
"Em … selamat datang, Yumi. Ka-pan, kamu pulang? Aku tidak mendengar beritanya," ucap Kay Hansen untuk meleburkan ketegangan.
Dia pernah memiliki rasa suka cukup dalam terhadap laki-laki itu. Namun, Zayden memiliki perasaan terhadapnya. Kay yang tidak bisa menyakiti hati sang kakak, meminta kepada Ayumi untuk menerima perasaan Zayden kala itu.
Ayumi memperhatikan mereka, terutama pada Zesa. Melihat tangan Zay digenggam gadis itu hati Ayumi terasa panas. Tanpa berpikir panjang, ia berlari, melepaskan tangan Zesa, lalu memeluk Zayden sangat erat.
"Aku sangat merindukanmu, Kak," ucap Ayumi seraya menatap sinis kepada Zesa.
"A … em, maaf, bisakah kau lepaskan aku dulu?" tanya Zayden dengan hati-hati.
Ia takut menyakiti hati Ayumi jika ia mengatakan dengan tegas. Meskipun tahu kekasihnya sedang cemburu, Zay tetap berusaha menjaga perasaan Ayumi. Sampai gadis itu melepaskan pelukan, Zay terus menatap ke arah Zesa.
Kekasihnya memeluk wanita lain tepat dihadapannya. Rasa cemburu Zesa terasa seperti membakar hati. Namun, ia memilih diam sambil memalingkan muka.
Ayumi melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar. Ia menyapa keempat adik Zayden, lalu kembali menarik tangan Zayden, dan menggamit lengan laki-laki itu.
"Setelah aku pikirkan selama beberapa waktu, aku memutuskan untuk bertunangan dengan Kak Zay. Kamu setuju, kan?" Ayumi bertanya kepada Kay
Deg!
Jantung Zesa seolah dipukul palu besar. Sesak. Rasa sakit yang tidak terlihat dari luar namun dapat dimengerti oleh hati.
Keempat adik Zayden membelalak. Mulut mereka menganga lebar, bola mata membulat, dan yang terkejut adalah Zayden. Ia kebingungan untuk menjelaskan situasi yang terjadi.
Zayden pernah meminta gadis itu menjadi tunangannya, tapi itu sebelum Ayumi pergi kuliah keluar negeri. Tidak hanya itu, Ayumi juga menolaknya dengan kasar. Saat itu, Zay patah hati.
Memiliki cinta bertepuk sebelah tangan membuat Zay akhirnya membenci wanita. Dia sangat marah ketika adik-adiknya memperkenalkan seorang gadis padanya. Namun, Zesa telah berhasil menarik hati Zay tanpa perlu merayu laki-laki itu. Sikap polos Zesa yang membuat hati Zayden tergoda untuk memilikinya.
"Maaf, Yumi. Kita bicarakan itu lagi nanti. Aku … harus pergi," ucap Zayden sambil menarik tangannya dari gadis itu.
Zay berlari ke rumah utama, mengejar kekasihnya yang sedang merajuk. Dua orang pengawal menjaga pintu kamar Zesa. Mereka tidak menghalangi Zay masuk meskipun dengan takut-takut. Bagaimanapun juga, saat ini Zay-lah yang memegang kursi kepala keluarga. Para pengawal pun berada di bawah komandonya.
"Kalian berani menghalangiku? Minggir!" Zay memarahi para pengawal sampai mereka berjingkrak ketakutan.
Mereka berlari meninggalkan pintu kamar Zesa. Zay tersenyum puas. Mereka masih memandangnya seperti sebelumnya. Tidak dipungkiri, kharisma dan wibawa Damar Wicaksana mengalir dalam diri Zayden, meskipun dia bukanlah anak biologis Damar.
***
Zay berdiri di depan kamar Zesa sampai tengah malam tiba. Gadis itu tetap tidak mau keluar dari kamar dia bahkan melewatkan jam makan malam. Zay cemas memikirkannya.
Dia baru saja sembuh dari sakit dan Zay tidak mau gadis itu kembali jatuh sakit. Berulang kali ia membujuknya untuk keluar kamar. Zesa tetap tidak ingin keluar dari kamarnya. Bahkan, ia terus berteriak mengusir Zay dari rumahnya.
"Larangan kalian menginjak rumahku diberlakukan kembali. Pergi sekarang juga! Pergi!" Zesa berteriak di dalam kamar.
"Aku bisa jelasin semuanya, Sayang. Beri aku waktu untuk berbicara denganmu, sebentar saja," bujuk Zay dengan lembut.
