Yoi Ketsumatsu: REMAKE

Yoi Ketsumatsu: REMAKE
Flashback masa lalu= Arc Yamabuki - Firasat buruk, beruntung ia masih selamat



[Akhirnya Shion-san diijinkan oleh Hakuya, untuk memasuki tubuhnya. Mereka kini menyatu, dan dapat berbicara tanpa menggunakan suatu cara.]


[Akan ada peristiwa tidak baik, yang menimpa Hakuya, namun semua ini berkat Shion-san yang menyelamatkannya.]


Yoi ketsumatsu no tame ni saisho ni modoru


Eps 18 Flashback masa lalu\= Arc Yamabuki - Firasat buruk, beruntung ia masih selamat


Author: Hayusya



Memang kami telah menyatu, tapi aku merasakan suatu firasat yang tidak bagus hari ini, apa akan ada sesuatu yang menimpa kami?


[Hakuya sudah membaik, ia melanjutkan pembelajaran di kelas, tapi tetap saja ada Shion-san, yang memasuki tubuh Hakuya.]


"Hakuya-kun, kau bisa mendengarku?"


"Ano Shion-san, jangan bicara dengan ku dulu, atau aku bisa disebut orang tidak waras..."


[Balas Hakuya dengan suara pelan, Shion-san tertawa kecil, melihat wajah Hakuya yang menundukkan kepalanya itu.]


"Baik-baik, kalau begitu aku akan mengunci mulutku,"


"Ya..."


[Di dalam kelas ini, Hakuya sepertinya kesulitan untuk berkonsentrasi.]


Sial, aku merasakan ada suatu yang tidak enak, firasat ku mengatakan kalau kami akan tertimpa bencana.


[Pria ini memiliki firasat yang tajam. Sejak kedatangan Shion-san, entah kenapa firasat dan insting Hakuya selalu benar.]


[Bahkan sudah berapa kali, Hakuya merasakan sebuah firasat yang lebih buruk dari yang ia bayangkan, ya jawabanya adalah hari ini.]


Ap- apaan ini, yameroo, yameroooo!


"Yameroooo!"


[Hakuya berteriak di kelas, sehingga membuat semua murid kaget, bahkan sensei juga kaget dengan teriakan keras Hakuya ini.]


"Ka- kau kenapa Hakuya?" [Sensei]


"Doushita?" [Murid cewek]


"Hakuya apa kau masih sakit?" [Kuuga]


"Kau lebih baik pulang saja, mukamu pucat sekali tuh," [Sensei]


"A- aku ba.. baik-baik saja,"


"Oi Hakuya mukamu sangat pucat..."


"Haku..."


[Ketakutan Hakuya membuat matanya seperti agak rabun, kepalanya pusing, bahkan mulutnya bergetar dengan hebat.]


"Oi.. Haku..."


"Kau-"


"Brukkk!"


[Hakuya terjatuh dari kursinya, pria ini pingsan dengan begitu cepat.]


[Disini Hakuya dipulangkan ke rumahnya, oleh sensei lain, dan mengijinkan Hakuya untuk tidak mengikuti pembelajaran.]


20 menit kemudian...


A- aku ada dimana...


Tempat apa ini kenapa putih semuanya, jangan-jangan aku!


[Hakuya akhirnya terbangun, ia tertidur lama di kamarnya.]


"Kau belum mati, jangan berpikiran negatif!"


"Eh?"


"Kau tadi pingsan, karena itu sensei memulangkanmu lebih cepat,"


"Ano Shion-san, entah kenapa aku mengalami firasat yang buruk akan menimpaku, aku melihat bayangan seolah-olah aku ini akan ditabrak oleh truk atau mobil dengan kecepatan tinggi,"


[Omongan Hakuya berubah seperti orang yang ketakutan, seperti diancam akan dibunuh.]


"Hustt... jangan berpikiran negatif, kau lebih baik beristirahat dahulu. Dan apa kau tahu, ibumu lagi mengambil makanan dan obat untuk dirimu, kau jangan putus asa dulu lah,"


"Hmm..."


"Suatu saat nanti, kau pasti dapat tumbuh dengan baik. Aku yakin itu!"


"Hmm.. arigato,"


[Seperti layaknya sepasang kekasih, Shion-san menghibur Hakuya, hingga Hakuya dapat melawan ketakutannya.]


"Jeglekk.."


"Hakuya makan duku nak, nih mama buatin bubur agar kau dapat pulih kembali, dan jangan lupa diminum obatnya,"


"Ya.. nanti akan aku makan,"


"Kau butuh apa lagi, mama akan mengabulkan untukmu,"


"Tidak ada, lagi pula aku sudah lumayan membaik,"


"Hountou?"


"Hountou..."


"Kalau begitu, mama tinggal dulu ya."


