
[Ciuman tak terduga dari Yamabuki membuat pikiran Ketsu Hakuya jadi kacau, hanya saja rasa penyesalan dia masih tetap ada]
Yoi Ketsumatsu No Tame Ni Saisho Ni Modoru
Eps 3 Komedi Romantis, Ah Ini Hanya Humor Sampah
Author: Hayusya
Dia mencium pada momentum aku memeluknya, entah bagaimana suasananya berubah menjadi menyenangkan, jika aku dapat memilih untuk tidak menyalahkan diri sendiri, mungkin aku bakalan memilih melupakan Hanabi dan menjadi pasangan Yamabuki, pasti itu akan menjadi akhir yang indah.
Hanya saja, suara hatiku memilih untuk tetap menyesal, tidak dapat aku buang rasa penyesalan ini, aku sama sekali tidak akan pernah dapat melupakan Shion Hanabi, jika saja aku mendapatkan kesempatan untuk mengulang masa lalu, maka aku akan memilih untuk tidak berdekatan dengan Hanabi, karena aku yang telah membuatnya hilang di dunia ini.
Jika saja, jika saja, jika saja! mesin waktu itu ada, pasti manusia yang merasa hidupnya sekarang menderita, mungkin dia dapat mengulang kembali hingga mendapatkan akhir yang membuatnya bahagia.
Mengulang masa lalu dan menemukan akhir yang bahagia, bukankah itu akan menjadi kisah yang menarik?
----
Di pertengahan anak tangga dimana lantai tiga berada aku berpas-pasan dengan Yamabuki, lalu terjadilah momentum romantis yang membuatku sementara tadi dapat melupakan Hanabi.
Bibir Yamabuki yang lembut itu seakan mengulum bibirku, aku tidak dapat bergerak untuk saat ini dan masih tetap diam hingga momen ciuman ini selesai.
Perlahan demi perlahan, dia mengeluarkan bibirnya, dan matanya yang berwarna biru laut itu lalu memandangiku dengan wajah ekstra manis, aku sulit mendeskripsikan suasana saat ini, tapi intinya aku bahagia.
"Ya-Yamabu-"
Tak!
"Yamabuki-san! sudah kukatakan aku benci jika orang tidak memanggil nama lengkapku!"
Yamabuki entah bagaimana dia dapat kembali menjadi normal, ah padahal jujur dia tadi sangat manis, aku tidak menyangka jika Shion Yamabuki sangat jago berekspresi, mungkin aku akan berhati-berhati dengan nya untuk waktu seterusnya.
"Yamabuki-san, aku tadi ingin bilang seperti itu, tapi kau malah menjitak jidatku... dan anu entah, kenapa tadi itu sangat memalukan-"
Tak!
"Jangan membicarakan itu lagi! de-dengar ya bukan berarti aku menyukaimu... i-itu sebagai tanda permintaan maaf dariku, kau mengerti?"
"Ah begitu ya... tapi ini sakit asli, kau mau membuat jidatku benjol?!"
"Ah maaf habisnya kau nyeselin sih...."
'Darimananya?' batinku yang heran dengan ucapan ngasal Yamabuki.
'Tapi kelihatan nya dia tadi seperti karakter tsundere dalam anime'
Aku pun langsung memilih untuk sampai ke pembicaraan inti, lagipula langit diluar sudah agak gelap, tanda bahwa kemungkinan sudah pukul lima atau karena langitnya sedang mendung.
"Hah sudahlah, lagipula Yamabuki-san kemungkinan ini sudah sangat sore jadi kita lebih baik pulang saja." ucapku yang terus terang sembari memunggut benda berjatuhan disekitar tas pundak yang kujatuhkan.
"Hakuya-kun!"
"Ya?"
Yamabuki menggoyangkan jari telunjuknya dan memasang raut wajah tidak peduli.
"No-no-no, aku sama sekali tidak peduli...."
"Mak-maksudnya?"