Sekasar apapun ucapan Zesa, laki-laki itu tidak memasukkan ke dalam hati. Wajar saja jika kekasihnya merajuk. Wanita mana yang tidak cemburu melihat kekasihnya dipeluk wanita lain? Apalagi, dia cinta pertama Zesa.
"Aku ingin sendiri. Tolong … pergi," ucapnya seraya menahan air mata yang mulai meleleh.
"Baiklah. Istirahatlah dengan baik. Jangan sampai sakit lagi. Aku … pulang," pamit Zayden setelah menyampaikan rasa khawatirnya akan kesehatan gadis itu.
***
Gadis itu sangat terkejut melihat Zay mengabaikannya. Memilih mengejar gadis lain tepat di depan matanya. Jika dia gagal mendapatkan Zayden, bisnis ayahnya bisa benar-benar gulung tikar.
Tidak bisa. Kak Zay harus menjadi tunanganku atau aku menjadi orang miskin sungguhan. Bisnis papa mengalami kerugian yang besar dan hanya keluarga Wicaksana yang mampu membantu.
"Kita sudah sampai," ucap Kay sambil membuka pintu mobil.
"Hah? Oh, terima kasih sudah mengantar pulang," kata Ayumi dengan wajah datar dan dingin.
"Apa alasanmu kembali mengungkit hal itu?" tanya Kay dengan tatapan penuh selidik.
Ayumi hanya tersenyum tipis dan berlalu pergi menaiki lift. Kay menatap punggung gadis itu sampai menghilang dibalik pintu lift. Laki-laki itu menghela napas berat.
"Kamu tidak pernah menyukai kakakku. Jadi, kenapa kamu memutuskan untuk bertunangan dengan kakakku sekarang? Kenapa tidak dari dulu?" Kay menggumam lirih.
Saat berbalik pergi, ia bertabrakan dengan seorang gadis berusia belasan tahun. Dilihat dari pakaiannya, gadis itu masih seorang siswa SMA. Pulang dalam keadaan mabuk di usia dini, membuat pandangan Kay sinis padanya.
"Gadis jaman sekarang—"
"Pak, tolong saya. Mereka … sedang mengejar saya," ucap gadis itu sambil memeluk tubuhnya sendiri seperti orang yang kedinginan. "Tolong …" pintanya dengan suara semakin pelan.
Kay melihat beberapa pemuda berseragam SMA yang berdiri tidak jauh dari parkiran bawah tanah. Dia yang tidak suka dengan kejahatan, memilih menggandeng gadis itu masuk ke dalam lift. Kay memiliki satu unit kamar di apartemen itu. Dulu, ia menggunakan apartemen itu untuk mengamati Ayumi.
"Masuklah," kata Kay.
Dia segera menelpon pihak keamanan apartemen. Meminta petugas datang ke parkiran bawah tanah dan mengusir para remaja berandal itu. Sementara gadis yang dibawanya semakin menggigil, sampai mencakar tangannya sendiri.
"Mereka … mencekoki minuman padamu?" tanya Kay, menebak.
"Mereka … memaksaku meminum obat… pembangkit gairah," jawab gadis itu sambil menahan perasaan aneh yang mengaliri sekujur tubuhnya.
Seperti ada sengatan listrik yang membuatnya tersentak saat Kay tiba-tiba menggendongnya. Tangan kekar dan kokoh itu menambah tinggi gairah yang melanda sang gadis. Wajahnya semakin merah, sekujur tubuhnya terasa terbakar, serta napasnya mulai tidak beraturan.
"Jangan berpikiran buruk tentangku. Aku akan membawamu ke kamar mandi untuk berendam. Kuharap, itu bisa meredakan sedikit gejalanya," tutur Kay sambil berjalan menuju kamar mandi di kamar utama apartemen miliknya.
"Bapak, pasti memiliki istri seperti bidadari," ucap gadis itu.
Gadis itu sangat cantik. Memiliki kulit putih, postur tubuhnya tinggi untuk ukuran seorang wanita. Jika dia menjadi model, pasti akan sangat terkenal. Lalu, kenapa Kay tidak tertarik dengan tubuhnya? Gadis itu bertanya-tanya dalam hati.
"Jangan banyak bicara dan diamlah di dalam bak selama satu jam," perintah Kay sambil menurunkan gadis itu dari gendongan. Lalu, ia menyalakan kran air dingin.
"Pak! Selingkuh, yuk!"
"Hah?"
Mata Kay melebar seketika. Seorang gadis SMA tiba-tiba mengajaknya selingkuh. Selingkuh? Dari siapa? Kay bahkan tidak memiliki kekasih saat ini.
*Bersambung*