
[Saat ini mereka berdua, akhirnya dapat mengenali satu sama lain.]
Yoi ketsumatsu no tame ni saisho ni modoru
Eps 23 Flashback masa lalu\= Arc Yamabuki - Akhirnya, Lanjutnya *A**pa Yang Akan Terjadi* ?
Author: Hayusya
Akhirnya aku dapat bertatapan 2 mata dengannya. Seperti yang kuharapkan, Yamabuki kembali lagi menjadi dirinya. Hanya saja aku tidak mengira kalau dia lebih mempesona, dibanding yang ada di pikiranku.
Ditambah lagi, aku senang ia dapat mengenaliku, ya dengan begini aku tidak perlu berkenalan lagi.
"Hakuya-kun, kenapa kau malah melamun?"
Yamabuki membayangi wajahku dengan tangannya, karena itu aku langsung tersadar, hanya saja, aku tidak pernah menyangka kalau bau badannya masih tetap wangi. Ia sangat wangi, seperti bau bunga matahari yang mekar di pagi hari.
"Yamabuki-san? apa maksudmu yang itu, ah ya aku cuma ingin tahu?"
Yamabuki melongo dihadapanku, ia tersenyum dan menutup matanya, lalu ia menjawabnya dengan suara manis.
"Bukankah sudah jelas, kau mau mengajakku ke rumahmu kan?"
Jelas saja aku sontak kaget, lagi pula hal yang kupirkan dapat ia katakan langsung.
"Ya itu benar, lagipula aku tidak tahu rumahmu..."
"Itu benar, jadi apa kau mau memungutku, ne Hakuya-kun."
"Me- mungut? kau ini jangan samakan dirimu dengan binatang. Bakaaaaa!"
Jelas saja aku tahu maksudnya, hanya saja itu tidak baik untuk dikatakan, memungut apa maksudnya, lebih baik kata dibawa kan?
"Eh, mukamu memerah?"
"Tidak! aku hanya kepanasan!"
"Hmm..."
Yamabuki ini kenapa bisa-bisanya kita langsung akrab begini. Apa ia memang mengingatku di lubuk hatinya.
"Apa kau tahu Hakuya-kun?"
"Ya?"
"Sejak aku ada dalam dirimu, aku dapat melihat kebaikanmu..."
Yamabuki menatap langit dan tersenyum, lalu ia menatapku kembali.
"Karena itu aku, jatuh cinta denganmu..."
Tidak ada angin, maupun hujan. Yamabuki mengatakan itu secara tiba-tiba. Itu membuat hatiku berdetak dengan keras.
"Si- sial wajahku memerah, aku benci ini," itu yang ada dalam pikiranku sekarang.
"Ne Hakuya-kun, apa kau juga menyukaiku?"
Ia menyerang ku lagi dengan kata yang membuat orang langsung ingin menjawabnya, Yamabuki itu manis, cantik ditambah ia memiliki tubuh ideal.
Hal ini tentu saja, membuat semua orang ingin memacarinya, ah bagaimana aku akan menjawabnya.
"Ya... kalau dibilang suka-"
"Eh, apaan itu.. aku hanya bercanda saja, hihihi,"
"Hah!"
"Anoo onaaaa!" aku tidak percaya kalau Yamabuki dapat ngeselin seperti ini, ah sebenarnya ia juga sudah ngeselin. Hanya saja ini lebih ngeselin dari ngeselin yang lainnya.
"Auu apa kau sakit hati, ne Hakuya-kun?"
"Gak, dan tidak akan pernah!"
"Eh? kok begitu..."
Yamabuki lalu menarik tanganku, dan ia memegangi pipiku.
"Jika kau mengatakan, aku mencintaimu dengan cepat. Mungkin aku akan menerima mu, tapi sayang, kau terlambat..."
"Ugh.. apa-apaan kau ini!"
Dia jelas jauh sekali berbeda dengan Yamabuki yang aku kenal, aku gak yakin otaknya sudah kembali atau belum.
"Hihi, sudah yuk mari kita pulang,"
"Ya..."
Aku lalu mengambil sepeda yang aku parkirkan di dekat kuil, lalu aku kendarai bersama Yamabuki yang membonceng.
"Woi! pegangan yang bener!"
Yamabuki memegangi pundak ku, itu membuatku agak susah mengendarai sepedaku.
"Eh, kau mesum juga ya ternyata..."
"Hah?"
Aku menoleh ke wajahnya, Yamabuki tersenyum nakal, lalu ia memegangi perutku.
"Ya- Yamabuki... yang bener megangin nya dong,"
"Eh ini salah, itu salah, ah apa kau mau, seperti ini..."