"Kau tidak ingat tentang kata-kata yang tertulis di surat yang kau sebut sebagai ancaman itu? lagipula kita harus bertemuan malam nanti, membahas tentang cara kita berpura-berpura pacaran dan membahas hal penting lain nya, jangan lupa datang ke Riruri Cafe jam tujuh, jika tidak datang, maka siap-siap menerima rasa mengerikan nya diteror."
"Jadi ceritanya kau mengancamku double?"
"Yap seperti itulah, syukurlah kau mengerti...."
Yamabuki bahkan mengeluarkan senyuman manis namun memiliki makna mengerikan di dalam.
'Hah dia berubah menjadi yandere seperti yang pernah kulihat di film thriller'
"Jadi kita akan ke atap sekolah Yamabuki-san?"
"Ya itu benar, lagipula ada banyak hal yang harus kubicarakan kepadamu."
Yamabuki bahkan mengatakan ada banyak hal yang mau ia bahas, aku hanya menghela nafas karena aku dapat menebak bahwa pembicaraan dia akan sangat lama.
"Mau sampai kapan kalau kau nanti berbicara terlalu banyak?"
"Sudahlah cepatlah naik ke atas dulu!"
Yamabuki memaksaku untuk memijaki satu anak tangga atas, sehingga lambat laun badanku ikut terdorong maju, dia mendorong dengan tenaga yang kuat, meskipun dia seorang perempuan.
"Yamabuki-san, tunggu dulu jangan mendorongku, aku bisa naik sendiri!"
Aku kesal dengan nya karena dia masih mendorongku lagi dan lagi, tanpa henti.
"Ah bicara soal itu, Yamabuki-san dimana tas mu?"
Suasana hening sementara, Yamabuki juga terdiam sejenak, melepaskan kedua tangan nya yang mendorongku tadi, lalu ia meraba-raba kedua bahunya dan juga lengan nya, aku bahkan sampai menahan tawa karena tingkahnya yang ceroboh.
"Sepertinya tasku tidak ada?!"
"Bukan sepertinya! tapi memang tidak ada, hah sebenarnya kau tinggalkan dimana?"
"Dimana ya, seingatku tadi sudah kubawa... ahh benar juga aku jatuhkan di sekitaran tangga!"
Yamabuki kemudian berbalik, aku melihat kaki kanan Yamabuki menendang kaki kirinya sehingga badan Yamabuki terpanting, tapi dengan cepat aku menarik tangan Yamabuki, nyaris saja, jika aku terlambat sedikit saja Yamabuki dapat jatuh dari tangga dan akan terluka parah.
Sialnya saat aku menariknya tadi, badanku sedikit terdorong ke belakang sehingga punggungku menatap pegangan tangga ini, namun ada satu keberuntungan atau kesialan, ah entahlah aku tidak tahu, karena Yamabuki menekan dada ku dengan kedua gunungnya yang empuk ini.
'Sial punggungku sakit tapi dada ku merasa enak'
"Ah maafkan aku Hakuya!"
Dia terkejut mundur dengan wajah memerah karena malu.
"Makanya kalau di area tangga jangan terburu-buru, terlambat sedikit saja aku menarik tanganmu, pasti kau akan terjatuh, dan ingatlah kita berada di lantai tiga, jika kau sampai jatuh pasti akan sangat berbahaya!"
"Iya-iya maafkan aku...."
Yamabuki berbicara lemas dengan wajah yang sedikit menunduk, dia sepertinya memang mengaku salah.
"Sudahlah lupakan itu semua, kau tunggu saja disini biar aku ambilkan saja tasmu!"
Aku dengan sigap menuruni anak tangga sembari tanganku berpegangan di pegangan tangga ini, dengan langkah yang sedikit terburu karena aku tidak mau membuang waktu.
Kemudian setelah aku menuruni sekitar sepuluh anak tangga, aku akhirnya menemukan tas pundak milik Yamabuki, ya aku langsung tahu kalau ini tas miliknya, bukan karena motif dan corak di tasnya, tapi karena dia bilang jatuh di sekitaran tangga, jadi aku langsung tahu.
