Yoi Ketsumatsu: REMAKE

Yoi Ketsumatsu: REMAKE
Ketsu Hakuya



Yoi Ketsumatsu No Tame Ni Saisho Ni Modoru: REMAKE


CHAPTER 1 Ketsu Hakuya


Author: Hayusya



Hari itu aku bermimpi, mimpi yang sama dan sering terulang kembali, di mimpi itu aku mengulang masa lalu, dan menyelamatkan seorang perempuan.


Rabu 7 Mei 2017


• Ketsu Hakuya: Umur 17 tahun


[Remaja yang dikucilkan di sekolah karena adanya suatu rumor buruk akan dirinya, suka menyendiri namun masih berani berbicara dengan orang lain]


[SMU Michigahara merupakan sekolah dengan halaman yang luas, dan dibangun tinggi hingga seperti sekolah pada umumnya. Serta lengkap dengan atap sekolah yang dapat dimasuki murid maupun guru. Memiliki kolam renang, ruangan senam, lapangan voli, badminton, sepak bola, dan masih banyak lagi.]


[Sekolah ini juga dilengkapi dengan area parkir sepeda dan kegiatan ekskul lainya seperti memasak, karate, kendo, dan lain-lain. Juga tidak ketinggalan dengan pembelajaran tradisional Jepang, seperti festival budaya, belajar menulis kaligrafi, dan lain sebagainya.]


[Memiliki pembagian kelas dari kelas 1A-1F, 2A-2F dan 3A-3E. Terdapat fasilitas lengkap di setiap kelas seperti papan tulis lengkap dengan kapur berbagai warna, bangku yang diduki satu orang lengkap dengan lacinya, AC, meja guru, lemari penyimpanan alat kebersihan, dan lain sebagainya. Sekolah ini memiliki kurang lebih dua puluh delapan guru dan para staff.]


Ah benar juga, kenalkan namaku Ketsu Hakuya, nama yang cukup aneh untuk didengar bukan, setidaknya aku tidak melupakan bagian penting untuk memulai pengenalan dengan kalian semua.


...----------------...


Aku selalu bermimpi, mimpi yang sepertinya mengandung sebuah arti sendiri. Bagiku ini adalah jalan menuju perbaikan dalam penyesalan yang selalu menghantui hidupku.


Aku tinggal sendirian, karena ayahku bekerja di luar negeri dan ibuku sendiri menunggu adikku di rumah sakit rawat inap. Setiap waktunya jam makan, ibuku sering mengirimkan makanan yang ia beli dengan cara online ataupun membawakan makanan yang ia beli di toko, dan biasanya ia letakkan di dalam kulkas maupun di meja makan, sehingga aku tidak akan telat untuk jam makan.


Atau terkadang aku harus mandiri membuat makanan sendiri, ini adalah bekal yang aku buat berupa bento berisi sosis dan juga sushi buatan ibu yang kusimpan dan kupanaskan lagi dengan penanak nasi, sehingga makanan ini akan hangat dan enak untuk disajikan.


Usai diriku membuat bekal bento, aku bergegas untuk mandi, lalu usai mandi aku berganti pakaian sekolah, seragam lengan panjang atau bisa juga disebut seragam musim dingin, karena musim ini adalah musim dingin, jadi seragam lengan panjang adalah seragam yang tepat, dan tidak lupa juga menggendong tasku yang berwarna hitam gelap untuk dipakai di sekolah.


"Baiklah, persiapan selesai waktunya berangkat sekolah!"


Aku keluar lalu mengunci pintu, dan mengambil sepeda yang selalu aku letakkan di parkiran halaman rumah yang tidak terlalu luas.



[Ilustrasi sepeda milik Hakuya. Source: Google]


Baru saja aku sedikit menuntun sepedaku untuk keluar dari halaman rumah, yang hanya menampilkan roda depannya saja, seorang perempuan muda, ah maksudku kouhaiku (Panggilan adik kelas di Jepang) memanggilku dengan lantang di kejauhan dengan pakaian olahraga.


