
[Mereka kelihatanya masih kesulitan memecahkan gambar dari buku itu.]
Yoi ketsumatsu no tame ni saisho ni modoru
Eps 7 Bunga sakura identik dengan Hanami
Author: Hayusya
Jika lebih di teliti lagi, sepertinya ada gambar yang belum jelas di bagian kanan kuil itu.
"Hakuya apa kau menemukan sesuatu?"
"Belum,"
[Hakuya mencoba untuk berfikir keras.]
"Perhatikan ini, lihatlah jimat yang kuberikan padamu, gambar simbolnya sama kan dengan kuil marga kami."
Ah... benar juga. Aku sempat melupakan itu.
"Ah, iya aku baru menyadarinya,"
[Hakuya menjawab itu dengan memegangi dagunya.]
Sepertinya ada misteri lagi yang harus kupecahkan dulu. Sebentar jimat dengan simbol sama dengan kuil? Apa kah ini berkaitan.
"Dan apa kau tahu Hakuya,"
"Hakuya,"
[Karena Yamabuki merasa Hakuya mengacuhkanya, dia kesal dan mencubit tangan Hakuya.]
"Hakuya!"
"Itai, apaan,"
"Hmphh..."
Mulai deh, sial setiap kali dia cemberut. Manis sekali, gak-gak-gak. Jangan tergoda, aku masih harus memecahkan misteri ini.
"Ada apa Yamabuki, kau bisa menganggu konsentrasiku,"
"Kau mengacuhkanku tahu,"
"Itu karena aku sedang konsentrasi,"
"Begitu ya. Padahal aku mau menunjukkanmu, 1 buku lagi yang kutemukan ini."
[Yamabuki lalu memperlihatkan buku itu ke Hakuya.]
"Ini dia Hakuya,"
"Hah buku itu, jangan-jangan."
[Hakuya lalu merebut buku itu dari Yamabuki. Dan dia membalik-balik halaman dengan cepat.]
"A-ada,"
"Hakuya kau tidak apa-apa?"
[Yamabuki merasa khawatir, setelah melihat wajah Hakuya yang kelihatanya terkejut.]
"Aku tidak apa-apa,"
[Hakuya menjawabnya tanpa melihat ke wajah Yamabuki.]
Ternyata benar. Buku ini yang ditunjukkan oleh Hanabi waktu kami masih berusia 14 tahun, kami pernah datang kesini, dan membawa sebuah kenangan.
Dan ternyata kenangan itu masih ada disini.
"Klinting..."
[Yamabuki semakin penasaran, lalu dia melihat apa yang Hakuya lakukan.]
"Eh, gantungan lonceng kecil?"
"Benar, ini adalah 2 gantungan lonceng kecil. Yang kami beli di festival Hanabi,"
"Eh begitu ya,"
Hanabi jadi selama ini, kau belum menyentuh buku ini lagi ya. Saat dimana kita melihat festival kembang api. Seperti namamu yang berarti kembang api, kau suka sekali dengan kembang api.
2 gantungan lonceng ini kita beli bersama, di dekat kuil Jinto. Aku masih mengingatnya, bagaimana denganmu. Saat itu, kau bersikeras ingin membelinya, aku sampai harus mengikutimu.
"Ha-kuya, doushi-ta no?"
"Are... a-da apa deng-anku,"
[Luka masa lalu yang dibawa dengan kenangan indah masa lalu yang tidak dapat dilupakan. Perlahan air mata Hakuya berjatuhan.]
"Hakuya sadar Hakuya,"
[Yamabuki menyadarkan Hakuya. Sepertinya kenangan masa lalu masih membekas di pikiran dan hati Hakuya.]
[Sehingga mau tidak mau dia akan menangis.]
Luka masa lalu, dengan kenangan masa lalu. Kenapa saat itu, kau benar-benar indah. Hanabi apa kau masih mengingatku, dimana kau sekarang.