Untungnya resleting tas pundak Yamabuki ini tertutup sehingga tidak ada barang yang terjatuh, dan memudahkanku tanpa harus mencari barang lain, jadi aku langsung membawa tas ini dan mengembalikkan nya ke Yamabuki.
Hanya saja saat Yamabuki mengecek isi dalam tasnya, dia kemudian terkejut, tangan kanan nya bergerak mencari barang, dan dengan mata yang sedikit melotot, dia berteriak kepadaku.
"Jimat? maksudmu jimat keberuntungan atau jimat cinta?"
"Bukan Hakuya bodoh, soalnya ini Jimat yang mau kulihatkan kepadamu nanti, yaitu Jimat Pengeluaran Jiwa!"
"Ji-jimat apa, pengeluaran jiwa??"
"Benar, Jimat yang dapat mengeluarkan jiwa pemakai jimat ini."
"Uwahh bukan nya itu mengerikan?"
"Tidak, aman saja kok, yang lebih penting, jika Jimat ini dicuri oleh orang lain berarti pelakunya hanya satu!"
Mata Yamabuki serius menatapku, kemudian kedua matanya menutup dan tersenyum kepadaku, dan dengan polosnya dia berkata kalau pelakunya adalah orang yang dekat dengan nya, yang tidak lain jawaban itu mudah ditebak, yaitu, aku sendiri!!
"Dari wajahmu yang sepertinya mau menyebar lelucon sampah, aku langsung tahu siapa pelakunya, ah lebih tepatnya kau kan yang menaruh barang ini di dalam saku celanaku?!"
"Teehee tepat, aku kira kau bakalan terkejut, hehe maaf-maaf, aku lakukan ini agar kau tidak tegang...."
"Sialan tidak kusangka kau punya sisi yang menjengkelkan Yamabuki-san!"
"Maaf ya hihi."
"Cih!"
"Jangan ngambek dong, mana boleh lelaki ngambek karena hal sepele saja?"
"Aku bukan ngambek, aku ini sedang kesal, leluconmu itu buruk, humormu itu bagaikan ampas kopi yang tidak enak!"
"Hehe tapi kau tertipu kan?"
"Ah lupakan, jadi kau mau menunjukkanku kertas seperti jimat dengan tulisan hiragana yang berarti Pengeluaran Jiwa? aku yakin kalau ini salah satu lelucon jelekmu lagi."
"Tidak kok, itu jimat asli, toh karena Marga Shion adalah penyihir yang sudah hidup sejak ribuan tahun...."
"Maksudmu?"
"Apa mendiang Hanabi tidak pernah bercerita kepadamu, tentang Marganya yang disebut sebagai penyihir karena memikiki kekuatan yang tidak dapat dijelaskan oleh akal serta logika? contohnya saja Jimat Pengeluaran Jiwa yang kau pegang, Jimat itu akan membuatmu dapat mengeluarkan roh dan tubuh aslimu akan tertidur seperti layaknya fenomena Astral Projection."
"Astral Projection? maksudmu keadaan dimana orang tertidur dan dapat mengeluarkan rohnya?"
"Ya kira-kira seperti itu."
Aku tidak paham apakah Yamabuki sekarang sedang bercanda atau serius mengatakannya, hanya saja aku pernah mendengar dari mulut Hanabi sendiri, dimana keluarganya ditakuti oleh mayoritas dan minoritas penduduk di belahan dunia, karena kabarnya Marga Shion dapat mengeluarkan kekuatan aneh dari kertas seperti jimat, dan ternyata saat aku mendengar Yamabuki bercerita seperti itu, jadi aku sepenuhnya percaya bahwa penyihir itu ada.
Padahal selama ini aku selalu beranggapan bahwa penyihir yang ada didalam dongeng hanyalah karangan fiksi belaka, tapi aku tidak menyangka bahwa penyihir itu ada di dunia nyata bahkan saat ini salah satunya ada didekatku, ya dia adalah Shion Yamabuki.
