
Sumirah berlari tergopoh-gopoh menghampiri mobil. Ia tahu, laki-laki itu pasti tidak akan sanggup bekerja. Namun, siapa yang mampu meruntuhkan keras kepala laki-laki itu?
"Ada apa dengan tuan?" tanya Sumirah kepada sopir yang sedang membukakan pintu.
"Tuan kambuh lagi di ruang rapat, jadi diperintahkan untuk pulang oleh tuan besar."
"Ah, sudah saya duga. Jika bukan ayahnya, mana mungkin dia menurut," celetuk Sumirah.
"Bu …."
"Kenapa? Masih ingat padaku?" Sumirah menyindir Zayden dengan ketus. Ia kesal ketika Zayden tidak mendengarkan larangannya tadi pagi. Namun, melihatnya kesakitan seperti itu, ia pun kalah. "Haish …. Ayo, ibu bantu ke kamar."
"Terima kasih, Bu."
"Tidak butuh terima kasih," balas Sumirah dengan bibir mengerucut.
Zayden tersenyum tipis. Sumirah marah karena ia memaksa pergi bekerja padahal wanita itu sudah melarangnya. Zayden merasa sangat beruntung karena dipertemukan dengan orang-orang yang baik.
"Berbaringlah. Ibu akan memanggil Zesa untuk merawatmu," ucap Sumirah.
Laki-laki itu bersemu merah. Ia sangat senang jika memang Zesa bersedia merawatnya. Apalagi, gadis itu mampu membuat rasa sakit perutnya berkurang dengan pijatan refleksinya.
Gadis itu awalnya menolak, karena ia merasa canggung bertemu dengan Zayden. Namun, ia sangat cemas mendengar Zayden tidak sadarkan diri. Tentu saja itu hanya cerita karangan Sumirah semata.
"Kamu masuk lebih dulu, ibu mau mengambil obat," kata Sumirah sambil membukakan pintu kamar Zayden.
Zesa masuk membawa wadah plastik besar berisi air hangat. Langkah kakinya terasa berat, jantungnya berdegup cepat, dan tangannya berkeringat. Ia menarik napas panjang dan mengembuskan pelan.
"Anda baik-baik saja, Tuan muda?" tanya Zesa.
"Hm …." Zayden sangat kesakitan. Ia tak sanggup berbicara dan hanya menjawab pertanyaan Zesa dengan gumaman.
Tubuh laki-laki itu dipenuhi keringat. Baju kemeja yang dipakainya pun basah kuyup, tak mampu lagi menyerap keringat dingin yang keluar tanpa henti. Hal itu membuat Zesa sangat khawatir.
"Anda harus pergi ke rumah sakit, Tuan muda," ucap Zesa, khawatir. Ia mengambil baju berbahan katun yang sedikit longgar dan kembali ke tempat tidur Zayden. "Saya akan membantu Anda untuk mengganti baju, setelah itu kita pergi ke rumah sakit."
"Aku tidak mau ke rumah sakit," lirih Zayden di sela rintihan kesakitan.
"Anda tidak bisa seperti ini terus. Jika dibiarkan, penyakitnya akan bertambah parah," ujar Zesa dengan nada cemas.
Ia melangkah mendekati laki-laki itu dan duduk di tepi ranjang. Zesa mengangkat tubuh Zayden agar ia bisa menggantikan kemeja yang basah dengan baju di tangannya. Sejenak, tangannya mengambang di udara dengan ragu.
"Anda buka kemeja sendiri," ucapnya kemudian.
Ia belum pernah membuka baju laki-laki seumur hidupnya. Sangat memalukan meski hanya membayangkannya saja. Wajahnya terasa panas saat bayangan liar berkelebat di pikirannya.
"Pergilah! Aku akan mengganti baju sendiri," ujar Zayden sambil merampas baju di tangan gadis itu.
"Tidak!" Zesa berdiri dan merampas kembali baju itu.
"Heh …. Aku tidak punya tenaga untuk berdebat denganmu. Berikan bajunya dan pergilah," ucap Zayden dengan suara lemah.
"Tidak mau! Anda harus pergi ke rumah sakit," kata gadis itu, bersikukuh.
Zesa tidak bisa membiarkan Zayden dengan kemeja basahnya. Gadis itu pun memberanikan diri membuka kancing kemeja laki-laki itu. Penolakan Zayden tidak dihiraukan olehnya.
"Hentikan! Aku bilang, hentikan, Zesa!"
