
"Berikan dia padaku!" Aaron berseru kepada Zoe yang hendak menggendong Zesa.
"Kak Aaron? Bukannya sedang menggantikan rapat?" selidik Zoe dengan mata memicing.
"Dari mana kau tahu? Kau … jangan, jangan—"
"Ya. Zoe sama seperti kalian. Jangan kira Zoe tidak tahu kalau selama ini kalian menempatkan seseorang untuk mengawasi gerak-gerik Zoe," ujarnya Zoe, membenarkan dugaan Aaron.
"Sialan! Beraninya kau menempatkan mata-mata di samping kakak-kakakmu," ucap Aaron seraya melangkah lebar menghampiri Zoe.
Laki-laki itu mencekik leher Zoe, meski tidak kencang. Aaron mencekik longgar hanya sekedar memperingatkan adik bungsunya tidak berbuat seperti itu lagi. Namun, kejadian itu dilihat oleh Zesa yang berada dalam pelukan Zoe. Gadis itu membuka mata perlahan-lahan karena masih merasa pusing.
"Tu-an … Aaron!" pekik Zesa sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Zesa! Kamu sudah sadar?" Aaron melepaskan tangannya dari leher Zoe dan hendak menyentuh pipi Zesa.
Namun, gadis itu mundur dengan cepat. Ia tidak tahu apa yang terjadi diantara Zoe dan Aaron. Satu hal yang dia lihat adalah mereka sedang berkelahi karena Aaron mencekik leher Zoe.
"Ini tidak seperti yang terlihat, Zesa. Jangan takut," ujar Aaron sambil melangkah mendekati Zesa.
Gadis itu berbalik dan pergi ke kamar dengan berlari. Zoe sengaja diam saja dan tidak menjelaskan situasinya kepada Zesa. Ia tahu, keempat kakaknya memiliki perasaan yang sama kepada gadis itu.
Terlihat pengecut, tapi Zoe tidak peduli. Ia tidak ingin kehilangan orang yang sudah mengisi hatinya. Zoe ingin memperjuangkan cinta gadis itu sampai akhir.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu sengaja, kan," cibir Aaron.
"Kakak yang membuat Zesa ketakutan," jawabnya tak kalah sinis.
Sejak sebelas bulan terakhir, mereka hanya bisa memandang Zesa dari jauh. Mereka tidak berani mendekat karena Zesa pasti menghindar. Setiap ditanya, Zesa hanya menjawab singkat bahwa itu demi profesionalitas pekerjaan.
Mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan Zesa lagi saat gadis itu pergi. Mendengar Zesa menunda kepergiannya, mereka memanfaatkan hal itu untuk menunjukkan perasaan mereka secara terbuka.
Tok! Tok!
"Zes, Zesa …."
"Tinggalkan saya, Tuan muda Aaron," jawab Zesa dari dalam kamar.
Aaron menghela napas. Ia telah berubah demi terlihat baik di mata gadis itu. Namun, Zesa justru melihatnya sedang mencekik adik angkatnya sendiri.
***
Setelah menyelesaikan pekerjaan merapikan baju ke dalam koper, Zesa kembali ke rumah sakit. Ia melewati Aaron dan Zoe begitu saja tanpa menoleh. Kedua laki-laki itu pun hanya bisa tersenyum getir.
“Bagaimana perasaan, Ibu? Apa masih sakit?”
“Tidak. Kalau bisa, ibu ingin pulang sekarang,” jawab Sumirah sambil menggenggam tangan dingin Zesa. “Kenapa tanganmu dingin sekali?”
“Zesa naik ojek tadi. Sepertinya, tangan Zesa dingin karena kena angin di jalan,” jawabnya dengan canggung.
Zesa merasa tidak enak badan. Keringat dingin keluar sejak ia berada di dalam taksi. Namun, ia tidak ingin menambah beban pikiran Sumirah yang sedang tergolek sakit.
“Oh, begitu.”
Sumirah mengantuk setelah minum obat. Dia terlelap tidak lama kemudian. Entah benar-benar tertidur atau hanya berpura-pura agar Zesa bisa bicara berdua dengan Zayden?
Zayden berpamitan sebentar karena ingin mengantar Damar ke lobby. Laki-laki itu tidak menemani Sumirah saat Zesa pergi, tapi pergi mencari kenalannya. Damar memberikan rambut Zesa untuk diperiksa.
“Papa! Kok, keluar dari sana?” tanya Zayden sambil menunjuk ruang laboratorium.
“Sudah. Dia sedang berada di kamar perawatan,” jawab Zayden.
“Kamu temani dia saja di sini, biar papa pulang sendiri. Jangan biarkan Zesa pergi sebelum dua minggu berakhir,” perintah Damar dengan wajah serius.
