You'll Be Mine

You'll Be Mine
Bertemu tuan besar



"Apa?" Aaron terkejut bukan main.


Di depannya, sang ayah pun menatapnya dengan pandangan menyelidik. Damar menggantikan Zayden untuk sementara waktu, sampai putra sulungnya itu membaik. Ia yang tengah mengerjakan beberapa tugas mendadak menghentikan kegiatannya.


"Ada apa, Aaron?" tanya Damar dengan tatapan menyelidik.


"Kak Zay dirawat di rumah sakit, Pa," jawab Aaron yang masih belum percaya dengan pendengarannya. Untuk pertama kalinya ia mendengar kakaknya masuk rumah sakit. Lebih daripada itu, sang kakak biasanya tidak akan mau dibawa ke rumah sakit apalagi sampai dirawat inap.


"Apa? Kamu tidak salah dengar, kan?"


Sama halnya dengan Aaron. Damar tidak percaya putra sulungnya bersedia dibawa ke rumah sakit. Selama belasan tahun ia mengangkat anak itu sebagai putranya, dia tidak pernah berhasil membujuk putranya untuk pergi ke rumah sakit saat penyakitnya kambuh.


"Aaron juga masih belum percaya, Pa. Tapi, ibu yang memberitahu Aaron. Ibu tidak akan berbohong atau bercanda tentang kesehatan kakak."


"Kalau begitu, kita pergi ke rumah sakit sekarang," ujar Damar sambil mematikan laptop.


Pekerjaan tidak lebih penting dari urusan keluarga. Ia tidak peduli sekalipun perusahaan akan mengalami kerugian. Asalkan putra-putranya sehat dan bahagia, ia merasa cukup atas keadaan itu.


***


Dokter menyarankan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Melihat kondisi Zayden yang sangat kesakitan saat pertama tiba di rumah sakit, dokter menduga ada penyakit serius yang diidap oleh laki-laki itu. Zesa dan Sumirah tidak merasa berhak mengambil keputusan.


Mereka meminta dokter untuk menunggu saudara serta ayah angkat Zayden. Dokter pun menitip pesan agar mereka memberitahu Damar untuk menemuinya. Selesai memindahkan Zayden ke ruang rawat inap, dokter pun berpamitan.


"Kita tunggu saja di sini. Tuan besar dan tuan muda Aaron sedang dalam perjalanan."


"Tuan besar … orang seperti apa?" tanya Zesa dengan ragu. Selama ia bekerja di rumah Zayden, ia tidak pernah melihat wajah tuan besar. Foto laki-laki yang menjadi ayah angkat kelima tuan muda itu tidak ada di ruang tamu.


"Tuan besar …. Dia pria yang kesepian. Setelah dipisahkan secara paksa dengan istrinya, dia tidak bersedia menikah lagi. Untuk mengobati kerinduannya terhadap putrinya, ia mengambil mereka dari jalanan.


"Tuan besar orang yang penuh kasih sayang. Dia menganggap kelima tuan muda seperti putra kandungnya sendiri."


Sumirah bercerita panjang lebar tentang awal mula Damar membawa kelima anak itu sebagai putra angkatnya. Wanita paruh baya itu juga bercerita bahwa, awalnya ia bekerja di mansion utama. Saat kelima tuan muda itu beranjak remaja, mereka meminta dibuatkan mansion di samping mansion utama.


Mereka belajar hidup terpisah untuk meningkatkan rasa persaudaraan. Damar tidak tersinggung atas sikap Zayden yang seolah menghindari hidup serumah dengannya. Damar tahu, kelima putra angkatnya terlalu tampan, sehingga para asisten rumah tangga di mansion utama selalu mencari perhatian.


Zayden yang tidak suka berdekatan dengan perempuan pun memilih hidup di mansion yang terpisah. Ia hanya membawa Sumirah, ibu pengasuh yang sudah dianggap ibu angkat oleh mereka. Beberapa pengawal pun jarang masuk ke mansion.


"Oh …. Memang, sih, mereka seperti idol k-pop yang terpilih. Lima saudara angkat yang seolah dipertemukan setelah ikut audisi," kata Zesa.


Sumirah hanya tertawa lebar. Ia juga merasa demikian. Kelima laki-laki itu terlalu sempurna di mata orang lain, tapi di mata Sumirah, mereka tetaplah anak kecil yang diasuhnya.


