
Setelah sarapan bersama Damian menurunkan Hope di halte bus yang tidak jauh dari kampus. Hope pun berjalan kaki untuk menuju kampus. Namun Hope melupakan Stevani, biasanya dia berangkat bersama Stevani. Dari tadi malam Hope belum memberikan kabar apa pun kepada Stevani dan baterai ponselnya habis. Sesampainya di kampus, Hope langsung mencari Stevani tetapi tidak ada sama sekali. Hope bertanya kepada orang-orang dan mereka mengatakan jika Stevani dipanggil oleh Damian mendengar itu Hope langsung pergi ke kantor Damian.
Benar saja, saat sampai di sana Hope melihat Stevani yang baru saja keluar, terlihat dari wajah Stevani jika Damian baru saja memarahinya. Ternyata, Damian memanggil Stevani karena Stevani terlalu banyak membolos dan tidak menyelesaikannya tugasnya bahkan tidak ikut saat ujian. Stevani terancam akan mengulang semester lagi tahun ini, mendengar itu Hope langsung terkejut.
“Maksud Kakak, Kakak mau berhenti kuliah saja,” tanya Hope dan Stevani langsung mengangguk.
“Lalu, bagaimana dengan mimpi Kakak?” tanya Hope lagi.
“Tenanglah Hope, semua mimpi tidak harus dicapai. Jika aku mengulang semester atau berhenti aku akan tetap menjadi teman kamu kok, jadi jangan mengkhawatirkan aku,” jawab Stevani.
“Kamu sama saja seperti Bastian,” ucap Damian yang tiba-tiba keluar dari kantor dan tidak sengaja mendengar percakapan Hope dan Stevani.
“Kamu hanya butuh motivasi, setelah itu saya yakin kamu tidak akan mengulang bahkan terpaksa berhenti,” ucap Damian.
“Tuh yang dikatakan Pak Damian ada benarnya,” balas Hope yang setuju dengan Damian.
“Sejak kapan kamu setuju dengan dia, ayolah kalian berdua salah aku memang sudah putus asa dan berada di jalan buntu. Tidak ada yang kalian berdua bisa lakukan, lagi pula aku sudah nyaman dengan hidupku sekarang,” sangkal Stevani.
“Baiklah, bagaimana jika aku memberikan kamu pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi dari perkerjaan kamu sekarang, tetapi kamu harus melanjutkan kuliah kamu dan tidak mengulang semester sama sekali,” tawar Damian dan Stevani langsung tertarik mendengar itu. Untuk seorang seperti Stevani tidak mungkin dia menolak uang yang bisa membantunya.
Stevani pun menatap Hope seperti meminta saran kepada Hope dan Hope langsung mengangguk. Bahkan Hope setuju dengan tawaran Damian, lagi pula Stevani hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menyelesaikan kuliahnya. Mungkin tawaran itu tidak ada buruknya, Stevani pun mengangguk kepada Damian.
“Baiklah jika kamu setuju, kamu akan menjadi asisten teman saya. Besok kamu akan bertemu dengan dia dan sekarang kamu harus mengikuti kelas kamu,” ucap Damian dengan tegas.
“Oke, kalau seperti itu aku pergi dahulu ya,” balas Stevani lalu berlari untuk mengikuti kelasnya hari ini.
“Terima kasih ya Pak sudah membantu saya,” ucap Hope.
Tadi saat sarapan bersama, Hope meminta tolong kepada Damian untuk menegur Stevani yang terus membolos, mendengar itu Damian memiliki ide yang lebih. Damian akan menawarkan Stevani untuk menjadi asisten Bastian yang rewel itu dan Damian akan tenteram tanpa mendengar keluhan tentang perkerjaan dari Bastian. Hope mengatakan jika Stevani tidak akan mengatakan tidak jika itu membuatnya untung, jadi Hope dan Damian sepakat untuk membiarkan Stevani bekerja untuk Bastian.
“Tidak masalah yang penting Bastian tidak mengeluh terus tentang perkerjaannya dan si gangster itu ingin mengejar ketinggalannya,” balas Damian.
“Dia punya nama tahu dan nama bukan gangster, memangnya kak Stevani sesangar itu,” protes Hope dan Damian langsung tertawa kecil.
“Baiklah, Hope aku akan berusaha berhenti memberi nama panggilan kepada orang-orang,” ucap Damian. Mendengar itu Hope langsung tersenyum kepada Damian, senyuman itu begitu manis hingga membuat Damian tersipu.
“Sudahlah, mending kamu masuk kelas sana saya akan masuk beberapa menit lagi.”
