
Setelah kondisinya membaik, Zayden pun mulai melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dari hasil pemeriksaan diketahui, laki-laki itu menderita penyakit lambung kronis. Penyakit itu membuatnya sering merasakan sakit di bagian perut.
Perut Zayden bermasalah karena sering melewatkan waktu makan siang di kantor saat sedang sibuk-sibuknya. Saat sedang senggang, ia bisa pulang dan makan siang di rumah. Ia tidak suka makan di resto karena selalu menjadi pusat perhatian.
"Anda tidak boleh menyepelekan penyakit ini. Usahakan untuk makan lebih sering dalam porsi kecil. Kurangi kafein dan minuman bersoda, apalagi minuman beralkohol, itu sangat dilarang."
Dokter berbicara panjang lebar tentang kesehatan Zayden. Di samping dokter itu, Zesa mencatat semua makanan yang terlarang bagi Zayden. Untuk kopi, ia tidak tahu, apakah Zayden bersedia berhenti minum kopi atau tidak?
"Baik, Dokter."
"Apakah, Nona, yang mengurus pasien?" tanya dokter kepada Zesa.
Gadis itu menemani Zayden menemui dokter. Tangannya tidak mau melepaskan tangan Zesa, hingga gadis itu terpaksa ikut masuk ke ruangan dokter. Zayden menggenggam erat tangan gadis itu, bahkan sampai telapak tangan mereka basah oleh keringat.
"Ya, Dok. Saya asisten rumah tangga. Saya yang ditugaskan merawat tuan muda," jawab Zesa.
"Sementara waktu, pasien tidak boleh memakan sesuatu yang keras. Usahakan untuk memakan makanan yang lembut seperti bubur dan tim. Berikan obat tepat waktu dan bawa pasien untuk kontrol tiga hari sekali selama pemulihan."
"Baik, Dok."
Mereka meninggalkan ruangan itu. Di depan ruangan itu, keempat tuan muda lainnya sedang berdiri menunggu dengan harap-harap cemas. Mereka mengkhawatirkan keadaan kakak pertama mereka.
"Bagaimana?" tanya Zoe sambil menarik Zesa menjauh dari Zayden.
Genggaman tangan mereka terlepas. Entah kenapa, Zayden merasakan kehampaan saat tangan itu terlepas dari Zesa? Ia masih bimbang dengan perasaannya terhadap gadis itu.
"Tuan muda Zay sudah baik-baik saja. Dia hanya perlu banyak beristirahat dan melakukan kontrol tiga hari sekali sampai benar-benar sembuh total."
"Syukurlah …." Mereka mengucap syukur bersamaan.
Sumirah senang melihat Zayden sudah baik-baik saja, tapi ia juga merasa sedih untuknya. Ia melihat semua tuan muda memiliki perasaan yang sama terhadap Zesa. Padahal, ini adalah cinta pertama Zayden.
Tidak seperti adik-adiknya yang setidaknya sudah pernah berpacaran dengan gadis lain, Zayden belum pernah jatuh cinta sama sekali. Hidupnya sangat monoton sebelum bertemu Zesa. Ia merasa benci terhadap wanita karena ibu Zoe yang tega membuang Zoe yang masih bayi ke tempat sampah.
Namun, Zayden tidak bisa membenci Zesa, meski gadis itu termasuk wanita. Sumirah pun tidak tahu tentang apa yang spesial dari seorang Zesa. Ia melihat Zesa sebagai gadis sederhana dan periang.
Apa mungkin, tuan muda tertarik karena sifat periang Zesa?
"Dor!"
"Astaga! Tuan muda …. Saya bisa mati jantungan," desah Sumirah sambil mengelus dada.
Zoe hanya tertawa melihat Sumirah terkejut. Ia sangat suka menjahili orang termasuk ibu pengasuhnya. Jika Sumirah memiliki riwayat penyakit jantung, Zoe mungkin tidak akan bisa tertawa setelah mengejutkan wanita paruh baya itu.
"Ibu, baik-baik saja, kan?" Zesa berlari menghampiri Sumirah yang jatuh terduduk di kursi lobby rumah sakit.
"Ibu tidak apa-apa."
"Hah … syukurlah. Tuan muda Zoe, tidak takut terjadi sesuatu yang buruk kepada ibu, ya," gerutu Zesa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kembali memanggilku tuan muda?" Zoe tampak kecewa.
