
Baiklah saatnya untuk menyiapkan langkah yang sulit untuk di tebak. Mungkin Yamabuki tidak akan mencurigai ini.
Yoi ketsumatsu no tame ni saisho ni modoru
Eps 8 Rencana gagal total, menyedihkan sekali...
Author: Hayusya
[Mobil berjalan dengan kecepatan yang agak lambat, dan disini Hakuya akan menyiapkan langkah. Langkah untuk mengetahui dimana tujuan mereka berikutnya.]
[Pantai, kuil ataukah jembatan. Itu semua akan terpecahkan, oleh Ketsu Hakuya. Mungkin hanya mungkin. Karena kelihatanya Hakuya sedang berpikir dengan keras.]
Aku akan pura-pura tertidur, dengan begitu, Yamabuki tidak akan mencurigainya. Setelah aku dikira sudah tidur. Aku akan menyiapkan sebuah cara, untuk mengetahui tujuannya.
Kira-kira lebih baik seperti apa, coba kita pikirkan lebih jauh lagi, hmm.
1) "Anoo Yamabuki apakah aku boleh tidur di pangkuanmu,"
2) "Ah, disini sangat dingin. Yamabuki apa aku boleh tidur di pangkuanmu,"
3) "Aku tidak bisa tidur jika di posisi duduk seperti ini, jadi bolehkah aku tidur di pangkuanmu,"
Semuanya kenapa harus jujur seperti itu!
Ini benar-benar sangat sulit, diantara ketiga itu mana yang harus kupilih.
Jika nomor 1 yang kupilih, Yamabuki akan langsung curiga. Jika nomor 2, kelihatanya terlalu ecchi! Jika yang nomor 3. Sepertinya ini pilihan yang bagus. Lagian, aku sulit sekali tidur di posisi duduk seperti ini.
Baik, ini untung-untungan, kalau gagal. Rencanaku gagal total. Aku tidak boleh gagal, pokoknya harus berhasil.
[Hakuya memilih nomor 3 dari pikiranya, kelihatanya Hakuya masih ragu, tampak dari mulutnya yang kesulitan untuk berbicara.]
"Gluk..."
Jika aku tidak maju, aku tidak akan mendapatkan hasilnya. Lebih baik mencoba dahulu sebelum menyerah.
"Anoo Yamabuki,"
"Ya, bukanya kau mau tidur,"
Bagus dia terpancing, dengan begini aku tinggal mengatakannya.
"Sebenarnya aku sudah mencoba untuk tidur, tapi aku tidak bisa tidur di posisi duduk seperti ini,"
"Hmm begitu ya,"
Yoshh... inilah waktunya.
"Anoo, apa kah aku boleh, ti-tidur di pa-pangkuanmu,"
"E-ehhh!"
[Taku yang mendengar nonanya berteriak, ikutan bicara.]
"Ada apa nona Yamabuki,"
"Ah tidak ada apa-apa,"
"Hountou?"
"Hountou,"
"Baik kalau begitu,"
Sial, apa yang harus ku lakukan lagi ini! Aku terlanjur mengatakanya, aku tidak boleh ragu, aku harus maju.
"Yamabuki aku serius,"
[Mulut Yamabuki menganga, dan matanya sulit untuk menatap Hakuya, lalu ia memenyentuh mulutnya dan memalingkan pandanganya ke kaca.]
"kalau begitu, mau bagaimana lagi,"
"Yamabuki,"
"Hmm, silakan,"
"Gluk..."
Kawaiii! Kalau begini, aku semakin malu dan tidak mau melakukan itu, a-apa yang harus aku lakukan, sial hatiku doki-doki.
"Cepat lah, sebelum aku berubah pikiran,"
"Eh, i-iya,"
Matte! matte! Kok ada yang aneh disini, jangan-jangan, Yamabuki sudah tahu rencanaku.
[Wajah Hakuya mengeluarkan keringat, dia ketakutan jika rencananya terbongkar oleh Yamabuki.]
