
"Kakak!" pekik mereka bersamaan.
Tuan muda Zay?
Zesa terbelalak melihat Zayden tersenyum lebar. Apa maksud laki-laki itu? Kenapa dia melakukan hal ini? Semua pertanyaan berputar dalam benaknya.
"Kenapa itu … Kakak?" Kay bertanya sambil menunjuk wajah Zayden.
"Apa maksud, Kakak, melakukan semua ini? Bukannya, Kakak, menyukai Zesa? Lalu, kenapa—"
Ucapannya terhenti saat Zayden menempelkan telunjuk ke bibir. Suara mereka seakan tersekat di tenggorokan. Meskipun ingin mengatakan sesuatu, tapi semua kata-kata itu lenyap dalam sekejap.
"Kalian yang memulai permainan ini. Apa kalian ingat?" tanya Zayden, mengingatkan.
Mereka mengernyitkan dahi. Kata-kata Zayden seperti sebuah teka-teki yang harus dipecahkan dikala otak mereka sedang kacau. Jangankan mengingat, menjawab ucapan Zayden saja mereka tidak mampu.
Apa maksud tuan muda?
Gadis itu menggumam penuh pertanyaan yang tidak mampu diucapkan. Ikatan di kaki Zesa sudah dilepas, tapi tidak dengan ikatan di tangan, dan selotip hitam di mulutnya. Mata mereka beradu dengan intens.
Zayden tersenyum tipis. Ia melangkah mendekati gadis itu, membuka penutup mulut perlahan-lahan. Tanpa aba-aba, laki-laki itu menyimpan bibir peach Zesa menggunakan mulutnya.
Semuanya membelalak, tak terkecuali gadis itu. Dengan kondisi tangan terikat, bibirnya merasakan sensasi hangat dan lembut yang menyapu rongga mulut. Sinyal di otak memerintahkan mata gadis itu untuk menutup.
Pemandangan yang membakar hati keempat pria yang sama-sama memiliki perasaan terhadap Zesa. Namun, mereka memilih untuk berpaling. Berdiri membelakangi dua insan yang sedang dimabuk asmara.
***
Zesa tertidur di kamar mansion utama. Kelima tuan muda duduk berkumpul di ruang keluarga bersama para pengawal yang menyamar sebagai preman. Rupanya, Zayden mendengar rencana keempat adiknya yang membuat skenario penculikan Zesa.
Mereka berempat bernapas lega karena Zesa kembali dalam keadaan selamat. Kay meminta maaf terlebih dulu kepada Zayden, mewakili saudaranya yang lain. Sementara Zoe masih belum bisa mengikhlaskan Zesa menjadi kekasih kakak tertuanya. Dia hanya diam termenung di sudut sofa tunggal tidak jauh dari tempat duduk Zay.
"Kalian pikir, aku tidak akan tahu rencana kalian karena aku terbaring sakit? Kalian lupa, para pengawal di mansion utama maupun di luar sana, mereka berada di bawah perintahku," ucap Zayden dengan senyum bangga di depan adik-adiknya.
"Ya, aku lupa itu. Tapi, kami bangga dengan hasilnya. Jika kami tidak membuat skenario gagal itu, Kakak, pasti belum berani mengungkapkan perasaan kepada Zesa," cibir Aaron.
Zay mendecih pelan. Mereka tidak salah. Sedikit banyak, mereka telah membantu Zayden memberanikan diri untuk mengakui perasaannya. Laki-laki itu menghela napas berat sebelum berbicara.
"Terima kasih. Bagaimanapun, itu benar juga. Setelah Zesa bangun nanti, kita pergi makan malam di luar. Anggap saja sebagai traktiran hari jadian."
Mereka hanya mengangkat ibu jari sambil mengangguk kecil. Aaron membawa ketiga adiknya ke mansion samping, sedangkan Zayden tetap di mansion utama menunggu Zesa terbangun dari tidurnya. Waktu merangkak semakin malam dan gadis itu masih terlelap.
Terlalu malam untuk makan di luar. Aku masak sesuatu saja untuk Zesa. Jadi, dia tinggal makan saja saat bangun nanti.
Zayden pergi ke dapur. Pelayan di bagian dapur segera berdiri menyambutnya. Mereka menawarkan bantuan, tapi Zay memerintahkan mereka untuk beristirahat. Dia ingin memasak makanan untuk kekasihnya dengan kedua tangannya sendiri.
