
"Non! Ada telepon untuk, Non," ucap Sumirah kepada Zesa dengan suara keras.
"Dari siapa, Bu? Kenapa nelpon ke nomor rumah?" Zesa bertanya karena heran.
Ia hanya memiliki satu teman akrab, Arnold. Namun, tidak pernah menelepon ke nomor telepon rumah. Lalu, siapa yang ingin berbicara dengannya?
Sumirah tidak menjawab dan hanya menahan senyum. Zesa penasaran dan mengambil alih gagang pesawat telepon dari wanita itu. Disapa berkali-kali, tapi tidak ada jawaban.
"Maaf, ini siapa, ya? Jangan main-main, deh. Kalau tidak mau bicara juga, saya akan tutup teleponnya," ancam Zesa sambil tersenyum sinis.
[Aku rindu kamu.]
Zesa tertegun. Raut wajahnya berubah murung, matanya berkaca-kaca, dan tangan yang memegang gagang telepon terlihat bergetar. Suara laki-laki yang terdengar familiar di telinganya telah mengaduk-aduk emosi.
"Jangan telepon lagi! Aku benci dengar suara kamu."
Pluk!
Gadis itu menutup telepon dengan kasar. Tiba-tiba saja ia menjatuhkan diri dan menangis. Bahunya turun naik dengan cepat seiring isakan tangis yang kian kencang.
Sumirah dan Purbaningrum terkejut mendengar gadis itu menangis. Mereka berlari dengan panik menghampiri Zesa. Gadis itu terus terisak meski Purbaningrum sudah memeluknya.
Ada apa dengan Zesa? Kenapa dia menangis sesenggukan seperti ini?
Purbaningrum terus membujuknya untuk bercerita. Namun, Zesa hanya menggelengkan kepala. Tatapan Pur tertuju pada pesawat telepon.
Ia ingat, Zesa menerima telepon sebelum menangis. Orang yang menerima telepon pertama adalah Sumirah. Pur yakin, wanita paruh baya itu pasti tahu siapa yang berbicara dengan Zesa.
Kenapa dia harus mengatakan itu? Kenapa?
Kilasan masa lalu terkumpul satu persatu. Zesa mengingat bagaimana laki-laki itu menciumnya mesra, bagaimana manjanya laki-laki itu saat sakit. Yang membuatnya lebih sedih adalah perasaan cinta yang telah dikubur kini meronta kembali.
Ya. Laki-laki yang meneleponnya adalah Zayden. Karena Zesa tidak pernah menerima telepon darinya jika lewat panggilan ponsel, dia pun menelepon ke nomor rumah. Zayden meminta tolong kepada Sumirah agar tidak memberitahu kepada Zesa bahwa itu dirinya.
Setelah menerima telepon dari Zayden, gadis itu mengurung diri selama beberapa hari. Dia tahu, laki-laki itu beserta adik-adiknya sering memperhatikan dari balkon atap. Zesa juga sengaja berolahraga di halaman depan sebagai alasan.
Ia ingin melihat wajah Zayden setiap hari karena merindukannya. Kata-kata rindu yang diucapkan Zayden seketika meruntuhkan tembok pertahanan hati Zesa. Ia yang berusaha keras untuk melupakan laki-laki itu, pada akhirnya semakin berusaha hatinya semakin terluka.
***
Zayden duduk di balkon atap seperti biasa. Sudah beberapa hari ia tidak melihat Zesa keluar rumah. Hari ini, Zay sengaja tidak pergi ke kantor. Berharap dapat melihat gadis itu meski hanya beberapa detik.
Apakah dia sedang sakit?
Laki-laki itu mulai mencemaskan keadaan Zesa. Ia menelepon Sumirah, lalu bertanya tentang gadis itu. Sumirah memberitahukan segalanya, tapi secara sembunyi-sembunyi.
Telepon berakhir dan Zay menghela napas lega. Setidaknya, ia tahu bahwa gadis yang dicintainya itu baik-baik saja. Zesa memang enggan keluar kamar, tapi dia makan dengan teratur.
Zay pergi ke dapur untuk membuat kopi. Ia mencari cangkir dan sendok. Setelah menemukan dua barang yang dicarinya kini waktunya menuang kopi ke dalam cangkir.
"Rasa kopinya jadi lebih pahit," gumam Zayden sambil mengembuskan napas berat.
