
"Apa pacarmu bukan laki-laki?"
Bukan. Tidak seratus persen laki-laki.
"Dia juga dilarang masuk, karena dia tetap laki-laki," ucap Zayden kembali.
Dia temanku dan dia bukan laki-laki tulen. Jadi, dia tidak masuk ke dalam daftar orang yang dilarang.
"Kenapa diam saja? Jawab, Zes!" Zayden mendesak sambil menarik tangan gadis itu ke atas.
"Aku sudah menjawab," kata Zesa.
"Kapan?"
"Dalam hati," selorohnya seraya berlari membawa Arnold masuk.
Zayden lengah hingga Zesa dengan mudah melepaskan tangan dari cengkeramannya. Mereka sudah berjanji tidak akan menginjakkan kaki di rumah utama. Melihat Zesa sudah masuk ke rumah, mereka hanya bisa mengumpat kesal.
“Bagaimana ini? Masa, kita biarkan dia membawa laki-laki ke rumah begitu saja,” kata Zoe.
“Aku tidak tahu. Kita lihat saja. Jika dia berbuat macam-macam kepada Zesa, kita habisi dia,” ujar Aaron dengan gigi menggertak.
Zayden melangkah keluar dari gerbang rumah utama, diikuti keempat adiknya. Mereka tidak berselera makan dan melakukan apa pun di akhir pekan ini karena Zesa tidak bersama mereka semua. Ditambah melihat laki-laki lain merangkul mesra gadis itu, tentu saja membuat perasaan mereka menjadi lebih buruk.
“Kita pergi ke arena memanah saja, bagaimana?” usul Kay.
“Ide bagus. Daripada kesal di rumah, lebih baik kita pergi berlatih panah. Anggap saja, sasarannya adalah laki-laki itu,” timpal Ian.
Zayden tidak berkomentar apa-apa. Ia mengikuti keinginan adik-adiknya yang ingin melampiaskan kekesalan. Sebelum pergi, Zayden sempat melirik ke arah jendela kamar Zesa.
Gadis itu dengan sengaja berpelukan di dekat jendela. Ia bahkan melirik seraya memamerkan senyum sinis. Entah apa tujuan Zesa memanas-manasi kelima kakak angkatnya itu?
“Sudah selesai belum, Cin?”
“Sebentar lagi, Ar. Mereka belum pergi,” jawab Zesa sambil tersenyum lebar.
Dari kejauhan, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang memadu kasih dengan bahagia. Namun, pemandangan itu berubah setelah kelima pandawa pergi dengan mobil sport masing-masing. Zesa terkekeh geli membayangkan ekspresi wajah mereka tadi.
Arnold atau yang lebih senang disapa Arni itu adalah salah satu teman dekat Zesa di toko bunga. Mereka lama tidak berkirim kabar. Setelah pulang dari makam, Zesa memintanya datang ke rumah karena ingin berbagi cerita.
Kebetulan Arnold datang ke rumah Wicaksana di hari libur para pangeran Sumirah. Zesa memanfaatkan keadaan itu untuk membuat mereka kesal. Setelah mereka menyatakan cinta kepadanya, Zesa seolah memiliki kelemahan mereka.
Meskipun mereka bukan kekasih Zesa, tapi rasa cemburu karena gadis yang disukai dipeluk laki-laki lain pasti tetap ada. Zesa masih marah setelah kehilangan ibunya dan ia dipaksa tinggal di rumah mewah yang dingin itu. Purbaningrum menasehati Zesa untuk menerima takdirnya, tapi gadis itu bersikeras menyalahkan ayahnya yang sudah tiada.
“Mereka itu ganteng-ganteng banget, Say. Kenapa kamu membuatku jadi cowok macho? Sampai ngaku aku pacar kamu lagi,” gerutu Arnold yang menaruh hati kepada salah satu pangeran Wicaksana.
“Naksir, ya? Siapa yang kamu taksir?” tanya Zesa, menggoda laki-laki melambai itu.
“Yang baju putih. Sepertinya … aku pernah melihat wajahnya, tapi dimana, ya?”
“Kay? Dia aktor populer, loh. Masa … kamu tidak tahu. Idola wanita se-nusantara,” ujar Zesa, mengingatkan Arnold siapa Kay.
Gadis itu membuka aplikasi pemutar video. Ia memperlihatkan siapa Kay kepada sahabatnya. Kedua mata Arnold membelalak melihat ke layar ponsel.
