
Gubrak!
"Ouch! Ah, pake jatuh segala," gerutu Zesa sambil mengusap lutut yang terasa sakit setelah tersungkur.
Saat turun dari mobil, ia tidak memperhatikan langkahnya sehingga terjerembab ke atas hamparan paving blok di parkiran. Sumirah memberitahunya bahwa Zayden sedang kritis. Zesa dengan wajah paniknya segera pergi bersama sopir.
Di pintu lobby, keempat laki-laki itu sudah menghadang. Zesa tidak ingin membuang-buang waktu dengan menyapa mereka. Namun, mereka tidak mengizinkan gadis itu lewat.
"Minggir!" Zesa mendorong mereka yang tingginya jauh di atas tinggi badannya.
"Mau apa? Bukannya kamu tidak mau melihat kami," cibir Aaron sambil berkacak pinggang.
"Siapa yang mau bertemu dengan kalian? Aku mau melihat Kak Zay," balas Zesa tak kalah sinis.
"Tidak boleh. Kami sudah memindahkan kakak ke lantai lima, ruang tulip dua. Kamu … tidak boleh pergi ke sana!" Kay merentangkan kedua tangannya, menghalangi gadis itu saat dia mencoba menerobos masuk.
"Oke! Kalau kalian tidak mengizinkan, aku pergi. Hmp!"
Zesa melengos pergi dengan kesal. Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Gadis itu mencari jalan lain untuk bisa sampai ke lantai lima.
Keempat laki-laki itu terus menjaga di dekat pintu lobby. Mereka tampak berbincang dan tertawa sesekali. Entah cerita apa yang mereka membicarakan, sampai-sampai mereka bisa tertawa lepas di saat kakaknya terbaring di ruang perawatan.
Zesa berhasil menaiki lift setelah diam-diam masuk lewat pintu samping. Matanya terus tertuju pada angka penunjuk lantai. Hanya lima lantai, tapi rasanya sangat lambat untuk tiba di sana.
"Kenapa lift-nya lambat sekali," gerutu Zesa.
Belum hilang rasa kesalnya, seseorang dari lantai tiga membuat pintu lift terbuka. Tujuannya sama, lantai lima. Gadis itu menghentak-hentakkan kaki sambil melihat angka yang sudah di angka lima.
Pintu lift terbuka, tapi kakinya tidak dapat melangkah keluar. Laki-laki asing yang naik di lantai tiga kini sedang menodongkan sesuatu ke pinggang Zesa. Gadis itu menelan saliva yang seakan tersangkut di kerongkongan.
"Turun ke basement atau nyawamu melayang," bisik laki-laki itu dengan suara mengintimidasi.
Zesa menekan angka nol yang merujuk ke lantai parkiran bawah tanah. Keringat sebesar biji wijen mulai menderas dari dahi sampai ke leher. Tubuhnya terus gemetar bahkan sampai sulit melangkah dengan benar saat keluar dari lift.
"Si-siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?" Zesa bertanya dengan suara gemetar.
"Tidak perlu tahu. Kau harus ikut bersamaku jika ingin selamat. Masuk ke mobil merah itu dan pakai penutup mata yang ada di atas dashboard," perintah laki-laki berbaju hitam dengan masker menutupi sebagian wajahnya.
Topi hitam dengan baret tengkorak yang menyeramkan untuk dilihat. Laki-laki berpakaian serba hitam itu tidak terlihat panik sama sekali saat petugas keamanan masuk dari pintu keluar parkiran. Dia meminta Zesa masuk ke kursi belakang dan duduk dengan baik.
"Turuti semua perintahku, mengerti!" tandasnya dengan suara pelan.
Dia menutup pintu mobil dan menghampiri satpam yang berdiri di belakang mobil merah. Mereka tampak berbincang sebentar, lalu berjabat tangan. Zesa ingin berteriak, tapi rupanya ada laki-laki lain yang duduk di kursi belakang itu.
Laki-laki itu juga menodongkan senjata tajam kepada Zesa. Gadis itu tidak melarikan diri dan hanya bisa pasrah memikirkan apa yang terjadi. Pikirannya tertuju pada Zayden yang ingin ditemuinya.
Kuharap, dia baik-baik saja.
Zesa menggumam penuh penyesalan. Jika saja mereka tidak saling menghindar, ceritanya akan berbeda. Mereka bisa kembali seperti dulu, seperti saat Zesa menjadi asisten rumah tangga di mansion Zay.