"Cepat Hakuya,"
"Ah baiklah,"
[Hakuya lalu tidur di pangkuan Yamabuki, tentu saja wajah mereka semuanya memerah, bahkan Yamabuki sampai mengalihkan ke pandangan lainya.]
[Begitu juga dengan Hakuya, yang malu dan menutup wajahnya dengan tanganya.]
Hazu-hazukashii...
Tapi ini adalah cara terbaik, untuk mengetahui tujuan kami berikutnya.
Rencana pertama berhasil, selanjutnya yang harus ku lakukan adalah, pura-pura tidur.
[Taku lalu melihat kaca mobilnya dan ia menemukan, Hakuya yang tertidur di pangkuan nonanya.]
"Anak muda jaman sekarang, sungguh romantis sekali,"
[Taku bergumam sendirian, dengan suara pelan. Karena itu Hakuya tidak akan mendengarkannya.]
[Lalu Hakuya tampaknya kesulitan untuk melanjutkan rencananya.]
Gimana ini! Aku kesulitan untuk pura-pura tertidur. Kalau aku tidak pura-pura tertidur, semua rencanaku gagal total. Tapi, gimana aku bisa tidur, hatiku doki-doki, ditambah wajahku sulit sekali untuk berbohong.
"Apa kau tidak bisa tidur Hakuya?"
[Yamabuki bertanya dengan Hakuya, setelah melihat gerak-gerik aneh dari Hakuya.]
"Ah iya, aku kesulitan,"
[Hakuya menjawab itu dengan suara pelan ditambah ia masih malu-malu. Hal ini akan membuat Yamabuki dapat menyadari ada yang aneh dari Hakuya.]
Ini bukan masalah apa-apa, cu-cuma paha dari Yamabuki ternyata empuk sekali. Sial, aku semakin kesulitan untuk menjalankan rencananya, tuhan tolong akuu.
Aku harus pura-pura tidur, cuma itu, benar cuma itu saja.
[Hakuya lalu memaksakan untuk pura-pura tidur.]
"Zzzzzzz..."
[Yamabuki yang mendengar dengkuran Hakuya, lalu ikutan menyiapkan sebuah langkah untuk menyadarkan Hakuya yang bohong ini.]
"Eh, ternyata kau tipe yang mudah tidur di pangkuan cewek ya, Hakuya."
Jangan hiraukan, lebih baik jangan hiraukan.
"Hmm, wajahmu itu benar-benar lucu sekali, hihi."
Lucu apakah itu benar, seharusnya wajahku harus keren saat tertidur.
[Hakuya lalu membenarkan wajah tidurnya menjadi agak tenang dan keren. Dia ingin dianggap pria tenang dan cool.]
Hehe, nah sisanya yang kulakukan cu-
Eh, ada yang aneh disini, jangan bilang kalau, rencanaku benar-benar ketahuan oleh Yamabuki.
[Hakuya lalu membalikkan tubuhnya ke arah Yamabuki, seperti nya dia tidak sengaja.]
[Tentu saja Yamabuki semakin malu, ia mengangkat tanganya setara dengan bahunya.]
"Ha-Hakuya, apa yang kau lakukan,"
Memang ada apa.
"Blurbbb...."
Eh aku tidak bisa napas, dan bau ini wangi sekali. Shimatta!
[Hakuya lalu bangun dengan cepat dan sialnya dia tidak sengaja menyentuh gunung milik Yamabuki.]
"Ah gelii, apa yang kau lakukan dengan tanganmu itu,"
Tangan, eh tangan.
[Hakuya lalu tersadar lagi dan terkejut dengan sangat heboh.]
"Shimattaaa!"
"Ah, aku tidak sengaja, gomen Yamabuki,"
"Kalau begitu, lepaskan tanganmu itu,"
"Ah iya,"
[Hakuya lalu menarik tanganya dengan cepat dan dia memegangi tanganya yang berdosa itu.]
