
Aku akhirnya berbaikan dengan Yamabuki. Dia benar-benar gadis yang sangat manis.
Yoi ketsumatsu no tame ni saisho ni modoru
Eps 6 Di luar kuat, di dalam rapuh
Author: Hayusya
[Cover Yoi Ketsumatsu No Tame Ni Saisho Ni Modoru sebelum di Remake.]
[Cover baru, gak kepikiran buat edit cover :) Kebetulan namanya juga sama-sama Hakuya.]
[Saatnya lanjut ke cerita.]
[Yamabuki dan Hakuya akhirnya berbaikan, mereka akan pergi ke tujuan berikutnya, yaitu perpustakaan Motoyama.]
Anjerrrr apa yang ku lakukan tadi. Ki-kissuu!
Aku mencium Yamabuki tanpa sadar. Ini akibatnya kebawa suasana.
"Dousta no Hakuya?"
"Ah nandemonai,"
"Hountou?"
"Hountou-hountou."
Hati ku masih doki-doki. Yamabuki udah dong jangan mepet aku teruss.
[Yamabuki bersandar di bahu Hakuya, layaknya seorang kekasih, Taku yang melihat di kaca mobilnya itu, menahan tawa lagi.]
"Ppfftt, dasar anak muda jaman sekarang,"
[Sindir Taku ke Hakuya. Hakuya yang mendengar itu semakin malu, wajahnya memerah. Blushhh.]
"Yamabuki kau tidur lagi ya?"
"Hmm... tidak kok, aku hanya ingin seperti ini lebih lama lagi,"
"Eh?"
"Yaudah lakukan aja sesukamu,"
"Hmm..."
"Fwitttt ada yang lagi berpacaran nih,"
"Hah. Udah lah Taku, jangan bikin aku malu lagii!"
[Hakuya semakin malu, Yamabuki yang melihat itu tersenyum kecil.]
Yamabuki, aku menyadarinya. Jika kau bertingkah seperti itu, aku semakin paham.
Perasaan yang dipendam sendirian, begitu menyakitkan. Apa yang akan kau perbuat jika kau itu adalah Yamabuki.
Apa kau akan memilih:
A) Memendam perasaanmu terlalu jauh, atau
B) Menyatakan perasaanmu sebenarnya,
walaupun ditolak ataupun diterima.
Jika aku jadi Yamabuki, yang ku pilih adalah, jawaban B. Setidaknya kau sudah berjuang. Dibanding harus memendam perasaanmu.
Menahan perasaan terlalu lama itu sangat menyakitkan. Apalagi jika semua sudah terlambat.
Yang hanya bisa kau lakukan, hanyalah melihat kemesraan orang yang kau sukai dengan orang lain. Yamabuki, kelihatanya adalah wanita yang kuat.
Di luar kelihatan kuat, di dalam dia sebenarnya rapuh, layaknya kaca yang kelihatan di luar sulit dipecah tapi nyatanya kekuatan kaca tidak seberapa dan mudah sekali pecah.
Saat kaca itu pecah, pecahanya akan berjatuhan dan semuanya tidak akan menyatu lagi. Kecuali jika pecahanya di perbaiki lagi seperti semula.
Hati seseorang juga seperti itu. Jika di luar dia kelihatan seperti tidak ada masalah namun sebenarnya dirinya sedang terluka. Mereka yang berusaha untuk memperbaikinya tetap tidak akan bisa, dan harus mengulanginya kembali.
Mengulangi lagi, mengulangi lagi sampai dirinya berhasil memperbaiki hati nya yang terluka itu. Mungkin hanya dengan obat rindu, atau apapun itu yang terpenting dirinya dapat kembali seperti semula.
Mencoba untuk memasang wajah kebohongan di depan orang yang dia sukai, padahal dalam hatinya, ingin sekali untuk menyudahi atau pun mencoba memberanikan diri.
Yamabuki kau benar-benar sudah berjuang.
"Baiklah kita hampir sampai ke Motoyama!"
"Ya arigato telah memberitahuku Taku!"
"Nak Hakuya kau meniru nona Yamabuki ya?"
"Eh?"
"Itu kau memanggilku Taku, bukanya pak supir, hihi,"
"Ah... ah ya ku-kupikir memanggilmu supir itu tidak sopan, haha iya kan,"
[Hakuya semakin gugup. Lagi-lagi Taku hanya bisa menahan tawa.]
"Dasar anak muda sekarang, haha."
"Jangan sering kau berkata seperti itu!"
[Hakuya kesal karena Taku mengulangi kata itu, setiap Hakuya dianggap sudah berpacaran dengan Yamabuki.]
"Haha, iya-iya. Baik tujuan perpustakaan sudah sampai,"
[Akhirnya mobil pribadi Yamabuki sampai ke tujuan ke 2 yaitu perpustakaan Motoyama.]
"Yamabuki kita sudah sampai,"
"Iya, maaf aku sedikit pusing."
[Yamabuki memegangi dahi nya dia berjalan keluar mobil seperti orang yang sedang tidak enak badan.]
"Yamabuki kau beneran tidak apa-apa,"
"Iya,"
"Nona kalau anda sedang tidak enak badan, beristirahat saja di dalam mobil!"
"Biar Hakuya pergi sendirian ke sana,"
"Itu benar Yamabuki,"
"Aku tidak apa-apa, beneran tidak apa-apa."
