You'll Be Mine

You'll Be Mine
Kakak! Zesa!



Kay menangkup dagu si gadis, menengadahkan wajah tirus berlesung pipi itu padanya. Gadis itu meringis karena tangan Kay menekan dagunya dengan kuat. Melihat gadis itu kesakitan, Kay mengendurkan pegangan tangannya di dagu si gadis.


"Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" Kay bertanya dengan nada ditekan.


"Hem … sepertinya, Bapak, tipe suami setia. Saya benar, kan?" Gadis itu tertawa lepas sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Diam! Aku belum menikah. Jadi, berhenti bicara ngawur!" Kay mendorong bahu gadis itu agar duduk diam di bak mandi. "Berendam saja dengan patuh," tandas Kay sebelum keluar dari kamar mandi.


Laki-laki itu berdiri di depan pintu kamar mandi sambil memegangi dadanya. Saat berakting di depan kamera dan banyak orang, ia tidak merasa gugup. Namun, jantungnya berdegup kencang saat gadis itu mengajaknya berselingkuh.


"Selingkuh dari siapa? Dasar gadis aneh," gumamnya sambil menahan senyum geli.


Selama satu jam, gadis itu tidak terdengar. Entah apa yang dilakukannya? Kay tetap berdiri di depan pintu kamar mandi, berjaga-jaga jika gadis itu membutuhkan sesuatu.


"Hei! Apa kau baik-baik saja? Reaksinya sudah mereda, kan?" tanya Kay di depan pintu.


Senyap. Gadis itu tidak terdengar menjawab pertanyaan Kay. Bahkan, gadis itu tetap tidak menjawab saat Kay mengetuk pintu berkali-kali.


"Aku akan membuka pintunya jika kau tidak membukanya dalam hitungan ketiga!" Kay mengancam dan mulai menghitung mundur.


Di hitungan ketiga, dia memutar gagang pintu. Alangkah terkejutnya Kay saat melihat tubuh gadis SMA itu tergeletak di lantai tanpa busana. Ketika Kay meninggalkannya, gadis itu berendam dengan pakaian lengkap.


"Ah, merepotkan sekali," gerutunya seraya meraih handuk kimono yang tersampir di dinding kamar mandi.


Ia menutupi tubuh gadis itu, lalu menggendongnya ke kamar. Gadis itu dibaringkan di tengah tempat tidur dan diselimuti sampai batas leher. Kay menyentuh kening gadis itu. Ternyata gadis itu sedang demam.


"Pantas saja dia sampai pingsan. Aku akan pergi mencari dokter, kau … bertahanlah di sini," ucap Kay di samping telinga gadis itu.


Terdengar erangan lirih yang sangat lembut menyapa daun telinga Kay. Wajahnya seketika bersemu merah ketika embusan napas dari bibir gadis itu menyapu telinganya. Ia bergegas bangkit dan berjalan keluar dari kamar.


***


Sampai keesokan harinya, Kay masih belum kembali ke rumah. Zay dan adik-adiknya mencoba menghubungi, tapi ponsel Kay tidak aktif. Mereka ingat, Kay kemarin mengantarkan Elena ke apartemennya.


"Kak Kay tidak menginap di tempat Elena, kan?" Zoe bertanya pada Ian yang sedang menyeruput segelas teh hangat.


"Jangan berpikir macam-macam, Zoe! Kay mungkin brengsek, tapi dia tidak akan pernah melakukan itu pada Elena. Meskipun sekedar menginap, itu tidak mungkin," bantah Aaron.


Dia dan Zay mengenal baik sikap Kay terhadap Elena seperti apa. Dia sangat yakin, Kay sedang ada urusan lain yang tidak ada hubungannya dengan Elena. Meskipun langit terbelah, Aaron tidak akan berpikir Kay mampu menjalin hubungan bersama Elena di belakang mereka. 


Pagi ini, Zesa bangun lebih pagi dari hari sebelumnya. Dia memakai gaun lengan pendek dengan panjang bagian bawah hanya sampai sebatas lutut. Cara berpakaian Zesa berubah menjadi lebih feminim setelah bertemu dengan Ayumi kemarin.


"Zayden pacarku. Jadi, jangan harap bisa mengambilnya dariku, hemp," gerutu Zesa sambil mematut dirinya di depan cermin.


