
Sejak malam itu, Zesa sedikit merasa takut saat berpapasan dengan mereka. Bagaimana jika ia membuat kesalahan? Mungkinkah mereka akan membalas dendam?
Seminggu berlalu, tapi pihak rumah sakit masih belum memberikan hasil tes DNA kepada Damar. Laki-laki itu berkunjung ke rumah Zayden setiap hari untuk memastikan gadis itu masih berada di sana. Kelima putra angkatnya merasa heran karena tidak biasanya Damar berkunjung sesering akhir-akhir ini.
“Terima kasih sudah menjenguk saya setiap hari, Tuan besar. Sebenarnya, saya ingin sekali bertanya sesuatu kepada Anda,” ucap Sumirah yang masih diperintahkan berbaring di tempat tidur.
“Tanya saja,” jawab Damar seraya melirik Zesa yang sedang mengganti tirai di kamar Sumirah.
“Kenapa Anda sering sekali datang ke rumah ini? Saya tahu, mansion ini dan mansion utama sama-sama atas nama Anda. Akan tetapi, Anda tidak pernah berkunjung setiap hari seperti sekarang. Hanya jika ada kepentingan mendadak, baru Anda berkunjung,” tutur Sumirah, mengungkapkan semua rasa penasarannya.
Namun, Damar tidak menjawab apa-apa. Ia hanya tersenyum, menampakkan gigi putih yang beberapa sudah diganti dengan gigi palsu. Senyuman penuh misteri didalamnya.
Sumirah yang hanya seorang kepala asisten dan pengasuh pun tidak berani mendesak sang tuan untuk menjawab. Rasa penasarannya hanya mampu ditelan kembali. Ia yakin, tidak lama lagi akan ada berita besar.
Walaupun wanita paruh baya itu lebih banyak berdiam diri di kamar, tapi berita bahwa Damar menemukan putrinya telah sampai di telinga Sumirah. Firasatnya mengatakan, Zesa adalah putri yang dibicarakan para pelayan di rumah utama. Gerak-gerik Damar saat menatap Zesa terasa berbeda dari tatapan seorang majikan kepada pelayan.
‘Alangkah baiknya jika memang Zesa adalah putri Tuan Damar.’
Damar berpamitan setelah menyapa Zesa sebentar. Ia diminta datang ke rumah sakit besok pagi. Kebenaran apakah Zesa putrinya atau bukan akan terungkap besok. Namun, hatinya sangat yakin bahwa gadis itu memang putrinya.
***
Cerita awal mula Zesa menjadi pelayan di rumah itu telah berlalu sebelas bulan yang lalu. Saat ini, gadis itu terbaring bak mayat hidup. Selain kehilangan ibunya, ia juga kehilangan kebebasannya.
Damar tidak bisa melepaskan Zesa dari kamar itu karena khawatir dia melakukan hal yang nekat. Semua benda tajam, benda berbahan keramik, cermin, serta barang yang mudah pecah pun sudah disingkirkan dari kamar gadis itu. Sudah tiga hari sejak Damar menerima hasil tes DNA. Sudah tiga hari juga Zesa dikurung di kamarnya.
"Sudah tiga hari Nona Zesa tidak makan atau minum, Tuan. Bagaimana ini? Saya sangat khawatir," ujar Sumirah yang diberi tugas memeriksa keadaan Zesa setiap hari.
Tubuh gadis itu sudah pucat seperti mayat. Bibirnya tampak putih dan kulit bibirnya sedikit terkelupas. Ia sangat marah pada nasib yang seakan sedang mempermainkan hidupnya.
Ia sangat bahagia saat hutang perbaikan mobil telah lunas. Angan-angan berkumpul kembali bersama ibunya terbayang-bayang dibenaknya setiap detik waktu yang berjalan. Namun, angan hanyalah sebatas angan. Ia tiba-tiba mendapati dirinya menjadi putri tunggal sang majikan dan sang ibu meninggal di hari yang sama.
"Papa juga sangat sedih, sampai … sekarang sakit. Zay tidak tahu harus berbuat apa, Bu. Hah …." desah Zayden sambil menatap pintu kamar Zesa.
"Apa tidak sebaiknya dilepaskan saja, Tuan? Biarkan dia menjalani hidupnya dengan bebas," usul Sumirah.