Bayangan tadi benar-benar mengerikan, apakah itu tadi adalah suatu pertanda.


Jangan bilang aku akan mengalami sebuah kecelakaan maut.


"Grekkk!"


[Shion-san yang menyadari Hakuya mengenggam selimutnya itu, lalu berbicara dengan Hakuya.]


"Tenang Hakuya, kau pasti tidak apa-apa, tidak ada yang perlu ditakutkan,"


"Kau benar, tidak ada yang akan terjadi,"


"Kau harus berpikir positif, dan selagi aku ada di dalam dirimu, aku akan membantumu sebisaku,"


"Tapi-"


"Tidak ada tapi-tapian! bukankah kita sudah saling berjanji,"


"Eh janji?"


"Kau bilang suatu saat ingin bercinta denganku kan, aku akan selalu menunggumu,"


"Blushhh..."


"I- itu hanya lelucon, kenapa kau percaya Shion-san,"


"Emm, karena kelihatannya kau tidak bercanda waktu itu, tapi tenang saja, aku tidak bakal menyerahkan diriku ke orang mesum sepertimu, humphh!"


"Kau membuatku kesel ya... tapi, arigato Shion-san, kau telah membuatku kembali bersemangat lagi,"


"Hihi, kalau begitu makan dulu sana buburnya, keburu dingin, nih minum dulu obatnya,"


"Ah iya aku lupa..."


[Hakuya meminum obatnya dengan teh hangat.]


"Selanjutnya buburnya keburu dingin nanti,"


"Iya-iya,"


[Hakuya mengambil bubur yang dibuat oleh mamanya, dan ia mulai mencicipi.]


"Uwagghhh atsuiii!"


"Kau bilang sudah dingin Shion-san,"


"Kan hanya menebak saja,"


"Hah? ah sudahlah,"


"Tenang, aku akan menyuapimu,"


"Eh? ba- bagaimana caranya, emang bisa dengan dirimu yang sekarang ini?"


"Bisa kok, jangan remehkan diriku, nih aku suapi ya,"


Ma-magic! sendok nya seperti digerakkan oleh tanganku saja, padahal aku tidak menggerakan tanganku sama sekali.


"Huftt.. huftt... nih udah lumayan dingin, angg.."


"Angggg..."


[Catatan: Angg berarti suara membuka mulut.]


Bukan berarti ini gila atau gimana, hanya saja tidak ada romantis-romantisnya sama sekali!


Tanganku hanya gerak sendiri, kalau kayak gini mana bisa membayangkan disuapi pacar.


[Hakuya, statusnya hari ini dan sekarang, masih perjaka.]


Tapi walaupun begitu, rasanya aku seperti sudah berpacaran dengan Shion-san.


"Membayangkan apa?"


"Hmmm..."


"Sudah kubilang gak ada, ya gak ada,"


"Ok, nih anggg..."


"Anggg...."


[Hakuya tidak sadar, kalau selama ini ibunya melihat tingkah anaknya, ibu Hakuya hanya terdiam dan memegangi mulutnya, tapi kali ini bertindak bertanya dengan Hakuya.]


"Ha- Hakuya apa kau lagi stres nak?"


"Anggg..."


"Hah? ma- maaa..."


Shi-shimattaaaaaa!


"Ah tidak ada apa-apa, aku hanya ano, men- mencoba terlalu menikmati masakan mama, ya hanya itu saja, haha..."


"Ah syukurlah, kukira kau mulai tidak waras,"


Nyaris sekali...


Kalau ketahuan aku ini seperti orang stres, pasti aku akan dibawa ke Psikolog.


Arigato pertolonganmu Kami-samaa!


"Oh ya nak, hari ini mama tidak dapat menjemput adikmu. Bisa kau jemput dia, kau sudah baikan kan?"


"Iya aku sudah baikan, dan apa sepedanya sudah diperbaiki,"


"Barusan dibawa kemari oleh pak reparasi, kau bisa segera menggunakannya, yakin kan kau sudah sembuh?"


"Sudah-sudah, lihat aku tidak lagi seperti orang sakit,"


"Syukurlah..."


[Ibu Hakuya lalu keluar rumah untuk kepentingan pribadi. Dan Hakuya menghabiskan bubur itu dengan kecepatan maksimal, Shion-san yang ada di dalam tubuh Hakuya hanya bisa terdiam.]


"Ahh oishi... baiklah, saatnya untuk menjemput Temari..."


"Kenapa kau malah lesu begitu?"


"Adik ku ini kejam, bahkan ingin sekali aku menampar wajahnya,"


"Kau aniki yang bodoh!"


"Barusan kau memanggilku aniki, hentikan saja itu, kau membuatku mengira kalau kau ini sebenarnya Temari jadi-jadian,"


"Bakaa..."


"Itaiii!"


[Hakuya lalu keluar dari rumahnya, dan mengambil sepeda di halaman.]


