
Malam harinya, Hope berusaha menemui Damian. Namun, Damian tetap saja tidak ada, akhirnya Hope menunggu di apartemen Damian hingga tengah malam. Bastian sudah menyarankan Hope pulang lebih dulu, tapi Hope tidak mau sama sekali. Hope ingin menunggu hingga Damian datang. Hope berusaha menahan kantuknya untuk bertemu dengan Damian, walaupun Hope tidak yakin Damian akan pulang.
Beberapa menit kemudian, Damian akhirnya datang. Namun, Hope malah tertidur di sofa. Damian yang melihat itu merasa bingung, mengapa Hope berada di apartemennya. Padahal ini sudah tengah malam dan besok hari Hope harus kembali berkuliah. Damian pun mendekati Hope, ternyata Hope benar-benar tertidur. Damian mengelus pipi Hope dan memandangi wajah Hope selama beberapa menit. Damian rindu dengan Hope, sudah beberapa hari Damian terus menghindar.
“Kamu masih terlihat cantik walaupun tertidur,” ucap Damian.
Mendengar suara samar-samar Hope langsung membuka matanya, itu membuat Damian terkejut. Hope hanya terdiam saat melihat Damian tepat di depan matanya, Hope tidak tahu harus mengatakan apa. Sedangkan Damian yang melihat Hope terbangun, langsung mengalihkan pandangannya. Melihat Damian yang memalingkan pandangannya, membuat Hope seakan tidak enak hati. Tidak biasanya Damian tidak mau memandang Hope.
“Kenapa kamu di sini malam-malam?” tanya Damian.
“Aku menunggu kamu, aku ingin berbicara sesuatu,” jawab Hope.
“Besok saja bicaranya, aku sungguh lelah.”
“Ta– tapi ini adalah hal yang penting, aku tidak bisa menahannya lagi.”
“Kalau begitu cepatlah, aku mengantuk.”
“Damian, Apa kamu memiliki kekasih lain selain aku?”
Mendengar itu Damian langsung terkejut, Damian tidak menduga Hope akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Apa yang membuat Hope berpikir jika Damian memiliki kekasih lain? Seharusnya Hope tahu Damian tidak akan pernah berselingkuh dari Hope. Pasti ini karena sikap Damian yang berubah, padahal Damian hanya ingin menutupi apa yang ia temui. Damian tidak bermaksud untuk Hope mengira dirinya memiliki kekasih lain, tapi tetap saja Damian tidak menyaka Hope akan berpikir seperti itu.
“Apa yang membuat kamu berpikir seperti itu?!” tanya Damian dengan nada tinggi. Seketika Hope takut mendengar itu.
“Ka– kamu belakang ini sangat berbeda. Kamu a– aneh, kamu se– seakan menutupi sesuatu dari aku,” jawab Hope yang merasa takut.
“Apa kamu gila?! Aku tidak mungkin berselingkuh! Hope, kamu tahu betapa aku mencintai kamu. Kenapa kamu beranggapan aku memiliki kekasih lain? Apa karena aku menjadi sangat sibuk belakang ini? Maafkan aku jika aku terlalu sibuk, tapi aku tidak mungkin menemui wanita lain. Kamu tahu aku cuman mencintai kamu,” ucap Damian.
“Namun, tetap saja kamu aneh. Kamu bersikap seakan kamu tidak peduli dengan aku, kamu mendiamkan aku tanpa ada penjelasan. Bagaimana aku tidak khawatir? Kamu tidak pernah seperti ini kepada aku, maka dari itu aku merasa aneh. Kamu seperti bukan Damian yang aku kenal, kamu seakan membiarkan aku tanpa arah. Setidaknya jika kamu marah beri aku penjelasan, kenapa kamu marah dan menjadi aneh. Bukannya kamu mendiamkan aku seakan aku tidak penting,” balas Hope lalu menetes air mata.
“Aku hanya butuh waktu untuk berpikir! Aku punya banyak pekerjaan. Aku lelah, Hope, aku hanya butuh waktu sendiri. Aku terus memikirkan tentang kamu yang akan meninggalkan aku, aku memilih diam daripada berbicara. Aku takut jika aku mengatakan hal itu kamu malah marah! Aku tidak mau menjadi orang yang menghalangi mimpi kamu! Jadi aku butuh waktu berpikir. Namun, aku malah menjadi lelah karena pikiranku sendiri.”