Zayden merasa ada hal yang lain dari nada perintah Damar. Tidak seperti perintah lainnya yang disertai senyuman. Kali ini, Damar terlihat sangat tertekan seolah ada sesuatu yang membuatnya ketakutan.
Ia menatap punggung sang ayah dalam kebingungan. Karena penasaran, Zayden meminta seseorang untuk memeriksa apa yang dilakukan ayahnya barusan. Zayden juga mencari tahu siapa kenalan yang dimaksud, tapi tidak dapat menemukannya dengan mudah.
Usut punya usut, Damar ternyata sudah meminta para tim medis yang bekerja di laboratorium untuk tidak memberitahu siapapun terkait permintaannya. Sebelum semuanya jelas, Damar tidak ingin anak-anak angkatnya mengetahui hal itu. Dalam hatinya, Damar merasa ada ikatan batin dengan gadis itu. Jadi, ia yakin hasilnya akan seperti apa.
Tetap saja, Damar harus memiliki bukti akurat bahwa Zesa memang putrinya. Di beberapa bagian, Zesa terlihat mirip dengannya. Tidak mungkin gadis itu mirip dengannya jika mereka tidak ada ikatan darah.
“Mau pergi makan malam?”
“Tidak, terima kasih.”
“Kamu harus makan supaya kuat merawat ibu,” paksa Zayden dengan nada penuh tekanan.
Zesa malas berdebat. Ia bangun dari sofa dengan lesu dan berjalan pelan di belakang Zayden. Di lorong dekat ruang observasi, tiba-tiba ada yang menarik tangan gadis itu.
“Jangan berisik. Ini aku, Zes,” bisik Kay sambil melepaskan bekapan tangannya di mulut Zesa.
“Apa lagi ini? Kenapa kalian semua menggangguku? Tidak bisakah kita berjalan masing-masing seperti beberapa bulan kemarin? Kenapa … kenapa kalian terus menggangguku!” cecar Zesa diselingi isak tangis.
“Aku tidak ingin mengganggu, tapi … mengungkapkan perasaan,” jawab Kay dengan lembut.
“Kalian berlima sama-sama mencintaiku, kan? Aku sudah tahu. Jadi, biarkan aku pergi,” tukas Zesa dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
"Tidak mau. Aku mau mendengar jawabanmu," tolak Kay dengan wajah tersipu.
"Jawabanku … aku tidak mau memilih siapapun diantara kalian. Aku memiliki kekasih dan tidak tertarik untuk selingkuh. Permisi!"
Hah …. Terlambat, dong? Eh, tapi aku tidak pernah melihat Zesa telponan atau chat-an dengan kekasihnya. Masa, mereka tidak merasa rindu padahal berpisah cukup lama?
Kay menggumam lirih. Ia tidak tahu bahwa keempat saudaranya juga mencintai Zesa. Bahkan, ia tidak tahu sudah ada yang menyatakan cinta lebih dulu pada gadis itu.
***
Dua hari kemudian, Sumirah diperbolehkan pulang. Zesa tinggal dan tidur di kamar Sumirah agar lebih mudah saat wanita paruh baya itu membutuhkannya. Hal itu sangat disayangkan oleh kelima tuan muda karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Zesa.
Dini hari, kelima tuan muda berkumpul di balkon atap. Sumirah menginginkan sesuatu, Zesa pun mencari mereka di kamar mereka, tapi semua kamar tidak terkunci, dan dalam keadaan kosong.
Mendengar suara orang berbicara meski samar, Zesa mengikuti arah suara itu. Kakinya terpaku di depan pintu balkon atap. Kelima tuan muda sedang membicarakan hal penting dan Zesa tidak sengaja mendengarnya.
"Aku dengar, papa menemukan seseorang yang diduga sebagai anaknya yang hilang belasan tahun yang lalu," ucap Aaron.
"Ya, benar. Aku dengar, papa sedang memastikan bahwa anak itu adalah anak kandungnya," timpal Zayden.
"Lalu, bagaimana dengan kita? Apa kita akan mendapatkan bagian jika anak itu benar-benar ditemukan?"
Ian bertanya soal warisan bukan karena dia serakah. Dia hanya takut jika mereka semua akan ditendang keluar dari nama keluarga Wicaksana. Nama itu sudah melekat dan mereka telah menjadi bagian dari keluarga ini selama lebih dari dua puluh tahun.
"Aku dengar, anak itu seorang anak perempuan. Salah seorang dari kita nikahi dia saja, beres," celetuk Aaron dengan ide gilanya.
Apa? Mereka sedang merencanakan untuk menguasai harta tuan Damar? Gila!
*Bersambung*