Ia tidak ingin membuat tuan muda lainnya merasa iri. Jika semua tuan muda meminta Zesa memanggil mereka dengan nama, itu tidak terasa nyaman baginya. Apalagi, Aron yang sangat senang mencari kesempatan untuk menyentuh tubuh Zesa.
"Aku butuh jawaban. Apa kamu tidak bisa menjawab pertanyaan semudah itu?"
Zoe melangkah maju mendekati gadis itu. Jarak mereka begitu tipis, dengan posisi tinggi yang berbeda, Zesa harus menengadah melihat wajah Zoe. Jantung mereka berdegup cepat, menciptakan desiran aneh yang tak dapat diartikan oleh keduanya.
Mereka saling memandang cukup lama, seolah tidak ada orang lain di sekitar mereka. Seperti dunia hanya milik mereka berdua. Mereka tidak melihat bagaimana orang-orang memandang saat ini. Hingga suara lantang, tegas, dan terkesan dingin menginterupsi interaksi mereka.
"Zesa!"
Gadis itu tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah suara. Tatapan dingin dari Zayden seakan bisa membekukan tubuh gadis itu. Zesa segera mendorong Zoe dan berlari keluar dari lobby rumah sakit.
Zayden mengejar gadis itu ke parkiran, tapi Zesa sudah pergi menggunakan taksi. Ia ketakutan dan melarikan diri. Zesa meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah, bukan rumah Wicaksana, tapi rumahnya.
"Kenapa dia lari?" Tanya Kay yang berpapasan dengan Zesa di parkiran sebelum Zayden tiba. Ia melihat wajah gadis itu pucat pasi.
"Sepertinya ketakutan karena dipanggil kak Zay," jawab Zoe. Ia melihat kecemburuan di wajah kakak pertamanya.
Kalau kak Zay menyukai Zesa …. Aku harus apa? Dan, sepertinya bukan cuma kak Zay saja. Kak Aron, kak Ian, kak Kay … mereka juga berubah. Apa mungkin, mereka semua juga memiliki perasaan yang sama terhadap Zesa?
Zoe yang merupakan anak angkat paling kecil, merasa tidak bisa bersaing dengan keempat kakaknya. Terlebih jika ia harus bersaing dengan Zay, itu sangat mustahil baginya. Walaupun akhirnya nanti Zesa memilih Zoe, tapi laki-laki itu tidak akan bisa menyakiti hati Zayden.
Mereka mengalah kepada Zayden sebagai saudara angkat tertua diantara mereka. Bukan tanpa alasan, mereka bisa mengorbankan kebahagiaan mereka demi Zay. Laki-laki itu telah bersusah payah merawat mereka saat belum diadopsi oleh tuan Wicaksana.
"Kenapa wajahmu murung begitu?"
"Tidak apa-apa." Zoe berlalu pergi, masuk ke mobil.
Mereka membawa mobil masing-masing, karena setelah menjemput Zay keluar dari rumah sakit, mereka harus pergi bekerja. Zoe pergi setelah mobil Zayden pergi meninggalkan parkiran bersama Sumirah. Disusul Kay, Aron, dan Ian.
***
Kemala sangat terkejut saat Zesa tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sudah dua bulan berlalu sejak gadis itu pergi dari rumah. Zesa yang berpura-pura merantau tiba-tiba pulang tanpa membawa tas tentu saja menimbulkan kecurigaan di hati sang ibu.
"Zesa …. Kamu pulang, Sayang?"
"Iya, Bu. Zesa pulang sebentar," jawabnya sambil menahan tangis. "Zesa kangen sama, Ibu."
Kemala melonggarkan pelukan gadis itu, lalu berbalik. Mereka saling berhadapan, diliputi kebahagiaan setelah lama tidak saling bertemu. Dua bulan terasa sangat lama bagi mereka, karena sebelumnya mereka tidak pernah hidup terpisah.
"Ibu juga kangen sekali sama kamu, Sayang. Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak bawa tas? Kamu ... seperti ini dari luar kota?" Kemala bertanya dengan tatapan menyelidik.
Deg!
Zesa melupakan hal itu. Mana ada, orang yang pulang dari merantau hanya mengenakan kaos dan celana pendek rumahan. Ia tidak ingat bahwa dia meminta izin merantau keluar kota, tapi penampilannya sekarang sama sekali tidak mencerminkan orang yang pulang kampung setelah merantau. Jawaban apa yang harus dikatakannya dalam situasi saat ini? Ia pun tidak tahu.
*bersambung*