[Jika dilihat sepertinya posisi mereka benar-benar bagus sekali.]
"Sudah kembalilah tidur jika kau lelah,"
[Yamabuki mengatakan itu dengan menyentuh mulutnya, dia mengalihkan pandanganya ke atas dengan wajah memerah.]
"Ti-tidak usah, tidak usah,"
Aku bodoh sekali, apa yang ku lakukan sih!
Rencanaku gagal total, karena kebodohanku sendiri.
"Nee Hakuya, kau ingin menjalankan sebuah rencana ya,"
"Ehh..."
"Apa kau berpikir aku tidak tahu itu,"
"Ah ya sebenarnya-"
"Sebenarnya apa?"
Sudah kuduga, rencanaku dilihat oleh Yamabuki. Ini memalukan benar-benar memalukan, aku kelihatan seperti pria ingin tahu saja.
Kalau begini aku bisa dijuluki pria menjijikan.
"Sebenarnya aku juga mengetahui itu, kau memang wanita yang berbeda dengan yang lainya ya, Yamabuki."
[Taku yang semakin penasaran lalu ikutan bicara di obrolan mereka.]
"Sudahlah nak Hakuya, kalau mau pacaran dengan nona, kau harus tembak dia,"
"Ha-hahh! Ap-apa maksudmu Takumichi!"
"Haha, kau gugup sekali kan,"
"Ak-aku tidak gugup!"
"Eh apa benar begitu, sudahlah nak Hakuya mengaku saja, toh gak ada gunanya menyembunyikan sesuatu,"
"Udah lah Taku, kau tidak perlu ikut-ikutan,"
"Nona juga sebenarnya menyukai nak Hakuya kan, hayoo gak boleh bohong, hihi."
"A--apa yang kau katakan Ta-Takuu,"
"Nah kan gugup, udah dong kalian ini tinggal saling jujur, susah betul,"
"Kalau kalian berdua jujur, kalian sudah berpacaran loh,"
Taku apa-apaan dia ini, aku semakin kesulitan berbicara dengan Yamabuki nihh.
"Oh ya apa kalian tahu, kalian berdua itu adalah pasangan yang ditakdirkan,"
[Taku seketika berbicara dengan blak-blakan, tapi apakah itu adalah nyata.]
"Pa-pasangan yang ditakdirkan,"
"Taku apa maksudmu?"
"Karena kalian terlihat sangat mesra sekali, huahahaha!"
"Kirain apaan!"
[Hakuya dan Yamabuki yang terlanjur kesal, lalu menimpuk kepala Taku dengan keras.]
[Tentu saja Taku kesakitan, dan memegangi kepalanya.]
"Itai.."
"Itu karena kamu sendiri, Takumichii!"
"Hah..hah... apa maksud dia itu nyata,"
[Nafas Yamabuki terengah-engah, karena dia terkejut, dan menimpuk kepala supir pribadinya itu.]
[Hakuya yang terlanjur kesal, lalu ngegas.]
"Gak usah didengerin Yamabuki!"
Apa-apaan supir ini. Pasangan yang ditakdirkan. sebentar, ini cerita nya mau mengarah ke arah mana coba.
"Lihat, kalian berdua ini bahkan memukul kepala orang yang lebih tua. Bersamaan lagi, bukankah itu udah menjelaskan, kalau kalian memiliki ikatan takdir."
[Hakuya dan Yamabuki memukul kepala Taku lagi.]
"Tuh kan ngawur lagi!"
"Bletakk..."
"Aduh-duh dipukul oleh pasangan lagi dong, sakit sekali sih,"
"Hakuya kenapa kau ikut-ikutan memukul Taku,"
"I-itu karena aku kesal denganya,"
"Haha anak muda jaman sekarang, susah untuk jujur pada perasaanya."
[Ikatan takdir dan juga pasangan yang ditakdirkan, apakah cerita ini masih jauh lagi.]
[Kemungkinan itu benar.]
To Be Continue ~