Jika kau telah tiada, kau ada di alam surga kan. Tapi mengapa, setiap hari aku selalu bermimpi sama, mimpi itu mengulang terus menerus. Seakan-akan itu adalah sebuah pertanda.
Pertanda untuk memperbaiki kesalahan. Di mimpi itu, aku selalu melihat seorang wanita yang meminta pertolongan, tidak hanya itu, sepertinya dia selalu menyebutku kalau aku ini bersalah.
Terkadang di mimpi itu juga, wanita itu menusukkan sebuah pisau ke jantungku. Sehingga aku terkadang terbangun dengan cepat.
Seolah-olah gadis yang ada di mimpiku. Ingin aku untuk memperbaiki kesalahanku.
"Gomen Yamabuki, aku sudah tidak apa-apa,"
"Lap dulu bekas tangisanmu, dengan sapu tangan ku ini,"
"Ah iya arigato,"
[Hakuya lalu mengelap bekas tangisanya dengan sapu tangan dari Yamabuki. Dia membersihkan semua bekas tangisanya. Lalu Hakuya mengembalikan lagi ke Yamabuki.]
"Ini kukembalikan,"
"Ah iya,"
"Dengarkan aku Hakuya,"
"Ah tapi sebelum itu, apa aku boleh menyewa buku ini,"
"Eh silahkan, tapi bukanya kau sudah berjanji kepadaku,"
"Yakusoku?"
"Sou!"
Emang aku janji apa ya, bentar kelihatanya tidak ada tuh.
"Jangan pura-pura lupa. Janji waktu di restoran ingat itu,"
"Ah benar juga ya,"
"Hihihi, apa-apaan tampangmu itu,"
"Hah!"
"Hakuya, sttttt. Kita masih di perpustakaan,"
"Ah benar juga, gomen-gomen,"
"Baik, itu hadiah dariku. Kau boleh menyewa buku itu,"
"Hountou ni, Yamabuki?"
"Hountou,"
[Hakuya lalu menyewa buku itu, sebenarnya buku itu hanyalah buku yang kelihatan kuno.]
[Walau kuno, buku itu menyimpan kenangan Hakuya dan juga Hanabi.]
"Anoo Hakuya, aku duluan ke mobil ya,"
"Oh iya Yamabuki. Aku juga menyewa buku ini,"
"Syukurlah kamu senang. Jangan lupa pecahkan misteri itu ya detektif-kun,"
"Paan sih,"
"Ehem! Jadi menyewa tidak,"
"Ah gomen oba-chan,"
"Hihi, duluan ya Hakuya."
[Yamabuki lalu berjalan kembali ke arah pintu keluar perpustakaan.]
"Klinting..."
Sebuah suara lonceng, yang mengisyaratkan ada tamu masuk ataupun keluar, diantara mereka yang keluar dan membunyikan lonceng berarti kalah dalam sebuah permainan. [Yamabuki]
[Yamabuki membatin itu, lalu dia keluar dan bergumam sendirian di depan pintu perpustakaan.]
"Buku itu berisi sebuah kenangan ya, aku mengerti itu kok,"
[Oba-chan itu lalu mengembalikan kembalian uang Hakuya.]
"Arigato,"
"Ah iya, oba-chan juga ya,"
[Hakuya melihat Yamabuki yang berdiri diam di pintu perpustakaan.]
[Tapi walaupun begitu, Yamabuki masih bergumam sendirian, dia tidak tahu jika Hakuya dapat mendengar itu.]
"Hakuya sebenarnya kau masih mencintai Hanabi kan,"
Yamabuki dia.
"Aku iri kepadamu Hanabi."
Ternyata benar. Bunga sakura yang identik dengan Hanami, jika diambil dari sudut pandang Yamabuki. Yang berhasil ditemukan adalah, arti kecemburuan.
