
“DAMIAN!” teriak Hope yang tiba-tiba masuk, Damian pun terkejut melihat itu. Hope terlihat begitu panik, seperti ada hal yang mengkhawatirkan. Damian langsung menyuruh Dareen menunda percakapan mereka, Damian ingin mengecek Hope. Damian takut terjadi sesuatu kepada Hope.
“Kenapa Hope? Apa terjadi sesuatu?” tanya Damian.
“Aku butuh bantuan kamu, tadi aku dan Amber sedang berbicara lalu tiba-tiba Amber pingsan,” ucap Hope.
Damian dan Dareen langsung terkejut mendengar itu, Hope pun langsung menarik Damian agar cepat pergi ke apartemennya sedangkan Dareen mengikuti mereka. Saat sampai di apartemen Hope, Damian langsung mengecek keadaan Amber. Tubuh Amber terasa dingin dan keningnya terasa panas, Damian pun menyuruh Dareen membawa Amber. Damian ingin menyiapkan mobil agar tidak memakan waktu banyak. Tanpa pikir panjang Dareen langsung mengangkat tubuh Amber dan membawanya pergi.
***
Amber membuka matanya dan dirinya berada di rumah sakit. Amber melihat sekitar dan menemukan Dareen yang tertidur. Amber melihat jam dan ini sudah tengah malam, Amber pun berusaha bangun dan duduk. Amber membangunkan Dareen dan Dareen langsung terbangun lalu memeluknya. Amber sempat terkejut akan hal itu, namun sepertinya Dareen begitu khawatir kepada dirinya. Amber membalas pelukan itu dan hanya mengikuti apa yang Dareen lakukan.
“Dareen, kenapa kamu seperti ini?” bisik Amber.
“Maafkan aku, Amber. Maafkan aku, maafkan aku,” ucap Dareen yang terus mengulang-ulang kata maaf.
“Maaf? Harusnya aku yang meminta maaf. Kamu menyetujui hal bodoh aku karena kamu mencintai aku, aku tidak pernah sadar itu. Aku baru sadar setelah menemui surat itu dan buku harian kamu,” balas Amber lalu melepaskan pelukan.
Beberapa hari yang lalu, Amber berusaha untuk menemui Dareen. Amber ingin marah kepada Dareen karena tidak mengakui apa pun, hingga salah satu teman Dareen mengizinkan Amber mengecek meja kerja Dareen. Amber mengacak-acak meja kerja Dareen dan menemukan surat perjanjian mereka yang tidak Dareen tanda tangani sama sekali. Amber mencari-cari lagi dan menemukan sebuah buku penuh dengan tulisan Dareen. Amber membaca buku itu.
Amber menemukan jika Dareen sendiri yang meminta dirinya dijodohkan dengan Amber, Dareen juga pernah mengirimkan Amber beberapa hadiah. Amber selalu mengira hadiah itu dari Damian, ternyata Amber salah. Dibuku itu Amber membaca semua keluh kesah Dareen dan tersadar jika Dareen melakukan itu semua agar Damian kembali seperti dulu. Amber juga menemukan jika Dareen jatuh cinta kepada dirinya saat pertemuan pertama mereka di sebuah acara. Di acara itu Amber hanya sibuk memperhatikan Damian dan bukan Dareen, ternyata selama ini Amber benar-benar buta karena Damian.
“Maafkan aku, melakukan hal bodoh seperti itu. Harusnya aku menyadari kamu adalah orang yang baik. Aku malah membuat kamu melakukan kejahatan,” ucap Amber.
“Semua ini salah kita berdua, kamu yang terlalu terobsesi dengan Damian dan aku yang tidak mengerti perasaan aku sendiri. Jadi ini salah kita berdua, tapi aku meminta maaf bukan karena itu,” balas Dareen.
“Lalu, kenapa kamu meminta maaf kepada aku?” tanya Amber.
“Kamu hamil, Amber. Tenang saja, aku akan bertanggungjawab dan menjelaskan semuanya kepada orang tua kamu. Aku akan menikah kamu,” jawab Dareen.
“Apa?! Kamu pasti bercanda, kan? Aku tidak mungkin hamil,” sangkal Amber.
