You'll Be Mine

You'll Be Mine
Kenangan masa kecil yang kelam



Zesa pergi ke kamarnya setelah menyiapkan sarapan. Ia tidak ingin makan di samping Zayden. Cukup tadi malam saja duduk di samping laki-laki itu.


Gadis itu memilih sarapan belakangan daripada harus duduk dan makan di samping Zayden. Apalagi setelah kejadian tadi malam, ia tidak akan bisa bernapas jika berada di dekatnya. Sumirah mengkhawatirkan gadis itu karena tidak ikut sarapan bersama yang lain.


Tok … tok … tok ….


"Siapa?" tanya Zesa dengan gugup.


"Ini ibu. Boleh ibu masuk?"


"Ya, Bu. Silakan masuk."


Zesa tidak menoleh saat mendengar suara pintu dibuka. Ia pikir, Sumirah yang masuk. Saat sebuah tangan menyentuh rambutnya, ia pun tetap diam. Bibirnya sedikit terangkat membentuk garis lengkung tipis.


"Ibu tidak usah khawatir. Zesa baik-baik saja," ucap gadis itu.


Ia berbaring menghadap jendela, melihat pohon Cemara kecil yang tertiup angin. Zesa merindukan ibunya, tapi tidak berani pulang. Gadis itu tidak mau mereka mengetahui tempat tinggalnya.


"Kalau baik-baik saja, kenapa tidak turun untuk sarapan?"


Deg!


Jantung gadis itu seperti hendak melompat keluar. Itu bukan suara Sumirah, tapi suara orang yang sangat ingin dihindarinya. Tubuh Zesa seketika kaku.


"Kenapa? Kamu sedang menghindari dariku?"


"Ti … tidak, Tuan." Zesa beranjak turun dari tempat tidur. Berdiri menatap Zayden dengan pipi bersemu merah.


"Lalu, apa alasannya?"


"I … itu, saya masih kenyang," jawab Zesa.


"Kenyang?" selidik Zayden.


Mana mungkin laki-laki itu percaya. Zesa beralasan tidak ikut sarapan karena kenyang, memangnya kapan dia makan?


"Kenyang atau muak melihatku?"


"Hah? Tidak mungkin saya seperti itu. Saya … sebenarnya tidak enak perut."


"Berarti sakit, kan? Kenapa tadi bilang baik-baik saja?" Zayden tidak memberikan celah kepada Zesa untuk menyudahi percakapan.


"Saya mohon, Tuan …. Tolong tinggalkan saya sekarang!" Ucap Zesa dengan suara pelan tapi tajam.


Zayden berdiri dan melangkah maju, mendesak gadis itu hingga punggungnya menyentuh kaca jendela. Ia yang tidak pernah diusir oleh adik-adiknya, harus mendengar kata pengusiran dari Zesa. Marah? Entahlah. Zayden tidak tahu perasaan apa itu.


Ia hanya merasa tidak suka saat gadis itu memintanya menjauh. Semakin Zesa menghindarinya, ia ingin semakin berlari mendekat padanya. Seperti sekarang. Zayden tidak mau keluar dan justru memerangkap gadis itu.


"Tu … Tuan mau apa?"


"Menurutmu?" tanya Zay, ambigu.


"Saya akan berteriak kalau, Tuan ... maju selangkah lagi," ancam gadis itu.


Zayden terkekeh geli. Ia memberitahu gadis itu bahwa hanya ada mereka bertiga di rumah sekarang. Sumirah, Zay, dan Zesa.


Keempat adiknya sudah pergi bekerja. Zayden juga sudah pergi seharusnya, tapi karena mengkhawatirkan gadis itu, ia sedikit terlambat pergi hari ini. Namun, reaksi gadis yang dipedulikannya justru membuatnya kesal.


Pletak!


"Aw!" Zesa menjerit sambil menyentuh kening yang dipukul oleh Zay.


Laki-laki itu tersenyum, lalu mengelus kening gadis itu. Waktu seakan berhenti saat kedua mata mereka beradu. Zayden yang terkesan sebagai laki-laki dingin kini sedang tersenyum sangat manis.


"Siang ini, kau harus makan di meja makan. Aku pergi ke kantor dulu," pamit Zayden.


Sumirah mengintip dari sudut pintu yang terbuka lebar. Ia tersenyum tipis. Diantara kelima pangeran tampan itu, hanya Zayden dan si bungsu Zoe yang belum pernah berpacaran.


Sepertinya, tuan muda Zay menyukai Zesa. Itu bagus. Dia gadis yang baik dan aku merasa, mereka berdua itu cocok.


***


Damar Wicaksana mendapat laporan dari kepala asisten rumah tangga. Sudah dua minggu sejak Zesa berada di mansion samping. Namun, Damar tidak peduli dengan apa yang terjadi di dalam mansion anak-anaknya.


Bukan Damar tidak peduli pada anak-anak angkatnya, tapi pada apa yang terjadi di sana. Yang ia tahu, hanya ada Sumirah dan beberapa pengawal saja. Ia cukup penasaran dengan asisten rumah tangga yang baru bekerja di sana.