Kopi yang sama, tapi rasanya berbeda sejak Zesa menjadi putri tunggal mendiang Damar Wicaksana. Zesa jadi membencinya dan itu lebih pahit dari rasa kopi yang sering diminumnya. Seleranya yang berubah atau perasaannya?
Zayden kembali ke balkon atap tanpa kopi. Ia mengganti kopinya dengan air putih hangat. Matahari mulai meninggi, tapi Zayden merasa kedinginan.
Kenapa udaranya sangat dingin?
Laki-laki itu tertidur di sofa tunggal panjang di balkon sampai sore hari. Menjelang gelap, keempat adiknya kembali setelah melakukan kegiatan masing-masing. Mereka mencari kakak pertama yang hari ini tidak pergi ke kantor.
"Kak Zay tidak ada di kamarnya," ucap Aaron sambil menutup pintu kamar Zayden.
"Mungkin di balkon," kata Zoe.
Mereka pergi ke balkon atap bersama-sama. Kay memanggil Zayden beberapa kali. Namun, tidak ada jawaban dari sang kakak.
Zoe menunjuk ke arah sudut balkon, dimana Zayden sedang terbaring meringkuk dengan wajah pucat. Dari pori-pori kulit keluar keringat yang membuat sekujur tubuh laki-laki itu terasa dingin. Mereka panik dan mencoba membangunkan Zayden, tapi laki-laki itu tidak bereaksi.
"Ini, sih, bukan tidur. Kak Zay pingsan. Cepat bawa ke rumah sakit!" Aaron terkejut melihat kakaknya tidak sadarkan diri.
"Zoe, siapkan mobil! Kay, buka dan tahan pintu. Ian, bantu aku mengangkat Kak Zay!" Aaron memberikan perintah kepada adik-adiknya.
Aaron tahu apa yang membuat kakaknya sakit. Belakangan ini, laki-laki itu tidak makan dengan teratur. Di kantor pun, Zayden selalu melewatkan makan siang.
Ia menyadari betapa besar dan dalamnya perasaan sang kakak kepada Zesa. Aaron juga menyukai gadis itu, tapi ia masih bisa makan dengan baik, begitupun dengan Zoe, Kay, dan Ian. Mereka berempat sudah berbicara diam-diam di garasi. Mereka sepakat untuk melepaskan perasaan mereka terhadap Zesa agar kakak pertama mereka memiliki kesempatan lebih besar.
Zoe mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, mereka tiba di parkiran rumah sakit daerah. Aaron dan Ian membaringkan Zayden di atas brankar yang segera didorong masuk ke ruang gawat darurat.
"Aku sangat takut melihat kondisi kakak," ucap Zoe seraya mondar-mandir di pintu ruang UGD.
"Kakak orang yang kuat. Lagipula, dia sudah sering seperti ini, bukan," timpal Kay, mencoba menenangkan adik bungsunya.
Walaupun, Kay juga sangat cemas sebenarnya. Namun, ia tidak boleh terlihat panik. Ian dan Aaron hanya diam berdiri bersandar ke dinding ruangan itu.
Beberapa menit kemudian, dokter keluar bersama perawat. Tidak ada yang serius. Zayden hanya pingsan karena terlalu tertekan.
Selain itu, dia juga kekurangan nutrisi karena jarang makan. Setelah melalui tahap pemeriksaan, Zayden dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP.
Mereka berempat menemani Zayden di rumah sakit. Tengah malam, Aaron mengajak ketiga adiknya ke parkiran. Sebuah ide terbersit di benak laki-laki itu.
Aaron menelepon ke rumah utama dan memberitahu bahwa Zayden sedang kritis di rumah sakit. Mereka ingin tahu, apakah Zesa tetap acuh tak acuh meskipun Zayden berada dalam bahaya? Apalagi, Aaron memperhatikan sikap Zesa yang sering mencuri pandang terhadap Zayden saat gadis itu masih bekerja di rumah mereka.
"Bersiaplah untuk memberi gadis itu pelajaran," ucap Aaron dengan satu sudut bibirnya terangkat.
Ketiga adiknya mengangguk dengan senyum yang sama misteriusnya dengan Aaron. Apa rencana mereka sebenarnya? Membalas dendam kepada Zesa atau hanya sekedar iseng mengerjai gadis itu?
*Bersambung*