"Senpai, selamat pagi!"


Dia benar-benar semangat sekali, pikirku. Kouhaiku yang bernama Nana, adalah adik kelas yang sangat periang, energik dan terkenal di kalangan semua murid, sungguh sangat populer, berbeda dengan diriku yang dijauhi karena rumor yang entah dari siapa yang membocorkannya.


"Ah Nana ya, selamat pagi." balasku tidak semangat sembari menuntun setengah langkah sepedaku dengan roda belakang yang kini keluar dari halaman, diikuti langkah Nana yang mendekatiku sembari menepuk bahuku.


"Senpai, ini masih pagi loh, jika balasan selamat pagi saja tidak semangat untuk seorang gadis imut sepertiku, bagaimana nanti kalau kau sudah punya pacar, hihihi." sindirnya dengan wajah penuh senyum, dengan tawa cekikikan.


"Hah, bisa kau tarik kata terakhirmu tadi, itu membuatku sedikit kesal."


"Ah maaf, habisnya kau terlihat tidak semangat hari ini?"


"Aku tidak semangat karena kau datang tiba-tiba."


"Ehh, apa-apaan itu, hmpph."


Nana menggembungkan pipinya, seperti yang dilakukan perempuan anime, ia kelihatannya mulai sedikit cemberut karenaku.


"Hahh, aku tidak punya waktu untuk meladeni rasa kesalmu." kataku sembari menghela nafas panjang dan menyentil jidat Nana.


"Auu, sakit apa yang kau lakukan kepada adik kelas sendiri, ini tindakan kekerasan, ke-kerasan!" serunya dengan pipi yang masih ia gembungkan.


Tapi kali ini aku tidak membalas perkataannya sama sekali, alih-alih bergumam sendiri, aku lebih memilih memperhatikan jam tanganku, yang kini menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit, 'ah bisa-bisa aku telat' pikirku.


Tanpa menggubris Nana yang kini merajuk memukuli bahuku, aku dengan mantap duduk di jok sepeda, dan mengayuh pedalku dengan tekanan yang keras, jelas itu membuat tangan Nana terpental dan dia kemudian berteriak sangat kencang, bahkan seketika telingaku bisa dibuat bergeming karenanya, sungguh kemampuan yang mengerikan.


Sekilas aku juga menengok kebelakang, dan melihat Nana dari kejauhan yang tersenyum kepadaku, tapi selang berapa detik ia membuang mukanya untuk menyembunyikan rasa bahagianya setelah menggangguku, bisa dibilang hari rabu adalah hari yang lumrah, kebetulan saja sebenarnya ia berpapasan denganku, karena dia tengah berjogging dan melihatku keluar dari rumah, tidak heran dia menyapaku dan sedikit menjahili senpai sepertiku yang jarang sekali tertawa.


Padahal aku merasakan perasaan senang di lubuk hatiku, bahkan aku tersenyum di perjalanan, meskipun sebenarnya tidak hanya perasaan senang yang kurasakan, bisa dibilang perasaanku selalu campur aduk, aku pura-pura memasang topeng setiap kali aku tidak mau menampakkan wajah asliku, wajah yang sebenarnya dipenuhi dengan raut wajah orang yang ketakutan dan selalu ingin untuk menghilang di dunia ini.


Berkat Nana aku bisa bertahan untuk saat ini, karena dia orang yang benar-benar tidak mempercayai akan rumor buruk diriku, bahkan orang sepopuler dia yang bisa berteman dengan siapapun termasuk orang sepertiku, adalah hal yang kuanggap hebat.


Lupakan itu semua, karena perjalanan ini masih panjang.


...----------------...


Jalanan untuk sampai ke sekolah sebenarnya ada dua rute, rute yang pertama adalah rute terjauh, yaitu melewati Kuil Tagawa, untuk bisa kesana harus memerlukan waktu kurang lebih setengah jam karena rute itu memiliki jalan yang sangat rumit, bukan jalan raya melainkan jalan bebatuan, rute ini sebenarnya rute favoritku karena aku bisa merenung dulu di sana, hanya saja karena ini adalah hari penting bagiku, maka aku memilih rute kedua, rute jalan raya, jadi aku harus berhadapan dengan kendaraan lain, dan juga lampu lalu lintas.


