
Banyak perubahan dari diri Damian sejak dirinya remaja, karena seiring berjalannya waktu Damian bukanlah anak kecil lagi. Damian berhenti menyukai es krim rasa cokelat, karena itu mengingatkan ia kepada ibunya yang selalu membelikan es krim rasa cokelat. Setelah tidak ada sosok ibu yang membelikan Damian es krim cokelat, ia jadi kurang menyukai es krim rasa itu. Damian berhenti menyukai warna kuning, karena itu adalah warna kesukaan Liam, yang di mana waktu itu Damian merasa tidak dianggap oleh Liam.
“Karena beberapa hal, aku menjadi mengganti diriku yang Ayah kenal. Itu semua terjadi saat aku remaja, aku merasa kuning adalah warna yang pasaran. Begitu juga es krim rasa cokelat, banyak yang menyukai dan sedikit yang menyukai rasa stroberi. Kuning dan rasa cokelat, seperti bukan diriku yang sekarang,” balas Damian.
“Itu tidak apa, semua orang pasti punya perubahan begitu juga Ayah,” ucap Liam.
“Apakah Ayah masih memancing?” tanya Damian.
“Tidak, dulu Ayah menyukainya. Tapi setelah ibu kamu pergi, memancing terasa hampa. Saat itu Ayah selalu memancing bersama ibumu, tapi setelah dia pergi semangat Ayah hilang entah ke mana. Ayah juga sudah berhenti pergi melihat bintang dimalam hari, karena ibu kamu tidak ada di sana,” jawab Liam.
“Apa Ayah pernah mencintai tante Caitlyn?”
“Pernah, namun tidak sebesar Ayah mencintai ibu kamu. Caitlyn adalah wanita mandiri, pemberani, baik hati, bermimpi menjadi pengusaha muda, bersikap realistis, dan pantang menyerah. Ibu kamu adalah wanita lemah lembut, polos, terlalu mudah untuk memercayai orang, mempunyai mimpi menjadi ibu, dan mempercayai hal baik akan datang. Jika didengar mereka begitu berbeda, tapi Ayah masih mencintai keduanya. Ayah mencintai ibu kamu karena ketulusannya, Ayah mencintai Caitlyn karena dia pemberani.”
“Hahaha, ternyata Ayah bisa juga berpikir seperti itu. Aku kira Ayah tidak pernah bisa berpikir karena adanya nenek.”
“Ah, wanita tua itu. Memang nenek begitu manipulatif, kamu tahu sendiri. Untung saja Caitlyn menyadarkan Ayah sebelum semuanya semakin terlambat.”
“Lebih baik Ayah makan es krim itu sekarang, karena sudah meleleh.” Liam pun tersadar jika dari tadi ia belum memakan es krimnya sama sekali hingga es krim itu menetes ke tangannya. Liam langsung melahap es krim itu lalu membersihkan tangannya yang terkena es krim. Damian yang melihat itu hanya tertawa, mereka terlalu fokus berbicara hingga Liam melupakan es krimnya.
***
Malam harinya, Damian kembali ke apartemennya dengan rasa gembira. Hari ini begitu berkesan untuk Damian. Akhirnya Damian bisa merasakan bagaimana menghabiskan waktu bersama ayahnya. Walau hanya sebentar, namun Damian tetap senang dengan hal itu. Ini seperti hal yang tidak pernah Damian bayangkan akan terjadi dan kenyataannya hal itu terjadi.
Damian pun segera membersihkan tubuhnya dan segera beristirahat, namun Damian teringat jika dirinya belum menghubungi Hope sedari tadi. Damian langsung membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Hope, tapi Hope sedang tidak aktif. Damian segera keluar dari apartemennya dan mengecek apartemen Hope. Damian membunyikan bel berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Damian mengira Hope sudah tertidur, namun saat Damian ingin pergi. Tiba-tiba pintu apartemen terbuka, walau hanya sedikit. Hope melihat Damian dengan tatapan begitu panik, itu membuat Damian curiga.
“Kenapa kamu kesini? Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Hope.