Tubuhnya berputar ke kanan dan kiri. Merasa sudah rapi, ia pun keluar dari kamar. Pandangannya tertuju ke ponsel, hingga tidak menyadari kehadiran orang lain di depan pintu kamar. Saat ia melangkah keluar, terdengar suara jeritan kecil dari bibirnya.


"Aduh … sial—"


Kemarin malam, mereka belum sempat berbicara. Pagi ini, Zayden datang untuk menjelaskan statusnya dengan Ayumi. Zesa harus tahu, bahwa ia tidak lagi memiliki perasaan terhadap Ayumi.


"Kenapa kamu bisa masuk? Aku sudah melarang kamu masuk ke rumah ini," ujar Zesa sambil memelototi kekasihnya.


Zayden terkekeh. Zesa yang berhati lembut dan selalu menunduk ketika dihadapannya, kini berani memelototi dirinya. Bukannya seram, justru terkesan lucu bagi Zay.


"Kenapa tertawa? Diam!" hardik Zesa dengan nada kesal.


"Sorry. Habisnya, kamu lucu. Kamu tidak pantas melotot seperti itu. Gak serem, tau," goda Zayden sambil menahan tawa.


"Hah … lagian, mataku juga perih kalau melotot. Antar aku pergi ke warung," ujar Zesa sambil mengangkat telapak tangan.


Zayden tidak mengerti maksud kekasihnya. Sang kekasih juga tidak terlihat marah seperti kemarin. Lalu, apa yang harus dilakukan Zayden dengan tangan itu?


Karena tidak tahu harus berbuat apa, Zayden menggenggam tangan Zesa, lalu mengecup punggung tangan gadis itu seperti menyapa ala kerajaan. Hal itu sontak membuat Zesa salah tingkah. Wajahnya berubah Semerah tomat cherry dan terasa panas.


Zesa mengipasi wajahnya yang memanas. Dia tidak bermaksud meminta Zay mengecup punggung tangannya, tapi menggandengnya. Namun, Zay salah paham karena Zesa tidak mengucapkan maksud hatinya secara langsung.


"Jadi, kan, pergi ke warung?" Zayden menautkan jemari mereka lalu mengajak gadis itu pergi ke warung.


Jarak dari rumah ke warung hanya beberapa puluh meter saja. Setiap langkah terasa lambat. Waktu seakan berhenti mengiringi langkah keduanya. Entah kenapa? 


Zayden ingin membahas tentang Ayumi dan kisah masa lalu diantara mereka. Melihat Zesa tidak marah lagi, Zay ingin membicarakan semuanya. Namun, gadis itu seolah tidak peduli dengan apa yang ingin diucapkan oleh kekasihnya.


"Kamu, beneran gak peduli?" selidik Zayden.


"Sudah aku bilang, kan. Aku tidak peduli masa lalu kamu dan dia. Sekarang, saat ini, kamu adalah kekasihku. Tidak ada satu wanita pun yang boleh mengambil kamu dari aku," tutur Zesa, panjang lebar.


"Terima kasih, Sayang. Aku tidak bisa tidur semalaman karena takut kalau …" ucap Zayden dengan ragu.


"Kalau aku marah? Iya. Aku marah, tapi aku tidak mau dia mengambil kesempatan dari pertengkaran kita," potong Zesa.


Zesa sudah kehilangan ayah dan ibunya. Dia tidak ingin kehilangan orang yang disayanginya untuk yang ketiga kali. Meskipun ia membenci Damar, ia tetap merasa kehilangan laki-laki itu.


Ayumi hanya masa lalu dan Zesa adalah masa depannya. Zayden ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama gadis itu. Gadis cantik berperawakan sedang yang selalu ceria. Senyum yang hangat dan meneduhkan hatinya yang gundah.


Mereka kembali ke rumah sambil bercanda dan tertawa renyah. Saat hendak menyebrang, di depan rumah tiba-tiba keluar mobil yang melaju cepat dan mengarah kepada mereka. Dalam hitungan sepersekian detik, keduanya tergeletak karena tidak sempat menghindar.


"Kakak! Zesa!"


Zoe berlari sampai terjatuh di depan gerbang. Dengan tubuh gemetar, dia bangkit kembali. Dia berlari menghampiri tubuh Zesa dan Zayden yang tergeletak setelah terpental beberapa meter.


*Bersambung*