Saat aku tengah mengayuh sepedaku dengan kecepatan yang dianjurkan kecepatan normal karena dalam kondisi jalan raya, mataku sekilas melihat seorang perempuan berambut hitam panjang sepunggung, yang menatap diriku dengan wajah tersenyum di kejauhan, dia berada di trotoar tempat orang biasa menyebrang, hanya saja pakaian yang ia pakai sangat lusuh, bahkan tidak tepat jika disebut pakaian, aku tahu bahwa ini adalah halusinasi akan penyesalan yang aku alami.


'Lagi-lagi pemandangan yang sama' batinku dengan wajah memelas. Tidak lama setelahnya, perempuan itu kemudian menghilang dalam pandanganku, tepat dimana aku memberhentikan sepedaku sebentar.


...----------------...


Aku akhirnya sampai di sekolah dengan kurun waktu lima belas menit, sialnya di perjalanan tadi roda belakang sepedaku mengempis, karena itu aku harus memompa roda sepedaku, aku adalah orang yang cukup waspada, maka jika suatu saat fenomena ini terjadi, aku selalu menyiapkan pompa miniku yang kutaruh di keranjang sepeda.


"Sepertinya ini masih pagi, aku tidak melihat satpam yang biasa menjaga gerbang." gumamku sembari menuntun sepedaku ke arah parkiran sepeda.


Aku menuntun sepedaku dan ingin memarkirkannya di tempat biasa, yang lebih mudah dijangkau dan aman dari kemungkinan hujan, hanya saja saat ini tatapanku teralihkan ke perempuan yang memandangiku dengan wajah serius.


Di dalam hatiku, aku bertanya-tanya dengan perempuan yang ada di parkiran sepeda itu.


'Apa dia sedang menunggu seseorang?' batinku yang sembari menoleh ke arah kanan-kiri.


Perempuan itu menatapku seperti ingin menyampaikan sesuatu, tampak bibirnya tadi sedikit bergerak ingin berbicara, tapi aku tidak menggubrisnya dan memarkirkan sepedaku.


"Kau yang disana, namamu Ketsu Hakuya kan?"


Perempuan itu memanggilku dan anehnya dia mengenali nama lengkapku, padahal aku hanyalah orang biasa dan bahkan dibenci kebanyakan orang, memang sepertinya hal wajar jika orang dapat mengenali namaku, hanya saja dalam artian tidak suka.


'Siapa perempuan cantik ini, kenapa juga memanggilku? pikirku dengan sangat heran.


Aku lalu menoleh ke dirinya dan berpikir bahwa perempuan yang menyapaku ini sepertinya tidak asing, dan bagiku dia terlihat populer di kalangan murid dan para guru.


"Siapa kau?" tanyaku kepada perempuan itu.


"Namaku Shion Yamabuki, catat namaku dan jangan lupakan aku, kau terlambat lima menit, padahal ada pembicaraan penting yang mau kusampaikan padamu."


"Hah?"


• Shion Yamabuki: Umur 17 tahun


[Perempuan dengan rambut panjang berwarna bunga sakura, wajahnya cantik dan juga merupakan murid populer di SMU Michigahara]


'Terlambat lima menit, pembicaraan penting, memangnya aku siapanya dia?' batinku yang merasa aneh terhadap Yamabuki.


Shion Yamabuki, dia adalah perempuan yang sepertinya pernah aku temui, hanya saja aku lupa kapan waktuku bertemu dengannya, atau mungkin saja karena dia terkenal dan populer di SMU Michigahara, membuatku pernah berjumpa dengannya, setidaknya sekali bertemu.


"Anu, apa kau dari tadi memang menungguku untuk menyampaikan sesuatu, Yamabu-san?" tanyaku dengan berani.