“Meninggalkan kamu? Menghalangi mimpi aku? Apa yang kamu bicara?”
“Damian, aku minta maaf. Aku memang sedang mencari beasiswa, aku ingin merasakan berkeliling dunia. Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk meninggalkan kamu, maka dari itu aku mengurungkan niat aku. Lagi pula aku sudah mencoba mengikuti tesnya dan aku tidak mendapatkan beasiswa itu, jadi kamu tidak usah khawatir.”
Damian tidak membalas apa-apa, ia hanya terdiam melihat Hope yang menangis. Setelah beberapa menit, Damian akhirnya memeluk Hope dan berusaha menenangkan Hope. Damian mencium kening Hope dan meneteskan air mata. Sedangkan Hope hanya menangis sepuasnya di dalam pelukan Damian, tidak ada lagi yang Hope ingin sampaikan kepada Damian. Hope bersyukur Damian tidak benar-benar berselingkuh, ternyata Damian hanya takut Hope meninggalkannya.
“Maaf, aku sudah berteriak kepada kamu,” ucap Damian.
“A– aku juga minta maaf. A– aku menuduh ka– kamu yang tidak-tidak,” balas Hope disela-sela tangisannya.
“Tidak apa, jangan meminta maaf. Aku yang salah, harusnya aku langsung mengatakan tentang beasiswa itu kepada kamu, bukan malah mengulur waktu dan mendiamkan kamu. Aku hanya takut kamu benar-benar pergi, aku tidak mau hal itu terjadi kedua kalinya. Aku ingin kamu tetap disisi aku.”
Damian benar-benar tidak mau hal itu terjadi kedua kalinya, itu bermaksud kepada mantan kekasihnya. Wanita yang pernah menetap hati Damian lalu pergi begitu saja. Damian adalah orang yang benar-benar rapuh jika itu tentang orang yang ia cintai. Mantan kekasih Damian adalah wanita mandiri, umurnya tidak jauh beda dari Damian. Mereka berkencan saat Damian masih berkuliah, masa-masa yang begitu indah menurut Damian. Hingga mantan kekasihnya pergi ke luar negeri untuk berkuliah, awalnya Damian mendukung itu. Namun, ternyata mantan kekasihnya memutuskan Damian, karena bertemu dengan orang baru. Singkat cerita mantan kekasih Damian menikah dengan lelaki lain. Damian tidak mau hal itu terjadi lagi, karena Damian tidak tahu apa yang terjadi jika dirinya dan Hope berjauhan.
“Aku juga salah, karena tidak memberitahu kamu. Aku hanya malu, karena aku gagal dalam tes beasiswa itu. Aku takut jika aku memberitahu kamu, kamu akan kecewa,” ucap Hope.
“Itu adalah hal yang wajar, kamu tidak perlu malu,” balas Damian.
Hope pun melepaskan pelukan dan melihat wajah Damian, lalu tersenyum. Damian yang melihat Hope malah tertawa kecil, karena mata dan hidung Hope terlihat begitu merah. Damian mencium kedua kelopak mata Hope, agar Hope tidak menangis lagi. Damian juga mencium hidung Hope, tanpa alasan tertentu. Setelah mendapat ciuman dari Damian, Hope langsung berjinjit dan mencium kening Damian sebagai tanda terima kasih.
“Kenapa kamu begitu tinggi, sih?” protes Hope yang kesusahan berjinjit hanya untuk mencium kening Damian.
“Hahaha, kamu yang terlalu pendek,” ledek Damian.
“Ini itu faktor genetik, jadi aku pendek. Tapi kamu juga terlalu tinggi buat aku. Kamu pasti selalu minum susu saat masih kecil.”
“Tidak, aku tinggi juga faktor genetik. Tapi itu tidak apa-apa, karena aku suka tubuh pendek kamu, mudah untuk diangkat.”
“Jadi kalau aku tinggi kamu tidak suka?”
“Aku mencintai kamu apa adanya, tidak peduli tinggi atau pendek.” Damian mengelus rambut Hope dan tertawa kecil. Hope yang mendengar itu hanya tersipu malu, kata-kata Damian benar-benar menuju hatinya. Pipi Hope pun memerah, Damian yang melihat itu langsung tertawa. Damian mencubit kedua pipi Hope dan tersenyum lebar, karena Hope begitu lucu jika sedang tersipu.
Bersambung......