Wishing For You

Wishing For You
Misunderstanding



Seminggu berlalu, Damian masih belum bertanya kepada Hope tentang beasiswa itu. Damian takut untuk bertanya langsung kepada Hope, alhasil Damian menjadi dingin kepada Hope. Damian berusaha untuk tidak memikirkan hal yang tidak-tidak, namun Damian malah terus memikirkannya. Sekarang Damian malah berperang dengan pikiran buruknya, daripada berbicara langsung kepada Hope.


Damian tidak tahu sama sekali jika sifat dinginnya berdampak kepada Hope. Selama seminggu Hope merasakan jika Damian berubah, seperti ada yang Damian tutupi dari Hope. Sudah berkali-kali Hope mengajak Damian untuk berbicara, namun Damian selalu beralasan sibuk. Hope tidak tahu ia salah apa kepada Damian, yang pasti sekarang Damian terlihat marah kepadanya. Pagi ini Hope berencana untuk mengajak Damian sarapan bersama. Namun, saat Hope memencet bel apartemen Damian tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Hope memutuskan untuk pergi, tapi saat Hope pergi pintu apartemen terbuka. Bukan Damian yang keluar melainkan Bastian.


“Kamu pasti mencari Damian. Damian sudah berangkat dari subuh, entah pergi ke mana,” ucap Bastian yang masih mengantuk.


“Oh begitu, maaf ya sudah mengganggu kamu. Aku tidak tahu jika Damian berangkat pagi,” balas Hope.


“Tumben sekali anak itu tidak memberitahu kamu. Akhir-akhir ini Damian begitu aneh, aku kira dia sedang ada masalah. Apa kalian sedang bertengkar?”


“Tidak, aku juga tidak tahu mengapa Damian seperti itu. Damian juga belakang ini menjadi begitu aneh, aku kira cuman aku yang merasakannya.”


“Dasar manusia menyusahkan!”


Akhirnya Hope mengajak Bastian sarapan bersama dengan teman-temannya. Padahal Hope berniat untuk menghabiskan pagi yang cerah ini bersama Damian, tapi Damian sibuk. Entah Damian benar-benar sibuk atau hanya menghindar dari Hope. Hope benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikap Damian. Hope takut Damian sedang ada masalah dan tidak ingin menceritakannya.


Sekarang Bastian sedang sarapan bersama dengan Amber, Hope, dan juga Stevani. Awalnya Bastian tidak mau ikut, karena ia lelaki sendiri. Namun, Hope menyebutkan restoran kesukaan Bastian untuk sarapan pagi. Tentu saja Bastian langsung berganti pikiran dan ikut dengan Hope. Walaupun sesampainya di sana mereka membahas tentang kuliah dan hal-hal wanita, Bastian tetap mendengarkan. Karena tidak ada yang lebih penting daripada makanan untuk dirinya.


Sekarang Hope sedang membahas tentang Damian, Hope menceritakan keresahannya. Bastian yang mendengar itu langsung berspekulasi jika Damian benar-benar mempunyai masalah. Bertahun-tahun Bastian mengenal Damian, Damian belum pernah bercerita tentang masalahnya, jika Bastian bertanya baru Damian menjawab. Namun, untuk Damian menceritakan langsung itu sangat kecil kemungkinan. Damian hanya akan berperang dengan dirinya sendiri, hingga Damian puas.


“Mungkin saja, kamu harus memberikan Damian waktu. Lama-kelamaan Damian juga akan bercerita,” saran Bastian.


“Masa iya aku harus menunggu, jika hingga satu tahun bagaimana. Damian itu orang yang tidak peka jadi susah untuk membuatnya mengaku. Saran kamu tidak berguna, Bastian,” balas Hope.


“Lalu gunanya aku di sini apa. Aku adalah orang yang mengenal Damian paling lama, lagi pula kamu tenang saja pasti Damian akan bercerita,” ucap Bastian.


“Cih, kamu bertingkah seakan paling mengenal Damian. Pasti kamu juga mengetahui itu semua dari tante Caitlyn,” sindir Stevani.


“Kenapa kamu selalu merendah aku, apa kamu punya dendam kepadaku? Dasar wanita sulit dimengerti,” balas Bastian.


“Diam! Tidak baik ribut di tempat umum,” ucap Amber.


“Aku sudah menemukan solusi untuk masalah kamu. Dari ciri-ciri yang kamu sebutkan, mulai dari sikap yang dingin, suka pergi tanpa berpamitan, tidak membalas pesan, menghindar jika diajak berbicara, selalu menjadi pekerjaan sebagai alasan. Sudah pasti Damian mempunyai pacar lagi!” lanjut Amber.


Semua terkejut mendengar itu, terutama Hope. Tidak mungkin Damian mempunyai kekasih baru, itu sama saja Damian berselingkuh. Tapi itu tidak mungkin, Damian bukan tipikal orang seperti itu, ditambah Damian begitu dingin kepada wanita. Namun, bisa saja itu terjadi, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, mungkin saja Damian mempunyai kekasih lain di belakang Hope.


“Kamu itu bicara apa sih?!” tegur Bastian.


“Tapi yang Amber bilang ada benarnya, tidak mungkin Damian tiba-tiba berubah tanpa sebab. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan,” ucap Stevani yang berusaha realistis.


“Hope, mending kamu tidak usah dengarkan Amber. Dia itu sedang hamil, ibu hamil itu suka berpikir yang berlebih-lebihan. Ditambah Amber suka dramatis, jangan percaya kepadanya,” ucap Bastian kepada Hope.


“Hei, aku hanya berspekulasi tidak ada hubungannya dengan kehamilanku tahu. Aku juga tidak mendramatis, aku itu sudah berpengalaman dengan mantan pacarku. Jadi tidak ada salahnya aku berbagi pengalaman,” balas Amber.


“Iya, kamu mana tahu. Kamu itu jomblo sejak lahir, jadi tidak mengerti apa yang kami rasakan,” tambah Stevani.


“Kamu pernah berpacaran?” tanya Bastian yang tidak percaya.


“Iya, tanya saja Hope. Dia mengenal bajingan itu,” jawab Stevani.


“Sudah-sudah jangan bertengkar, aku yakin ada alasan yang lain. Nanti akan aku tanya Damian, kalian tidak perlu khawatir. Ya sudah ya, aku pergi duluan,” ucap Hope lalu bangun dari duduknya dan pergi secepat mungkin.


Hope ingin mencari kepastian dari Damian, jika Hope hanya berspekulasi yang ada malah terjadi hal yang tidak diinginkan seperti tadi. Namun, Hope juga bersikap realistis, tidak mungkin Damian berubah begitu saja. Mungkin Hope tidak mengenal Damian begitu dalam, namun Hope yakin jika Damian bukanlah pria yang suka berselingkuh. Hope juga yakin jika ada alasan lain Damian menjadi dingin dan pastinya itu bukan karena adanya wanita lain.


Bersambung......