“A– apa kamu akan lari lalu meninggalkan aku sendiri. Bagaimana dengan keluarga kamu, keluarga aku sudah tidak memedulikan aku lagi. Dareen, aku takut jika harus sendirian mengurus bayi ini,” ucap Amber.
“Aku ada di sini, Amber. Aku akan bertanggungjawab dan menemani kamu, kamu tidak perlu takut,” balas Dareen dan Amber langsung memeluknya.
***
Setelah pulang dari rumah sakit Damian menemani Hope di apartemennya. Hope tadi begitu panik dan cemas, untung saja Damian bisa menenangkan Hope. Sepanjang perjalanan Hope tertidur dan mengigau tentang kedua orang tuanya, Damian khawatir jika Hope mengalami mimpi buruk dan trauma. Sekarang Damian sedang memandangi Hope yang tertidur pulas, Damian tidak bisa tenang jadi ia memutuskan untuk mengawasi Hope yang tertidur.
“Kenapa mama membenci aku, aku tidak salah apa-apa.” Hope mengigau lagi tentang ibunya, Damian pun mengelus rambutnya Hope agar mimpi buruk itu hilang. Damian bisa melihat air mata terjatuh dari mata Hope yang tertutup, Damian tidak tega melihat itu. Damian membangunkan Hope dan Hope langsung terkejut, Hope mengira dirinya masih di perjalanan pulang.
Hope merasa matanya basah, Hope juga mengalami mimpi buruk. Hope bermimpi Emma meneriakinya, mengusirnya, dan berusaha membunuhnya. Semua itu terlihat begitu nyata dimimpinya, Hope sempat mengira itu adalah kenyataan. Tapi, ternyata Hope salah semua itu hanya mimpi belakang, karena Hope tidak perlu khawatir lagi akan sang ibu. Sekarang juga ada Damian yang menjaga Hope jadi Hope tidak perlu merasa takut lagi.
“Maaf membangunkan kamu, aku mendengar kamu terus mengigau. Apa kamu mengalami mimpi buruk?” tanya Damian dan Hope langsung mengangguk.
“Apa yang kamu mimpikan, apa kamu bermimpi orang tua kamu lagi?” tanya Damian.
“Aku bermimpi tentang mama. Mama mengusir aku, membentak aku, dan berusaha membunuh aku. Selama ini mama selalu diam saja dan tidak pernah berbicara mengapa dirinya membenci aku. Mama selalu berkata aku membawa kesialan untuk dirinya, aku merasa bersalah,” ucap Hope.
“Kamu tidak membawa kesialan kepada siapa pun dan kamu tidak perlu merasa bersalah. Mama kamu adalah orang tua yang buruk, tentu saja kamu tidak pantas untuk mama kamu. Jadi jangan bersedih lagi ya, aku ada di sini. Kamu bisa bercerita apa saja, kamu tidak perlu takut,” balas Damian dan Hope langsung tersenyum tipis.
“Apa aku boleh bertemu dengan mama?”
“Tentu saja, aku tidak akan menghalangi kamu bertemu orang tua kamu. Tapi kamu harus berjanji jika terjadi sesuatu kamu akan langsung bercerita, aku tidak mau kamu terluka.”
Hope langsung memeluk Damian dengan begitu erat, Hope menjadi sedikit tenang karena Damian. Damian melepaskan pelukan dan menyuruh Hope kembali tidur, namun Hope menolak itu. Hope tidak merasa mengantuk lagi, Hope pun meminta Damian menemani hingga tertidur. Damian berbaring di samping Hope dan mulai berdongeng untuk Hope, awalnya Hope tidak yakin hal itu akan membuat tertidur. Tapi setelah tiga cerita Hope tertidur pulas.
“Tidurlah, Hope. Aku akan terus di sini sampai kapan pun, jangan khawatir akan masa lalu kamu. Aku ingin kita terus seperti ini, aku ingin terus bersama kamu, aku ingin kamu melupakan masa lalu kamu, aku ingin kamu menjadi cinta abadiku.” Damian mengecup kening Hope lalu tidur di samping Hope. Damian terus menatap Hope seakan takut kehilangannya, namun Damian yakin Hope tidak akan pergi ke mana-mana.