"Mereka bertengkar karena asisten itu?"


"Ya, Tuan besar. Tuan muda Zayden yang sedang tidak sehat pun sampai harus ikut memperebutkan gadis itu," jawab kepala asisten rumah tangga.


Mereka memang tidak memiliki akses kamera pengawas di rumah Zayden, tapi salah seorang pengawal ditugaskan untuk melaporkan semua yang terjadi di sana tanpa terkecuali. Zayden tahu ayahnya mengirim seseorang untuk mengawasi mereka, tapi Zay tidak terganggu sama sekali. Apa yang dilakukan Damar semata-mata karena ingin mereka baik-baik saja.


"Tidak sehat?" Kedua mata Damar melebar. "Kenapa tidak melaporkan itu lebih awal? Kau tahu, dia sangat sering kambuh akhir-akhir ini. Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Tuan muda Zayden sudah pergi ke kantor, Tuan. Mengenai kondisinya, saya pikir dia sudah membaik," jawab laki-laki itu.


"Dia terlalu bekerja keras mengurus perusahaanku. Bahkan saat sakit pun, dia akan menahannya," kata Damar dengan nada penuh kecemasan.


Damar sangat menyayangi kelima anak angkatnya. Mereka sudah seperti separuh jiwanya, sehingga saat mendengar mereka sakit atau terluka, hatinya pun merasakan sakit.


"Siapkan mobil! Saya akan pergi ke kantor untuk menemuinya."


"Baik, Tuan."


Kepala asisten rumah tangga itu memanggil sopir dan memintanya menyiapkan mobil sesuai perintah sang majikan. Mobil sedan klasik berwarna hitam keluar dari garasi. Sang sopir menunggu di depan pintu yang sudah terbuka, lalu menutupnya ketika sang tuan sudah duduk manis di dalam.


Sementara itu, Zayden sedang memimpin rapat perencanaan pembangunan real estate yang baru. Menyusun anggaran biaya yang akan mereka siapkan, mencari rekomendasi arsitek terbaik, dan melihat beberapa proposal dari perusahaan konstruksi. Di sela-sela rapat, terkadang Zay meringis sambil meremas perutnya.


"Anda sedang tidak sehat, Pak. Sebaiknya Anda beristirahat saja," ucap asistennya.


"Tidak apa-apa, Bay. Lanjutkan saja," jawab Zayden. Ia masih sanggup menahannya untuk saat ini. Entah jika rapat berlangsung lebih lama? Mungkin, ia akan ambruk juga.


"Presiden Direktur Zayden aka kakakku yang rajin. Apa, Kakak, akan terus menahannya? Kakak tidak sehat dan Aaron bisa memimpin di sini. Kakak tidak perlu selalu hadir. Apa gunanya aku bekerja di sini, kalau … masih membuatmu bekerja sekeras ini?"


Brak!


"Itu benar! Kenapa kamu selalu mengabaikan kesehatanmu demi mengurus perusahaan? Apa aku ini memintamu seperti itu? Jawab papa, Zay!" hardik Damar sambil membuka pintu ruang rapat dengan kasar.


Zayden, Aaron, dan semua staf yang menghadiri rapat pun berdiri menyambut kedatangan Damar, sang pemilik Damar group. Meskipun tubuhnya terasa limbung saat berdiri, Zayden tetap tersenyum melihat ayah angkatnya datang. Di rumah, laki-laki itu tidak diperbolehkan datang jika tidak ada sesuatu yang penting.


"Selamat pagi, Pa," ucap Zayden, memberi salam kepada ayahnya.


"Pulang ke rumah sekarang juga, atau aku akan memaksamu pergi ke rumah sakit. Silakan kau pilih!" tawar Damar yang sangat marah melihat wajah Zayden yang sudah pucat pasi, bahkan dipenuhi keringat dingin.


Damar memang memintanya mengurus perusahaan dengan baik, tapi bukan berarti harus mengabaikan kesehatannya. Jika ia tidak meminta laki-laki itu pulang, Zayden akan tetap melanjutkan rapat hingga selesai. Sementara Bayu, sang asisten, dia hanya bisa menuruti perintah Zayden.


"Zay akan pulang sekarang, Pa," jawab Zayden yang mengambil pilihan pertama.


Tentu saja, karena ia sangat membenci rumah sakit. Saat kecil, ia dianggap penakut oleh teman-temannya. Namun, Zayden tidak takut pada apa pun. Ia membenci rumah sakit, karena ia dengar banyak sekali wanita tidak bertanggung jawab yang melahirkan dan meninggalkan bayi mereka begitu saja. Kisah yang sama terjadi pada salah satu adiknya yang ditemukan di tempat sampah karena dibuang oleh orang tua kandungnya sendiri.


Kisah masa kecil Zayden dan keempat adik angkatnya sebelum diangkat anak oleh Damar sangat menyedihkan. Ia membenci banyak hal. Ia membenci rumah sakit, ia benci hujan, ia juga membenci lorong yang gelap. Karena semua itu mengingatkannya pada masa kecilnya bersama adik-adiknya.


*BERSAMBUNG*