Zayden tidak setuju dengan usulan itu. Zesa adalah pewaris tunggal Damar Wicaksana dan dia harus tinggal di mansion Wicaksana. Mereka tidak bisa membiarkan gadis itu hidup kekurangan seperti dulu.
Sumirah mengerti maksud mereka. Apalagi, Damar sudah mencarinya belasan tahun. Zesa dan Damar harus bicara dan meluruskan kesalahpahaman yang ada. Namun, gadis itu tidak bisa diajak berbicara saat ini.
Ponsel Zayden bergetar di saku celana. Nomor telepon rumah di mansion utama. Sumirah mengernyitkan dahi. Tidak biasanya ada telepon dari rumah utama.
Sumirah ikut terkejut saat Zayden memberitahu bahwa Damar sedang kritis. Zayden menelepon semua adiknya agar pulang secepatnya. Sementara dia masuk ke kamar Zesa bersama Sumirah. Kepala pelayan mengatakan bahwa Damar ingin bertemu dengan Zesa.
"Zesa, papa sedang kritis. Mungkin, hidupnya tidak akan lama lagi. Ikutlah denganku," ucap Zayden dengan tatapan mata sendu.
Bagaimana tidak bergetar hati laki-laki itu? Gadis yang ia cintai tengah terbaring lemah dengan wajah seputih mayat. Berat badan Zesa menurun drastis dalam waktu tiga hari sejak dikurung.
"Non … kasihan Tuan Damar. Ibu melihat sendiri bagaimana dia mencari ibu Non Zesa selama ini. Dia tidak menelantarkan ibu Non Zesa seperti itu. Temui Tuan besar sekali saja. Ibu mohon …," pinta Sumirah seraya memelas memegangi tangan gadis itu.
"Hem," jawab Zesa dengan gumaman lemah.
Tubuhnya yang lemas tidak mampu menopang berat badannya yang mungkin sudah berkurang beberapa kilogram. Zayden meminta pengawal untuk mengambil kursi roda bekas Sumirah saat sakit. Gadis itu didudukkan di atas kursi roda, lalu Zayden mendorong sampai mereka tiba di depan kamar Damar.
"Tuan sudah menunggu Anda, Nona," ucap kepala asisten rumah tangga kepada Zesa dengan sopan.
Zayden, Sumirah, mengantar Zesa sampai ke samping tempat tidur Damar. Laki-laki itu tampak mulai kesusahan untuk bernapas normal. Tangannya terulur lemah, menyentuh pipi Zesa yang terlihat lebih tipis dari sebelumnya.
Damar tersenyum lebar diiringi air mata yang menderas begitu saja. Ia sangat menyesal karena tidak mengenali putrinya lebih awal. Kini, ia tidak memiliki waktu lama untuk memberikan kasih sayang, memberi pelukan, dan cintanya kepada sang putri tercinta.
"Ma … maafkan papa, Zesa. Maafkan papa …. Papa … sayang … Zes …."
"Papa!"
Zayden berteriak histeris melihat laki-laki itu mengembuskan napas terakhirnya. Zay memeluk erat tubuh sang ayah. Ia begitu kehilangan atas kepergian Damar untuk selamanya.
Namun, Zesa bergeming. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Entah pikirannya terganggu atau gadis itu memang tidak peduli atas kepergian Damar? Ia hanya duduk diam di atas kursi roda.
Tiga puluh menit kemudian, adik-adik Zayden tiba. Mereka pun menangis histeris. Bahkan, si bungsu Zoe sampai tergeletak tak sadarkan diri karena terlalu syok. Mereka belum siap kehilangan pelita satu-satunya yang mereka miliki selama ini.
"Kau! Apa hatimu benar-benar terbuat dari batu, hah? Ayah kandungmu meninggal dunia, tapi kau tidak merasa kehilangan sama sekali. Dasar anak durhaka!"
Kay memarahi Zesa karena gadis itu tersenyum sinis kepada lima anak angkat Damar yang sedang menangis. Emosi laki-laki itu pun memuncak. Ia menghampiri Zesa dan secepat kilat mencekik leher gadis itu.
"Keugh …."
Mulut Zesa memekik dan matanya membelalak. Namun, seolah ia sudah siap untuk mati, ia tidak melakukan perlawanan sama sekali. Semua orang berusaha membantu memisahkan mereka, tapi gagal.
"Bunuh aku … dan biarkan aku bertemu dengan ibuku," ucap Zesa pelan tapi ditekan.
*Bersambung*