Arnold memekik histeris. Ia tersipu malu membayangkan wajah Kay yang tersenyum padanya. Lalu, khayalan itu buyar ketika bayangan Zesa tiba-tiba memeluknya.
“Ah … menyebalkan. Kenapa aku jadi pacar kamu, sih? Jadi, tidak bisa mendekati pangeranku, kan,” gerutu Arnold sambil menjejak-jejakkan kaki di lantai.
Zesa tidak menanggapi kekesalan Arnold. Ia meminta laki-laki itu datang karena ingin berbagi cerita tentang dirinya dan keluarga Wicaksana. Zesa menceritakan semua yang dirasakannya saat dirinya tiba-tiba menjadi putri tunggal dari seorang pengusaha real estate yang kaya raya.
Dia juga menceritakan siapa kelima laki-laki yang berdebat dengan mereka tadi. Arnold mengangguk sesekali sambil terus menyimak semua cerita gadis itu. Cerita berakhir dan kini Zesa meminta solusi dari laki-laki itu.
“Cukup rumit, tapi juga simpel,” celetuknya.
“Yang jelas, apa, kalau ngomong,” protes Zesa karena Arnold berbicara setengah-setengah.
“Melihat mereka yang bisa akur meski bukan saudara kandung, rasanya mustahil kalau mereka bakal mencelakai kamu demi harta warisan ayah kandungmu. Terus, mereka itu tampan. Apa salahnya memilih salah satu dari mereka untuk dijadikan pacar? Kalau aku jadi kamu, aku bakal pacarin semuanya. Ngeharem kita, wkwkwk,” cerocos Arnold panjang lebar.
“Gila, ih! Dasar serakah,” ejek Zesa sambil melempari Arnold dengan menggunakan bantal sofa.
***
“Oh …. Jadi, Wicaksana sudah menemukan pewaris aslinya?”
“Benar, Tuan. Seorang gadis berusia dua puluh tahunan. Sebelum meninggal, Tuan Wicaksana sudah mengonfirmasi dengan tes DNA.”
“Bagus. Jika dia seorang wanita, apalagi pendidikannya rendah, maka dia akan mudah dimanfaatkan. Aku akan mengambil alih Damar group melalui gadis bodoh itu,” ucap suara bariton dari laki-laki berjenggot dan rambut dipenuhi uban.
Dia adalah keponakan Damar Wicaksana yang memiliki sepuluh persen saham di Damar group. Selain itu, dia merupakan kepala humas di perusahaan real estate milik Damar. Sejak dulu, dia selalu berambisi menguasai semua harta milik pamannya.
Sayangnya, Damar group sulit disentuh karena dipimpin oleh Zayden dan Aaron yang menjadi wakil ketua. Bergerak melenceng dari perusahaan sedikit saja, dia akan ketahuan oleh mereka. Para pemegang saham menjuluki mereka sebagai macan dan hyena perusahaan.
“Terus awasi mereka. Aku akan bergerak ketika waktunya tepat,” kata laki-laki itu sambil membuka bungkus rokok sigaret berwarna hitam.
***
Zesa merasakan dingin di sekujur tubuhnya selama beberapa detik. Seperti cenayang yang mendapatkan firasat buruk. Ia berjalan menuju jendela, mengedarkan pandangan ke halaman rumah yang luas.
Ia tidak pernah merasakan hal seperti itu selama ini. Rasanya seperti ada sepasang mata yang mengawasi gerak-geriknya. Namun, tidak ada gelagat aneh dari para asisten rumah tangga ataupun tukang kebun.
Mungkin hanya firasatku saja. Mereka tidak mungkin melakukan hal aneh-aneh, kan? Bagaimanapun juga, aku adik mereka sekarang. Terlepas ada ikatan darah atau tidak, saudara tetaplah saudara.
Zesa mengalihkan pikirannya ke tempat lain. Mungkin dengan begitu, pikiran buruknya tentang kelima kakak angkat akan berkurang. Rasa tidak nyaman itu menghilang disaat sang sahabat memanggilnya.
Mari lupakan mereka sejenak, Zesa.
Arnold pulang di sore hari. Di depan gerbang, ia berpapasan dengan kelima tuan muda yang baru kembali dari arena memanah. Zoe mengepalkan tangannya dan menakut-nakuti Arnold. Saking takutnya, sifat lembutnya pun terlihat oleh kelima laki-laki itu.
"Dia bukan … itu, kan? Kenapa gemulai begitu larinya?"
*bersambung*