
Hari demi hari berlalu. Waktu setahun terlewati dengan penuh tekanan. Zesa menghapus cintanya terhadap Zayden.
Dia menghindari segala keakraban dengan para tuan muda. Zoe pernah melakukan protes karena Zesa juga bersikap dingin padanya. Namun, gadis itu bergeming.
“Hah …,” desah Zesa dengan rasa sesak yang menekan dada.
Hari ini, ia akan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka semua. Perjanjian hutang telah lunas dan waktunya Zesa untuk keluar dari rumah Wicaksana. Di saat ia sedang sibuk merapikan baju ke dalam koper, Sumirah berteriak kencang.
“Ibu!” pekik Zesa seraya berlari keluar dari kamar.
Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat Sumirah tergeletak di lantai di samping tempat tidur. Zesa membantunya bangun dan berbaring kembali di tempat tidur. Suhu tubuh Sumirah sangat tinggi, Zesa bahkan bisa merasakannya ketika wanita itu bernapas.
“Ibu demam. Zesa akan mencari dokter. Ibu, tunggu Zesa sebentar,” ucapnya dengan panik.
Semua tuan muda sudah pergi mengerjakan tugas dan kewajiban mereka masing-masing. Hanya satu cara untuk meminta bantuan. Zesa pergi ke rumah utama, rumah tempat tinggal Damar Wicaksana.
“Siapa kamu?” tanya pelayan wanita yang belum pernah bertemu dengan Zesa sama sekali.
“Saya–”
“Biarkan dia masuk, Rum! Dia pelayan di mansion samping,” ucap sebuah suara berat dari arah tangga.
Damar tersenyum kepada Zesa. Cukup lama mereka tidak saling menyapa. Laki-laki itu tidak pernah berkunjung ke rumah Zayden kecuali ada hal penting.
Terakhir kali, mereka bertemu saat Zayden sakit. Itu pertama kalinya Zesa dan Damar bertemu. Saat ini adalah pertemuan yang kedua. Damar menyapa Zesa dengan ramah.
“Ada apa, Zes? Tidak biasanya kamu datang ke rumah utama. Apa ada masalah?”
“Bu Sumirah sakit. Bisakah saya memanggil dokter keluarga untuk beliau, Tuan besar?”
“Sumirah sakit? Dibawa ke rumah sakit saja,” jawab Damar dengan wajah khawatir.
Sumirah sudah lama bekerja padanya. Dia yang merawat kelima anak angkat Damar hingga mereka dewasa. Bagi mereka, Sumirah bukan sekedar pengasuh dan asisten rumah tangga. Mereka menganggap Sumirah sebagai bagian dari keluarga Wicaksana. Mendengarnya sakit, Damar tentu saja merasa cemas.
“Tapi, tidak ada siapapun di rumah, Tuan,” kata Zesa dengan wajah kebingungan.
“Biar saya yang bawa mobil.” Damar menawarkan diri.
“Apa tidak mengganggu waktu Anda, Tuan?” tanya Zesa dengan wajah tertunduk.
Dia tidak berniat meminta majikannya mengantar, tapi Damar justru menawarkan diri. Zesa takut Zayden marah padanya. Ia ingin pergi tanpa masalah.
“Kamu pikir … Sumirah itu siapa? Dia sudah kuanggap sebagai keluargaku. Jadi, hal ini tidak mengganggu sama sekali,” jawab Damar dengan nada sinis.
Damar tersinggung mendengar ucapan gadis itu. Ia menatap Zesa dengan tajam. Gadis itu gemetar ketakutan. Tatapan tajam Damar mirip dengan Zayden.
Nada suara yang mampu membuat bulu kuduk meremang seketika, serta tatapan tajam yang mengintimidasi penuh wibawa.
“Maafkan saya, Tuan besar,” ucap Zesa dengan cepat.
“Siapkan baju dan keperluan lainnya. Saya akan menunggu di depan,” perintah Damar.
Zesa mengangguk dan berbalik pergi. Ia memasukkan beberapa baju ke dalam tas, lalu membawa Sumirah keluar. Damar sudah menanti di depan dengan pintu mobil terbuka. Sumirah dan Zesa duduk di kursi penumpang belakang.
Damar mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di depan lobby rumah sakit. Zesa membawa Sumirah masuk, sedangkan Damar pergi mencari tempat parkir. Ponsel gadis itu tidak sengaja tertinggal di dalam mobil.