“Baiklah, aku pergi dahulu ya Pak Damian.”
***
Setelah kelas selesai, Hope merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pergi bekerja. Suasana kelas sudah begitu sepi dan tidak ada satu pun orang. Hope tidak menghiraukan itu dia hanya sibuk mengecek materi hari ini, hingga akhirnya Amber datang. Padahal tadi Amber bilang ingin pergi lebih dahulu tetapi mengapa dia kembali. Hope melihat kepada Amber yang datang dengan raut wajah murung seperti terjadi hal buruk yang terjadi.
“mengapa kamu murung seperti itu?” tanya Hope.
Amber hanya menatap tajam Hope dan itu membuat Hope tidak nyaman, tatapan itu seakan Hope membuat kesalahan. Amber mengetahui jika Hope semalam pergi bersama Damian dari Dareen yang mengecek CCTV apartemen Damian, tentu saja hal itu sulit tetapi dengan jabatan yang Dareen punya semua jadi begitu gampang. Dareen sudah memperhatikan apartemen Damian dari lama sekali, Dareen ingin menjadi orang pertama yang mengetahui Damian melakukan kesalahan.
“Hope! Apa kamu tahu aku suka dengan Damian?!” tanya Amber.
“Tentu saja, kamu bercerita setiap hari masa aku tidak tahu,” jawab Hope.
“Lalu, mengapa semalam kamu pergi bersama pak Damian ke apartemennya?” tanya Amber dan itu membuat Hope terkejut, bagaimana Amber bisa mengetahui hal itu.
“Kamu itu bicara apa, sih. Aku saja tidak kenal pak Damian di luar kampus,” sangkal Hope.
“Selama ini kamu tahu aku suka dengan pak Damian, tetapi kamu malah berlaku seperti ini. Kamu pergi bersama pak Damian malam-malam lalu kembali di pagi harinya, kamu tahu itu membuat aku sakit hati,” ucap Amber yang kesal.
“Aku dan pak Damian tidak ada hubungan apa-apa, pak Damian hanya membantu aku yang terluka itu saja. Kamu tidak perlu khawatir.”
“Kamu berbohong, tadi pagi aku melihat kamu berbicara dengan pak Damian dengan begitu gembira bahkan pak Damian tersenyum kepada kamu. Hope, apa kamu tahu aku akan melakukan apa saja agar pak Damian menyukai aku hingga masuk ke dalam Fakultas ini dan menerima perjodohan dengan adiknya.”
“Dengar Amber, yang aku katakan adalah fakta kamu bisa tanya pak Damian sendiri. Dan, aku minta maaf karena sudah membuat usaha kamu sia-sia, lagi pula kamu bertindak seolah-olah pak Damian menyukai kamu.”
“Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu, aku kira selama ini kamu adalah teman yang baik. Ternyata kamu sama saja dengan yang lain, kamu tidak ingin mengakui kesalahan kamu.”
“Aku hanya mengatakan fakta Amber, kamulah yang tidak bisa menerima fakta dan terus bermimpi.” Setelah mengucapkan hal itu Hope langsung pergi dari hadapan Amber, Hope tidak peduli apa yang Amber katakan setelah itu. Hope sudah telanjur sakit hati karena Amber tidak mau memercayainya.
Amber pun hanya terdiam melihat Hope yang pergi, Amber memutar otaknya agar Hope dapat menyesal. Amber akan membuat Hope menjadi tambah buruk dimata orang-orang, jika orang-orang mengetahui Hope memiliki hubungan dengan Damian pasti seluruh kampus akan menghina Hope. Amber tidak akan memberikan satu orang pun menghalanginya untuk mendapatkan Damian, apa pun akan Amber lakukan agar Damian menyukainya.
***
Setelah mengetahui jika ada seorang wanita yang Damian bawa ke apartemennya, Liam meminta Damian datang ke rumahnya. Liam begitu marah saat Dareen menunjukkan rekaman itu, Liam sudah mengambil kesimpulan dari rekaman itu. Sedangkan Caitlyn tidak mau mengambil kesimpulan sebelum Damian menjelaskan, pasti ada alasannya mengapa Damian membawa seorang wanita masuk ke dalam apartemennya.
Caitlyn sangat mengetahui bagaimana Damian, Damian tidak mungkin melakukan hal macam-macam kepada seorang wanita apalagi menyentuhnya. Damian adalah pria paling baik yang Caitlyn tahu, jadi tidak mungkin Damian melakukan hal yang di luar batas. Namun, yang lain menganggap berbeda dari Caitlyn, mereka sudah berpikir hal buruk tentang Damian saat melihat rekaman itu.