Lengan kemeja putih panjang digulung sampai batas sikut. Tangannya tampak cekatan saat memakai apron dan memilih pisau untuk mengiris daging. Laki-laki itu sepertinya sudah terbiasa berkutat dengan peralatan dapur meski jarang terlihat memasak di mansion samping.
"Tumis daging dan kacang panjang sepertinya cocok untuk Zesa. Dia pasti suka," gumam Zayden sambil memotong kacang panjang.
Di dekat dinding dapur, Zesa memperhatikan punggung kekasihnya. Laki-laki yang berhasil mencuri hatinya dengan sikap dingin dan arogan. Sungguh aneh bukan? Semakin dingin sikap Zayden, hati Zesa justru semakin berdebar.
Lamunan gadis itu buyar ketika Zay menyapanya.
"Sudah bangun?"
"Ya! Ah … maaf," jawab Zesa dengan canggung.
"Kenapa minta maaf? Duduklah. Makanannya baru saja matang. Aku akan menyajikannya untukmu," ucap Zayden sambil menarik kursi, lalu mempersilakan Zesa duduk di sana.
"Aku terkejut dan berteriak tadi, makanya meminta maaf. Apa ini … Tuan muda, yang memasaknya?" tanya Zesa dengan mata tertuju ke atas piring saji.
"Ini pertama kalinya aku memasak untuk seorang perempuan," ucap Zay seraya menarik satu kursi di samping Zesa.
'Pertama kali? Apa sebelumnya dia tidak memasak untuk kekasihnya? Dia … punya mantan berapa ya?'
Zayden menopang dagu, menatap wajah Zesa dari samping. Cantik dan menggemaskan. Dua kata itu menggambarkan penampilannya di mata Zayden malam ini.
Zesa tenggelam dalam pikirannya. Tidak menyadari dirinya sedang diperhatikan. Saat menoleh, bibir mereka bersentuhan ringan.
"Jangan menggoda laki-laki di malam hari yang sepi seperti ini. Kau tidak akan tahu apa yang bisa terjadi," ujarnya seraya mencium rambut Zesa.
"Meng … kapan aku melakukan hal itu? Jangan memfitnah orang sembarangan," protes gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya.
***
Pagi ini, mereka berkumpul kembali seperti saat Zesa masih menjadi asisten rumah tangga. Tawa riang mereka terdengar merdu menggelitik hati Sumirah. Wanita paruh baya itu telah kembali bekerja setelah beberapa minggu terbaring sakit.
Rumah itu akan segera memiliki seorang nyonya. Impian mereka semua sama. Namun, seseorang tiba-tiba datang ke rumah di pagi yang cerah.
"Selamat pagi, Nona Ayumi. Em … mencari siapa?" Sumirah bertanya dengan tergagap.
"Halo, Bi. Mereka, ada, kan?" Gadis cantik itu balik bertanya sambil tersenyum lebar.
"A-ada. Mereka sedang di halaman belakang. Biar saya panggilkan mereka," ucap Sumirah sambil berbalik hendak pergi.
"Tidak usah, Bi. Biar aku kesana saja," kata Ayumi seraya melangkah masuk tanpa izin.
Dia sudah mengenal setiap sudut ruangan di sana. Bahkan, ruang pribadi seperti kamar kelima pangeran itu pun dia mengetahuinya. Tentu saja karena dia masuk diam-diam saat mereka pergi bekerja.
Jika kelimanya tahu apa yang diperbuat Ayumi, mereka tidak akan segan untuk bertindak. Ayumi menjadi wanita satu-satunya yang mampu mendekati mereka sebelum kehadiran Zesa. Dia pergi ke luar negeri untuk belajar ilmu bisnis. Setelah tiga tahun, dia kembali ke tanah air.
"Halo! Semua …"
Mereka menoleh bersamaan. Reaksi terkejut daripada senang, Ayumi sedikit merasa kecewa. Namun, kehadiran Zesa diantara merekalah yang lebih mengecewakan hatinya.
"Ayumi," gumam Zayden dengan pandangan tertuju pada gadis itu.
Mereka … sepertinya sangat akrab. Aku ingin bertanya, tapi mereka sepertinya sangat terkejut.
*Bersambung*