Festival Hanami, festival melihat bunga sakura. Jika diibaratkan bunga sakura berarti adalah Hanabi. Itu karena sakura juga adalah hana. Lalu Hanami adalah diriku, untuk orang yang mengunjungi dan melihat bunga sakura, itu adalah Yamabuki.
Menyadari itu sangat sulit, tapi waktu itu, Yamabuki sendiri memetik 1 bunga sakura, dan ia letakkan di tengah meja kami.
Yang berarti Yamabuki sebagai pengunjung dari Hanami dan bunga sakura yang berarti adalah Hanabi. Pengunjung yang melihat bunga sakura. Hanami atau Hanabi no miru.
Tapi diantara mereka ada kalanya bersedih dan selalu berdiri diam di depan pohon sakura. Saat semua pengunjung pulang dari festival, ada juga seorang yang masih menatap bunga sakura yang indah itu.
Biasanya antara kekaguman dengan bunga sakura atau juga memiliki sebuah masalah dan berbicara sendiri dengan pohon bunga sakura.
Hanami yang berarti diriku. Bunga sakura yang berarti Hanabi dan pengunjung festival yang berarti Yamabuki.
Begitu ya. Jadi ternyata benar Yamabuki itu cemburu dan iri dengan Hanabi.
"Klintingg..."
"Ah kau sudah selesai menyewanya Hakuya,"
"Ya,"
"Ya udah yuk pergi ke tujuan akhir kita,"
"Eh?"
"Sudahlah ayo,"
[Yamabuki menarik lengan Hakuya seperti biasanya, walau Yamabuki pemaksa namun dia memiliki sisi imutnya sendiri.]
"Ah kalian sudah selesai menyewa buku, atau hanya membaca saja?"
"Aku menyewa 2 buku kok Taku,"
"Benar,"
"Nona sendiri, tidak menyewa buku,"
"Tidak, lagian aku kesini hanya untuk memberikan rekomendasi buku untuk Hakuya,"
"Ah begitu ya. Ya udah kita jalan lagi,"
[Hakuya dan Yamabuki masuk ke mobil lagi, namun walaupun begitu, Hakuya merasa bersalah terhadap Yamabuki.]
Tujuan terakhir kami akan kemana, apakah sebuah kuil, jembatan, atau Pantai Shimuya.
Sebab 3 tempat itu berdekatan dengan tujuan kami.
Andaikan aku adalah Yamabuki, mungkin lokasi terakhir yang akan kudatangi adalah Pantai Shimuya. Mencoba untuk berpisah dan ingin melupakan seorang yang dicintainya, jadi jawaban yang paling tepat adalah pantai.
Namun ada pula Jembatan Nagao. Aku sering dengar dan membaca beritanya, sebuah legenda atau pun hanya mitos mengatakan. Jika 2 orang bersalaman di tengah Jembatan Nagao. Maka hubungan mereka menjadi baik.
Tapi apabila ada di ujung jembatan, maka hubungan mereka akan retak. Yamabuki apa tujuan kita adalah Jembatan Nagao, atau Pantai Shimuya?
Ataukah tempat lainya.
"Nona tumben kau tidak bersandar di bahu tuan Hakuya,"
"Ah itu karena aku merasa segar,"
"Apa benar begitu?"
"Benar kok,"
Tidak itu salah. Yamabuki tidak merasa segar, namun sebaliknya dia merasa tidak baik. Aku yakin di dalam hatinya itu, terdapat sebuah kata 'Aku ingin mengakhiri ini semua' .
Jika Yamabuki tidak menyiapkan langkah, kalau begitu aku saja yang membuat langkah.
"Anoo Yamabuki, aku kelihatanya mengantuk, bolehkah aku tidur, dan mohon untuk membangunkanku jika kita sudah sampai ya,"
"Ah iya,"
Langkah untuk mengetahui arah tujuan kami, dan juga membuat Yamabuki untuk tidak melupakanku. Ini adalah langkah yang akan kutunjukkan ke padamu Yamabuki.
To Be Continue ~