Yamabuki lebih mendekat ke tubuhku, ia memelukku seperti orang berpacaran, jelas saja hatiku semakin berdebar tidak karuan.
"Yamabuki, pegangan yang bener, atau mau ku tinggal!"
"Hmphh! terus pegangan ke mana lagi?"
"Pegangan seperti boncengan biasanya?"
"Seperti ini..."
Yamabuki lalu membenarkan posisi seperti orang yang lazim berboncengan, wajar kami masih sebatas teman.
"Ah ya... kau sudah benar, hanya saja kau terlalu dekat,"
"Hmm..."
"Udah dong, jauhan dikit!"
"Haik..."
Yamabuki menjauh hanya se-inci, jelas saja ini membuatku kesal, tapi aku tidak mau marah-marah tidak jelas lagi.
Biarkan saja, lagi pula, tidak akan ada yang mengira kalau kami ini berpacaran.
------
Aku lalu mengendarai sepedaku lagi, tapi tetap saja ini membuatku agak grogi.
Tanganku agak bergetar, padahal seharusnya aku menikmati ini. Hanya saja, aku tidak menyangka Yamabuki sepintar ini, yabai- yabai desu ne.
Dan yang membuatku kesal, hari ini masih saja panas, ini membuatku mengeluarkan banyak keringat, dan juga, ini tidak terlalu baik buat kesehatan jantungku. Sebab Yamabuki hanya mundur se-inci ke diriku.
"Ne Hakuya-kun, apa menurutmu keberadaanku dapat disadari oleh orang lain?"
"Apa yang kau bicarakan, kau sekarang telah menyatu, jadi keberadaan itu akan disadari oleh orang selain diriku..."
"Hmm... arigato Hakuya-kun,"
"Haha... ya sama-sama,"
Aku menoleh ke belakang lagi, dan melihat Yamabuki membuka mulut manisnya, dan ia menutup matanya seperti putri tidur yang minta dicium oleh pangeran.
"Ah apa yang kupikirkan... aku tidak mungkin terkena serangan yang baru kan?" begitulah isi pikiranku.
Wahai diriku dimasa depan, apa jalan yang akan kau pilih, jika kau dalam situasi seperti ini.
"Ne Hakuya-kun?"
"Ya?"
"Ah tidak ada, hmm lupakan saja..."
Ia hendak mengatakan sesuatu, dan sialnya itu membuatku ingin tahu.
Hanya saja, kenapa bisa truk itu salah jalur, dan masuk ke gang kecil. Jika orang tidak memilih meminggir ke batas jalan, maupun jatuh ke sawah. Aku yakin 90% mereka akan tertabrak oleh truk bodoh itu.
Dan apa mereka akan ke isekai? ah hanya tuhan yang tahu.
"Hanya saja kenapa tidak ada suara Yamabuki?" itu yang aku pikirkan, dan saat aku melihatnya, ia tertidur pulas di punggungku.
"Aku yakin ia sudah kelelahan hari ini," karena itu aku memelankan kecepatan sepedaku.
Dan tentu saja, menikmati pemandangan desa Hiroshima, yang sebentar lagi akan aku tinggal pergi.
Itu karena uang kami sudah cukup, untuk pindah ke Tokyo. Setelah itu, ayahku akan pergi ke Singapore lagi untuk bekerja menjadi nahkoda.
"Eh, ada mama dan anaknya, perasaanku tidak enak?" hal itu yang aku bicarakan dalam hati, aku melihat ada mama dan anaknya yang saling berpegangan tangan. Ini sudah mau sampai di desa, aku yakin akan ada hal yang terjadi.
"Mama lihat, ada orang berpacaran?"
"Jangan bilang seperti itu!"
Mama anak itu, menutup mulut comberan dari anaknya, yang kelihatanya masih umuran 6 tahun itu.
"Ah, gomen ya dik..."
"Ah gak papa..."
Aku melewati mama dan anak itu, tapi tetap saja itu tadi membuatku kaget setengah mati.
Aku sudah yakin ini akan terjadi... Yamabuki malahan santai sekali, tertidur di punggungku.
Tapi aku beruntung, ada benda empuk menempel di punggungku, dan itu membuatku agak senang hari ini.
------
Kami akhirnya sampai di rumahku, aku lalu memakirkan sepedaku di tempat biasanya dan membangunkan Yamabuki, yang masih bersandar di punggungku.
"Yamabuki, kita sudah sampai?"
"Eh... hmm,"
Yamabuki membuka matanya, dan mengucek matanya yang habis tertidur itu, hanya saja ia tetaplah manis.
"Jadi ini enaknya punya pacar? hanya saja aku belum pernah berpacaran," ah maklum aku ini masih perjaka.
