You'll Be Mine

You'll Be Mine
Kissmark



"Ngh …." Zayden menguap seraya menggeliat.


"Apa Anda memerlukan sesuatu, Tuan muda?" tanya gadis itu saat melihat Zayden terbangun.


"Tidak. Aku minta tanganmu," ujar Zayden dengan wajah mengernyit menahan sakit.


Rasa sakit di perutnya tidak sehebat saat ia pulang dari kantor.


Gadis itu hanya memiringkan kepalanya. Untuk apa sang tuan meminta tangannya? Ia mengangkat tangan dan menatap telapak tangannya. Tidak ada apa pun dalam genggaman tangannya, tapi sang tuan seakan meminta sesuatu yang ada di tangan Zesa.


"Apa kamu tidak akan menuruti keinginanku? Aku sudah menuruti perintahmu untuk pergi ke rumah sakit. Apakah berlebihan jika aku meminta tanganmu?"


"Bu-kan seperti itu, Tuan," jawab Zesa dengan kikuk.


"Lalu …." Zayden menadahkan tangannya kepada Zesa. "Mana tanganmu?"


Zesa mengulurkan tangannya dan meletakkan tangan kanannya di atas telapak tangan Zayden.


Grep!


Laki-laki itu menggenggam tangan Zesa, lalu kembali menutup matanya. Sisa obat anestesi masih begitu kuat, sehingga laki-laki itu masih merasakan kantuk yang hebat. Dia terpejam sambil menggenggam tangan Zesa.


Kay, Ian, Aaron, dan Zoe masuk ke ruang perawatan. Disusul Damar dan Sumirah di belakang mereka. Pemandangan di depannya cukup mencengangkan, apalagi bagi dua adik laki-laki Zayden.


Aaron dan Zoe hanya bisa menggertakan gigi. Bukan marah, tapi menahan rasa cemburu yang tidak seharusnya keluar. Keduanya keluar segera setelah melihat hal yang membuat mereka tidak nyaman.


Damar mengikuti punggung mereka yang semakin jauh meninggalkan ruangan perawatan Zayden. Sikap mereka seolah membenarkan berita yang sampai di telinga laki-laki paruh baya itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Zayden yang terbaring sambil menggenggam tangan Zesa.


Gadis itu duduk bersandar di kursi dengan satu tangan memijat leher yang terasa kaku. Sudah satu jam ia duduk di sana karena perintah Damar. Zesa ingin pulang dan berbaring di kamarnya, tapi rasa khawatirnya tidak mengizinkan dia untuk pulang.


Tiga putra angkatku menyukai Zesa. Bagaimana dengan Ian dan Kay? Apa mereka juga menyukai gadis itu?


Damar bertanya-tanya dalam hati. Sebagian besar orang kaya, mereka sangat anti dengan kalangan bawah seperti Zesa. Namun, tidak demikian dengan Damar. Ia justru sangat menantikan, siapa yang akan mendapatkan gadis itu.


"Sepertinya … kita harus menunggu kak Zay bangun," ucap Kay dengan suara pelan dan senyum tipis. Namun, kedua telapak tangannya terkepal erat. Seolah ada ribuan lebah penyengat yang hinggap di dadanya, ia merasa sakit, hatinya berdenyut melihat tangan Zayden menggenggam tangan Zesa.


"Ya. Sebaiknya kita menunggu di luar saja," timpal Ian sambil berbalik pergi.


Benar dugaanku. Kelimanya jatuh hati kepada satu gadis. Yang lebih sulit untuk dipercaya adalah sikap Zayden. Dia selalu menolak asisten yang aku kirim untuk membantu Sumirah, tapi dia justru membawa Zesa sendiri ke rumahnya.


Hingga mentari jingga mulai meredup, tangan itu masih saling menggenggam. Zesa yang merasa suntuk pun tertidur dengan kepala menempel di tepi ranjang rawat. Sumirah masuk dan ingin membangunkan Zesa. Sudah waktunya untuk makan malam dan gadis itu sama sekali belum makan sejak siang tadi.


Namun, ia tidak tega membangunkan gadis itu karena dia tampak kelelahan. Tidurnya terlihat sangat pulas, sehingga Sumirah mengurungkan niatnya untuk mengganggu istirahat gadis itu. Ia akan makan malam lebih dulu bersama tuan muda dan tuan besar.


