You'll Be Mine

You'll Be Mine
Zesa membawa laki-laki asing ke rumah



"Oke. Aku akan ikut dengan kalian, tapi aku ingin membawa Bu Pur bersamaku. Boleh, kan?"


"Itu rumahmu. Kamu bebas membawa siapapun masuk ke sana. Kami akan tetap tinggal di mansion samping dan kamu akan tinggal di mansion utama."


Zayden yang menjawab, sedangkan adik-adiknya hanya mengangguk, mengiakan semua kata-kata Zayden. Dia sudah bersumpah untuk menjaga dan membawa Zesa ke rumah keluarga Wicaksana. Ia bersedia memenuhi semua syarat yang Zesa ajukan.


"Benar juga. Itu rumahku sekarang, tapi selain syarat itu, aku mempunyai syarat yang lain," kata Zesa seraya menatap tajam kepada Zayden.


"Katakan saja," jawab laki-laki itu.


"Aku ingin kalian tetap tinggal di rumah samping dan jangan pernah menemuiku. Lalu, kalian jangan pernah ikut campur dengan semua yang kulakukan, sekalipun aku memasukkan sepuluh laki-laki ke rumah itu. Sanggup?"


Zesa tersenyum sinis. Setelah mendapatkan pernyataan cinta ditambah pembicaraan yang pernah didengar, Zesa berniat membuat mereka merasakan sakit sedikit demi sedikit. Apalagi, gadis itu mengingat ucapan Aaron yang mengusulkan untuk menikahi putri tunggal Damar Wicaksana agar mereka dapat mengambil harta warisan milik Damar.


Jika aku tidak bisa pergi, maka aku akan menetap di sana. Tapi, akan kubuat kalian menyesal karena telah menahanku untuk pergi.


"Laki … laki?" Zayden tergagap saat bertanya maksud gadis itu.


"Ya. Laki-laki tam-pan dan mu-da," jawab Zesa dengan nada ditekan.


Provokasi Zesa berhasil membuat keempat laki-laki yang berlutut itu berdiri serentak. Kecemburuan tersirat jelas dalam mata mereka. Zesa cukup menikmati pemandangan itu, hingga ia kembali menegaskan syarat yang diucapkan baru saja.


"Kenapa? Kalian mau protes? Kalau begitu, biarkan aku tetap di rumah ini dan jangan datang menggangguku," tandas Zesa.


"Tidak bisa! Tidak dengan laki-laki dan tidak dengan tinggal di sini! Keduanya tidak akan aku penuhi," tolak Zayden dengan tegas.


"Ya. Aku juga tidak mau! Ajukan syarat lain saja," ucap si bungsu Zoe.


"Baiklah. Aku akan mencari syarat lain. Saat ini, hanya itu syarat yang kuminta," ucap Zesa.


Purbaningrum mengemasi barang-barang Zesa lalu mengunci pintu. Gadis itu tidak mau ikut dengan salah satu dari keempat bersaudara. Ia dan Pur naik taksi menuju rumah mendiang Damar.


Setibanya di sana, Sumirah menyambut dengan pelukan hangat. Ia mengusap pipi yang dibanjiri tetesan air sebening kristal. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Zesa.


"Masuklah. Ibu sudah merapikan kamar, Non Zesa."


Panggilan Sumirah kepada Zesa tidak berubah. Sejak awal pertama bertemu dengan Zesa, wanita paruh baya itu sudah merasa jika wajah Zesa memiliki kemiripan dengan Damar. Dia pikir, itu hanya penglihatan mata senjanya saja, tapi ternyata hal itu benar adanya.


Zesa tidak mau pisah kamar dengan Purbaningrum. Namun, wanita itu tidak bisa tinggal di lantai utama di lantai dua. Purbaningrum harus menaati peraturan di rumah itu dan dia akan tinggal di lantai satu. Tepatnya, di kamar tamu.


"Tidak apa-apa, Zesa. Ibu ada tepat di bawah kamar kamu. Kalau kamu membutuhkan bantuan, ibu selalu siap," kata Purbaningrum, membujuk gadis itu dengan lembut.


***


Seminggu berlalu, Sumirah tidak melihat kelima pangerannya. Dia diperintahkan untuk menjaga Zesa di rumah utama, sedangkan mereka berlima tetap di rumah samping. Hari ini, ia pergi ke rumah samping karena sedang libur akhir pekan.