“Ke … Kemala? Jadi, Zesa adalah putri Kemala!”
Wanita di masa lalu yang sangat dirindukannya ternyata ibu dari gadis yang menjadi asisten di rumah Zayden. Andai dia tahu, laki-laki itu pasti sudah meminta Zesa untuk mempertemukannya dengan Kemala. Setidaknya, ia bisa sekedar bertegur sapa meskipun tidak bisa bersama lagi seperti dulu.
Damar tidak berniat mengganggu rumah tangga Kemala. Awalnya, ia ingin menjawab panggilan telepon itu. Namun, panggilan sudah terlanjur terputus.
Terlalu lancang jika Damar menelepon Kemala menggunakan ponsel Zesa tanpa izin. Damar membawa ponsel itu ke ruang perawatan Sumirah. Ponsel kembali ke pemiliknya.
"Terima kasih, Tuan. Maafkan saya karena merepotkan Anda," ucap Zesa seraya menatap teduh kepada Damar.
Damar mulai memerhatikan wajah dan senyuman gadis itu. Sekilas, ia teringat senyuman Kemala. Mereka memiliki senyum yang sama persis.
"... An! Tuan!" Zesa memanggil beberapa kali karena Damar menatapnya tanpa berkedip.
"Hah?"
"Maaf, saya berbicara keras kepada Anda, Tuan. Anda melamun?"
Damar hanya menggelengkan kepalanya. Selain senyum Kemala, laki-laki itu melihat sesuatu yang lain dari wajah Zesa. Gadis itu ternyata memiliki warna mata dan bentuk mata yang sangat mirip dengannya.
'Kenapa matanya terlihat sedikit mirip denganku? Aku ingat, Kemala memberitahuku bahwa dia sedang hamil saat aku dinikahkan oleh orang tuaku. Mungkinkah ….'
Zesa berpamitan kepada Sumirah di dalam ruang rawat. Wanita paruh baya itu memegangi lengan Zesa dengan kuat, seolah mereka tidak akan bertemu lagi. Hatinya terenyuh, tapi waktunya telah tiba. Mau atau tidak, dia harus pergi.
"Sumirah sakit dan mereka tidak suka dengan pelayan dari rumahku. Tinggallah sementara Sumirah dirawat. Saya akan menggaji dua kali lipat untuk merawat Sumirah," ujar Damar, menyela perbincangan Sumirah dan Zesa.
"Tapi, Tuan—"
"Saya mohon," ucap Damar, memohon.
Ia menyentuh bahu Zesa dan mengambil rambut gadis itu diam-diam.
"Ada sesuatu tadi," ujarnya beralasan.
"Oh. Terima kasih, Tuan." Zesa tersenyum tipis sambil merapikan rambutnya.
"Sama-sama. Jadi, tolong jaga Sumirah selama dua minggu kedepan."
Damar menahan gadis itu. Ia ingin memastikan dugaannya. Menyimpan keraguan yang ada dihatinya untuk sementara waktu sambil menunggu hasil tes DNA dari rambut Zesa yang tadi dicurinya.
Zesa melirik tangan yang tidak mau melepaskan pegangannya. Rasa sayang yang tumbuh setahun terakhir membuat gadis itu akhirnya mengalah. Ia bersedia menahan kepulangannya selama dua Minggu untuk merawat Sumirah.
Zayden masuk ke ruang perawatan dengan tergesa-gesa. Saat menerima telepon dari Damar bahwa Sumirah sakit, laki-laki itu meninggalkan ruang rapat, menyerahkan tugasnya kepada Aaron. Laki-laki itu sangat khawatir melihat Sumirah tergeletak di atas ranjang rawat dengan jarum infus menancap di kulit keriputnya.
Namun, Zayden sedikit merasa lega saat Sumirah menyapanya sambil tersenyum.
"Aku masih hidup. Kenapa menangis begitu? Lebih baik, kamu bawakan calon istri jika ingin aku cepat sembuh," seloroh Sumirah.
"Siapa yang mau menikah denganku? Mereka pasti takut melihat calon ibu mertua seperti Anda," balas Zayden, terkekeh geli.
"Zesa … saja."
Zayden terdiam seketika. Ia menatap gadis yang berdiri tanpa menyapanya. Keduanya saling pandang sekilas lalu Zesa memalingkan wajahnya.
*Bersambung*