"Ikat tangannya!" Laki-laki yang bersama Zesa di lift memberi perintah kepada laki-laki yang sedang duduk di samping gadis itu.
Mata Zesa ditutupi dengan kain hitam yang cukup tebal, sedangkan tangannya diikat dengan menggunakan lakban hitam. Gadis itu terisak menangis. Ia sangat ketakutan dan itu terlihat dari tubuhnya yang terus gemetaran.
Keesokan harinya, keempat adik Zayden senyum-senyum sendiri di hadapan kakaknya. Zay hanya menatap mereka dengan aneh. Apalagi, Aaron seolah sedang menyindirnya.
"Ekhem! Wajahnya datar amat, padahal habis ketemu pujaan hati," ucap Aaron sambil melirik Zayden.
"Mungkin malu, haha …," timpal Ian.
"Sepertinya begitu," tambah Kay.
Kay dan Ian menimpali kakak kedua mereka. Semakin lama, ucapan mereka semakin tidak dimengerti oleh Zay. Merasa kesal dengan ejekan tidak berdasar itu, Zay pun meminta adik bungsunya menjelaskan maksud ketiga laki-laki itu.
"Zoe, jelaskan semua omong kosong mereka," perintah Zayden kepada Zoe.
"Itu …. Kami tahu, kakak sangat mencintai Zesa. Kami memutuskan untuk menyerah terhadap Zesa dan berniat menyatukan Kak Zay dengannya—"
"Jangan berbelit-belit! Intinya saja," tegas Zay yang sudah tidak sabar.
"Semalam, kami meminta Bu Sum menakuti Zesa, mengatakan Kak Zay sedang kritis. Kami menahan Zesa di lobby dan melihat dia menyelinap lewat pintu samping. Bukankah, semalam … kalian bertemu?"
Zoe bertanya penuh keraguan. Reaksi di wajah kakaknya tidak baik sama sekali. Keempat adik Zay pun saling melempar pandangan cemas.
Mobil dan sopir yang membawa Zesa masih ada di parkiran. Mereka bahkan berbincang dan mengira gadis itu sedang berada di kamar Zayden. Mereka sengaja memberitahukan kamar rawat inap sang kakak agar Zesa bisa pergi ke sana.
"Haha …. Kakak sangat pandai berakting. Dia pasti sedang mengerjai ki …"
Aaron berhenti tertawa saat Zayden melepas jarum infus yang menempel di punggung tangannya. Zayden mengganti baju di hadapan adiknya, lalu pergi tanpa menghiraukan panggilan adik-adiknya. Mereka pun sadar, kakaknya tidak sedang berakting.
"Sial! Pasti ada yang menculik Zesa. Cepat kejar kak Zay!" Aaron berlari cepat menyusul kakaknya.
Baru hendak menyalakan mesin mobil, sebuah panggilan suara menghentikan tangan Aaron. Nomor kontak yang tidak tersimpan itu menandakan ia tidak mengenal siapa si penelepon. Aaron hanya menyimpan nomor orang-orang yang dikenalnya.
"Nomor asing. Siapa orang ini?"
"Angkat saja, Kak. Jangan-jangan … yang menculik Zesa," ujar Kay.
Ian dan Zoe mengangguk kencang. Mereka berpikiran sama. Aaron menekan tombol loudspeaker sebelum menerima panggilan telepon.
"Halo! Siapa ini?"
[Tidak perlu tahu siapa kami. Serahkan orang bernama Zoe jika kalian ingin gadis bernama Zesa ini selamat. (Jangan! Kalian tidak boleh mengorbankan Zoe demi aku!)]
"Zes! Zesa! Sialan! Apa masalahmu dengan Zoe sampai harus menculik Zesa sebagai jaminan?" tanya Aaron, geram.
Ketiga adiknya pun sama geramnya. Jika laki-laki itu berada di hadapan mereka saat ini, jangan harap dia masih hidup esok hari. Yang mengherankan, mereka meminta Zoe untuk ditukar dengan Zesa.
Setahu mereka, Zoe tidak memiliki musuh karena dia sangat supel dalam bergaul. Diantara mereka semua, Zoe-lah yang paling banyak teman. Rasanya mustahil dia tiba-tiba memiliki musuh.
[(Akh!) Kalian dengar, bukan? Jika kalian tidak datang dalam waktu tiga puluh menit, wajah gadis ini akan habis dikuliti oleh anak buahku.]
"Hei! Jang— Ah!" Aaron membanting ponselnya ke dashboard saat laki-laki yang menculik Zesa mengakhiri panggilan.
*Bersambung*