"Kalian sudah sarapan?" Sumirah bertanya begitu masuk ke rumah.


Mereka berlima menggeleng. Selera makan mereka menurun drastis karena memikirkan ucapan Zesa. Bagaimana jika Gadis itu bersikukuh ingin membawa laki-laki ke rumah?


"Mau makanan buatan Zesa," jawab Zoe dengan wajah murung.


Zayden melirik tajam. Betapa jujurnya adik bungsunya itu. Dia tidak peduli bahwa Zay juga memiliki perasaan terhadap Zesa.


"Kenapa? Kalian juga sama, kan?" Zoe bertanya kepada Zayden dengan berani, tidak seperti biasanya yang takut mengeluarkan suara hatinya.


Zayden mengalihkan pandangannya. Mereka berlima sama-sama memikirkan cara untuk membuat Zesa kembali seperti dulu. Jika tidak ada yang terpilih, setidaknya mereka bisa berdampingan sebagai saudara angkat. Itu harapan kelima pangeran Wicaksana.


Zay enggan berdebat dengan Zoe dan adiknya yang lain. Di kantor terjadi keributan tentang kursi kepemimpinan. Maklum saja, mereka semua tahu jika Aaron dan Zayden bukanlah putra kandung Damar.


Setelah kepergian Damar, mereka khawatir jika kedua putra angkat Damar membuat perusahaan bangkrut. Beberapa pemegang saham mulai merasa cemas dan terus mendesak untuk mengganti presiden direktur Zayden dengan presiden direktur yang baru. Mereka meminta putri sah Damar yang memegang jabatan presiden direktur Damar group.


Zayden duduk di balkon atap seorang diri. Tidak lama kemudian, Aaron menyusul dengan membawa dua cangkir minuman. Kopi pahit untuk Zay dan air teh hangat untuk dirinya.


"Terima kasih," ucap Zayden sambil mengambil cangkir dari tangan Aaron.


"Kakak memikirkan tentang rapat tadi pagi?"


"Hem. Aku tidak keberatan jika diminta mundur dari jabatan presiden direktur. Masalahnya, mereka ingin Zesa yang menggantikanku. Latar belakang pendidikan Zesa sangat minim. Bagaimana jika para tikus itu membodohinya?"


"Yah, Aaron juga berpikir demikian. Zesa belum stabil dan … entah dia bersedia atau tidak?"


Mereka bisa melihat taman depan rumah utama jika duduk di balkon atap. Jika mereka beruntung, mereka bisa melihat Zesa sedang berolahraga. Kemarin pagi, mereka berlima melihat Zesa dalam balutan baju olahraga yang cukup ketat.


Mereka menelan saliva saat Zesa melakukan stretching. Tubuh sintalnya melenggak-lenggok dengan lentur. Saat gadis itu menoleh, mereka bergegas tiarap di lantai.


Hari ini, Aaron dan Zayden tidak melihat gadis itu. Mereka sedikit khawatir, tapi perasaan itu melebur seketika saat gadis itu tampak keluar dari gerbang. Zay pikir Zesa akan pergi, tapi gadis itu masuk kembali bersama seorang laki-laki bertubuh tinggi.


Zayden bangun dari kursi dengan cepat. Tatapannya tertuju pada laki-laki yang merangkul bahu Zesa. Aaron bereaksi sama, dia menggerutu.


"Katanya tidak akan membawa laki-laki, lalu siapa dia?"


"Suruh Bu Sum kembali ke mansion utama!" Zayden memerintah Aaron.


Rupanya, Zoe juga melihat hal itu saat ia menerima paket makanan yang dipesan online. Pemuda itu berlari ke rumah utama dan langsung mencengkram tangan Zesa. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Jauhkan tanganmu darinya!" Zoe menghardik laki-laki itu.


Bukannya takut, laki-laki itu justru tersenyum. Dia merampas Zesa dari dekapan Zoe. Dengan sikap angkuh dan cuek, dia menjawab ucapan laki-laki itu.


"Bukan aku yang harus menjauhkan tanganku dari Zesa, tapi kau," ujar laki-laki asing itu, lalu ia mengecup pipi Zesa di depan Zoe.


"Siapa dia, Zes? Sudah kubilang untuk tidak membawa laki-laki ke rumah," kata Zayden.


"Bukankah hanya dilarang membawa laki-laki, bukan pacar. Dia Arnold, pacarku."


*Bersambung*