Zayden mencengkeram kedua tangan gadis itu. Sudah tiga kancing yang terbuka. Dada basahnya sedikit terlihat oleh Zesa. Dada basah yang dibanjiri keringat itu terlihat seksi, sama seperti saat Zayden keluar dari kolam renang.
Gulp!
Astaga! Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku ingin menyentuh dada kekar itu?
"Lepaskan tangan saya, Tuan muda," pinta Zesa dengan suara rendah.
Wajahnya menatap ke samping. Ia tidak sanggup menatap dada Zayden. Zesa merasa seperti seorang gadis mesum yang menginginkan tubuh seorang laki-laki.
"Apa kamu biasa melakukan ini kepada laki-laki asing? Kau tidak tahu, apa yang kau lakukan ini bisa membuat laki-laki bernafsu padamu," ujar Zayden.
Ia menarik tangan gadis itu hingga tubuhnya terbaring di tempat tidur. Zayden dengan cepat berbalik, menimpa tubuh sintal yang memiliki tinggi jauh lebih pendek darinya. Suasana tiba-tiba menjadi hening.
Kedua mata sepasang anak manusia berlainan jenis itu saling menatap lurus ke dalam manik masing-masing. Ada getaran aneh di dada Zesa dan Zayden. Entah siapa yang memulai? Mereka berakhir saling bertukar saliva dengan mata terpejam.
Sumirah baru hendak memanggil Zesa. Namun, matanya terbelalak saat melihat mereka sedang berbaring dengan posisi tumpang tindih dan berciuman dengan panas. Wanita paruh baya itu mundur perlahan-lahan dan pergi ke lantai bawah.
Ya ampun! Apa yang aku lihat tadi tidak salah, kan? Mereka sedang ….
Wanita itu terduduk di kursi ruang makan. Rasanya sulit dipercaya. Zayden tidak mau menyentuh wanita mana pun selama ini, tapi dengan mudahnya ia menyentuh Zesa bahkan menciumnya seperti itu.
Kecupan laki-laki itu merambah turun ke leher. Zayden menggigit dan menghisap leher Zesa yang tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu pendek. Gigitan itu membuat akal sehat Zesa kembali.
"Hen-tikan!" Zesa mendorong tubuh Zayden hingga terguling di sampingnya. Ia bergegas turun dan merapikan rambutnya yang berantakan. "Ma-maaf, Tuan muda. Saya~"
Zayden memandangi Zesa dengan sudut bibir yang terangkat. Ia menyentuh bibirnya, bahkan menjilat bibir bawahnya sendiri. Meskipun ia masih merasakan sakit perut, tapi mood-nya berubah setelah mengecap madu di bibir gadis itu.
"Manis," ucap Zayden dengan sengaja menunjukkan ekspresi puas.
"Hah?" Zesa mengangkat wajahnya, menatap wajah Zayden yang seakan sengaja menggodanya. "Anda harus segera mengganti baju, Tuan …." Gadis itu berbalik membelakangi Zayden.
Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku membalas ciuman tuan muda Zay? Bodoh! Bodoh! Apa yang harus kulakukan kedepannya kalau sudah begini?
Gadis itu mengumpat dalam hati. Zesa menyesal karena tidak mampu menahan diri beberapa saat yang lalu. Ia bisa mendorong atau menolak Zayden sejak awal, tapi tubuhnya bereaksi lain dengan isi hatinya.
Zayden melepaskan kemejanya, lalu menggantinya dengan baju longgar. Setelah mengganti baju, ia kembali berbaring. Namun, Zesa terus memaksanya untuk memeriksakan penyakitnya ke dokter.
Zesa membujuk Zayden tanpa lelah. Laki-laki itu tetap menolak sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Gadis itu terus berusaha dan tetap tidak mendapatkan hasil.
"Saya tidak mau bekerja pada tuan yang keras kepala dan sakit-sakitan. Lebih baik saya pulang ke rumah dan merawat ibu saya," ancam Zesa. Ia berbalik hendak pergi, tapi langkahnya tertahan oleh pelukan Zayden.
"Jangan pergi! Aku akan pergi ke rumah sakit denganmu. Jadi, jangan pergi! Kumohon …."
Zesa terpaku dengan kedua tangan menjuntai di samping tubuhnya. Laki-laki itu memeluknya dari belakang bahkan membenamkan wajahnya di ceruk lehernya. Mereka bahkan bukan sepasang kekasih. Kenapa situasinya tiba-tiba seperti itu? Zesa tidak mengerti.
*BERSAMBUNG*