"Aniki sudah pulang-"
Tampak aura tidak enak yang terjadi tiba-tiba, aku menatap tatapan Temari, yang mengerikan itu. Ia lebih dulu membuka pintu rumah dibanding diriku.
"Shi-shimattaa!!!" Ini benar-benar tidak baik. Yabai- yabaiiii....
"Ah jadi kau adik Hakuya, kenalkan, namae wa Shion Yamabuki desu."
"Ah, Ket- Ketsu Temari..."
Mereka berjabat tangan, namun ada yang aneh dengan Temari.
Entah kenapa aura yang dikeluarkan Temari perlahan meredup. Apa berarti pesona Yamabuki membuat adikku tidak berkutik sama sekali. Bingo! aku mendapatkan counter untuk adikku.
Arigato Kami-sama!
------
"Dan apa kau ini pacarnya aniki?"
"Ah tidak... tapi, apa Temari yang manis ini, mau aku jadi pacar aniki mu?"
"Ap- apa yang kau omongkan itu Yamabuki!" Aku tidak menyangka kalau Yamabuki seberani ini.
"Lebih baik jangan berpacaran dengan aniki deh, dengar Yamabuki-nee san..."
"Pst... pst..."
Mereka berdua saling berbisik, karena itu aku benar-benar tidak mengerti pembicaraan mereka.
Ah sudahlah, lagipula tidak ada gunanya aku tahu itu.
"Eh! eh... ben- benarkah Temari?!"
"Hmm..."
Aku benar-benar tidak mengerti, Temari mengangguk dan diiringi suara heboh Yamabuki.
"Kau ternyata seperti yang kuharapkan ya, Hakuya-kun,"
"Eh... apa maksudmu?"
"Tidak... hanya saja, kau memiliki adik yang manis seperti dirimu, dan ternyata ia sangat baik,"
"Baik darimananya?" Jelas saja itu tidaklah benar, selama ini lidah adikku setajam pisau yang habis diasah. Sekali debat dengannya, yang ada malah berakhir critical damage.
"Aniki kau berpikir kalau aku ini adik yang buruk ya! IYA KAN!"
"Ah enggak-enggak, hanya saja-"
"Eh ada tamu ternyata, pantas ada suara dari depan, eh- eh... apa kau membawa pacar Hakuya!"
"Hah? mama toh,"
"Akhirnya kau tidak jones lagi.."
"Hah! apa yang kau katakan itu mama, sudah aku masuk dulu,"
Saat aku berjalan mendekati pintu, mama ku menyetopku, begitu juga dengan tatapan Temari yang mengerikan.
"Tidak! sebelum kamu kenalkan dia sama mama. Ah kamu benar-benar sangat cantik, aku suka dengan rambutmu ini, seperti bunga sakura yang mekar, dan juga wangi!"
"Ah hmm.. bibi kau berlebihan,"
"Ah panggil saja aku mama."
"Hah! Mama ngomong apa sih!"
"Aniki dengarkan mama kalau bicara..."
"Kau kenapa malahan ikutan?"
"Gak papa, hanya saja aku melihat Yamabuki-nee san adalah jodoh aniki!"
"Na- NANI!!"
Aku sudah lama tidak melihat senyum lebar adikku ini.
"Ah.. kenapa melihatku Yamabuki-san?"
"Mohon bantuannya Hakuya-kun,"
"Ah ya, aku senang kau datang, ya beneran- iya beneran kok, haha.. haha..."
"Aniki apa yang kau bicarakan?"
"Itu aku senang Yamabuki datang kesini, ba- baik masuk lah kalian berdua dulu, dan berikutnya Yamabuki bisa kau masuk,"
Yamabuki tidak merespon dengan kata, namun ia tersenyum dan mengangguk, lalu ia masuk ke rumahku, dengan melewatiku, dan mengatakan dengan suara pelan.
"Kau boleh melakukannya denganku..."
"Hah.. ap- apa yang kau maksud?"
Yamabuki melewatiku dan ia berbalik lagi.
"Masak gak paham?"
"Ah aku yakin ada yang tidak beres hari ini."
"Yamabuki-nee san, kemarilah!"
"Haik... Temari! Hakuya-kun, mata ne.."
"Apaan kau ini.."
Dan itulah hari dimana jantungku benar-benar tidak baik untuk kesehatan.
"Aku yakin akan ada hal tidak menyenangkan hari ini, dan kenapa keluarga ku semuanya menerima Yamabuki-san!" Begitulah, Yamabuki akan menginap di rumahku hari ini.
[Berikutnya Hakuya menginap dengan gadis manis, dan hati-hati jantungmu tidak akan baik, begitu kau menatap wajah dari gadis ini.]
To Be Continue ~