
"Terima kasih, Bu," ucap Zesa.
"Sama-sama. Kalau sudah selesai, panggil saja saya," balas wanita yang mendorong kursi roda Zesa.
Wanita yang terekam CCTV itu adalah salah satu tetangga Zesa dan Kemala. Dia datang menjenguk saat mendengar kabar bahwa Zesa sedang dirawat di rumah sakit tersebut. Wanita itu juga merupakan sahabat dari Kemala.
Purbaningrum, sahabat Kemala memilih untuk melajang karena tidak ingin pusing dengan urusan rumah tangga. Dia ikut merawat Zesa sejak kecil, karena itu Zesa sudah seperti putri baginya. Kemanapun Kemala pindah rumah, Purbaningrum pasti ikut mengantarkan agar mereka tidak hilang kontak.
Zesa menatap tanah basah yang menggunduk dihias sebuah papan bertuliskan nama mendiang sang ibu. Di bawah permukaan tanah merah itulah sang Ibu telah beristirahat dengan tenang, meninggalkan Zesa untuk selama-lamanya. Kelopak bunga berwarna-warni menutupi hampir seluruh makam Kemala.
"Kenapa Ibu pergi meninggalkan Zesa? Zesa sendirian, Bu," lirih Gadis itu seraya menangis sesenggukan.
Dari kejauhan di parkiran makam Zoe keluar dari mobilnya. Ia bertaruh dengan dirinya sendiri bahwa gadis yang menghilang dari rumah sakit itu pasti pergi ke makam dan ternyata tebakannya benar. Zoe melangkah dengan setengah berlari hendak menghampiri Zesa namun Purbaningrum menahan laki-laki itu.
"Dia butuh waktu untuk sendiri. Tolong …," ucap Purbaningrum dengan tangan terbuka lebar menghalangi langkah Zoe.
"Tapi—"
"Saya akan membujuknya perlahan. Jadi, pergilah, Tuan muda," potong Purbaningrum.
Zoe memutar badan, tapi pandangannya tak beralih dari gadis yang sedang sesenggukkan di samping makam. Hatinya terasa teriris mendengar isakan pilu Zesa. Ia ingin memeluk dan menenangkannya. Namun, ia tidak bisa melakukan itu saat ini.
***
Zoe duduk di balkon atap seorang diri ditemani secangkir teh hangat tanpa gula. Pikirannya begitu gelisah. Apakah jasa akan kembali ke rumah itu atau justru pergi menghilang darinya selamanya?
Angin yang menyapa tubuhnya terasa lebih dingin dari hari biasanya. Entah karena hatinya yang sedang dingin atau cuaca yang sudah berubah? Bahkan, mentari senja pun tidak terlihat seindah biasanya.
Entah pergi kemana keempat kakak-kakaknya? Mereka masih berusaha mencari Zesa sejak pagi hingga petang menjelang. Sumirah hanya bisa menunggu dengan gelisah di rumah. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantu para tuan muda mencari Zesa.
"Kenapa Tuan Zoe tidak ikut mencari? Padahal, dia sepertinya gelisah, sama sepertiku," gumam Sumirah.
Suara langkah cepat dari beberapa orang yang masuk ke rumah. Zoe melihat mereka saat keluar dari mobil. Kini, mereka sudah berdiri di belakang Zoe dengan tatapan kesal, marah, dan curiga yang menyatu jadi satu.
"Kenapa kamu hanya duduk tenang di sini? Apa kau sudah menemukan Zesa?" Zayden menghampiri adiknya dan bertanya dengan tatapan curiga.
"Sudah. Biarkan dia sendiri untuk sementara waktu, Kak. Zoe yakin, Zesa pasti pulang," jawabnya dengan senyum tipis.
Grep!
Zayden menarik lengan kanan Zoe sampai laki-laki itu terangkat dari kursi. Ketiga kakaknya yang lain hanya bisa memasang kuda-kuda, bersiap bilamana Zayden kembali memukul adiknya. Kay sudah dipukul dan Aaron tidak mau melihat laki-laki itu kehilangan kendali lagi.
“Dimana dia, Zoe? Jawab!” desak Zayden dengan mata mendelik.
"Zoe tidak tahu, tapi … Zoe menemukan Zesa di makam ibunya. Orang yang menculik Zesa adalah sahabat mendiang Bu Kemala dan itu bukan penculikan. Zesa yang minta diantar ke sana," jawab Zoe dengan jujur namun kejujurannya diragukan oleh Aaron.