"Yoshh waktunya ke sekolah Temari,"


"Haik, go-go Hakuya-kun!"


"Diam dong,"


[Hakuya lalu menaiki sepedanya dan mengayuh sepedanya dengan cukup kencang, ia benar-benar semangat kembali, setelah tahu sepedanya selesai diperbaiki.]


Kencang kali ini sepeda, akhirnya dapat juga menaikinya lagi.


[Di pertengahan jalan desa, ini adalah jalan menuju sekolah Temari, SD Hiroshima.]


"Lihat Shion-san, pemandangan sini terlihat indah, bukan?"


"Benar, aku sudah lama tidak melihat sawah dengan penuh warna hijau ini,"


"Bagus kan, hehe..."


[Tiba-tiba saja, Shion-san berteriak ke Hakuya.]


"Hakuya banting stir mu ke kiri! cepat!"


"Kau ada apa tiba-tiba?"


"Firasatmu itu benar, sudahlah cepat banting stir ke kiri!"


"Ka- kau gila, aku bisa jatuh ke sawah kalau begitu!"


"Hakuya kau mengatakan sendiri bukan, firasat kalau kau akan ditabrak!"


"Be- benar juga ya,"


[Tapi walaupun begitu, pikiran Hakuya tidak bisa tenang.]


[Ia terus berjalan lurus dengan pikiran kosong.]


"Hakuya kenapa kau malah melamun..."


"Tinnnn!"


"Tolongg aku tidak bisa mengerem! Minggir nakk!!" [Supir truk yang datang dengan kecepatan tinggi.]


"Hakuyaaaaa!"


[Shion-san mengambil alih tubuh Hakuya, ia membanting stir ke kiri, alhasil mereka berdua jatuh di sawah. Truk yang dikendarai supir itu akhirnya berjalan lurus dan membanting stir untuk jatuh ke sawah juga.]


[Warga yang melihat berbondong-bondong membantu supir itu dan sisanya melihat Hakuya yang terjatuh, selamat dari bahaya.]


"A- aku selamat, Shion-san kau menyelamatkanku,"


"Sudahlah yang terpenting, kita kembali saja ke rumahmu lagi, lihat tubumu jadi kotor,"


"I- iya, tapi bagaimana Temari,"


"Kau tidak ingin di anggap kakak kotor kan, sudahlah kembali lah, lalu ganti pakaianmu,"


"Baik,"


[Dengan bantuan warga, sepeda yang dikayuh Hakuya diangkut ke jalanan lagi, wajah Hakuya berlepotan dan kotor.]


[Hakuya tidak lupa berterimakasih dengan warga yang membantunya, begitu juga dengan supir truk yang akhirnya meminta maaf dengan Hakuya.]


[Jika saja Shion-san tidak mengambil alih tubuh Hakuya, kemungkinan Hakuya sudah mati ditempat.]


Truk yang tiba-tiba melintas entah dari mana, dengan kecepatan tinggi dan rem yang telah rusak itu.


Beruntung Shion-san membantuku untuk membanting stir ke kiri dan memilih jatuh di sawah.


[Mereka berdua kembali di rumah Hakuya, dan juga Hakuya telah mengganti pakainya, ia mengayuh sepeda pinjaman warga dengan kencang, dan menghampiri sekolah Temari.]


"Itu dia Temari disana,"


[Hakuya menghampiri Temari yang sepertinya lagi cemberut dan ngambek.]


"Aniki kau kenapa kemari?"


"Sudahlah itu tidak penting, naiklah,"


"Kau terlambat! Aniki bodoh, humphh..."


"Iya-iya aniki tahu, sudah cepat naiklah,"


"Hmm!"


[Temari duduk di jok belakang, dan melihat sepeda yang bukan milik kakaknya ini.]


"Aniki kau maling ya!"


"Hah!"


"Ini bukan sepedamu kan?"


"Ah ceritanya panjang, nanti aku ceritakan di rumah saja,"


"Enggak! aku mau tahu sekarang!"


"Auu, jangan memukul bahuku, sakit tahu!"


"Aniki jahat sih!"


"Adikmu kasar sekali ya Hakuya,"


"Sudah kubilang adik ku itu kasar,"


"Kau ngomong apa tadi!"


"Itaiii! cubitanmu mirip sekali dengan Shion-san,"


"Hakuya-kun kau kelepasan,"


"Glekk..."


"Shi-Shion siapa tadi!"


"Ra- rahasia!!"


[Akhirnya Hakuya berhasil menjemput Temari dengan penuh penderitaan.]


Bahuku pegel semua, sial gini amat punya adik kasar.


[Waktu berjalan seperti biasanya, dan beruntung Hakuya selamat dari bahaya.]


[Hanya saja, ada hal yang menjanggal disini apa kalian mengerti?]


To Be Continue ~