Marga Shion yang ditakuti seantero Jepang dan juga berbagai dunia... Marga penyihir yang hidup ribuan tahun lalu, dan yang pasti itu nyata adanya, tidak kusangka malahan aku terlibat dengan salah satu dari penyihir itu.
"Hakuya-kun jangan melamun!"
"Aduh sakit-sakit! kau ini apa-apaan!?"
"Habisnya kau melamun tadi, nanti kerasukan hantu baru tahu rasa."
"Iya-iya, tapi jangan sampai mencubit pipiku, lihat jadi merah nih!"
"Lagipula kau melamun memikirkan apa sih, memikirkan diriku?"
"Percaya diri sekali, aku sedang memikirkan Jimat ini-"
Kata-kataku terpotong karena Yamabuki menutup mulutku dengan tangan kirinya.
"Sstt jangan keras-keras nanti ada yang dengar?"
"Swiapha(Terdengar tidak jelas karena mulutnya sedang tertutup) swiapha hwoi?"
"Hantu...." ucap Yamabuki sembari tersenyum dan melepaskan tangan kirinya yang semula menutup mulutku.
"Ka-kau ini bisa tidak jangan bercanda untuk saat ini!"
"Hihihi maaf, aku senang menjahilimu karena kamu menarik, oh iya lebih baik kita segera pulang, toh bakalan turun hujan loh...."
"Lalu kalau begitu kenapa harus naik tangga lagi tadi!"
"Hihihi tadinya mau ke atap sekolah, hanya saja langit diluar sudah gelap, dan waktunya hanya dihabiskan karena lelucon jelekmu Hakuya-kun."
"Kamvret itu sih elu! salah kau sendiri sialan, jadi nanti kalau turun hujan tidak jadi ke Riruri Cafe ya, karena aku tidak mau demam!"
"Tidak, kau harus datang karena kalau tidak datang akan kuteror!"
"Selain kau ini penyihir, perubahan ekspresimu yang singkat ini juga membuatku takut padamu...."
"Itu sudah seharusnya, lagipula Hakuya-kun ada hal penting yang harus kubicarakan kepadamu."
"Iya-iya cepat bicara sekarang, aku sudah bosan dengan kau yang setengah-tengah ini."
"Kau harus mewaspadai seorang perempuan yang juga dari Marga Shion, namanya adalah-"
Jeglerr!!
Terdengar suara sambaran petir di langit, seperti dugaanku hari ini akan turun hujan.
'Sialan aku tidak suka hujan!'
"Karena kau yang selalu menunda-nunda, jadi malah akan turun hujan kan... eh Yamabuki-san kau kenapa menutup telingamu, ah begitu ya kau takut petir ya?"
"Di-diam kau, bukan berarti aku takut dengan-"
Jeglerr!!
"Hii singkirkan suara itu dari telingaku!"
"Jadi memang benar kalau kau ini takut petir, penyihir juga bisa takut sama petir ya?"
"Penyihir juga manusia sama sepertimu! yang lebih penting tolong bantu menutupi telingaku, aku tidak tahan dengan suara petir!!"
"Iya-iya penyihir-chan."
Dan begitulah kami berdua akhirnya kembali menuruni tangga, Yamabuki menuruni tangga dengan langkah yang pelan, kedua tangan nya gemetaran memegangi pegangan tangga, dan saat aku melirik wajahnya dia kelihatan seperti ingin menangis.
'Tidak kusangka dia benar-benar takut sekali pada petir'
Jeglerr... brashh
Akhirnya turun hujan deras dan membuat suasana hatiku menjadi buruk, karena untuk saat ini aku benci pada hujan. Aku membencinya bukan karena takut demam, melainkan karena mengingatkanku pada kejadian waktu itu, peristiwa sialan yang ingin kubuang dari memori, peristiwa dimana aku mengalami satu-satunya penyesalan yang selalu membuatku tidak pernah tenang.
[Shion Yamabuki yang takut pada petir dan Ketsu Hakuya yang benci pada hujan, kisah mereka masih akan berlanjut lagi.]
To Be Continue ~