You'll Be Mine

You'll Be Mine
Mulai menyadari perasaan



"Kak! Kakak baik-baik saja?"


Suara keempat adiknya membuat suasana intim seketika buyar. Zayden melepaskan gadis itu, padahal ia baru hendak menciumnya. Zesa bergegas bangun dan berlari keluar dari kamar sang majikan.


Bruk!


"Aw! Zesa … kamu baik-baik saja?" tanya Zoe yang bertabrakan dengan Zesa di depan pintu.


"Ti-tidak apa-apa, Tuan muda. Sa-saya permisi," pamit Zesa dengan suara bergetar.


Kay, Ian, dan Aaron menatap gadis itu dengan tatapan aneh. Mereka mendengar teriakan Zayden, lalu melihat Zesa berlari dengan wajah bersemu merah. Mereka saling melempar pandangan.


"Kenapa kalian kemari?"


"Kami mendengar suara teriakan tadi. Makanya, kami datang," jawab Kay.


"Tidak ada apa-apa. Zesa memijat kakiku tadi. Karena sakit, aku berteriak," jawab Zayden.


Wajah kak Zay memerah, wajah Zesa juga sama. Jangan bilang kalau mereka …. Ah, tidak mungkin.


Kay merasa kakaknya bertingkah aneh. Saat berbicara, dia tidak berani menatap wajah keempat adiknya. Benar-benar berbeda dengan sikapnya yang selalu tegas dan dingin.


Bruk!


Zesa membanting pintu kamar. Detak jantungnya meningkat drastis. Sekujur tubuhnya berkeringat, wajahnya memerah, dan terasa sesak saat ia menarik napas.


Rasa takut Zesa semakin besar saat melihat Zay dalam jarak yang begitu dekat. Ia pikir, ia akan mati hanya dengan menatap pesona laki-laki itu. Aroma parfum maskulin yang khas menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. Wanginya seakan masih tertinggal di rongga hidung, hingga Zesa tidak bisa melupakan kejadian yang dialaminya tadi.


"Kenapa jantungku berdetak cepat sekali? Aku … ah, tidak mungkin. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada tuan muda Zayden," gumam Zesa sambil memegangi dadanya. Detak jantungnya masih sangat cepat, hingga ia harus pergi mencari air putih di dapur.


Ia pikir, segelas air dapat membuat detak jantungnya normal kembali. Namun, semakin ia mencoba menghentikan getaran aneh itu, ia justru semakin teringat wajah Zayden. Zesa membuka kran air dan membasuh wajahnya yang terasa panas.


Ini tidak benar. Aku pasti sangat takut, baru berdebar-debar seperti ini.


Gadis itu terus mengalihkan pikirannya. Ia bekerja di sana untuk membayar hutang, bukan untuk mencari kekasih. Bagaimana bisa, ia jatuh cinta pada salah satu tuan muda di sana? 


Tidak! Zesa tidak ingin jatuh cinta pada siapa pun yang ada di mansion itu. Mereka berasal dari kelas yang berbeda dan Zesa sangat sadar diri.


"Kenapa kalian masih di sini? Tidur sana! Aku ingin istirahat," ucap Zayden kepada adik-adiknya yang masih berdiri dengan tatapan penuh kecurigaan.


Kay bekerja di bidang akting. Ia bisa membedakan dengan jelas, mana yang jujur dan mana yang sedang berakting. Namun, ia tidak berani menginterogasi kakaknya, terlebih itu adalah Zayden.


Bagi adik-adiknya, Zayden adalah pemimpin di atas pemimpin. Apa pun yang menjadi keputusan Zay adalah mutlak. Mereka tidak akan membantah, meski mereka mampu melakukannya.


"Selamat malam, Kak," ucap mereka sambil keluar dari kamar satu persatu. Kay keluar paling belakangan sambil menutup pintu.


"Kalian, ikut aku!" Aaron mengajak mereka pergi ke balkon atap. 