"Ekhem!" Damar berpura-pura batuk untuk membuyarkan lamunan mereka.


Seketika itu juga, keempat putranya menoleh dengan khawatir. Mereka pikir, sang ayah tersedak. Kay menuangkan air minum dan memberikannya pada sang ayah.


"Papa tidak apa-apa. Papa cuma ingin kalian sadar. Sejak tadi, papa perhatikan, kalian terus mengaduk-aduk makanan kalian. Apa kalian tidak suka dengan menu yang papa pilihkan?"


"Suka, kok, Pa. Iya, kan, Kak Aaron?" tanya Zoe sambil melirik kakaknya.


"Iya. Kami cuma sedang memikirkan keadaan kakak," jawab Aaron sambil menyuapkan makanan di sendoknya.


"Kalian tidak bisa membodohi orang tua ini. Mungkin, mataku sudah tua, tapi aku masih bisa melihat pandangan kalian dengan jelas. Kalian … menyukai gadis pelayan itu?" tanya Damar dengan wajah serius.


Mereka membelalakkan mata. Pertanyaan itu sangat sulit untuk dijawab, mengingat Zesa adalah gadis biasa yang berasal dari pinggiran kota. Tatapan Damar membuat mereka sangat tegang.


"Ti-tidak, Pa," jawab Zoe dengan wajah tertunduk menatap makanan di atas piring. Kedua telapak tangannya mengepal erat di atas paha, di bawah meja makan.


Ketiga putranya yang lain juga menjawab hal yang serupa. Mereka takut jika Zesa terkena masalah karena mereka. Lebih baik menyembunyikan perasaan mereka daripada membuat gadis yang mereka sukai terlibat masalah dengan Damar.


"Bagus. Papa pikir, kalian sedang melamunkan gadis itu, sampai-sampai tidak berselera untuk makan," ujarnya dengan sengaja.


Dasar bocah nakal! Beraninya mereka membohongi orang tua. Mereka pikir, aku ini tidak bisa melihat dengan baik? Hah …. Aku hanya perlu berpura-pura tidak tahu. Toh, mereka sudah dewasa. Biarkan mereka menyelesaikan masalah pribadi mereka sendiri.


Sementara itu di dalam ruang rawat inap. Zayden membuka mata dan mengubah posisi tidurnya menghadap ke samping. Ia menatap gadis yang tertidur di sampingnya.


Itu …. Matanya terpaku ke leher Zesa. Sebuah cap berwarna merah kehitaman itu mengingatkannya dengan ciuman panas yang mereka lakukan. Jika saja ia tidak mengecup leher gadis itu, mungkinkah mereka masih melanjutkan pagutan bibir itu?


Tangan kanannya terulur hendak menyentuh kepala Zesa, tapi gadis itu menggeliat, lalu membuka mata. Zayden menarik tangannya kembali dan menarik kedua sudut bibirnya tinggi. Ia pikir, gadis itu akan pergi setelah dia tertidur, rupanya gadis itu sampai tertidur di samping ranjang rawat.


"Anda sudah bangun, Tuan muda?"


"Hem. Maaf, karena sudah menyulitkanmu," ucap Zayden sambil menarik tangan yang digenggamnya, lalu mengecup tangan itu dengan lembut.


"Em … sa-saya ingin ke kamar kecil, Tuan," pamit Zesa sambil beranjak bangun dan menarik tangannya dengan canggung.


"Jangan lama-lama atau aku keburu kangen nanti," goda Zayden sambil mengulum senyum.


Wajah Zesa semakin memerah digoda laki-laki itu. Saat pertemuan mereka yang pertama, laki-laki itu selalu memasang wajah kaku. Sejak kapan sikapnya berubah mesum dan pandai menggoda? Zesa sama sekali tidak ingat, kapan terakhir kali laki-laki itu bersikap dingin padanya.


Di depan pintu, Aaron yang awalnya hendak masuk pun hanya bisa berdiri kaku dengan tangan memegang knop pintu. Ia melihat kakaknya mengecup tangan Zesa dari balik kaca kecil yang ada di pintu. Dia bisa ditertawakan jika hal itu dilihat oleh mantan kekasihnya. Bagaimana seorang pemain cinta itu begitu putus asa dengan cinta tak berbalasnya?


*BERSAMBUNG*