“Aku hanya khawatir, kamu belum memberi kabar hari ini,” jawab Damian.
Damian pun ingin masuk, tapi Hope menahannya. Damian semakin curiga dengan hal itu, Hope bertingkah tidak seperti biasanya. Hope seperti menyembunyikan sesuatu dari Damian. Damian menatap Hope dengan penuh tanda tanya, Damian bingung dan juga curiga. Sedangkan Hope hanya terdiam dengan ekspresi wajah begitu panik, Hope seperti terus melihat jam di apartemennya.
“Enggak ada, aku sedang merapikan apartemen jadi semua terlihat berantakan,” sangkal Hope.
Damian tidak percaya akan hal itu, tidak ada orang yang membersihkan apartemen di tengah malam. Damian pun memaksa masuk dan terkejut melihat Apartemen Hope. Di luar dugaan Damian, apartemen Hope begitu indah dan aneh di saat yang bersamaan. Ada satu buah meja dan dua buah kursi yang berhadapan. Lampu yang dimatikan dan sinar bulan yang menerangi seluruh ruangan. Balon-balon berbentuk hati dan balon angka yang bertuliskan ‘Selamat Ulang Tahun’. Tidak lupa musik romantis yang membuat suasana begitu indah dan damai. Namun, yang membuat aneh mengapa Hope membuat hal seperti ini.
“Apa kamu memiliki acara hari ini atau kamu iseng?” tanya Damian bingung.
“Tidak, kamu tidak ingat ya. Tepat tengah malam ini kamu ulang tahun, aku ingin membuat kejutan untuk kamu. Apa kamu suka?” Damian pun teringat jika besok dirinya ulang tahun. Sudah lama Damian tidak merayakan ulang tahunnya hingga terkadang ia lupa. Melihat Hope yang membuat semua hal ini dan melakukan tepat di tengah malam saat pergantian hari. Membuat hati Damian tersentuh, tidak ada yang begitu antusias tentang hari ulang tahunnya. Namun, Hope membuat Damian merasa antusias lagi.
“Aku sangat menyukainya! Aku tidak menduga kamu membuat ini semua untuk aku. Terima kasih.”
“Tunggu dulu, Damian. Kejutan belum berakhir.” Hope menyuruh Damian menunggu sebentar, Hope ingin memberikan kejutan selanjutnya.
Sekitar 15 menit Damian menunggu dan akhirnya Hope keluar dari kamarnya. Damian begitu terkejut melihat Hope yang begitu menggunakan gaun berwarna biru tua, warna kesukaan Damian. Hope menggunakan gaun di atas lutut, lengan serta bahunya terlihat, Hope juga mengerai rambut pirangnya. Semua itu seakan bukan Hope yang Damian kenal, itu membuat Damian terpukau dengan kecantikannya.
Hope menghampiri Damian dan menggenggam kedua tangan Damian. Hope memberi kecupan di pipi Damian dan juga kening Damian, walaupun Hope harus berjinjit untuk mencium kening Damian. Hope meletakkan tangan kanan Damian di pinggangnya dan tangan kiri Damian tetap Hope genggam. Hope pun meletakkan tangannya dibahu Damian dan mulai berdansa dengan Damian.
“Selamat ulang tahun, Damian,” ucap Hope. Mereka pun saling menatap satu sama lain dengan rasa penuh cinta.
“Apa kamu suka dengan penampilan aku?” tanya Hope.
“Aku jatuh cinta dengan penampilan kamu! Kamu terlihat begitu indah menggunakan gaun ini,” jawab Damian.
“Terima kasih, Hope. Sudah membuat ulang tahunku spesial lagi. Aku menghargai itu,” ucap Damian lalu mengecup kening Hope.
Akhirnya mereka berdua menghabiskan sepanjang malam berdansa dengan penuh rasa cinta. Dunia seakan milik mereka berdua, tidak ada yang bisa mengganggu mereka. Tidak ada yang bisa membuat Damian melepaskan dirinya dari Hope saat ini dan selamanya. Damian akan terus mencintai Hope sampai kapan pun itu, semua tentang Hope sempurna dimata Damian.
Bersambung…..