Cahaya matahari pagi membuat semua tanaman dan rumput berwarna jingga cerah, meski hanya beberapa menit saja. Karena saat matahari mulai naik, cahaya jingga itu berganti warna putih menyilaukan yang tak mampu dilihat oleh mata telanjang. Mereka sering duduk di kursi taman, seperti sekarang.


Mereka duduk mengelilingi sebuah meja yang terbuat dari kayu. Meja bundar dengan diameter cukup lebar. Kursi yang ada di sekeliling meja itu bisa menampung dua belas orang.


"Ada apa, Kak? Ini masih dini hari. Kita, tidak datang untuk melihat matahari terbit, kan?" Zoe yang memakai baju tipis itu merasakan dingin yang menusuk sampai ke tulang.


"Apa kalian tidak merasa ada yang aneh dengan kak Zay? Dia sepertinya sedang berbohong kepada kita, seperti sedang menyembunyikan sesuatu," ujar Aaron.


"Kay juga merasakannya," sahut Kay.


"Iya. Aku juga," sambung Ian.


Zoe tidak ikut bersuara, meski ia juga merasakan hal yang sama. Ia merasa cemburu saat melihat Zesa keluar dari kamar kakaknya dengan wajah yang memerah. Ia mungkin laki-laki polos yang belum pernah pacaran, tapi bukan berarti ia tidak pernah melihat hal seperti itu.


Mereka saling mengungkapkan kecurigaan di hati mereka. Hanya Zoe yang terdiam memandang ke arah timur. Kejadian beberapa hari yang lalu, saat ia dan Zesa tidak sengaja berciuman, terus membayang di pikirannya.


Detak jantungnya naik saat bayangan bibirnya dan bibir Zesa bertemu. Ia memegangi dadanya, merasakan getaran asmara yang mulai disadarinya. Dua laki-laki telah menyadari perasaan mereka terhadap Zesa.


Selain Aaron, ternyata Zoe pun mulai sadar, ia telah jatuh cinta pada gadis itu. 'Aku harus memberitahu Zesa tentang perasaanku padanya. Dia gadis yang spesial. Dia mampu membuat kak Zay berubah. Aku takut, aku akan terlambat selangkah dari kakakku jika aku tidak segera mengungkapkan perasaanku pada Zesa.'


"Zoe, pergi dulu," pamit Zoe sambil beranjak bangun dengan cepat.


Ketiga kakaknya sampai terlonjak kaget, karena Zoe tiba-tiba bicara di saat mereka sedang berbincang. 


"Mau kemana?" tanya Ian.


"Minum sambil mengambil jaket. Di sini sangat dingin," jawab Zoe.


Mereka memperhatikan wajah adik bungsu mereka. Namun, wajah Zoe yang selalu terlihat lucu itu tidak dapat mereka prediksi seperti kakak tertua mereka. Akhirnya, mereka mengangkat bahu mereka dan mendesah berat.


"Lalu, apa sebenarnya yang terjadi antara Zesa dan kak Zay?" tanya Kay.


"Tidak tau," jawab Aaron. Ia menghela napas berat. Aaron sedang merasa resah. Bagaimana jika kakaknya ternyata menyukai Zesa juga? Ia tentu tidak akan sanggup bersaing dengannya.


Gadis itu …. Andai dia tidak hadir di rumah ini, mungkin … tidak ada hal seperti ini.


Mereka terdiam, menunggu fajar menjelang. Zoe ikut bergabung dengan mereka setelah memakai jaket. Awalnya, ia ingin menemui Zesa. Namun, gadis itu sudah tertidur.


Mungkin, hanya Kay dan Ian yang belum merasakan hal lain terhadap Zesa. Mereka menyukai gadis itu, tapi sebatas suka karena nyaman berteman. Mereka tidak menganggap Zesa seperti seorang asisten rumah tangga. Bagi mereka, Zesa adalah teman di rumah.


Saat mereka merasa lelah setelah seharian bekerja, menggoda Zesa mampu membuat mereka bersemangat kembali. Ketika hari libur, mereka menikmati waktu santai bersama gadis itu. Belum genap sebulan Zesa bekerja, mereka sudah seperti ketergantungan akan kehadiran gadis itu.


*Bersambung*