Aku merasakan kalau Yamabuki tidak sakit atau apa pun, namun sepertinya ada hal lain disini. Apa jangan-jangan perpustakaan ini membuat dia trauma.
Atau ada hal lain yang dia sembunyikan ke padaku.
"Yamabuki aku akan memapahmu,"
"Ehh? Tidak perlu kok!"
[Wajah Yamabuki sekejap memerah, ini karena Hakuya sendiri mengatakan dia akan memapah Yamabuki. Taku yang mendengar itu lalu ikutan bicara.]
"Udah jangan malu nona, kau kelihatannya sedang sakit,"
"Taku jangan ikut-ikutan!"
Hah, apa-apaan Taku ini.
[Hakuya lalu membuka tanganya dan ingin memapah Yamabuki. Yamabuki semakin salah tingkah. Lalu dia membela dirinya.]
"Hakuya ecchi!"
"Plakkk!"
"Itaii! Yamabuki kenapa kau menamparku!"
[Hakuya memegangi pipi kanannya yang kena tampar oleh Yamabuki.]
"Itu karena kau ecchi!"
"Ahh begitu ya, tapi jangan menamparku juga kali!"
"Beruntung aku tidak kena tampar,"
[Gumam Taku sambil mengelus dada. Taku pernah trauma karena dia sudah merasakan tamparan nona Yamabuki yang membekas ke pikiranya sehingga dia trauma.]
"Taku mau di tampar?"
"Enggak dong nona!"
[Taku lalu berbasa-basi dan dia masuk ke mobil.]
Ehh, segitu takutnya dia dengan tamparan nonanya sendiri.
"Udah yuk masuk,"
[Sekejap Yamabuki menarik tangan Hakuya.]
Ternyata benar dugaanku.
Alasan kenapa dia merasa pusing, bukan karena mabuk perjalanan. Melainkan, dia ingin melupakanku. Yamabuki tidak ingin menahan lukanya terlalu lama.
Dia mengajakku ke perpustakaan apa ada maksud tertentu?
Mungkin,
"Klintinggg...."
Suara lonceng yang menandakan ada tamu ya.
"Disini kau tidak boleh berbicara keras, ingat itu,"
[Bisik Yamabuki ke Hakuya yang sebenarnya sudah mengerti, lalu Hakuya hanya membalas dengan senyum kecut.]
Iya-iya aku paham itu. Dikira aku tidak pernah datang ke perpustakaan ya.
Eh barusan aku sadar, Yamabuki membaik dengan cepat. Ada apa sebenarnya, jika dia ingin melupakanku harusnya dia masih merasa pusing atau bertingkah layaknya sedang sakit.
Oh benar juga ya, dia pura-pura kuat.
Seperti yang kupikirkan sebelumnya. Di luar kuat, di dalam rapuh.
"Lihat disitu Hakuya,"
"Ah ya,"
"Inilah buku yang mau kutunjukkan ke padamu,"
[Yamabuki lalu mengambil buku itu, lalu dia menunjukkan ke Hakuya.]
"Ah, buku kumpulan mitos?"
"Benar, disini ada tambahan nya loh,"
"Emang apa?"
[Yamabuki lalu membuka buku itu dari cover belakang.]
"Hmm..."
"Lihat ini, inilah yang ku maksudkan,"
"Ehh?"
Mitos lubang cacing di dekat kuil Shion?
Jangan-jangan ada hubunganya dengan jimat yang dia berikan kepadaku.
"Kau membawa jimat itu kan Hakuya,"
"Ah iya, ada di sakuku,"
"Huh, bisa-bisanya bertindak ceroboh,"
[Yamabuki mencubit pipi Hakuya yang memerah, bukan karena dia malu tapi bekas memerah itu karena tamparan dari Yamabuki.]
"Itaiii! Yamabuki apa-apaan!"
[Tamu lain yang merasa terganggu menatap Hakuya dan Yamabuki.]
"Ah gomenasai,"
[Hakuya dan juga Yamabuki membungkuk dan meminta maaf ke tamu lain.]
"Yamabuki itu karena kamu berbicara keras,"
"Teehee, gomen-gomen,"
"Ah lupakan,"
[Hakuya lalu mengambil jimat dari sakunya dan menunjukkan nya ke Yamabuki.]
"Lihat ini Hakuya!"
[Hakuya lalu melihat bagian dari buku itu yang ditunjuk oleh Yamabuki.]
"Ini adalah letak lubang cacing itu,"
"Eh, bentuk gambarnya seperti lubang lingkaran kecil ya,"
"Namanya juga lubang,"
"Ah benar,"
"Dan lihat ini, ini adalah kuil kami, tempat para marga Shion melakukan ritual,"
"Ritual?"
"Sou!"
Sulit sekali di percaya. Marga Shion ternyata memiliki ritual juga ya?
Ku kira selama ini marga mereka hanyalah marga keluarga seperti pada umumnya.
"Lalu jimat ini ada kaitanya dengan cara memasuki lubang cacing itu,"
"Ehh?"
Apa yang dimaksud oleh Yamabuki?
[Hakuya semakin kebingungan, dia mencoba ikut memecahkan maksud Yamabuki.]
[Hakuya memperhatikan gambar lubang cacing dan juga kuil Shion dengan seksama, apa yang akan kau temukan Hakuya.]
To Be Continue ~