"Ya, itu benar sekali aku bahkan tidak kuat untuk berdiri lama-lama, eh dan apa yang kau bilang tadi, Yamabu-san? aku benci jika ada orang yang memanggil namaku dengan cara yang salah, oh ya ini surat dariku, jangan lupa untuk membacanya nanti, dan aku akan selalu menunggumu." ujarnya.


Yamabuki memberikan surat misterius ke diriku, ia sepertinya serius memberikan surat ini, tampak dari wajahnya bukan wajah penuh gimmick.


"Jika kau tidak datang nanti, aku tidak akan memaafkanmu."


"Hah maksudnya?"


"Jika kau tidak datang, aku akan membunuhmu!" ancamnya yang mengatakan kata mengerikan itu tepat di telingaku.


Mendengar ancaman Yamabuki tadi membuat jantungku berdetak kencang tak karuan, aku bahkan merasakan ada keringat dingin yang keluar dari wajahku.


"Kalau begitu aku duluan ya, dan jangan lupa baca surat itu dan menemuiku, atau pulang nanti hanya namamu saja yang akan dikenal!" ancamnya lagi dengan raut wajah mengerikan.


Aku hanya dapat menelan ludah saja waktu itu, dia benar-benar perempuan yang sulit untuk ditebak, Shion Yamabuki, setidaknya aku akan menyimpan nama itu untuk selamanya.


...----------------...


Ketika perempuan itu pergi, aku memandangi surat pemberian dari Shion Yamabuki, dan hal yang membuatku melongo adalah, surat pemberian miliknya seperti surat cinta pada umumnya, terlihat akan warna amplop merah muda dengan perekat berbentuk hati, lengkap dengan pita kupu-kupu yang juga memiliki warna yang identik dengan cinta.



[Ilustrasi surat yang dibuat oleh Yamabuki. Source: Pinterest]


'Tenang Hakuya, bukan berarti dia memberikan ini karena dia suka padamu' batinku dengan wajah setengah memerah.


Aku dalam kondisi suasana hati setengah bingung, bahkan kugelengkan kepala sembari bergumam, "tidak-tidak." untuk menyadarkan diriku yang saat ini tersihir oleh surat aneh ini.


'Apa benar dia suka padaku, ah aku tidak yakin, tapi bagaimana jika orang secantik dia memang benar-benar menaruh rasa kepadaku, ah aku tahu aku ini tampan, hanya saja ini berlebihan, tenang Hakuya, jangan berpikiran yang aneh-aneh, hanya saja surat ini, surat ini, surat cinta kan!'


Telah lama aku tidak merasakan perasaan ini, perasaan akan rasa romantis yang membuat wajahku dapat merah merona, selain dia, perempuan itu juga membuatku dapat merasakan perasaan seperti ini, seperti memiliki sihir pemikat kuat yang membuatku tak terperdaya.


Sebenarnya aku penasaran dengan isi surat dari Shion Yamabuki, dan alasan mengapa aku disuruh untuk membaca ini lalu menemui dirinya, kata-katanya waktu itu pertama kali, juga membuat rasa penasaranku meningkat tinggi.


Hanya saja aku tidak dapat melakukannya, membuka surat dari seorang perempuan cantik sepertinya, membuat tanganku gemetaran, aku benar-benar tidak berani untuk membukanya sekarang, bisa juga isi surat ini bukan surat cinta, melainkan surat ancaman yang mematikan.


"Baiklah lebih baik lakukan tugas yang penting sekarang, sebelum aku menjalankan tugas piket dengan orang lain." gumamku sembari menaruh surat Shion Yamabuki ke dalam tas.


......................


[Surat misterius pemberian perempuan cantik itu masih belum terbaca olehnya, entah akankah berisi surat cinta atau berisi surat ancaman, hanya saja kini kisah Yoi Ketsumatsu No Tame Ni Saishou Modoru: Remake, telah membuka tirainya.]


To Be Continue ~