mobil membentur keras. Bagian depan mobil ringsek dan tubuh Ayumi terjepit. Kepalanya tertusuk pecahan kaca dan dia pun meninggal seketika.


"Kalian telah membunuh putriku satu-satunya. Aku tidak akan memaafkan kalian!" Ayah Ayumi berteriak, memaki, dan bahkan mengancam keempat putra angkat Damar.


"Kami minta maaf, jika saja kami menahan Ayumi saat itu. Mungkin hal ini …," ucap Aaron, mewakili adik-adiknya.


"Permintaan maaf kalian tidak bisa menghidupkan anakku kembali. Pergi kalian! Pergi!"


"Maafkan kami. Kami … permisi," pamit Kay dan yang lain.


Mereka menghadiri pemakaman Ayumi karena gadis itu sahabat mereka sejak kecil. Mereka tidak menyangka Ayumi akan mengalami nasib tragis seperti itu. Terlebih, itu berhubungan dengan keluarga mereka.


"Aku harus ke kantor. Siapa diantara kalian yang akan menemani Zesa di rumah sakit?" tanya Aaron kepada adik-adiknya.


"Kay ada syuting iklan di luar kota," jawab Kay.


"Biar Zoe saja. Kak Ian ada jadwal pemotretan, kan?" tanya Zoe, memastikan.


"Ya. Aku tidak bisa mengubah jadwalnya." Ian mengiyakan ucapan Zoe.


"Baiklah. Kita berpisah di sini. Kami titip Zesa padamu, Zoe," ucap Aaron sebelum pergi dengan mobilnya.


Mereka membawa mobil masing-masing karena memiliki jadwal dan kegiatan yang berbeda. Hanya Zoe yang bisa seenak hati tidak masuk kerja. Zoe seorang kepala chef sekaligus pemilik saham terbesar di hotel tempatnya bekerja. Dengan kata lain, dialah bos-nya.


***


Zesa duduk di sofa sambil membaca sebuah novel. Dia menatap layar ponsel dengan novel online bergenre komedi. Semua scene lucu dalam novel itu nyatanya tidak membuat Zesa tersenyum seperti biasanya.


Saat kejadian, Zayden memeluk erat Zesa. Karena hal itu, Zayden-lah yang mengalami benturan paling parah saat menghantam trotoar jalan. Zesa harus menggunakan kruk sementara waktu.


Dia cedera di bagian kaki dan sikut. Untuk sementara waktu, Zesa harus tetap dirawat sampai kakinya benar-benar bisa bergerak tanpa kruk. Namun, Zesa tidak mau dirawat terpisah dari ruang rawat Zayden.


"Bosan," gumamnya lirih seraya memandang jauh keluar jendela.


"Mau jalan-jalan keluar?" tanya Zoe yang sudah berdiri di samping Zesa sejak lima menit yang lalu.


"Zoe! Kapan kamu datang?"


"Sudah lima menit yang lalu. Kamu terlalu serius sampai tidak berpaling menatapku," jawab Zoe sambil memajukan bibirnya.


Zesa tersenyum tipis. Dia memang terlalu fokus menatap awan yang berarak bebas di angkasa. Pikirannya tertuju pada keadaan Zayden.


"Maaf, aku—"


"Tidak perlu minta maaf. Ayo, kita jalan-jalan," ajak Zoe sambil mendorong kursi roda ke depan Zesa.


"Aku bisa jalan. Untuk apa pakai kursi roda?" Zesa merengut saat melihat kursi roda.


Ia merasa seperti gadis lumpuh jika memakai kursi roda. Namun, akan tidak nyaman jika berjalan-jalan menuruni tangga menggunakan kruk. Meskipun ada lift, tapi Zesa tidak mau naik lift. Dia trauma setelah pernah terjebak di dalam lift saat bekerja sebagai petugas kebersihan.


"Naik lift saja, ya?"


"Tidak mau!" Zesa menjawab dengan cepat.


"Baiklah. Berarti kita harus lewat jalan memutar ke basement," kata Zoe.


"Kemana saja, asal jangan naik lift," ujar Zesa sambil beranjak dari sofa dan duduk di kursi roda.


"Bukannya, kamu pengantar bunga, ya? Kapan kamu bekerja jadi petugas kebersihan?" Zoe mendorong kursi roda sambil mengajak Zesa mengobrol.


"Aku sudah bekerja di beberapa tempat sebelum menjadi pengantar bunga. Salah satunya, jadi petugas kebersihan di sebuah hotel," tutur Zesa seraya tersenyum getir.


Jika diingat kembali, ia seperti Putri Cinderella dalam dongeng. Setelah melalui banyak hal menyedihkan, ia menjadi seorang putri yang kaya raya. Sayangnya, ia tidak merasakan kebahagiaan bersama kedua orang tuanya.


Beruntung, ada lima anak angkat Damar Wicaksana yang mampu melengkapi kesepian Zesa di rumah besar itu. Apalagi, Zayden menjadi kekasihnya. Memiliki pelindung yang bersedia menyerahkan nyawa sekalipun untuk melindunginya.


Mereka berkeliling di taman belakang rumah sakit. Cahaya matahari pagi terasa hangat menyapa kulit berbalut baju pasien. Saat mereka kembali ke ruang rawat inap, mereka terkejut bukan main.


Zayden tidak ada di ranjang rawat. Zoe mencari ke kamar mandi tetapi tidak ada. Zesa menangis pelan diiringi bahu yang naik turun tak beraturan.


"Tenang dulu, Zes. Aku akan bertanya pada Dokter Hadi. Kakak pasti baik-baik saja," ucap Zoe untuk menenangkan hati Zesa.


Namun, benarkah Zayden baik-baik saja? Apakah dia dibawa ke ruang jenazah atau sudah pulih dan sedang berjalan-jalan di luar? Zesa hanya mampu menerka-nerka tanpa kepastian.


*Bersambung*