“Akhirnya datang juga,” ucap Liam yang melihat Damian datang. Damian pun melihat di ruang keluarga sudah ada Liam, Caitlyn, Dareen, dan Helen. Sepertinya Damian akan dimarahi habis-habisan oleh Liam dan tentu saja oleh Helen.
“Kamu tahu mengapa kamu di sini, Damian jelaskan sekarang juga apa maksud dari rekaman itu,” ucap Liam dengan nada tinggi.
“Itu tidak seperti yang kalian pikir, aku tidak melakukan apa-apa dengan gadis itu dan aku hanya membantunya. Lagi pula rekaman itu hanya menunjukkan pintu apartemen aku bukan menunjukkan dalam apartemenku dan juga di sana ada Bastian,” bela Damian.
“tetapi rekaman itu sudah sangat jelas Damian, kamu tidak bisa menyakal apa pun lagi. Aku tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini,” ucap Liam dengan penuh rasa kecewa.
“Perlakuan kamu sama saja dengan ibumu, memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” ucap Helen.
“Anda tidak berhak membawa ibu saya dalam masalah, lihatlah Anda sendiri bertingkah sok suci padahal hati Anda busuk,” ucap Damian yang tidak bisa menahan emosinya.
“Apa kalian tahu, yang kalian itu melarang privasi saya. Di mana tata Krama kalian,” ucap Damian.
“Aku tidak sengaja menemukan itu saat sedang menangani kasusku, jadi wajar saja aku terkejut. Apa Kak Damian mengira aku sengaja pergi untuk mengecek apa saja yang Kak Damian lakukan, aku merasa tersinggung mendengar itu,” ucap Dareen yang penuh kebohongan.
“Sudah lebih baik kamu pergi saja, kamu sudah berani menghina cucuku dan melakukan perbuatan yang tidak benar. Masih untung kamu mendapatkan warisan dari keluarga ini karena kamu masih sedarah dengan Liam, jika tidak mungkin aku akan mengusir kamu dari sini,” ucap Helen yang membela Dareen.
“Ya kamu tahu Damian, kamu sama sekali tidak seperti ayah. Ayah tidak pernah mempunyai sifat seperti kamu dari mana kamu mendapatkan itu semua, apa teman kamu itu atau wanita yang kamu bawa ke apartemen kamu. Kamu berlaku seperti bukan orang yang bermartabat,” ucap Liam.
“CUKUP! Aku rasa mama dan kamu sudah berlebihan, Damian sudah menjelaskan semuanya harusnya kita memercayai itu dan kita tidak perlu melenceng dari topik kita. Dareen, Damian benar harusnya kamu tidak mengganggu privasinya karena Damian bukanlah anak kecil yang harus diawasi,” ucap Caitlyn yang tidak tahan dengan suaminya dan ibu mertua.
“Itu tidak apa Tante, aku memang pantas menerima itu semua. Karena aku hanya orang asing di keluarga ini. Sekali lagi aku katakan aku hanya membantunya, terserah kalian ingin percaya atau tidak. Aku tidak peduli.” Damian langsung pergi saat itu juga tanpa menunggu respons dari yang lain, Caitlyn ingin mengejar Damian tetapi Liam menahannya.
“Lihatlah anak itu, aku bersyukur dia tidak tinggal satu rumah dengan kita,” ucap Helen lalu pergi ke kamarnya.
Dareen pun juga ikut pergi ke kamarnya, dia merasa tidak adil. Mengapa Caitlyn selalu membela Damian, padahal Dareen sengaja mengecek kegiatan Damian untuk membuat Caitlyn membenci Damian. tetapi sepertinya itu tidak cukup, Dareen merasa tidak cukup dimata ibunya sendiri. Dareen langsung memutar otaknya lagi agar Caitlyn membenci Damian dan kembali menyayangi Dareen.
Diruang keluarga tersisa Caitlyn yang berada di sana. Caitlyn berusaha menghubungi Damian tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Caitlyn tidaklah bodoh dia tahu jika Dareen berusaha menjebak Damian. Apartemen yang Damian tempati adalah milik keluarga Caitlyn, jadi Caitlyn mengetahui mengapa Dareen datang ke sana. Caitlyn juga sudah mencari tahu tentang wanita itu bahkan bertanya kepada Bastian, semua membuktikan jika Damian berusaha membantu wanita itu. Jadi Caitlyn tidak perlu menghiraukan Damian yang perlu dikhawatirkan adalah Dareen.
Bersambung……