
Zayden duduk bersama Zesa di kursi taman belakang rumah sakit. Mereka saling berdiam diri selama beberapa menit. Saat Zesa membuka mulut, laki-laki itu pun menoleh.
“Itu …”
“Anu …”
“Silakan bicara duluan, Tuan muda,” kata Zesa dengan wajah datar.
“Aku dengar dari ibu kalau … kau tidak jadi pergi. Apa itu benar?”
“Saya tetap akan pergi, hanya diundur selama dua minggu untuk merawat Bu Sum.” Zesa menjawab dengan malas.
Ia tidak mau menatap ke arah Zayden sama sekali. Kata yang terlontar dari mulut Zayden sebelas bulan yang lalu masih melekat dalam ingatannya. Setelah mereka berciuman panas, dengan mudahnya Zayden mengatakan ciuman itu tidak berarti apa-apa baginya.
Harga diri Zesa terluka. Ia merasa dipermainkan oleh laki-laki dingin dan arogan itu. Cinta yang sempat bertunas, mati dalam sekejap mata.
“Kenapa tidak bekerja untukku selamanya saja? Kamu juga tidak punya pekerjaan, bukan?” tanya Zayden penuh harap.
Ia menginginkan gadis itu terus berada dalam pandangannya. Sehari tidak melihatnya saja, Zayden merasa kekurangan sesuatu. Bagaimana jika gadis itu pergi dan tidak pernah muncul lagi didepannya?
“Apa Anda tidak tahu … berapa lama saya menanti hari ini tiba? Jika bukan karena ibu, saya sudah pergi sejak pagi tadi,” jawab Zesa dengan nada bicara yang semakin dingin.
Zayden membeku seketika. Mereka tidak pernah berbicara berdua sejak malam itu, malam di saat Zayden mematahkan hati Zesa. Setiap hari selama sebelas bulan terakhir, Zesa tidak mau lagi mengantarkan kopi ke kamar Zayden. Bu Sumirah yang melakukan itu semua, sedangkan tugas Zesa hanya menyiapkan makanan.
“Kamu … sangat dingin selama beberapa bulan ini. Apa ada yang membuatmu tersinggung? Mungkin aku atau—”
“Tuan muda ... saya tidak berniat berbicara omong kosong seperti ini. Jika tidak ada lagi yang ingin Anda katakan, saya permisi.”
Zesa pergi dengan lebar. Jika ia bertahan semenit lagi di sana, rasanya hujan di matanya tidak dapat ditahan. Zesa sudah cukup terluka karena tidak dianggap oleh Zayden, bahkan laki-laki itu tidak menyadari hal apa yang membuat sikap Zesa berubah.
“Tunggu! Zesa! … cinta kamu!”
Gadis itu terperanjat. Kaki yang melangkah lebar tiba-tiba terasa berat hingga ia berhenti terpaku. Jarak mereka yang sedikit jauh, membuat Zesa tidak mendengar semuanya dengan jelas. Ia membalikkan badan dan menatap Zayden dengan kening mengerut.
Aku … tidak salah dengar, kan? Dia bilang cinta kamu, tapi aku tidak mendengar kalimat sebelum itu.
Zayden berjalan selangkah demi selangkah, mendekati gadis itu perlahan-lahan karena takut dia melarikan diri darinya. Hingga jarak diantara mereka tinggal satu meter, laki-laki itu pun berhenti. Dia menghela napas berat, seolah sedang membuang semua keraguan yang mengimpit dadanya.
“Sebelas bulan yang lalu, aku berbohong padamu. Ciuman itu … lebih dari sekedar berarti bagiku. Aku menyesali sikap pengecutku saat itu. Jika saja aku mengatakannya dengan jujur, mungkin kita—”
“Haha ….” Zesa tertawa terbahak-bahak, memotong ucapan Zayden yang sedang mengungkapkan perasaannya.
Gadis itu tertawa sampai mengeluarkan air mata karena menganggap ucapan laki-laki itu hanya lelucon. Mungkin, Zayden berpikir demikian. Namun, hanya Zesa yang tahu alasan ia mengeluarkan air mata.