"Kamu tidak berbohong, kan?"
"Terserah, Kak Aaron. Mau percaya atau tidak. Yang jelas, Zoe sudah menjawab sesuai yang Zoe tahu," protesnya dengan sinis.
"Aku akan mencarinya," ucap Kay.
"Ya. Ian juga akan mencari Zesa," timpal Ian.
"Kalian egois, tch," decih Zoe.
"Tuan Zoe …"
"Saya mau tidur, Bu," ucap Zoe, mencari alasan.
Hah ….
Sumirah menghela napas dalam.
***
Keempat saudara angkat itu sama-sama terkejut. Ternyata mereka tiba di tempat yang sama. Namun, Zayden yang maju sebagai anak tertua.
Ketiga adiknya menunggu di depan gerbang sementara Zayden mengetuk pintu. Dia bertanya kepada Purbaningrum dengan sopan saat wanita itu membukakan pintu. Dia meminta Zay dan ketiga adiknya untuk pulang saja karena Zesa tidak mau menemui mereka.
"Bisakah saya bertemu dengannya sebentar saja? Saya mohon," pinta Zay seraya menyatukan kedua telapak tangannya.
"Maaf. Silakan pulang saja," usir Purbaningrum dengan halus.
"Biarkan mereka masuk, Bu," kata Zesa yang berdiri di depan pintu kamar.
Zayden tersenyum mendengar suara gadis itu. Ia memanggil Aaron, Kay, dan Ian. Mereka duduk di kursi ruang tamu, sedangkan Purbaningrum diminta untuk meninggalkan mereka sejenak.
Zayden menanyakan keadaan kesehatan Zesa, tapi gadis itu enggan menjawab pertanyaan basa-basi. Dia terlihat sangat kurus dibanding saat bekerja dulu. Wajah yang memiliki pipi chubby sekarang tampak sangat tipis dengan tulang rahang yang terlihat menonjol.
Saking malasnya, Zesa menutup mata. Ucapan mereka hanya seperti angin yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Zesa bahkan tidak mengingat apa yang mereka bicarakan. Sampai, Zayden tiba-tiba berlutut di lantai, tepat di depan Zesa.
"Aku mohon, Zes. Papa … maksudku … Pak Damar. Dia adalah orang yang sangat berharga bagi kami berlima. Keinginan terakhirnya adalah membahagiakan kamu, putri satu-satunya yang baru dilihat setelah sekian lama. Dia sudah meninggal dan menitipkan amanat yang tidak bisa kami abaikan," ucap Zayden dengan nada sangat rendah.
Sesekali, ucapannya seperti tersekat di tenggorokan. Suaranya tersendat-sendat menahan rasa sedih yang hampir meruntuhkan tangisnya. Dia tidak boleh terlihat rapuh dan lemah di saat seperti ini.
Bruk!
Satu persatu, ketiga adiknya ikut berlutut di depan Zesa. Mereka berlutut di belakang sang kakak yang sedang berjuang membujuk gadis itu. Namun, Zesa justru tertawa terbahak-bahak disertai air mata yang menderas di sudut matanya.
Heh … kebahagiaan? Kebahagiaan macam apa yang laki-laki tua itu berikan padaku? Aku kehilangan ibuku tepat setelah mengetahui dia adalah ayah kandungku. Aku kehilangan semua kebahagiaan yang selama ini aku miliki bersama ibuku.
Mendengar Zesa tertawa disertai sesenggukan sesekali, Purbaningrum keluar dari kamar. Dia memeluk gadis yang jiwanya sedang terguncang dan mengusir keempat kakak angkat Zesa. Namun, Zayden bersikeras tidak mau pergi tanpa membawa gadis itu.
"Kalian tidak melihat keadaan Zesa sangat terpuruk saat ini? Kenapa kalian sangat keras kepala?" Purbaningrum memelototi mereka seraya bertanya dengan sinis.
Zesa berhenti tertawa. Ia menatap keempat laki-laki yang bersimpuh itu satu persatu. Sekeras apa pun ia menolak untuk ikut, lebih keras kepala Zayden beserta adik-adiknya.
"Oke," ucap Zesa.
"Benarkah?"
*bersambung*