"Suara tertawamu sangat renyah, Bu Sumirah," ucap suara berat yang baru tiba bersama Aaron.


Deg!


Jantung Zesa seperti berhenti berdetak. Tubuhnya menegang kaku, wajahnya seketika menunduk. Ia berdiri, membungkukkan badan, lalu menyapa mereka.


"Selamat siang, Tuan besar. Selamat siang, Tuan muda," ucap Zesa dengan bibir bergetar.


"Tuan muda Zayden sedang tertidur setelah diberi obat oleh dokter, Tuan muda," jawab Zesa. Ia tidak berani mengangkat wajah sebelum ada perintah. Padahal, ia selalu menegakkan wajahnya di rumah.


"Oh, syukurlah …." Aaron bernapas lega.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki Damar yang menghampiri Zesa, menciptakan bunyi yang terasa mengentak hingga ke dada. Ketegangan Zesa terlihat jelas oleh Sumirah. Wanita paruh baya itu hendak maju, tapi Aaron menahannya dengan isyarat mata.


"Apa kamu asisten rumah tangga yang baru di rumah putraku?"


"Be … benar, Tuan besar," jawab Zesa dengan gugup.


"Kamu yang membawa Zayden ke rumah sakit?"


Damar bertanya dengan nada datar. Suasana terasa semakin menegangkan saat ia meminta gadis itu untuk mengangkat wajahnya. Meskipun dengan gemetar, Zesa memberanikan diri menatap wajah tuan besar yang berdiri di hadapannya.


"Saya hanya membujuknya saja, Tuan besar. Tuan muda Zayden bersedia, jadi saya dan Bu Sumirah membawanya ke sini."


"Terima kasih," ucap Damar seraya menepuk bahu Zesa.


Tatapannya yang hangat dan meneduhkan membuat Zesa terlena sejenak. Ia tidak pernah bertemu dengan ayahnya sejak lahir. Tangan hangat itu membuat kedua matanya berkaca-kaca.


"Itu sudah tugas saya, Tuan."


Gadis ini sangat sederhana dibanding perempuan yang selama ini dekat putraku. Baru kali ini, aku melihat penampilan seorang gadis yang apa adanya. Hebatnya, dia mampu meluluhkan hati batu Zayden.


Damar menerima laporan tentang putra-putranya yang bertengkar memperebutkan Zesa. Baginya, memperebutkan seorang gadis itu hal yang wajar. Asalkan kelima putranya tidak sampai saling membenci. Dia layak diperebutkan, pikir Damar.


***


Sore hari, Kay, Ian, dan Zoe. Mereka berlari di lorong rumah sakit, melangkah mendekati lift yang akan membawa mereka ke lantai lima, lantai dimana Zayden dirawat. Kay segera terbang dari luar kota, meninggalkan lokasi syuting, dan mengabaikan kemarahan sutradara.


Sesaat setelah menelepon Damar, Sumirah menelepon Kay. Laki-laki itu sedang melakukan syuting di luar kota dan Sumirah tidak berpikir Kay akan datang ke rumah sakit. Namun, Sumirah salah menduga karena Kay kini berdiri di hadapannya bersama Ian dan Zoe.


"Bagaimana keadaan kakak, Bu?" tanya Kay.


"Sudah jauh lebih baik setelah disuntik obat. Bukannya, Tuan muda, sedang syuting di luar kota?"


"Kakak lebih penting dari pekerjaan, Bu," jawab Kay sambil mengedarkan pandangan. Ia mencari sosok gadis hebat yang berhasil membujuk Zayden pergi ke rumah sakit. "Zesa dimana, Bu?"


"Non Zesa ada di dalam. Dia diperintahkan oleh tuan besar untuk menemani tuan muda Zay," jawab Sumirah dengan jujur.


Ketiga tuan muda itu pun membelalak. Kenapa ayah mereka meminta Zesa melakukan hal itu? Apakah dia ingin mendekatkan gadis itu dengan Zayden?


Isi pikiran mereka sama. Apalagi Zoe yang memiliki perasaan terhadap gadis itu, ia merasa takut. Bagaimana jika Zesa jatuh cinta pada kakak pertama? Zoe tidak akan bisa merebutnya dari Zayden. Ia telah bersumpah untuk memberikan apa pun kepada laki-laki yang menjadi penyelamat hidupnya dan ketiga kakaknya yang lain.


*Bersambung*