Jika ia tidak tertawa, ia akan terlihat menyedihkan. Air mata yang sejak tadi ditahan ternyata tertumpah karena pengakuan cinta dari Zayden. Sayangnya, hati Zesa telah tertutup.
“Kamu pikir, aku sedang bercanda?” tanya Zayden dengan wajah serius.
“Ya dan candaan Anda sangat lucu, Tuan muda. Haha …. Jika Anda mengatakan hal itu karena ingin menahan saya tetap di rumah Anda … maaf, saya tidak tersentuh,” jawab Zesa sambil menyembunyikan tangannya di belakang punggung.
Setiap kali ia mengatakan sesuatu yang berlainan dengan hatinya, kedua telapak tangannya akan saling meremas. Zayden mengetahui kebiasan itu karenanya Zesa tidak menunjukkan tangannya. Ia tidak mau isi hatinya diketahui laki-laki itu.
“Aku tidak bercanda. Semua yang kukatakan adalah apa yang kurasakan di dalam hatiku. Bisakah … kau menerima perasaanku?”
Zayden melangkahkan kakinya, mencoba menghilangkan jarak diantara mereka. Namun, gadis itu bergerak mundur dengan cepat. Tangan laki-laki itu terulur menyentuh udara hampa.
Seperti inikah rasanya sakit hati? Saat dia memperlebar jarak diantara kami, aku merasa hatiku seperti sedang disayat. Aku ingin tahu seperti apa perasaannya padaku. Apakah cinta ini mendapatkan sambutan atau … hanya cinta bertepuk sebelah tangan yang menyedihkan? Zayden menggumam lirih.
"Maaf, saya tidak bisa, Tuan." Zesa menjawab sambil menggelengkan kepala.
Gadis itu membalikkan badan lalu berlari sekuat tenaga. Ia tidak mampu bertahan lagi. Pertahanannya runtuh dan ia menangis di dalam bilik toilet.
Kenapa kamu mengatakan hal ini setelah hatiku terluka cukup lama. Sebelas bulan yang lalu, saat hati ini mengharapkan kata cinta itu, kau … mengatakan bahwa aku tidak memiliki arti apapun bagimu.
Zesa bergumam lirih dalam hati. Hanya air mata dan suara sedu-sedannya yang mewakili sesakit apa hatinya saat ini. Ia terlanjur membuang nama laki-laki itu dari hatinya. Jika ia menerima cinta Zayden, artinya Zesa harus siap terluka lebih dalam.
Dalam segi apapun, Zesa bukanlah gadis yang patut disandingkan dengan Zayden. Setidaknya, itulah yang akan orang lain katakan. Zesa sadar diri, ia bukan gadis dari kalangan atas, dan dia hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Zayden.
***
“Zesa! Zesa! Zes …”
Zoe pulang dari resto dengan mata berbinar. Mendengar Zesa tidak jadi pergi, ia bergegas pulang meski belum waktunya pulang bekerja. Ia ingin menemui gadis itu segera setelah tiba di rumah, tapi Zesa tidak ada di kamarnya.
Hanya ada koper yang tergeletak dalam keadaan terbuka di atas tempat tidur. Separuh baju sudah tertata di dalam koper, separuh lainnya tergeletak di atas kursi meja rias. Zoe memutuskan untuk menyusul gadis itu ke rumah sakit namun niat itu dibatalkan saat gadis yang dicarinya sudah berdiri di depan pintu kamar.
Grep!
“Jangan pergi, Zes. Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku cinta padamu. Aku sangat …”
Zesa pulang karena enggan bertemu Zayden. Malas mendengar kata cinta yang memuakkan. Namun, dia mendengar pernyataan cinta dari Zoe setibanya di rumah. Entah mereka yang salah minum obat atau Zesa yang sedang bermimpi? Yang jelas, hal itu membuat kepala Zesa cukup pusing, hingga akhirnya dia terkulai dalam pelukan Zoe.
“Zes … Zesa,” panggil Zoe dengan lembut.
“Berikan dia padaku!”
*BERSAMBUNG*